Bimbang

1644 Words
Dokter Aisyah masih memegang dadanya yang saat ini terdengar detak jantung yang begitu keras. Dia baru saja menutup pintu ruangannya dan masih mematung di posisi itu. Pernyataan Ageron itu membuat dia benar-benar terkejut bercampur senang. Wajahnya yang masih merona membuatnya tampak lucu saat ini. Tanpa dia sadari di dalam ruangan itu ada kedua orang tuanya yang menatapnya bingung.   “Kau dari mana Aisyah?” suara tegas yang disuarakan oleh ayahnya membuat dokter Aisyah tersadar dari lamunannya.   “Eh, ayah. Aku baru saja kembali dari kamar Sahid.” Jelas dokter Aisyah sambil mendekat ke arah mereka.   “Sahid? Anak laki-laki yang tadi siang kau temani bermain di lapangan?”   “Benar. Ada apa ayah dan ibu datang ke sini?”   “Kami ingin menanyakan kabarmu. Dan kami pun bosan berada di kamar terus.” Jawab ibunya.   “Aku baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir, di sini aku memang selalu sibuk seperti ini. Terkadang aku lupa untuk tidur.” Jelas dokter Aisyah sambil tersenyum. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya ini khawatir.   “Aisyah, apakah ada hal baik yang terjadi hari ini? Ayah melihat ada rona bahagia di wajahmu.” Tanya Zainuddin kepada anaknya.   “Ah… aku lupa kalau aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari ayah.” Jawab Aisyah sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “iya, tadi Ageron melamarku, Ayah. Dia mengatakan akan melamarku secara benar dan mengajak kedua orang tuanya datng ke sini setelah konflik ini berakhir.” Lanjut Aisyah.   “Ya Tuhan…” Maryam langsung mendekati Aisyah dan memeluknya. Dia sangat bahagia saat ini. Ada laki – laki baik yang akan mempersunting anak semata wayangnya ini.   “Apakah kau sudah yakin? Kalian baru saja saling mengenal bukan? Dan lagi dia bukan dari negara ini. Apakah kau akan dibawanya ke negaranya nanti?” Tanya Zainuddin sedikit cemas.   Aisyah tersenyum dan mendekati Zainuddin, dia memeluk ayahnya dan mengusap punggung tua itu.   “Ageron akan membawa kita bertiga ke negaranya, Yah. Dia yang akan mengurus semua dokumen dan keperluan administrasi kita nanti.” Jelas Aisyah.   “Bisakah?” Tanya Maryam memastikan.   “Bisa, Bu. Sepertinya keluarganya cukup berpengaruh di negaranya.”   “Apakah kita akan pantas bersanding dengan mereka nanti?” Tanya Zainuddin.   “Ayah, kenapa ayah berkata seperti itu? Bukankah ayah sendiri yang mengajarkan kepadaku jika kedudukan semua manusia sama? Hanya Tuhan yang berhak menilai baik buruknya seorang hamba. Kenapa sekarang ayah tidak percaya diri?”   “Entahlah, semenjak kejadian buruk yang dating silih berganti ayah merasa ada yang salah dalam hidup ini.”   “Ayah… jangan berkata seperti itu. Semua ini sudah menjadi garis nasib kita selama di dunia. Bukankah begitu?”   “Iya, ayah paham. Tapi masih banyak hal yang ayah takutkan.”   “Ehm… jika begitu ayah berbicara saja dengan Ageron. Atau ayah ajak dia ngobrol, Ageron memang terlihat seperti pria arogan, tapi sebenarnya dia orang yang baik.”   “Coba besok ayah berbicara dengannya. Ya sudah, karena ini sudah malam sebaiknya kau beristirahat saja.”   “Iya, ayah dan ibu juga ya. Apakah perlu aku antar ke ruangan kalian? Apa ada yang membuat kalian tidak nyaman?”   “Tidak perlu nak. Kau istirahat saja, semua yang ada di sini sangat nyaman untuk kami. Karena kau ada di dekat kami dan bisa kami lihat setiap hari.”   “Aku senang mendengarnya ayah. Jika ada yang kalian perlukan katakana saja padaku. Akan aku usahakan untuk memberikannya kepada kalian.”   ***   Saat ini Ageron tengah duduk berdua bersama ayah dokter Aisyah. Dia sangat terkejut saat membuka pintu ruangannya ternyata ada ayah dari kekasihnya. Padahal pagi ini agendanya cukup padat. Tapi karena ayah dokter Aisyah sudah datang menemuinya dia terpaksa meminta asistennya untuk menyusun ulang agendanya.   Zainuddin masih diam, dia bingung ingin memulai semuanya dari mana. Apakah dia bisa langsung to the point. Ataukah perlu berbasa - basi terlebih dahulu. Karena masih menimbang-nimbang Zainuddin pun menjelajah ke setiap sudut ruangan ini. Ageron masih menungu sampai calon ayah mertuanya ini membuka pembicaraan. Walaupun dia sudah bisa menebak ke arah mana obrolan mereka nanti.   “Ehm…” Zainuddin berdeham untuk melancarkan tenggorokkannya yang sedikit kering. “Apakah saya mengganggu waktumu, Kapten?” Tanya Zainuddin.   “Ah, tidak Pak. Pangil saja saya Ageron, tidak perlu memanggil Kapten. Saya tidak enak mendengarnya.”   “Bolehkah seperti itu?”   “Tentu saja boleh. Saya tidak begitu sibuk hari ini. Apakah ada hal penting yang ingin Anda katakana?”   “Saya ingin bertanya perihal lamaranmu kepada Aisyah malam tadi. Apakah kamu serius dengan hal itu?”   “Oh, tentang hal itu. Ya, saya serius dengan hal itu. Mungkin kami memang belum lama berkenalan. Tapi saya tidak ingin membuang waktu percuma. Jika harus belajar saling mengenal, lebih baik kami lakukan setelah menikah. Apakah Anda keberatan, Pak?”   “Begitu rupanya. Dari sana saya bisa melihat jika kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Saya tidak merasa keberatan sama sekali. Selagi Aisyah mau menjalaninya dan bahagia dengan keputusan yang dia buat saya ikut bahagia akan hal itu.”   “Syukurlah. Tapi saya akan membawa Aisyah ke negara saya nanti. Apakah Aisyah sudah menyampaikannya kepada Anda, Pak?”   “Ah, perihal itu dia sudah menyampaikannya kepada kami. Dan apakah benar kamu akan membawa kami semua ke Indonesia dan mengurus semua dokumen kami sampai berubah kewarganegaraan?”   “Betul. Semuanya akan saya urus. Tapi seperti yang Anda tahu. Untuk pindah kewarganegaraan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Jadi mungkin awalnya akan saya uruskan visa turis. Setelahnya baru akan saya urus yang lainnya. Yang penting kita kembali dulu ke negara saya.”   “Terima kasih, Ageron. Saya benar-benar berterima kasih kepadamu. Saya tidak pernah tahu akan rencana Tuhan kepada keluarga kami. Tapi apakah keluargamu akan menerima kami? Kami bukanlah orang terpandang di sini. Bahkan mungkin nanti rumah kami pun akan rata dengan tanah akibat ulah para pasukan rezim pemerintah lakhnat itu.”   “Untuk itu Anda tidak perlu khawatir, Pak. Ayah dan ibu saya bukanlah orang yang seperti itu. Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Aisyah. Mereka akan datang setelah konflik ini berakhir. Mungkin kita harus bertahan satu bulan lagi.”   “Satu bulan ya. Berarti masih cukup lama anak-anak malang itu menghadapi mimpi buruk mereka.”   “Ini perkiraan paling lama, Pak. Jika mereka berpikir jerni seharusnya mereka sudah menyerah. Karena posisi mereka saat ini tidak lagi menguntungkan.” Jelas Ageron kepada calon ayah mertunya ini.   Zainuddin hanya bisa mendengarkan semua penjelasan Ageron saat ini. Dia masih belum bisa menerima semua informasi yang saat ini diucapkan oleh Ageron. Karena apa yang dia ingin tanyakan sudah terjawab maka Zainuddin memutuskan untuk mengakhiri perbincangan ini. Dia pun melihat sepertinya Ageron memiliki agenda yang cukup adat pagi ini.   “Kalau begitu saya undur diri dulu, Ageron. Lain kali kita sambung lagi percakapan kita. Saya yakin ada banyak hal yang ingin kamu lakukan pagi ini. Terima kasih atas waktu yang sudah kamu luangkan untuk berbincang dengan lelaki tua ini.”   “Jangan sungkan, Pak. Kapan pun saya ada cukup waktu jika hanya ingin mengobrol seperti ini.”   “Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu lain waktu.” Zainuddin pun bangkit dari duduknya dan dia keluar meninggalkan ruangan Ageron.   Tak lama berselang Ageron pun keluar dari ruangannya dan menuju kamar Sahid. Dia ingin berpamitan kepada anak angkatnya ini. Hari ini dia akan pergi cukup lama, jadi banyak hal yang harus dia sampaikan.   “Sahiid… apakah kau sudah bangun, Nak?” tanya Ageron sambil membuka pintu kamar ini.   Anak kecil itu sudah rapi rupanya. Dia sudah mandi di bantu oleh asistennya dan sekarang tengah duduk di kursi belajarnya bersama asistennya.   “Apa yang sedang kalian pelajari?” tanya Ageron sambil mendekat.   “Saya hanya memperkenalkan huruf dan angka kepada Sahid, Pak. Dan dia meminta diajarkan menulis.”   “Wah, kau semakin pandai rupanya. Sangat jarang anak seuisamu mau melakukan ini. Jangan terlalu memaksanya. Biarkan dia menghabiskan waktu bermain dan berkumpul bersama teman-temannya. Jangan dulu kau bebankan pelajaran yang berat untuk anak seusianya.” Tegur Ageron.   “Baba, paman tidak salah. Sahidlah yang salah. Sahid yang meminta paman mengajari Sahid. Sahid ingin pintar seperti Baba.” Sahid berusaha membela gurunya itu. Dan apa yang baru saja dia lakukan membuat Ageron tersenyum dan mengusap puncak kepala Sahid.   “Baiklah, Baba tidak akan marah kepada gurumu. Sahid, hari ini aku akan pergi cukup lama. Mungkin malam baru tiba di camp ini, kau jangan mengganggu dokter Aisyah lagi, jika kau kesepian kau ajak saja salah satu dari orang-orang yang berseragam seperti Baba. Dan jangan lupa makan, jika mereka lupa membawakan makananmu, kau datangi saja mereka ke dapur. Kau mengerti apa yang Baba sampaikan ini?”   “Uhm.” Sahid menganggukkan kepalanya.   “Anak pintar.”   “Baba, tapi apa boleh aku meminta dokter Aisyah membacakan buku cerita sebelum aku tidur? Aku suka mendengar suaranya. Dan caranya membacakan cerita sangat bagus.”   “Asalkan dia tidak sibuk dan tidak merasa terganggu, kau boleh meminta bantuannya. Tapi jika dia sedang sibuk dan banyak pekerjaan, kau cari saja mereka ya.” Tunjuk Ageron ke arah para prajurit yang saat ini tengah berlatih di lapangan yang terlihat dari kamar Sahid.   “Baik. Baba, hati-hati ya. Aku takut Baba tidak muncul lagi.” Ucap Sahid lirih. Dia sudah permah merasakan sedihnya tidak bisa melihat ayah dan ibunya kembali ke rumah. Jadi setiap Ageron ingin pergi dari camp ini dia selalu merasa sedih dan murung.   “Sahid, kau tahu kan Babamu ini seorang tentara yang hebat?” tanya Ageron dan Sahid pun menganggukan kepalanya. “jadi, kau tidak perlu cemas. Baba akan kembali ke sini dengan selamat, apapun kondisinya. Jadi kau berdoa saja kepada Tuhan untuk selalu melindungi Baba.”   “Iya, Baba. Aku sayang padamu!” Sahid pun memeluk Ageron erat.   Hal itu membuat Ageron heran. Kenapa anak kecil ini begitu takut kehilangan dirinya. Biasanya Sahid tidak seperti ini. Apa mungkin dia teringat kembali dengan keluarganya yang telah gugur?   “Baba pun menyayangimu. Jadilah anak baik lagi hari ini.”   “Iya, hati-hati Baba.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD