Dokter Aisyah mengernyitkan dahinya saat dia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat ada dua puluh lima panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal. Karena dia takut ada kondisi darurat di camp, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi nomor itu. Baru saja satu kali nada menunggu berbunyi panggilannya langsung di jawab.
“Halo? Ini siapa? Apakah ada hal darurat?” Tanya dokter Aisyah ragu.
“Ini aku!” jawab Ageron dingin.
“Ah… ada perlu apa? Aku pikir ini dari salah satu tenaga medis di camp.”
“Haruskah ada perlu dulu baru boleh menelpon?”
“Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya bertanya, kenapa nada suarumu seakan aku melakukan suatu kesalahan yang besar?”
“Kenapa teleponku tidak di jawab?” Tanya Ageron, dia malas menjawab pertanyaan dokter Aisyah.
“Ish!”
“Kenapa?”
“Tidak! Aku tidak menjawab teleponmu karena tadi sedang mandi. Aku baru saja tiba di rumah orang tuaku.”
“Begitu, dan kenapa tidak bilang jika ingin pulang? Kan aku bisa mengantar.”
“Ck! Aku ini bukan anak kecil lagi Kapten Ageron. Aku sudah biasa pulang dan pergi ke rumah orang tuaku sendiri. Lagi pula aku ini dokter jadi mudah-mudahan tidak aka nada orang yang ingin mencelakaiku di jalan.”
“Tapi tetap saja bahaya Aisyah! Bisa saja kan orang-orang yang memihak rezim pemerintah mengahdangmu di jalan karena tahu kau itu dokter di camp pengungsuain. Atau ada warna sipil yang kekurangan bahan makanan menghentikanmu lalu memerasmu.” Cecar Ageron berapi-api.
“Sepertinya kau terlalu berlebihan. Kalau ada warga sipil yang menghentikanku aku akan dengan senang hati membantu mereka. Dan asal kau tahu Kapten Ageron, aku selalu membawa bahan makanan di mobilku setiap kali aku pulang dan pergi ke rumah orang tuaku.”
“Ya Tuhaaan! Dan itu sangat berbahaya jika kau melakukan itu sendirian! Kau tidak tahu seberapa frustasinya mereka Aisyah!”
“Hei, tenanglah mereka itu orang-orangku! Kami mengalami nasib yang sama di sini. Dan aku yakin mereka tidak akan berlaku kasar kepadaku, dan apakah kau lupa? Ada Tuhan yang selalu menjagaku!”
“Ya… ya… ya… terserah kau saja! Kapan kau akan kebali ke camp? Aku akan menjemputmu!”
“Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri. Jika kau menjemputku mobilku bagaimana? Tidak mungkin aku tinggalkan di sini.”
“Aku akan menjemputmu bersama salah satu prajurit, jadi dia bisa membawa mobilmu kembali ke sini, dank au ikut bersamaku! Jadi kapan kau kembali ke camp?”
“Terserah kau saja! Aku baru tahu jika kau seposesif ini Ageron.”
“Apa kau tidak nyaman?”
“Tentu saja.”
“Huift… aku hanya mengkhawatirkanmu! Tidak ada maksud lain. Jadi kapan kau akan kembali ke sini?”
“Tiga hari lagi.”
“Berikan alamat rumah orang tuamu. Aku akan menjemputmu nanti.”
“Tidak perlu Ageron!”
“Berikan saja Aisyah! Ini perintah yang tidak bisa dibantah!”
“Heiiii!!! Aku ini bukan prajuritmu!”
“Tapi kau itu kekasihku saat ini! Jadi wajarkan aku ingin melindungimu?”
“Terserah kau saja! Akan aku kirimkan alamatnya. Saat ini aku ingin beristirahat! Jadi selamat malam! Jangan lupa beribadah sebelum kau tidur!” dokter Aisyah pun memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ageron.
“Bisa-bisanya dia memutuskan sambungan telepon ini sebelum aku menjawabnya!” maki Ageron. Baru kali ini ada yang berani memperlakukannya seperti ini. Kalau bukan karena saya ng sudah dia datangi wanita itu dan dia beri hukuman!
***
Tiga hari bagi seorang Ageron ternyata begitu lama. Padahal sebelum dia menyadari ada seseorang bernama dokter Aisyah di dekatnya tidak ada perasaan seperti ini. Dia tidak pernah tersiksa saat dia menunggu seseorang. Hal semacam ini tidak pernah bayangkan kan terjadi.
“Kapten, ada kabar jika di pinggiran kota ada serangan dari rezim pemerintah. Dan beberapa pasukan sudah di kirim ke sana.” Ucap salah satu prajuritnya.
Ageron yang tengah berdiri mengawasi anggotanya berlatih pun langsung memalingkan wajahnya dan menatap prajuritnya dengan serius. Dia menunggu kelanjutan laporan itu.
“Diperkirakan ada lima puluh keluarga harus dievakuasi. Dan beberapa tim sudah mengatasi hal itu.” Lanjut prajuritnya.
“Bagaimana dengan pihak berwajib yang berwenang. Apakah mereka sudah bergerak? Ataukah mereka hanya menonton seperti sebelumnya?”
“Sebagian dari mereka yang masih memiliki hati nurani sudah turun ke lokasi dan membantu pasukan perdamaian untuk mengevakuasi mereka.”
“Baguslah. Dimana lokasi penyerangan itu?”
“Di distrik barat pingir kota.” Jelasnya.
Mendengar itu wajah Ageron langsung berubah tegang. Dia sudah mengingat betul distrik itu. Karena di situlah rumah orang tua dokter Aisyah berada. Dia langsung mengatakan kepada bawahannya yang bertugas saat ini untuk menggantikannya berjaga. Dia akan langsung menuju distrik barat pingir kota.
Karena takut terjadi apa-apa kepada komandan mereka, dua orang prajurit memaksa untuk ikut. Karena tidak mau membuang waktu lama, Ageron pun langsung berangkat menuju titik penyerangan rezim pemerintah itu.
Perjalanan yang mereka tempuh ternyata cukup jauh. Butuh waktu dua jam setengah untuk sampai ke tempat ini dan melewati zona berbahaya. Ageron mengumpat kesal saat mengetahui medan seperti ini yang dilalui dokter Aisyah seorang diri.
“Dasar keras kepala! Bisa-bisanya dia menolak tawaranku!” gerutu Ageron. Dua orang yang ada di kursi depan hanya bisa saling pandang. Mereka bingung dengan apa yang baru saja Ageron katakana. Dan menebak-nebak siapa yang Ageron maksud.
Saat mereka sampai di lokasi yang dimaksud semua orang tengah sibuk mengevakuasi warga sipil yang masih terjebak. Ageron dan dua orang yang baru dating pun langsng membantu tanpa menunggu lama. Setelah semua orang sudah masuk ke dalam mobil truk terbuka milik tentara setempat Ageron mulai menanyakan alamat rumah dokter Aisyah kepada petugas yang berjaga di sini.
“Apa kau tahu ini ada dimana?” Tanya Ageron sambil memperlihatkan ponselnya kepada petugas itu.
“Oh, ini masih ada dua kilometer dari sini. Ada apa, Pak?”
“Ah, tidak ada apa-apa. Ini adalah rumah kolageku. Apakah efek serangannya sampai ke sana?”
“Belum. Tapi kami sudah memberikan peringatan kepada mereka dan menyarankan mereka untuk mengungsi ke camp kami.”
“Apakah camp kalian jauh dari sini?”
“Cukup jauh, sekitar tiga puluh menit ditempuh menggunakan mobil.”
“Berapa banyak warga yang ada di sana?”
“Sudah sangat banyak. Kami pun kewalahan untuk mengurusi mereka.”
“Ehm… baiklah kalau begitu. Mereka yang belum kalian evakuasi akan saya tampung di camp yang menjadi tangung jawab saya. Walaupun jaraknya cukup jauh dari sini, saya rasa itu tidak jadi masalah.”
“Benarkah? Jika begitu kami akan dengan senang hati menerima tawaran dari Anda, Pak. Saya akan melapor kepada komandan saya.” Jawab petugas itu.
Dia pun mulai berlari menghampiri komandannya yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka dan menyampaikan tawaran dari Ageron. Komandan itu langsung senang dan menghampiri Ageron. Mereka berdua langsung berdiskusi membahas skenario pemindahan warga sipil itu.
***
Langit yang bertabur bintang mengiringi perjalanan dua mobil truk dan empat mobil pengawal yang saat ini tengah menuju camp yang menjadi tanggung jawab Ageron. Mereka semua bergerak dengan sangat cepat. Karena takut tentara dari rezim pemerintah yang tak memiliki hati nurani dan belas kasihan itu akan menyerang.
Ada sekitar dua puluh keluarga yang Ageron bawa untuk di tempatkan di camp yang menjadi tanggung jawabnya. Mulai dari lansia sampai bayi ada di mobil ini. Mata sayu mereka menggambarkan betapa lelahnya mereka mengahdapai masa-masa sulit ini. Wajah ketakutan dari anak-anak itu pun membuat siapa saja yang melihat sedih.
Saat ini Ageron tengah berada satu mobil dengan dokter Aisyah. Mereka berdua bertemu di camp pengungsian. Dan dokter Aisyah sangat terkejut melihat kedatangan Ageron. Tapi karena mereka tengah focus untuk membantu warga sipil di camp, jadi dari tadi tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua hingga saat ini.
Mobil masih melaju membelah gelapnya malam. Dan setibanya mereka di camp, semua orang bergegas membantu warga sipil untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah di persiapkan. Ada sepuluh ruangan yang masih kosong, jadi dalam satu ruangan itu ada dua keluarga yang menempatinya. Setelah semuanya bisa beristirahat dengan tenang, barulah semua tentara dan juga petugas medis beristirahat dan kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Hanya ada lima orang yang berjaga di sekitar camp sebelum akhirnya mereka pun akan bertukar jaga dengan yang lain. Dokter Aisyah berniat kembali ke ruangannya tapi ditahan oleh Ageron. Dia mengajak dokter Aisyah untuk masuk ke ruangannya. Ageron tahu betul jika di ruangan dokter dia tidak akan bisa berbicara serius dengan kekasihnya ini mengingat ruangan yang digunakan dokter Aisyah ditempati dua dokter lainnya.
“Ada apa ini? Aku sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.” Protes dokter Aisyah saat Ageron menariknya masuk.
“Apakah tidak ada hal yang ingin kau sampaikan atau kau jelaskan?” Tanya Ageron sinis.
“Tidak ada, lagi pula apa yang harus aku jelaskan?”
“Kenapa kau tidak memberitahuku tentang serangan rezim pemerintah itu?”
“Oh, aku mana sempat melakukan itu. Kau lihat sendiri bukan tadi aku sangat sibuk membantu di sana. Dan lagi aku yakin kau akan menerima kabar itu. Karena kalian saling terhubung satu sama lain.”
“Kau tahu kalau aku sangat mengkhawatirkanmu?”
“Terima kasih, aku sangat berterima kasih akan semua perhatianmu. Dan aku sangat senang.”
“Aku mohon, lain kali jika kau ingin keluar dari camp ini orang pertama yang harus tahu itu aku. Aku tidak tenang saat kau pergi dari camp ini.”
Mendengar itu dokter Aisyah langsung terharu. Ini kali pertama baginya mendapatkan perhatian sebesar ini dari orang lain selain ayah dan ibunya. Dia pun tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Dia berjalan mendekati Ageron dan meraih kedua tangan pria itu. Digenggamnya erat tangan Ageron dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
“Aku ingin beristirahat. Dan ingin melihat kondisi ayah dan ibuku. Apakah mereka masih trauma atau sudah sedikit lebih tenang.”
“Ah, iya. Apa aku boleh ikut menghampiri mereka?”
“Tentu. Tapi aku mohon jangan mengatakan hal yang tidak perlu untuk saat ini. Berikan mereka waktu untuk menenangkan diri. Karena aku sangat yakin saat ini mereka masih takut dan masih cemas. Karena mereka nyaris kehilangan anaknya untuk yang ketiga kali.”
“Maksudmu?”
“Kedua kakakku meninggal akibat perang saudara ini. Jadi aku yakin kau pasti paham bagaimana guncangan psikis yang mereka alami.” Jelas dokter Aisyah.
“Oh, begitu. Baiklah jika seperti itu sebaiknya besok saja aku menemui mereka.”
“Terima kasih karena sudah mengerti kondisi kami.”
“Berhentilah mengatakan teima kasih kepadaku! Aku ini bukan orang lain. Aku ini kekasihmu!” perintah Ageron tegas. Dia tidak suka mendengar kata terima kasih dari mulut dokter Aisyah. Karena hal itu terdengar sumbang di telinganya. Dia seolah menjadi orang asing untuk dokter Aisyah jika dia selalu mengucapkan terima kasih.