Setelah asya mengingat dan menimbang asya memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja. Entah kemana semangatnya dulu untuk bekerja setelah sang adik berkata tidak mau lanjut sekolah. Asya dan ida sedang berada di sebuah kedai tempat biasa anak muda nongkrong.
"Sya, lo yakin mau resign dari sini?" Ucap ida sendu.
"Gue gak ada temen dong sya kalo lo keluar"
Asya tersenyum, kemudian memeluk sahabatnya itu.
"Nanti asya bakal sering main ke rumah teteh kalo asya masih di sini" Ucapnya. Ida terbelalak.
"Ini assya gue yang dulu nada bicara nya lemah lembut yang kalo manggil ke gue teteh, ahh gue rindu sya" Ucapnya mengeratkan pelukan pada asya.
"Btw, emang abis keluar dari sini lo ada rencana mau kemana?" Ida melepaskan pelukannya.
"Gue pengen pulang ke kampung ayah aja, gue pengen usaha kecil kecilan di sana dengan modal sisa gaji gue kemaren dan sekarang"
"Bakal jarang kesini pastinya lo"
"Gue usahain sering kesini" Ucapnya menenangkan
"Lo jangan lupain gue, kapan lo ngundurin diri nya?" Tanya nya melepas pelukan.
"Tanggal 23 april nanti"
"Terus lo udah kasih tau jhons kalo mau resign?" Asya hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Gak papa" Ida hanya menghembuskan nafas kasar, kenapa sahabatnya itu suka sekali memendam semuanya sendiri.
"Yaudah kalo gak mau cerita"
Hari sudah sore, asya dan ida memutuskan untuk pulang setelah puas memakan ramen kesukaan mereka berdua.
~~~
Keseharian asya memang hanya bekerja, diam di rumah, keluar sebentar balik lagi ke rumah. Asya sebenarnya ingin sekali bermain di luar seperti teman teman sebaya nya tetapi asya mengurung angannya itu, dia harus keras pada dirinya sendiri dengan kata bekerja.
Asya juga dari kecil tidak dapat kebebasan saat bersama neneknya dia diharuskan untuk merawat adiknya siang malam, saat bersama ayahnya dia di haruskan untuk bekerja di rumah 24jam karena tidak adanya seorang ibu belum lagi banyak tuntutan harus pintar di sekolah tapi nyatana otak asya tidak sampai.
Asya hanya bisa tersenyum getir mengingat masa kecilnya hingga sekarang. Dari asya yang mulai tinggal bersama ayahnya yang di mana asya tidak pernah dapat izin buat bermain, dia yang di haruskan bisa memasak, dia yang selalu dapat cacian dan makian dari ayah dan keluarga ibunya tanpa ada yang membela seorang pun.
Asya kembali meneteskan air matanya, saat bersama orang lain memang asya terlihat ceria walau dia tidak banyak bicara, sedangkan saat sendiri luka itu semakin menganga semakin membuat asya sakit, asya selalu berharap dan berharap kebahagiaan itu benar adanya dan segera menjemputnya.
"Ya rabb kapan kebahagiaan itu datang"
~~~
Minggu sore ...
Asya sedang menikmati semilir angin di sebuah pantay, dia ingin melepas semua kepenatan yang ada di kepalanya.
Asya pergi seorang diri, dia kemudian berjalan santay di bibir pantay, asya merentangkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam dalam kemudian mengeluarkannya kembali.
"Fresh banget pikiran gue sekarang" Ucap asya pada dirinya sendiri.
Kemudian asya duduk dengan kaki di tekuk, menikmati senja yang sebentar lagi akan tiba.
"Asya" Panggil seseorang.
"Kurang asem memang lo gak ngajak gue kesini" Ucapnya merenggut.
"Kan lo kerja, gue kan libur takutnya lo cape kalo pulang kerja langsung gue ajak ke sini" Ucap asya tidak enak.
"Ya ampun syaaaaaa, mana bisa gue kelelahan kalo di bawa kesini, kesini doang mah kecil" Ucapnya membuat asya terkekeh, memang sahabatnya itu tidak pernah cape mau segimanapun banyaknya kerjaan kalo soal diajak pergi jalan jalan.
"Yaudah sorry gak gue ajak" Ucap asya sambil terkekeh
"Jangan di ulangi lagi gak baik nak" Setelah ida berkata seperti itu asya tertawa.
Baru kali ini ida melihat sahabatnya itu tertawa lepas seperti tidak ada beban ataupun masalah di pundaknya. Idapun ikut duduk di samping asya dan tersenyum melihat sahabatnya.
"Eh btw ko tau gue disini?" Tanya asya bingung.
"Gue juga tadinya gak sengaja liat lo di sini pas lagi jalan"
"Emang mau kemana?"
"Nyari lo lah, gue mau ngajak keluar tadinya"
"Eump gitu ya, yaudah yo kalo mau keluar" Ajak asya, saat mau berdiri ida mencegahnya.
"Kapan kapan ajalah, gue tau lo lagi menikmati banget waktu di sini" Ucap ida tersenyum. Asyapun ikut tersenyum dan akhirnya hannya keheningan yang ada diantara mereka.
Kemudian ida terbangun, seraya mengajak asya untuk bermain volli ...
"Kuy main volly, kita gabung sama mereka" Ucap ida menunjuk ke beberapa orang yang sedang bermain volly di atas air. Asya hanya menggelengkan kepalanya.
"Lo aja gue gak bisa main volly" Ucap asya.
"Ck, alesan aja" Ucap ida memutar bola matanya malas, asya hanya tertawa melihat sahabatnya itu.
"Ayolah sya" Ucapnya memelas.
"Gue lagi gak pengen da lo aja"
"Yaudah kalo gitu, gue gabung dulu sama mereka" Kemudian ida melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan asya sendiri. Asya sangat menikmati waktunya untuk melihat senja.
~~~
Jam menunjukan pukul 10.00,asya terganggu karena cahaya yang terpantul di kaca kontrakannya. Asya mengambil hp nya di atas meja kecil samping kasur nya. Seketika mata asya pun melotot.
"Anjiir, kesiangan aing, belum nyuci baju, belum masak, belum siap siap buat berangkat kerja kenapa juga gue semalam maraton nonton drakor sampe jam 04.00pagi... Ahh sial!! " Umpatnya. Asya semalam nonton drama korea kesukaannya sampai lupa waktu sedangkan hari ini dia jadwal kerja shiff siang dan dia cuma punya waktu beberes rumah 2jam karena jam 12siang nanti asya sudah harus berangkat untuk ke tempat kerjanya.
Asya kemudian bangun, dia ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu mengucir rambutnya dengan asal. Kemudian mengambil nasi untuk di bersihkan dan di masak. Setelah itu asya mencari sapu dan kain lap pel, lalu mulai beberes rumah nya.
Setelah selesai dengan alat perang rumahnya asya kemudian bergegas mandi, setelah mandi asya menyiapkan bekal untuk di bawanya ke tempat kerja. Entah kenapa asya hari ingin menginginkan bekal buatannya sendiri nasi goreng di tambah telor ceplok dan sosis kesukaannya. Setelah semuanya selesai asya memasukan bekalnya ke dalam tas, di gendongnya tas itu kemudian asya pergi untuk memakai sepatu kerjanya dan berangkat menuju tempat kerjanya.