BAB 2 | Konspirasi Licik dan Permainan Cantik

1579 Words
Beberapa hari sebelum kematian Patra... "BIG Boss, panggilan masuk." Ucap seorang laki-laki bernama Happy—bukan nama sebenarnya—sambil menyodorkan sebuah ponsel kepada laki-laki yang biasa dipanggil dengan nama Big Boss—bukan nama sebenarnya—di Jendela Kematian. Big Boss melirik ke arah layar, ada sebuah nama yang otomatis muncul di sana. Happy mengangkat kedua bahunya tidak mengerti. Big Boss menekan tombol 'terima' dan sambungan telepon mereka mulai tersambung dengan seseorang yang berusaha menghubungi Jendela Kematian. Happy berjalan menjauh dan bergabung dengan beberapa orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. "Siapa?" Tanya Beauty yang sedang meletakkan senapannya ke dalam tempat kayu setelah mengelapnya sampai mengkilap. Happy hanya mengangkat kedua bahunya, "entahlah! Yang jelas bukan orang baik. Aku bisa jamin itu." "Tentu! Jika dia orang baik, dia tidak akan menghubungi kita. Benar, bukan?" Jawab Bear ikut nimbrung. Happy maupun Beauty hanya menganggukkan kepala. Tidak ada orang baik yang menelepon seorang pembunuh bayaran. Pasti ada misi mendesak yang membuat mereka menelepon kelompok pembunuh untuk membunuh seseorang. Ah, sudah biasa terjadi. Persaingan, bahkan sakit hati pun bisa menjadi motif alamiah manusia untuk memusnahkan manusia lainnya. Makanya, tidak ada yang namanya ikhlas di dunia ini. "Bukankah kita seharusnya senang dengan banyaknya orang jahat di dunia ini? Setidaknya, kita selalu mendapatkan pekerjaan." Sahut King yang baru saja selesai merakit sebuah senjata baru untuk mereka. Beauty tersenyum dibalik topeng wajah palsunya. Ah iya, mereka tidak akan pernah saling melihat wajah asli satu sama lain. Karena hal itu sudah masuk ke dalam peraturan. Mereka hanyalah rekan kerja. Bukan seorang sahabat yang harus bertindak akrab di luar pekerjaan. Bahkan mereka sama-sama tidak tahu identitas satu sama lain. Jangankan identitas, nama panggilan saja tidak tahu. "Andaikan Big Boss tidak membuat peraturan tentang menggunakan topeng wajah palsu sialan ini, mungkin aku bisa melihat wajahmu yang cantik. Aku punya insting yang kuat tentang kecantikanmu," gombal King yang ditanggapi Beauty dengan wajah malas. Bear meletakkan dua gelas berisi kopi di depan keduanya, "jika tidak ingin memakai topeng wajah sialan, kenapa masih di sini?" King yang merasa tersindir hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "kau tahu, satu-satunya keahlian yang aku miliki hanyalah merakit dan membuat senjata. Jika aku membuatnya di luaran sana, pasti sudah tertangkap sejak dulu. Bisa jadi, aku dikatakan pembuat dan penjual senjata ilegal. Sekarang aku aman, karena aku punya koneksi dengan kalian. Jadi, alat yang kubuat hanya digunakan ketika operasi kita saja. Bukan untuk diperjualbelikan. Lagipula, tidak ada yang mau menerima ideku untuk membuat senjata yang sering kita pakai. Padahal, senjata-senjata itu jauh lebih canggih dari senjata milik angkatan militer." "Ya. Aku pun sama. Jika tidak berada di sini, mungkin aku hanya akan menjadi pecundang. Setidaknya aku bisa membeli apapun yang aku inginkan semenjak Jendela Kematian terbentuk. Bayaran kita semakin mahal, bukan?" Jawab Bear merasa bersyukur. Mereka mengangguk, bersamaan. Walaupun mereka sekelompok penjahat, tetapi rasa solidaritas di antara mereka begitu kuat. Mereka selalu kompak dalam hal apapun. Terkadang, yang kelihatan jahat belum tentu jahat. Dan yang kelihatan baik, belum tentu baik. Lagipula, mereka bergabung dalam satu grup yang sama karena mereka satu frekuensi—pembunuh bayaran. Big Boss berjalan mendekat ke arah mereka berempat. Tangannya terulur untuk memberikan ponsel itu kepada Happy kembali. Sorot mata laki-laki yang diketahui adalah ketua dari Jendela Kematian sangat tajam. Garis kepemimpinan seperti sudah jelas terlihat di wajahnya walaupun tertutupi topeng wajah yang lain. Mungkin itulah sebabnya Big Boss menjadi ketua mereka. Ketua yang tidak pernah berlagak seperti bos. "Apa ada pekerjaan baru?" Tanya Beauty mewakili teman-temannya. Big Boss mengangguk, "kalian pernah mendengar tentang mitos menara tua angker di perbatasan desa A?" Mereka berempat saling bertatapan. Hanya Bear yang mengangguk, tanda jika dia tahu tentang mitos menara tua itu. Sebenarnya mitos di sana memang begitu kuat dan seringkali diceritakan. Mungkin beberapa orang tidak tahu karena tempat itu telah ditutup sejak lama. "Tempat apa itu?" Tanya King menyela. "Apa tempatnya sangat berbahaya?" Sambungnya dengan penasaran. "Menara itu, dulunya adalah tempat yang digunakan untuk para pengikut ajaran sesat membunuh orang setiap bulan purnama. Pengikut dari ajaran itu menculik satu-persatu warga dan karena banyaknya warga yang hilang pada saat itu, warga yang lain sangat penasaran. Mereka berusaha untuk melakukan penyelidikan. Beberapa saat kemudian ada warga yang tahu tentang menara tua itu. Menara yang mereka kira sebagai tempat ibadah biasa. Akhirnya mereka membakar menara itu. Menaranya masih ada, tetapi manusia-manusia pengikut ajaran sesat itu mati terpanggang. Pada masa itu polisi tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah menjadi hukum yang berlaku di masyarakat. Setelah itu, satu-persatu warga pindah dan meninggalkan desa mereka. Jadi, rumah warga yang berada di dekat menara itu kosong mulai sejak saat itu." Jelas Bear yang sangat paham dengan jalan cerita menara tua itu. Happy, Beauty, dan King hanya bisa mengangguk. Mereka baru tahu jika ada kisah seperti itu. Terlalu sering melakukan kegiatan lapangan yang menyeramkan, pembantaian atau pembunuhan tidak lagi terdengar menyeramkan. "Apa misi kita?" Tanya Happy yang mulai serius. Big Boss tersenyum tipis, "seperti biasa! Persaingan bisnis... dan itu artinya?" "Membunuh tanpa jejak..." Jawab mereka berempat kompak. Big Boss kemudian menarik kursi untuk didudukinya dan mengambil selembar kertas untuk coret-coret. Jangan tanyakan keahlian seorang Big Boss dalam menyusun rencana. Dia sangat pandai dan teliti. Bahkan rencananya selalu berakhir dengan sempurna. Tidak perlu adanya senapan dan kekerasan fisik. Laki-laki itu mulai menuliskan beberapa hal di sana. "Nanti sore, aku akan bertemu dengan orang itu. Dan pada misi kali ini, jangan sampai salah perhitungan atau strategi sedikitpun. Happy tolong kau akses beberapa data yang telah dikirimkan lewat ponsel kita." Perintah Big Boss yang langsung dituruti oleh Happy. Happy melakukan pemindahan data dari ponsel itu ke laptop yang dirancangnya sendiri. Semua properti yang ada di lingkungan Jendela Kematian adalah buatan mereka sendiri. Sehingga dibuat sesuai dengan kebutuhan misi mereka setiap hari. Setelah selesai melakukan pemindahan data, Happy meletakkan laptop itu di atas meja tempat mereka berkumpul saat ini. "Patra Wiguna... Dia sasaran kita selanjutnya. Dia adalah tangan kanan dari Mr. Prada—pemilik perusahaan Tunggal corporation. Perusahaan yang katanya sering bergerak dalam beberapa bisnis ilegal. Salah satunya adalah ingin mengambil keuntungan dengan menggunakan lahan di dekat menara tua yang Bear ceritakan tadi." Jelas Big Boss menjelaskan. "Orang yang menelepon tadi adalah Tuan El. Dia sangat-sangat-sangat licik..." Sambungnya memberikan senyuman yang entah apa maksudnya. "Apa Tuan itu akan melakukan pengalihan lahan lagi? Dia sudah mengelabui Mr. Prada dua kali. Apa tidak akan mencurigakan?" Tanya King setelah menyesap kopi pahitnya. Beauty menyahut, "dunia ini begitu kejam, King. Orang-orang semakin pintar. Namun kepintaran itu hanya dibangun untuk kelicikan. Kau tahu, Tuan El selalu mengincar lahan yang ditawarkan oleh Mr. Prada kepada dirinya. Mr. Prada yang terobsesi untuk bekerja sama dengan Tuan El, melakukan beberapa cara untuk memberikan tawaran terbaik kepada Tuan El. Sayangnya, Mr. Prada kurang cerdik. Dia tidak tahu jika Tuan El mengincar semua lahannya dengan tidak peduli dengan penawaran dari Mr. Prada. Lebih liciknya, dia menolak tawaran itu dengan mengatakan jika lahan itu tidak berpotensi menghasilkan uang. Tetapi ketika Mr. Prada meninggalkan lahan itu. Tuan El bergerak. Dia meminta tangan kanannya untuk mengambil alih lahan itu dan membangun sesuatu sesuai dengan ide dari Mr. Prada." "Dia tidak curiga?" Tanya Happy penasaran. Bagaimana orang seperti Prada berulang kali ditipu oleh orang seperti El. Kurang lebih mereka semua tahu tentang latar belakang kehidupan Prada maupun El. Siapa yang tidak mengenal mereka? "Entahlah! Kurasa dia tidak curiga karena yang menjadi pemilik lahan bukan atas nama Tuan El. Dia terus melakukan hal itu untuk mendapat lebih banyak lahan dari usaha yang dikeluarkan Mr. Prada. Kau tahu, bagaimana cara terbaik menghancurkan musuh?" Tanya Beauty kepada teman-temannya. "Apa?" Tanya mereka secara bersamaan. "Berteman dengannya," jawab Beauty yang langsung mendapatkan anggukan dari semuanya. Big Boss mengetikkan sesuatu di laptop. Meminta Happy untuk mengambil lokasi akurat di dekat menara tua itu. Namun lokasi itu tidak bisa terlihat secara jelas karena berada cukup jauh dari perkotaan. Berada di perbatasan desa dan dipenuhi dengan pohon tinggi dan semak-semak belukar. Happy mengambil sebuah benda seperti drone, alat itu adalah buatan Happy untuk kepentingan melihat lokasi lebih dekat. "Kau pantau lokasinya dan jangan lupa pindai setiap ruangan." Perintah Big Boss kepada Happy. "Aku pergi dulu untuk bertemu dengan orang itu." Sambungnya. Bear mendekat, memberikan sebuah topeng wajah manusia. Topeng itu juga salah satu buatan dari Happy sebagai orang yang paling makhir dalam penggunaan teknologi. Topeng wajah manusia itu dibuat untuk menutupi identitas wajah mereka ketika bertemu dengan orang-orang yang menjadi klien mereka. Tentu saja Big Boss menggunakan topeng yang berbeda setiap kali bertemu dengan para klien-klien mereka. Topeng itu pun terlihat seperti wajah asli. "Kali ini Happy membuat wajah Big Boss lebih jelek." Ucap Bear setelah Big Boss meninggalkan markas mereka. King dan Beauty mengangguk setuju. Biasanya Happy akan membuat bentuk wajah-wajah tampan dan cantik. Bahkan mereka pernah dikerumuni banyak orang ketika sedang melakukan pemantauan di sebuah cafe karena menggunakan wajah tampan dan cantik. Tetapi untuk kali ini, Happy membuatkan wajah untuk Big Boss—seorang laki-laki berkumis dengan setengah wajah terbakar. Mungkin Big Boss juga tidak sadar dengan bentuk wajahnya sekarang. Tidak lama kemudian, Big Boss kembali masuk ke dalam markas. Membuat mereka kaget bukan kepalang. Masalahnya, mereka baru saja membicarakan ketua mereka. Big Boss menatap teman-temannya dengan wajah bingung, "kenapa kalian kaget begitu?" "Ah, tidak..." Jawab mereka bersamaan. "Itu perasaanmu," jawab Happy dengan cepat. Big Boss hanya mengangguk, "aku kembali karena lupa pada suatu hal. Bear, kau bisa membuat minuman yang melumpuhkan seluruh sistem syaraf dalam kurun waktu tertentu?" Bear menatap Big Boss sedikit bingung, "akan kucoba! Kau butuh waktu berapa jam agar minuman itu bisa bekerja?" "Lima-belas-jam..." Jawab Big Boss hati-hati. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Selanjutnya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD