PERTEMUAN pertama antara Gala dan Arkana terbilang klise. Mereka bertemu di club'. Arkana bartender yang selalu melayani minuman yang dipesan Gala dan Gala sendiri adalah pelanggan VVIP yang selalu datang setiap harinya dengan keadaan yang memprihatinkan. Gala mempunyai depresi parah dan bolak-balik masuk rumah sakit jiwa, meminta untuk dirawat namun Ayahnya tentu saja melarangnya mati-matian karena tidak mau media tahu bahwa sang putra kedua ternyata mengalami gangguan jiwa.
Padahal, Gala melakukan kunjungan dokter jiwa karena memang mental dan jiwanya sudah terganggu. Gala hanya tidak ingin benar-benar gila. Sehingga apapun pengobatannya—dirinya lakukan secara mandiri. Tak ada yang memperdulikannya selain Arkana yang kadangkala menemani dirinya untuk datang ke psikiater dan mengajaknya healing sesekali di taman bermain anak-anak meski hanya sekedar menatap anak-anak kecil yang tengah bermain perosotan.
Arkana tetap mempunyai catatan baik di dalam hidup Gala. Sosoknya yang terlalu baik, membuat Gala tidak bisa membedakan antara keduanya; Arkana dengan Big Boss (meskipun nama samaran Arkana tidak dirinya tahu). Gala merasa tertipu dengan kepolosan Arkana dan menganggap bahwa Arkana tidak pantas untuk dijadikan teman kepercayaannya. Tetapi kenyataannya, Arkana lah orang yang selalu ada untuknya. Kenyataan itu menamparnya.
"Kamu benar-benar membunuh orang itu?" Tanya Gala kepada Kakaknya. Mereka berada di sebuah ruangan yang merupakan ruangan salah satu dokter.
Laki-laki itu menurunkan kakinya dari atas meja, "aku tidak membunuh siapapun. Mereka yang melakukan eksekusi itu."
"Tapi kamu yang memintanya dan kamu yang mengomando mereka! Benarkan?" Tandas Gala lagi.
Laki-laki berjas hitam itu tersenyum sambil menatap Gala, "hm, ... semua usaha yang kita lakukan tidak boleh gagal sedikitpun. Pancing mereka untuk keluar dan singkirkan! Jika memang tidak bisa mengorek info dari yang tertangkap, maka kita pun harus menangkap lagi sampai akhir. Sampai tidak ada yang tersisa sama sekali. Seperti itulah polanya. Aku juga seorang penjahat. Aku tidak pernah memiliki perasaan kasihan sama sekali. Jadi, berhentilah merengek karena aksi lebih penting. Tugasmu hanya menyenangkan adik Arkana. Aku tidak memberikanmu tugas yang berat. Apa itu sulit?"
"Apa kamu juga yang menyuruh orang-orang itu untuk melukai Isabela? Bukankah aku sudah bilang untuk tidak melukainya? Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan Kakaknya yang membunuh Papi. Apakah itu sulit?" Tandas Gala kemudian.
Laki-laki itu hanya tersenyum samar sambil melipat kedua tangannya di d**a, "jangan berlagak mempunyai jiwa yang baik. Kamu dan aku juga sama saja. Mau yang salah siapapun, itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Isabela tetap adik seorang pembunuh, jangan lupakan fakta tentang satu hal sepenting itu."
Gala hanya bisa berdiri di tempat, tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan sekarang. Matanya menatap ke arah Kakaknya, melihat seberapa seriusnya Kakaknya untuk membalas dendam. Sedangkan dirinya yang masih berada diujung dilema—antara dia benar-benar ingin membalaskan dendamnya atau tidak. Tapi, apakah Gala benar-benar ingin membalas dendam? Bukankah semua itu hanya karena pengaruh Kakaknya yang meminta dirinya untuk bergabung dan mempengaruhinya?
"Aku tidak pernah memaksamu untuk bergabung dalam misi ini. Kamu yang meminta sendiri untuk ikut! Jadi, ... jangan seperti pengecut yang tidak ingin melanjutkan karena kasihan dan merasa dekat dengan Arkana. Arkana tidak sebaik yang kamu kira. Asal kamu tahu itu!" Tandas sang Kakak sambil menunjuk wajah Gala dengan tatapan kesal.
Laki-laki itu pun memilih untuk meninggalkan Gala sendirian dan membiarkan adiknya itu berpikir kembali tentang langkah apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Dia tidak ingin membenci siapapun, dia hanya ingin hidup tenang. Tetapi saat melihat Arkana di CCTV, Gala tentu saja marah kepada temannya itu. Namun, apakah dengan melibatkan Isabela juga adalah kebenarannya? Bahkan Kakaknya bisa membunuh salah satu anggota Jendela Kematian dengan mudah. Lalu bagaimana jika semua itu terjadi kepada Isabela?
Pikirannya bercabang! Dia pusing, tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan sekarang selain melakukan acting seperti orang bodoh. Bahkan untuk memantapkan dirinya sebagai pihak yang jahat saja, sepertinya dia tidak bisa. Gala jahat, namun banyak hal baik yang masih bersarang dalam dirinya. Karena terkadang, orang baik akan selalu menjadi baik meskipun tertutupi sifat jahatnya. Seberapa dia berusaha, sifat baiknya yang akan selalu mendominasi.
Gala kembali ke ruangan Isabela dan melihat Kana di depan ruangan itu. Mereka saling bicara meskipun tak bisa disebut dengan pembicaraan. Kana seperti mengetahui sesuatu tentang dirinya sehingga selalu bisa mengambil kesimpulan dari semua tindakannya. Bahkan yang paling menusuk adalah ketika perempuan itu menanyakan tentang; seorang musuh yang berkedok teman. Gala sedikit tersinggung, namun tidak bisa menjawab juga.
Dan sekarang, dirinya tengah duduk bersama dengan Arkana di kedai kopi dekat rumah sakit di mana Isabela di rawat. Keduanya memesan minuman yang berbeda, saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain.
"Sebenarnya, ... apa yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Gala yang membuka pembicaraan diantara mereka setelah sama-sama diam selama beberapa menit.
Arkana menatap Gala dengan tatapan serius, "Isabela meminta kebebasan bukan? Dia ingin menikmati masa remajanya yang hilang karena aku yang tidak mengijinkannya untuk keluar dari rumah. Aku membuat Isabela hidup dalam sangkar dan membuatnya kehilangan momen emas di dalam hidupnya. Karena pertengkaran kami kemarin, aku berpikir untuk membiarkannya kali ini. Aku akan membebaskan Isabela menentukan pilihannya sendiri. Aku lupa bahwa dia sudah cukup dewasa untuk melakukan apapun yang dia mau."
"Bukankah selama ini katamu dunia luar terlalu berbahaya untuk Isabela? Apakah pandanganmu tentang dunia sudah berubah? Maksudku setelah apa yang terjadi kepada Isabela hari kemarin? Apakah kamu yakin dan siap untuk melepaskan Isabela ke dunia luar yang selalu kamu takuti?" Tanya Gala memastikan.
Arkana menganggukkan kepalanya pelan, lalu menyeruput minumannya sambil tersenyum.
"Terkadang, kita harus melawan rasa takut itu. Karena hidup selamanya dalam rasa takut hanya membuat hidup kita merasa kecil dan ingin menghilang dari dunia ini. Isabela sudah melewati banyak masa sulit. Bahkan aku membiarkannya hidup sendirian di dalam rumah. Menjadi egois dan memonopoli dirinya setiap hari. Aku tidak membiarkannya hidup normal karena aku merasa bahwa hidup kami pernah cacat. Aku seperti mengajak Isabela untuk hidup menyedihkan sepertiku. Aku tidak mau membuatnya merasa begitu." Sambung Arkana yang menjelaskan tentang keputusan pentingnya.
Dulu, Arkana selalu mengatakan bahwa dunia terlalu kejam untuk Isabela. Arkana melindungi Isabela dari bahaya setiap harinya dengan menyembunyikan adiknya. Namun setelah kejadian ini, Arkana pikir, meletakkan Isabela di kerumunan banyak orang akan membuat Isabela lebih terlindungi. Daripada harus berada di rumah sendirian. Jika Isabela mempunyai banyak kegiatan, mempunyai banyak teman, setidaknya dia tidak akan merasa kesepian lagi.
Dan yang membuat Arkana lebih yakin lagi adalah; jika dirinya mati, setidaknya Isabela tahu bagaimana caranya hidup yang baik. Yang Arkana lakukan sekarang adalah bagaimana caranya dirinya bisa mempersiapkan Isabela jika sewaktu-waktu dirinya mati. Dulu, Arkana tidak memikirkan hal sepenting ini. Arkana hanya terus menyiapkan aset untuk Isabela dan tidak memikirkan bagian paling penting dari pekerjaannya, sebuah kemungkinan yang memang tidak terelakkan; kematian. Entah mati dalam misi atau dieksekusi.
"Aku selalu meminta ini padamu setiap kali kita bicara; tolong jaga Isabela ketika aku tidak ada. Tidak mungkin aku hidup selamanya dan bisa menjaga Isabela dengan baik. Aku hanya mempercayaimu untuk saat ini. Kamu satu-satunya orang yang tahu kehidupan kami. Sehingga aku hanya bisa meminta padamu. Jangan lakukan ini untukku, tetapi untuk Isabela. Aku harap, kamu benar-benar bisa mencintainya sampai akhir. Isabela bukan aku! Tolong jangan sakiti dia." Tandas Arkana yang membuat Gala tidak bisa berkata-kata.
Gala mendongakkan kepalanya dan menatap Arkana serius, "tapi, ... aku sempat membuat kesalahan. Apakah kamu yakin mempercayakan Isabela kepadaku?"
"Hm, ... tentu saja! Isabela mencintai kamu. Aku tidak bisa melarang apa yang sudah menjadi pilihan Isabela. Aku hanya mempercayai pilihannya dan menerima semua keputusannya. Toh, tidak selamanya aku akan terus hidup dan menjaganya. Maka dari itu harus ada orang lain yang mengurus, menjaganya, mencintainya, lebih baik daripada aku." Jawab Arkana yang lebih mirip seperti sebuah ucapan selamat tinggal. "Jika aku mati, katakan pada Isabela setiap hari, bahwa kamu sangat menyayangi dirinya." Sambungnya sekali lagi.
~~~~~~~~~~
"Kenapa lama sekali?" Tandas Kana yang memukul manja ke arah Arkana dan dengan sigap Arond menarik tangan temannya itu agar menjauh dari Arkana. "Arond, ... lepaskan tanganmu!" Sambungnya sambil membentak laki-laki itu, meminta untuk dilepaskan tangannya.
Arkana menatap Isabela yang hanya memberikan senyuman tipisnya ke arahnya. Laki-laki itu mendekat dan mengelus kepala Isabela. Sedangkan Gala berjalan di belakang Arkana—sempat bertemu tatap dengan Arond yang sama-sama menatapnya juga. Sejak pertama melihat Arond, Gala memang tidak menyukainya. Arond yang terlalu dekat dengan Isabela dan memberikannya sketchbook untuk Isabela saat itu, membuat Gala semakin tidak menyukainya.
"Kakak serius dengan ucapan Kakak tadi, 'kan? Kakak bilang aku mulai kuliah di tempat formal, 'kan? Aku bisa berteman dengan siapa saja 'kan?" Tanya Isabela memastikan ucapan Kakaknya tadi.
Arkana menganggukkan kepalanya pelan. Tentu saja anggukan itu pun menjadi sorotan tersendiri untuk Arond yang juga tahu tentang rasa khawatir Arkana. Bukankah orang tidak akan dengan mudah merubah keputusannya jika bukan karena ada hal yang mendesak? Apalagi Arkana keukeuh untuk tidak membiarkan Isabela berada di dunia luar tanpa pengawasannya. Arond melihat sendiri bagaimana tatapan dingin Arkana kepadanya dan mengatakan untuk tidak berhubungan dengan keduanya karena tidak mau membuat Arond terlibat.
"Sepertinya Isabela harus istirahat sekarang. Apa kalian tidak keberatan untuk keluar?" Ucap Gala yang ujung matanya mengarah kepada Arond dan Kana yang masih berdiri di sana.
"Ah, iya. Kami langsung pamit pulang saja! Selamat malam." Lirih Arond yang menyeret Kana untuk keluar dari ruangan Isabela. Tentu saja perempuan itu bereaksi—tidak mau pergi meninggalkan ruangan itu sama sekali.
Namun pergelangan tangan Kana digenggam oleh Arkana, "bolehkah aku membayar hutang padanya?"
Tentu saja Kana tersenyum ketika melihat tangannya yang digenggam Arkana. Perempuan itu dengan sangat tidak tahu diri, melepaskan tangan Arond sambil memberikan senyum mengejeknya.
Arkana dan Kana berjalan keluar dari ruangan Isabela terlebih dahulu dan berhenti di depan semua apotek di dekat rumah sakit untuk membeli obat luka. Arkana berjongkok dan mengobati luka di lutut Kana dengan sangat hati-hati. Perempuan itu pun sesekali meringis, namun tidak bisa melunturkan senyuman dari wajah cantiknya.
"Selesai! Kamu bisa pulang." Ucap Arkana setelah selesai merawat luka Kana dengan hati-hati meskipun dia kesal sekali karena mendengarkan ocehan perempuan itu yang tidak menemukan ending.
Kana menggeleng, "aku masih ingin bersamamu di sini. Apa kamu tidak punya kekasih? Mau jadi kek—"
"Ssttt, ... jangan bicara padaku!" Tandas Arkana yang menempelkan jari telunjuknya di tengah bibir Kana agar perempuan itu diam. "Jangan menyukai orang sepertiku. Kamu tidak tahu siapa aku! Sukalah pada orang yang jelas. Seperti Arond mungkin. Aku dengan kalian sudah berteman dengan kecil." Sambung Arkana kembali.
Tentu saja Kana berdecak sebal, "aku dan Arond tidak akan pernah saling menyukai. Sepertinya dia menyukai Isabela. Hanya saja, cintanya sudah bertepuk sebelah tangan. Apa tidak ada kemungkinan Isabela putus dari pacarnya dan memilih Arond? Aku kasihan karena temanku itu tidak pernah berhasil dalam percintaan."
"Kalau begitu, kamu saja yang membantunya agar berhasil dalam percintaan." Tandas Arkana kemudian.
Kana menggelengkan kepalanya sekali lagi, "tapi, ... apa kamu yakin memilih orang itu untuk menjaga Isabela?"
"Aku kenal dekat dengan Gala. Jadi, akan lebih baik jika Gala menjaga Isabela." Tandas Arkana kemudian.
Perempuan itu menghela napas panjang, "tapi, ... kadangkala orang terdekat itu lah yang paling tidak bisa kita percaya. Karena semakin dekat, tingkat kepercayaan kita terhadap orang tersebut akan semakin berkurang. Itu menurutku!"
"Lalu, ... apa alasanmu mendekatiku? Apa karena kamu tidak mempercayai aku?" Tanya Arkana penasaran.
Senyuman muncul di wajah Kana begitu saja, "karena aku menyukai kamu!"
"Aku bahkan lebih pantas menjadi Kakakmu daripada seorang kekasih. Carilah laki-laki yang seumuran dan pantas kamu ajak kencan. Aku tidak membutuhkan siapapun sekarang. Aku tidak ingin berhubungan dan membuat komitmen dengan siapa saja. Termasuk dirimu! Aku benci mempercayai orang lain. Apalagi kamu pernah menjadikan aku bahan taruhan. Apakah itu lucu?" Tanya Arkana.
Kana menggeleng pelan, " ternyata kamu tipikal orang yang pendendam, ya! Kamu mengungkit kembali soal taruhan itu. Padahal aku bercanda saja. Tapi untuk bagian aku menyukai dirimu, itu jujur. Tidak ada unsur taruhan di dalamnya. Lagipula, ini jaman di mana anak muda sepertiku menyukai orang yang lebih matang. Apa salahnya menyukai orang sepertimu? Jika kita menjalin hubungan sekalipun, aku tidak akan menuntut banyak hal. Aku janji!"
"Tidak memakai pakaian terbuka, tidak mengecat rambut dan kuku, tidak datang ke club', tidak memakai make up tebal, tidak berteman dengan banyak laki-laki, tid—" ucapan Arkana terputus begitu saja.
"Apa itu? Kamu memintaku untuk tidak melakukan semua itu?" Tandas Kana dengan suara kerasnya.
Arkana mengangguk, "aku punya kriteria perempuan yang jelas. Aku tidak suka semua yang ada padamu sekarang. Jadi mudahnya, kamu itu bukan kriteriaku. Dan lebih baiknya, kamu mencari orang yang sefrekuensi denganmu!"
Arkana menepuk bahu Kana dengan pelan dan tersenyum. Laki-laki itu beranjak untuk meninggalkannya, sebelum suara Kana membuat Arkana menoleh kembali.
"Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi kriteriamu. Aku akan berusaha." Tandas Kana dengan senyuman lebarnya. "Aku sangat menyukaimu." Sambungnya lagi dan melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi dari hadapan Arkana yang tertegun di ujung jalan.
Baru kali ini, ada perempuan yang mendekatinya dengan cara unik dan aneh seperti itu. Arkana tersenyum tipis, dia tidak pernah mendapatkan ungkapan cinta dari siapapun karena sifatnya yang sangat tertutup dan tidak memberikan akses siapapun untuk masuk ke dalam hidupnya. Tetapi, bagaimana dengan Kana? Apakah perempuan itu berhasil mengetuk hatinya yang terkunci setelah sekian lama?
~~~~~~~~~