Mulai Mendekati

1061 Words
Seperti biasa hari ini dokter Aisyah menjalankan tugasnya sebagai dokter. Dia mengecek kondisi para prajurit yang terluka akibat perang saudara ini. Tak lupa dia pun beramah tamah dengan mereka. Dokter Aisyah melakukan itu untuk memberikan dukungan moril kepada mereka semua. Setelah selesai menjalankan semua tugasnya dokter Aisyah pun kembali ke ruangannya. Dia melihat beberapa kertas dan buku berserakan di atas meja kerja dan langsung memilah mana yang harus dibuang dan mana yang harus di simpan.   Kegiatannya itu terinterupsi dengan kedatangan seorang perawat wanita yang berdiri di ambang pintu ruangan ini sambal tersenyum penuh arti. Dokter Aisyah menatap bingung ke arah perawat itu dan menaikkan satu alisnya berniat untuk bertanya melalui gerak tubuhnya. Karena perawat itu tak kunjung mengemukakan maksud dan tujuannya dating ke ruangannya, dokter Aisyah pun menghampirinya.   “Ada apa? Apakah ada kondisi yang menesak atau ada pasien yang membutuhkanku?” Tanya dokter Aisyah kepada perawat itu.   “Hah? Tidak dokter.” Seperti terkejut perawat itu pun mulai focus kepada dokter Aisyah.   “Lalu? Ada perlu apa kau dating ke sini?”   “ini.” Perawat itu memberikan satu buah amplop berwarna coklat kayu kepada dokter Aisyah.   “Apa ini?”   “Ada seorang prajurit yang memberikan ini kepadaku dan memintaku untuk menyampaikan ini kepada dokter Aisyah.” Jelasnya.   “Baiklah, terima kasih. Apa ada lagi yang bisa aku bantu?” Tanya Dokter Aisyah saat melihat perawat itu tidak kunjung beranjak dari sini.   “Tidak ada lagi dokter. Kalau begitu saya undur diri dulu.”   Perawat itu pun beranjak pergi dan dokter Aisyah menutup pintu ruangan ini. Karena dia membutuhkan privasi untuk membuka amplop coklat ini. Jika dilihat sepintas isinya seperti kertas. Perlahan dokter Aisyah membukanya, karena dia takut isi di dalamnya ikut terkoyak saat dia membuka dengan tergesah.   Dan benar saja, ada satu lembar kertas di dalamnya. Ternyata ini sebuah surat. Dokter Aisyah pun mengerutkan dahinya. Bisa-bisanya di zaman seperti ini masih saja memberikan surat. Kenapa tidak menelpon langsung jika ingin mengatakan sesuatu.   ‘kau pasti mengetahui siapa yang mengirimimu ini. Aku hanya ingin mengajamu makan malam di pusat kota, Ya aku tahu kondisi saat ini memang tidak memungkinkan kita untuk makan malam di sana, dan tidak ada lagi restoran yang buka di sana. Tapi kau tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku menunggumu di depan gerbang camp ini tepat pukul tujuh malam, dan aku akan tetap menunggu sampai kau datang!’   Setelah membaca surat itu dokter Aisyah pun mengerucutkan bibirnya.   “Terlalu percaya diri sekali orang ini, sampai-sampai dia mengatakan aku tahu siapa yang mengirimiku surat kuno ini. Dan apa-apaan itu, dia mengajakku makan malam dengan sopan atau dengan perintah tegas sih! Dasar laki-laki tak tahu cara bersikap manis! Dan lagi aku tak mau datang!” gumam dokter Aisyah.   Tapi entah kenapa, walaupun mulutnya berkata demikian, tapi hatinya saat ini sedikit senang. Ya hanya sedikit. Karena jika terlalu banyak, dia takut akan kecewa. Dokter Aisyah melipat kembali kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop coklat tadi lalu menyimpan surat itu di laci meja kerjanya.   Matanya pun menjelajahi setiap sudut ruangan ini, dan dia kesal saat menyadari jika ruangannya sangat berantakan dan kotor. Terlihat ada tumpukan debu halus dimana-mana. Entah kapan kali terakhir dia membersihkan ruangan ini. Dokter Aisyah pun membersihkan satu persatu barang yang berdebu dan menyusun apa pun yang terlihat berantakan.   ***   Tepat pukul tujuh malam, Ageron sudah menunggu kedatangan dokter Aisyah. Tidak ada lagi seragam lengkap yang melekat di tubuhnya. Malam ini dia mengenakan kaus hitam fit body dan dilapisi jaket dari bahan denim serta celana cargo berwarna coklat tua. Penampilan casualnya benar-benar menarik setiap mata yang melintas untuk memperhatikannya dengan seksama.   Dari kejauhan dokter Aisyah memperhatikan penampilan Ageron benar-benar berbeda dari biasanya. Komandan pasukan khusus itu tampak berbeda mala mini, dia terlihat seperti kebanyakan pria pada umumnya. Tidak ada lagi pisau yang menggantung di pinggangnya. Dan aura mencekam di sekitarnya seperti memudar.   “Ternyata dia cukup tampan jika berpenampilan seperti itu.” Gumam dokter Aisyah. Tanpa sadar dia mengamati penampilannya sendiri.   Dia hanya mengenakan wide leg pants berwarna hitam dan tunik peplum berwarna peach dipadukan hijab pashmina berwarna senada. Benar-benar tidak niat untuk makan malam dengan seorang pria. Tapi mau bagaimana, dia tidak ada pakaian lain yang dia simpan di camp ini. Karena dia tidak pernah berpikir akan pergi dengan seorang pria di tengah perang saudara yang sedang dihadapai semua orang di sini.   “Berniat sekali sepertinya.” Ucap dokter Aisyah saat dia sudah dekat dengan Ageron.   Ageron pun memalingkan badannya menghadapa dokter Aisyah yang beridi di belakangnya. Ageron tersenyum canggung saat mendengar kata-kata dokter Aisyah. Dia pun mengamati penampilannya sendiri dan langsung mengerutkan alis.   “Ini terlihat biasa saja. Apanya yang special?” Tanya Ageron datar.   “Aku kira yang mengajakku makan malam hari ini seorang prajurit tampan nan menawan, ternyata hanya seorang komandan perang.”   “Jadi menurutmu aku kurang tampan dan kurang menawan?” Tanya Ageron sambal menaikkan satu alisnya.   “Begitulah.” Jawab dokter Aisyah dan mengedikkan bahunya malas.   “Aku anggap itu sebuah pujian, dokter. Mari.”   Ageron pun mengulurkan tangannya. Tapi dokter Aisyah berlalu begitu saja melewatinya. Dengan kesal pun Ageron menarik kembali tangannya sambal tersenyum sinis. Lalu berjalan mengikuti dokter Aisyah yang mulai berjalan menuju parkiran semua mobil di camp ini.   “Mobil mana yang akan kau gunakan malam ini, Kapten?” Tanya dokter Aisyah berjalan di depan jejeran mobil yang terparkir.   “Aku kira dokter sudah mengetahui mobil mana yang akan aku pakai, ternyata tidak ya. Lalu kenapa kau dengan begitu percaya diri berjalan mendahuluiku?” Tanya Ageron sinis. Lalu mendahului menuju mobil yang terparkir paling ujung.   “Cih, tidak bisakah dia bersikap manis? Atau setidaknya bersikap wajar di depanku? Bukankah dia yang mengajakku untuk makan malam?” gerutu dokter Aisyah sambal menatap punggung tegap yang mulai menjauh darinya.   “Aku bisa mendengarmu, dokter. Dan sebaiknya kau mulai berjalan ke arahku sebelum aku meninggalkanmu!” teriak Ageron.   “Dan jika itu terjadi, aku hanya perlu berbalik badan dan berjalan kembali menuju ruanganku dan tidur!” teriak dokter Aisyah tak kalah lantang. Tapi bukannya berbalik badan, dia malah berjalan menuju Ageron. Dan hal itu berhasil  membuat komandan perang itu tersenyum senang.   Dua orang itu pun memasuki mobil yang memang sudah dipersiapkan dari tiga puluh menit yang lalu oleh para prajurit yang lain. Kenapa harus dipersiapkan? Karena mereka harus benar-benar memastikan keselamatan kapten mereka. Tidak lucu bukan, baru saja mereka berjalan keluar dari camp dan mobil itu meledak.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD