Sebuah Permintaan

1153 Words
Semakin hari serangan-serangan dari tentara rezim pemerintah. Banyak warga sipil terjebak di dalam reruntuhan gedung dan juga camp-camp pengungsian. Mereka tidak ada pilihan selain tinggal di bawah naungan penjagaan tentara perdamaian dan tentara lokal yang tidak mendukung pemerintah. Ageron sibuk ke sana dan kemari begitu juga dengan dokter Aisyah yang sibuk membantu warga sipil ataupun tentara yang terluka bersama petugas medis lainnya.   Selama satu minggu mereka tidak bertegur sapa ataupun berbicara satu sama lain. Saat berpapasan pun mereka tidak saling bicara. Minggu ini benar-benar minggu yang sibuk dan mencekam bagi semua orang. Anak-anak pun tak  henti-hentinya menangis saat mendengar dentuman rudal ataupun bom.   Begitu pun hari ini. Sejak tadi pagi semua orang sudah sangat sibuk. Sahid yang memang masih sangat kecil sibuk menjacari Ageron. Sedari tadi dia terus memanggil nama babanya dan menangis sambal bertanya kepada semua orang dewasa yang dia temui. Sampai akhirnya dia berada di depan ruangan dokter Aisyah.   “Dokteeeer…” rengek anak kecil itu.   Dokter Aisyah yang baru saja ingin memejamkan matanya karena begitu lelah mengurungkan niatannya. Dia bangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri Sahid sambil memaksakan senyum tulus untuk anak kecil ini.   “Ya, Sahid. Ada apa?” Tanya dokter Aisyah.   “Apakah dokter melihat baba?” tanyanya sambal berkaca-kaca.   “Baba? Maksudmu Kapten Ageron?” Tanya dokter Aisyah memastikan. Dia memang tahu jika kekasihnya itu dipanggil baba oleh anak asuhnya ini. Tapi bisa saja yang Sahid cari orang lain, atau ayah kandungnya. Karena saat ini Sahid banyak melihat anak seuisianya berkumpul bersama kedua orang tuanya.   “Iya, dimana Baba?” tanyanya sekali lagi.   “Sahid, maafkan aku, aku tidak tahu nak. Aku belum melihat ayahmu sedari pagi tadi. Kenapa kau mencari baba?”   “Aku hanya ingin di gendong dan diajak bermain seperti teman.” Jelasnya sedikit malu.     “Ehm… saat ini ‘kan babamu tidak tahu ada di mana. Apakah kau mau bermain denganku?” Tanya dokter Aisyah hati-hati.   “Tapikan dokter ingin istirahat. Aku lihat dokter sudah tidur tadi.”   “Tak masalah. Ayo kita bermain. Sahid mau bermain apa?”   “Mau bermain di luar sana bersama yang lain. Mereka sedang bermain bersama orang tua mereka.”   “Baiklah. Mari kita ke sana.”   Dokter Aisyah dan juga Sahid pun bergabung dengan yang lain. Mereka bermain bersama tertawa lepas dan tak lupa melakukan hal-hal bersama dengan yang lain. Setelah puas bermain, Sahid dan yang lain pun beristirahat di ruangan masing-masing. Awalnya Aisyah ingin mengajak Sahid ke ruangannya. Tapi Sahid menolak, dia ingin tidur di ruangannya sendiri.   Di camp ini Sahid menempati ruangan kecil di samping ruangan Ageron. Sebenarnya ruangan itu yang seharusnya menjadi kamar milik Ageron, bukannya ruang kerja yang dijadikan juga kamar oleh Ageron.   “Ayo Sahid, mari kita tidur.”   “Dokter, apakah kau tidak keberatan membacakan aku buku cerita?” Tanya Sahid sambil memberikan satu-satunya buku yang ada di ruangan ini.   “Baiklah. Ayo sini kita berbaring.”   Mereka berdua pun berbaring bersisian. Dokter Aisyah mulai membacakan buku itu yang ternyata buku sejarah milik Ageron. Dokter Aisyah mengira jika buku itu adalah buku dongeng atau cerita anak-anak. Dia merasa miris, ternyata balita satu ini tidak pernah mendengar dongeng untuk anak seusianya. Dokter Aisyah pun berjanji untuk membawakan buku cerita yang lebih menarik nanti.   Tanpa sadar dokter Aisyah pun terlelap tidur bersama Sahid. Saat Ageron kembali dari patrolinya, dia langsung mengecek kondisi Sahid. Dahinya langsung berkerut saat melihat ada kekasihnya di kamar anak angkatnya ini. Tapi seulas senyum langsung terkembang di wajah tegas itu.   “Bisa-bisanya dia tertidur di sini.” Gumam Ageron pelan.   Ageron pun mendekati ranjang Sahid. Dia mulai menarik selimut yang belum sempat dibuka oleh dokter Aisyah lalu menyelimuti dua orang ini. Ageron mulai mempehatikan paras cantik dokter Aisyah. Tangannya pun terangkat menyusuri wajah cantik itu. Perlahan Ageron mendekatkan wajahnya ke arah dokter Aisyah. Dan bersiap untuk mengecup lembut bibir merah muda milik dokter Aisyah.   “Kau mau apa, Baba?” Tanya Sahid. Dan hal itu sukses membuat Ageron salah tingkah dan langsung berdiri.   “Ah, tidak ada. Aku hanya ingin menyingkirkan kotoran dari wajah dokter Aisyah.” Jawab Ageron terbata. Dia berusaha menetralkan detak jantungnya yang saat ini berdetak cukup cepat karena dikejutkan oleh Sahid tadi.   “Oh, Baba dari mana? Dari tadi aku mencarimu.”   “Habis berpatroli. Kan tadi pagi aku sudah berpamitan denganmu. Apakah kau mencari-cariku lagi seperti kemarin-kemarin?”   “Iya… aku ingin sekali bermain bersama Baba seperti yang lain.” Aku Sahid.   “Maafkan Baba yang kembali lama. Dan kenapa dokter Aisyah ada di kamarmu?”   “Tadi dokter Aisyah menemaniku bermain dan membacakan buku untukku. Sepertinya dia ikut tertidur karena lelah. Karena saat aku mengehampirinya di ruangan dokter tadi aku lihat dia sudah tidur.” Cerocos Sahid dengan gaya khasnya.   “Lain kali jika dia sudah sangat lelah, jangan ganggu dia lagi ya. Kasihan dia.”   “Baik, Baba.”   “Ya sudah, kau tidur lagi saja. Baba akan kembali ke ruangan.”   “Baba, bisakah kau menemaniku tidur di sini seperti dokter Aisyah? Aku rindu dipeluk ayah dan ibuku.”   Permintaan anak polo situ langsung menyentuh hati Ageron. Dia mengelus puncak kepala Sahid dan menyetujui apa yang baru saja diminta anak kecil itu. Alhasil mereka bertiga tidur di ranjang yang sama. Aisyah di sebelah kanan Sahid, sedangkan Ageron tidur di sebelah kiri Sahid. Anak kecil itu pun tersenyum senang mendapati suasa yang benar-benar dia rindukan.   ***   Dokter Aisyah terbangun dari tidurnya. Dia memperhatikan sekelilingnya dan langsung terkesiap dan duduk di atas ranjang. Di lihatnya ada Ageron tidur di sisi kiri Sahid. Matanya langsung melihat keluar jendela, dan ternyata ini sudah gelap. Saat dia ingin beranjak dari ranjang, tangannya di tahan oleh Ageron.   “Kau mau kemana?” Tanya Ageron pelan.   “Kembali ke ruanganku. Nanti ada omongan-omongan sumbang di belakangku.”   “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Mari kita ke ruanganku sebentar.”   Kedua orang itu pun berpindah ke ruangan Ageron melalui pintu penghubung yang ada di ruangan ini tanpa perlu keluar ruangan. Aisyah baru tahu jika ada pintu seperti itu di ruangan ini. Ageron mempersilahkan Aisyah untuk duduk di sofa yang selalu dia gunakan untuk tidur. Dan dia berlutut di depan dokter Aisyah.   “Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak duduk di sampingku?” Tanya dokter Aisyah bingung.   Ageron hanya tersenyum simpul. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya. Ternyata itu sebuah kalung. Dan di kalung itu ada sebuah bandul kecil berbentuk lingkaran. Ageron melepaskan kalung itu, lalu mengambil bandul yang menggantung di kalung itu. Ternyata itu sebuah cincin berbahan dasar platina dan bertuliskan namanya di dalam.   Ageron memberikannya kepada Aisyah. Disematkannya cincin itu di jari tengah Aisyah. Karena dia yakin cincin ini akan kebesaran di jari manisnya. Setelah cincin itu tersemat dengan sempurna barulah Ageron berdiri dan duduk di samping dokter Aisyah.   “Apa ini?” Tanya dokter Aisyah sambil menunjukkan jarinya.   “Aku melamarmu. Maukah kau menikah denganku setelah perang ini selesai?” Tanya Ageron to the point. Dia tidak bisa berbicara manis dan romantis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD