Perkenalan

1410 Words
Jarum jam baru menunjukkan pukul lima subuh, tapi beberapa orang yang ada di camp pengungsian ini sudah menjalankan ritual agama mereka. Ageron hanya bisa memperhatikan dari kejauhan saja. Saat ini dia hanya bisa memperhatikan dan mengingat kembali gerakan-gerakan yang saat ini tengah dia lihat. Saat semua orang sudah selesai berdoa bersama, Ageron pun beranjak dari tempatnya.   Baru saja dua langkah dia menjauh, pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ageron pun menolehkan kepalannya dan melihat ada seorang kakek tua yang tersenyum ke arahnya. Karena tidak mau bersikap tidak sopan, dia pun membalas senyum itu. Kakek tua itu pun mengajak Ageron berbincang. Bahasa Inggris yang dia gunakan sangat fasih dan hal itu membuat Ageron terkesan.   Biasanya selama ini dia yang menyesuaikan diri dengan berbicara dengan bahasa mereka. Kadang Ageron menggunakan Bahasa Arab untuk berkomunikasi, tak jarang juga dia menggunakan Bahasa Kurdi. Kakek ini sangat bersemangat menjelaskan tentang ritual beribadah yang baru saja dia kerjakan bersama dengan warga sipil lainnya. Saking semangatnya dia tak menyadari jika saat ini matahari sudah beranjak naik dan cahayanya menerangi camp mereka.   “Selamat Pagi, Kapten!” sapa salah satu prajurit yang ada di camp ini. Sapaannya itu berhasil menghetikan penjelasan sang kakek.   “Ya, Pagi.”   “Saya ingin melapor, jika persiapan apel pagi ini sudah siap, dan Kapten sudah bisa langsung ke lapangan.” Jelasnya.   Ageron pun berpamitan kepada kakek itu dan berjalan mengikuti prajuritnya. Apel pagi ini cukup lama karena banyak menyampaikan laporan tentang pengalihan tangung jawab dari camp barat ke camp timur. Setelah semuanya selesai Ageron pun bersiap untuk menuju camp barat dan menyerahkan data apa saja yang diminta oleh camp barat.   Sebenarnya dia bisa saja meminta salah satu bawahannya untuk menyerahkan itu. Tapi ada hal yang ingin dia cek sendiri di distrik barat. Saat Ageron hendak menyalakan mesin mobilnya, dokter Aisyah mendatanginya. Ageron cukup terkejut, karena biasanya dia yang memiliki inisiatif untuk mencari kekasihnya itu.   “Ada apa?” Tanya Ageron berusaha sedingin mungkin. Padahal dalam hatinya gendering sudah bertalu dengan sangat kencang saking dia bahagia.   “Ehm… ada yang ingin aku sampaikan, Kapten.” Ujar dokter Aisyah formal. Karena ada tiga orang tentara lain di dekat Ageron.   Ageron pun turun dari mobil dan meminta ketiga orang itu menunggunya sebentar. Dia berjalan sedikit menjauh dari mobil agaer dokter Aisyah memiliki keberanian untuk menyampaikan maksudnya menyusulnya sampai ke parkiran mobil yang jaraknya cukup jauh dari ruang perawatan.   “Apakah kau ingin ke distrik barat lagi?” Tanya dokter Aisyah cemas. Dari sorot matanya terlihat sekali jika saat ini dia sangat khawatir.   “Iya. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kau titipkan?”   “Bukan, tidak ada apapun yang ingin aku titipkan. Aku hanya ingin mengatakan berhati-hatilah. Temanku yang sesama dokter mengatakan di sana sedang terjadi baku tembak antara tentara rezim pemerintah dengan tentara perdamaian yang membatu warga sipil.” Jelas dokter Aisyah.   Mendengar itu Ageron langsung tersenyum dan menyentuh puncak kepala dokter Aisyah yang dilapisi hijab. Lama dia mengunci manik mata berwarna coklat itu. Ada rasa senang dan juga haru yang saat ini Ageron rasakan. Ternyata selain dari mama dan kakak perempuannya, perhatian dari seorang wanita yang baru saja dia kenal membuat hatinya damai.   “Kau mengkhawatirkanku rupanya. Aku pikir kau tidak pernah akan melakukan itu.” Ucap Ageron lembut. Seketika wajah dokter Aisyah pun merona merah karena malu.   “Sepertinya aku salah menghampirimu ke sini. Kalau begitu aku pergi dulu. Ada hal yang harus aku kerjakan di ruang perawatan.” Dokter Aisyah pun berbalik badan dan langsung cepat-cepat menjauh.   Jangan kalian pikir Ageron akan mengejarnya seperti di film drama romantis. Tidak sama sekali. Dia hanya tersenyum melihat dokter Aisyah yang tampak malu itu dan berlari menuju mobil yang sudah siap berangkat.   ***   Sore ini langit sangat cerah. Semua anak-anak yang ada di camp pengungsian pun tampak tengah belajar di alam terbuka dibimbing oleh beberapa perawat yang hari ini tidak ada jam bertugas. Gelak tawa mereka membuat semua orang dewasa di camp ini ikut bahagia. Sedikit demi sedikit trauma yang mereka alami bisa mereka lupakan berganti dengan keceriaan. Tapi entah sampai kapan ini bisa berlanjut. Karena nasib mereka saat ini belum benar-benar pasti.   Entah kapan mereka dapat menghirup udara segar dan juga hawa perdamaian di kota tercinta. Petinggi-petinggi negara ini tengah berjuang untuk menggulingkan pemerintahan yang saat ini tengah bersikap tamak dan mengorbankan rakyat sipil hanya demi mencapai kepentingannya. Dan semua orang yang ada di sini tengah berdoa kepada Tuhan agar semua kekacauan ini segera berlalu dan selesai.   Dokter Aisyah yang berada di sekitar anak-anak ini sudah beberapa kali melihat pintu gerbang yang di jaga beberapa penjaga. Belum ada tanda-tanda kedatangan dari Ageron. Sudah sangat lama pemimpin camp ini pergi menuju distrik barat. Ageron pun tidak mengirimkan kabar kepada Aisyah ataupun bawahannya. Dokter Aisyah pun menghela napas berat, lalu dia beranjak untuk menuju ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sengaja dia tinggalkan demi untuk berada di sini dan menunggu kedatangan Ageron.   “Kau sedang menunggu seseorang, Nak?” Tanya ayahnya saat melihat dokter Aisyah tampak lesu.   “Tidak, Baba.” Jawab dokter Aisyah sambal menghentikan langkahnya. Karena saat ini di depannya tengah berdiri ayah dan ibunya.   “Kau anak kami, Aisyah. Jadi sudah pasti kami mengetahui jika saat ini kau berbohong.” Sela ibunya. Dokter Aisyah pun tersenyum mendengar itu.   “Kalian berdua memang orang tua yang sangat perhatian rupanya. Iya aku tengah menunggu seseorang yang tengah pergi ke distrik barat.” Jawabnya jujur.   “Siapa? Apakah kekasihmu?” Tanya ayahnya penasaran.   “Ehm… bisa dibilang seperti itu.” Jawab dokter Aisyah malu-malu.   “Ya Tuhan, anak kita sudah dewasa ternyata.” Ibunya berkata dengan penuh haru sambal menutup mulutnya dengan kedua tangan tua miliknya.   “Siapa dia? Apakah salah satu petugas medis di sini? Atau salah satu tentara yang membantu di sini?” cecar ayahnya penasaran. Dia sangat ini bertemu dengan laki-laki itu agar dia bisa menilai seberapa pantas laki-laki itu untuk bersanding dengan putri kesayangannya.   “Dia salah satu tentara di sini ayah.” Dokter Aisyah pun menunduk malu.   Perlahan ayahnya mengangkat kepala putrinya yang saat ini tengah menghindari tatapan matanya. Dia perhatikan dengan seksama setiap gerakan tubuh dokter Aisyah. Dia tampak mencari sesuatu di sana, entah apa itu.   “Aisyah!” panggil suara yang akhir-akhir ini selalu dokter Aisyah dengar.   Dokter Aisyah pun membalikkan badannya dan melihat sosok Ageron tengah berjalan dengan penuh percaya diri menghampirinya. Seketika jantungnya bertedak dua kali lebih cepat dari biasanya. Setiap langkah yang Ageron ambil seolah menekan tobol ON pada setiap sel yang berada di jantungnya.   “Apakah dia orangnya?” bisik ibunya. Dan dokter Aisyah pun menganggukkan kepala lembut.   “Ada hal yang ingin aku tanyakan.” Ucap Ageron saat dia sudah benar-benar berada di depan dokter Aisyah.   Tapi pandangannya langsung beralih kepada dua orang yang saat ini tengah berada di belakang dokter Aisyah. Di amengamati kedua orang ini. Karena wajah keduanya mirip dengan wajah dokter Aisyah, Ageron langsung paham jika mereka berdua adalah orang tua dari kekasihnya itu. Ageron pun menundukkan kepalanya dan tersenyum ramah kepada kedua orang tua dokter Aisyah.   ‘Ternyata dia bisa seramah ini kepada orang lain? Kenapa kepadaku selalu dingin?’ gerutu dokter Aisyah saat melihat seulas senyum hangat yang Ageron perlihatkan.   “Apakah mereka…” Tanya Ageron menggantung. Dan dokter Aisyah menganggukkan kepalanya. Dia paham kemana maksud dari perkataan Ageron saat ini.   “Iya, mereka berdua adalah ayah dan ibuku.” Jawab dokter Aisyah. “ayah, ibu ini Ageron. Kapten di kelompok ini. Dia yang bertanggung jawab di camp ini.” Lanjut dokter Aisyah.   “Oh, senang bisa berkenalan dengan Anda, Pak.” Ayah dokter Aisyah pun maju dua langkah untuk mendekat ke arah Ageron. Lalu dia mengulurkan tangannya.   Tanpa menunggu lama Ageron pun menyambut uluran tangan itu seraya menyebutkan namanya. Kemudian dia mendekat ke dekat ibu dokter Aisyah lalu mengcium punggung tangan wanita paruh baya itu. Melihat apa yang saat ini Ageron lakukan, ayah dokter Aisyah pun tersenyum senang. Dia tahu orang yang saat ini menjadi kekasih anaknya adalah laki-laki baik yang bisa menghormati orang tua, terutama seorang ibu.   Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Ageron mengajak mereka bertiga ke ruangannya. Di ruangan itu Ageron membuat sendiri minuman untuk di sajikan kepada calon mertuanya. Tiga cangkir teh dia berkan kepada ‘tamunya’ ini. Lalu dia pun membuka lemari persediaan makanannya dan menemukan beberapa biskuit yang dia simpan sebagai persediaan makanannya.   Dengan sopan Ageron menyuguhkan biscuit itu dan mempersilahkan dokter Aisyah dan kedua orang tuanya untuk menikmati hidangan seadanya yang dia siapkan. Sambal minum teh, ayah dokter Aisyah pun memperkenalkan dirinya. Dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada Ageron.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD