Makan Malam

1153 Words
Mereka berdua tiba di sebuah reruntuhan restoran di tengah kota. Di sana sudah ada lima orang tentara yang berjaga. Reruntuhan itu tampak indah dari kejauhan. Sinar kuning di dalam sana berasal dari beberapa lilin yang dinyalakan. Dan sepanjang jalan menuju reruntuhan itu terdapat berbagai jenis bungan dan rumput liar yang mereka letakkan di dalam botol bekas air mineral dan juga bekas kaleng bekas makanan siap makan.   Benar-benar niat mereka semua ternyata. Reruntuhan restoran itu tampak romantis malam ini. Padahal jika siang hari reruntuhan ini tampak menyeramkan dan memprihatinkan. Dokter Aisyah benar-benar tersentuh atas usaha Ageron membuat semua ini tampak indah. Mereka pun mendekat dan masuk ke dalam reruntuhan restoran ini.   Di dalam sini terdapat meja yang sudah terpotong setengahnya tapi masih bisa berdiri. Meja itu dialasi kain putih yang diyakini dokter Aisyah kain itu adalah seprai yang ada di camp. Lalu kursi yang terdapat sisa bekas terbakar pun berdiri di sisi meja itu. Di atas meja itu sudah ada dua buah piring kertas sekali pakai dan di samping kanan kirinya terdapat garpu, sendok, dan pisau yang terbuat dari plastik. Entah dari mana mereka mendapatkan itu semua. Dua botol air mineral pun sudah di siapkan di sana.   Sedangkan makanan yang disiapkan Ageron adalah satu mangkung daging yang diolah sampai berubah menjadi coklat kehitaman. Lalu ada satu piring roti yang masih hangat, terlihat dari asap tipis yang keluar dari potongan roti itu. Sepertinya Ageron meminta bagian dapur untuk membuatkan ini semua.   “Silahkan duduk.” Ucap Ageron. Dia tidak menarik kursi untuk dokter Aisyah seperti di film drama romantis, dia hanya mempersilahkannya dengan gerak tubuhnya dan tatapan matanya saja.   “Terima kasih.” Balas dokter Aisyah. “apakah semua ini kalian persiapkan sedari siang?” tanyanya kemudian.   “Ya, seperti yang kau lihat semuanya well prepared!” jawab Ageron singkat. “mari makan. Hanya ada ini saja saat ini.”   “Ehm… baiklah. Ini apa?” Tanya dokter Aisyah kea rah olahan daging itu.   “Itu rendang. Ibuku yang mengirimkannya dua hari lalu. Rasanya enak menurutku, tapi sedikit pedas. Jika kau tidak bisa makan makanan yang pedas, kau bisa mengambil dagingnya saja tanpa memakan bumbu yang melekat di dagingnya.”   “Rendang? Rendang itu makanan khas dari Indonesia bukan?” Tanya dokter Aisyah takjub.   “Ya, kenapa ekspresimu seperti senang sekali?”   “Tentu saja aku senang. Makanan ini adalah makanan terenak nomor satu menurut survei di tahun dua ribu tujuh belas atau sebelumnya, aku lupa. Dan bagaimana bisa kau mendapatkan  kiriman makanan ini? Apakah kau orang Indonesia, Kapten?”   Ageron menaikkan satu alisnya. Dia sedikit heran dengan pertanyaan dokter Aisyah. Karena semua orang di sini tahu jika dia berasal dari Indonesia. Setidak perduli itukah dokter Aisyah kepadanya. Miris, sungguh miris. Di saat semua wanita di camp memujanya dan selalu mencari tahu tentangnya, ternyata ada satu wanita yang smaa sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Sungguh luar biasa wanita ini.   “Kau tidak tahu? Hamper semua orang yang ada di camp tahu aku berasal dari Indonesia. Bahkan semua wanita di camp selalu mencari tahu tentang diriku melalui semua prajurit yang ada.” Aku Ageron.   Mendengar itu dokter Aisyah pun tertawa geli. Karena dia piker percaya diri sekali laki-laki yang ada di depannya ini. Tapi dia tidak mau membahasnya atau mengatakannya. Dia memilih mengeluarkan botol handsanitizer, lalu tisu basahnya, dan tisu kering dari dalam tasnya. Lalu dia menyemprotkan cairan bening itu ke tangannya, dan mengelapnya dengan tisu basah barulah menge,apnya dengan tisu kering.   Tanpa canggung dokter Aisyah mengambil satu lembar roti, dan menyendokkan satu potong daging rendang. Bukannya menggunakan garpu dan pisau plastic, dokter Aisyah makan menggunakan tangannya yang sudah dia bersihkan. Melihat itu Ageron tersenyum senang. Dia kira wanita ini akan menjaga sikapnya di depan dia. Tapi nyatanya dia tidak terlihat ingin menjaga imagenya.   “Apa kau mau membagi semua pencuci tanganmu itu?” Tanya Ageron sambal menatap handsanitizer dan tumpukan tisu milik dokter Aisyah.   “Sure, silahkan.” Dokter Aisyah pun mendorong semua itu mendekat ke arah Ageron.   Setelah membersihkan tangannya, Ageron pun ikut makan bersama dengan dokter Aisyah. Mereka menikmati makan malam seadanya ini. Sesekali Ageron menanyakan tentang kehidupan dokter Aisyah sebelum bertugas di camp pengungsian dan perlindungan ini. Mereka berdua bertukar cerita cukup banyak, hingga menyelesaikan makan malam ini.   “Ehm…” Ageron berdeham untuk melegakan tenggorokannya yang mendadak kering. Padahal baru saja dia meminum habis satu botol air mineral. “Apakah kau sudah memiliki kekasih atau suami?” Tanya Ageron to the point.   Dokter Aisyah menatap Ageron lama. Dia memperhatikan setiap senti wajah Ageron. Dia ingin meyakinkan kemana arah pertanyan ini. Apakah hanya berbasa – basi atau memiliki maksuda dan tujuan tertentu.   “Belum, aku masih lajang. Tidak ada kekasih ataupun suami. Dalam kondisiku seperti ini apakah aku bisa menjalin hubungan dengan seorang pria?” Tanya dokter Aisyah balik.   “Who’s know. Bisa saja kekasihmu ada di tempat dan situasi yang sama sepertimu saat ini. Tapi jika kau tidak memiliki keduanya itu bagus untukku.”   “Kenapa bagus untukmu? Kau ingin mengejekku, Kapten?”   “Tentu saja tidak. Dan berhentilah bersikap formal kepadaku. Bicaralah dengan santai. Jangan panggil aku ‘Kapten’ cukup sebut namaku saja A.G.E.R.O.N!” ucapnya sambal mengeja semua huruf yang merangkai namanya.   “Baiklah, Ageron. Jadi kau ingin mengejek kondisiku saat ini?”   “Sudah aku katakana tadi, tentu saja tidak. Aku justru ingin memintamu untuk menjadi kekasihku! Ah, sebenarnya bukan hanya sekedar kekasih, tetapi istriku. Tapi mungkin itu terlalu cepat mengingat kita tidak mengenal siapa kita satu sama lain.”   Hening…. Sampai-sampai suara hembusan angina mala mini pun terdengar. Di bawah sinar bulan dan bintang, dokter Aisyah tertegun mendengar kata-kata yang baru saja diungkapankan Ageron dengan santai.   ‘bisa - bisanya dia mengatakan semua itu dengan sangat santai. Bukankah dia baru saja melamarku? Ah tidak, mengajakku berkencan dengannya?’ batin dokter Aisyah.   “Jadi bagaimana? Apakah kau mau menjadi kekasihku, Aisyah?” Tanya Ageron lagi.   “Hah? Bagaimana? Bisa kau ulangi lagi?” Tanya dokter Aisyah.   “Aku yakin kau sudah mendengarnya dengan sangat jelas, tapi baiklah. Aku akan mengulanginya lagi. Apakah kau mau menjadi kekasihku Aisyah? Ini sudah kali ketiga aku mengucapkannya.”   “Dan apakah aku harus menjawabnya saat ini juga? Tidak bisakah aku menjawabnya nanti. Besok mungkin, atau minggu depan?” Tanya dokter Aisyah bingung.   “Kau sengaja mengulr waktu?”   “Tidak, tentu saja tidak. Aku harus memikirkannya, bukan?”   “Jika kau ingin menolakku, lebih baik kau mengatakannya malam ini. Aku tidak suka jika kau menggantung jawabannya hanya untuk mengatakan tidak.”   “Ck! Kau ini benar-benar tidak sabaran ya. Baiklah… aku akan menjawabmu besok sebelum pukul sepuluh pagi. Kau puas?” Tanya dokter Aisyah kesal.   Mendengar itu Ageron pun tersenyum senang dan menyetujui apa yang baru saja dokter Aisyah  katakan. Ageron pun mengajak dokter Aisyah untuk kembalike camp. Karena tidak aman untuk mereka semua berada di sini terlalu lama. Ageron memerintahkan semua bawahannya untuk membersihkan semua ini dan langsung beranjak pergi kembali ke camp.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD