BAB 36 | Hubungan Macam Apa?

1625 Words
HUJAN begitu deras malam ini, tidak ada tanda-tanda kepulangan Isabela. Arkana sudah mondar-mandir tidak jelas, melihat keluar jendela dengan gelisah. Bagaimana mungkin dirinya tidak gelisah ketika dihadapkan pada situasi di mana adik perempuannya belum pulang sampai jam delapan malam dan tanpa kabar pula. Tidak biasanya Isabela pergi tanpa kabar, bahkan seperti tidak peduli kepada semua pesan yang dikirimkannya atau telepon darinya. Arkana tidak bisa diam saja, laki-laki itu sangat khawatir. Bahkan kekhawatiran itu semakin memuncak saat ini. Dirinya buru-buru mengambil jaket dari kamarnya dan payung yang ada di tempat payung, dekat dapur. Baru saja membuka pintu rumahnya, ada sebuah mobil yang masuk halaman rumahnya. Arkana mengenal mobil itu, mobil yang seringkali dilihatnya beberapa kali. Dia bisa melihat dari depan rumahnya bahwa keduanya akan berciuman. Raut wajah Arkana berubah datar, dia melihat seorang laki-laki keluar dari mobil dengan menggunakan payung, kemudian membuka pintu satunya—untuk memayungi perempuan yang duduk di kursi penumpang. "Kakak," lirih Isabela dengan senyum canggungnya. Matanya menunjukkan ketakutan karena melihat sang kakak yang sudah berdiri di depan pintu sambil membawa payung. "Arkan," sapa Gala kemudian dan melepaskan tangannya dari pundak Isabela. Arkana menghela napas panjang dan membuka pintu rumahnya. Laki-laki itu tidak membuka suaranya sampai keduanya masuk ke dalam. Gala dan Isabela duduk berseberangan, saling menatap satu sama lain. Sedangkan Arkana masuk ke dalam kamarnya, dan tidak ada tiga menit keluar kembali dengan membawa dua handuk kering dan diberikannya kepada keduanya. "Maaf, ... aku membawa Isabela tanpa ijin darimu. Aku yang salah! Isabela tidak salah sama sekali." Ucap Gala dengan tatapan tidak enak, meskipun bisa dipastikan bahwa laki-laki itu tengah mengelabuhi Arkana yang tampak mencurigainya. Arkana melirik ke arah Isabela yang menundukkan kepalanya. Perempuan itu memainkan jemarinya. Dia tidak punya keberanian untuk menatap kakaknya yang sudah kelihatan kesal padanya. Isabela baru saja mengecek ponselnya di mana banyak sekali pesan yang dikirimkan Arkana dan juga telepon tanpa henti yang tidak sempat dia angkat. Bukan tidak sempat dia angkat, namun lebih kepada komitmen keduanya—Isabela dan Gala; tidak ada ponsel ketika berdua. Ternyata semuanya salah karena dia tidak memberikan kabar sama sekali kepada kakaknya yang tentunya akan sangat khawatir kepadanya. Isabela juga tidak menyangka bahwa Arkana akan pulang cepat, lebih cepat dari dirinya. Arkana membuka minuman kaleng yang baru saja diambilnya dari lemari pendingin, lalu meminumnya sampai habis. "Sejauh apa hubungan kalian? Aku mengijinkan kalian berpacaran, bukan berarti kalian bisa bebas seenaknya begini." Tandasnya dengan menatap keduanya secara bergantian. "Apakah tidak bisa memberitahuku tentang kemana kalian pergi? Jadi, aku tidak perlu khawatir!" Marah Arkana. Gala menatap Arkana, "maafkan aku yang mengajak Isabela keluar tanpa meminta ijin padamu." Arkana mengangkat tangannya ke udara, senyuman aneh tercetak di wajahnya. Laki-laki itu tidak bisa membaca isi pikiran keduanya—Isabela dan Gala—yang benar-benar tidak bisa dicernanya. Isabela sendiri memilih untuk diam sambil menatap kakinya, dia tidak berani untuk mendongak dan menatap mata kakaknya. Dia tahu betul bagaimana seramnya Arkana ketika marah atau ketika Arkana diam saja tanpa kata. Isabela sangat takut! "Sebenarnya hubungan macam apa ini? Isabela masih sangat muda untuk memiliki kekasih sebenarnya. Apalagi jarak umur kalian cukup jauh! Bagaimana bisa kamu berpacaran dengan orang yang jarak umurnya tidak berbeda dengan kakakmu sendiri, Isabela? Apakah kalian benar-benar jatuh cinta? Apa kalian benar-benar bersama karena saling mencintai?" Selidik Arkana kepada keduanya, mengungkapkan semua emosi yang ada di dalam kepalanya. Keduanya menganggukkan kepala secara bersamaan. Arkana hanya bisa menghela napas panjang—bukan ini yang dirinya inginkan! Bagaimana mungkin Arkana membiarkan adiknya terus berpacaran dengan Gala; anak dari Prada. Laki-laki itu adalah anak dari seorang pembunuh dan itu juga berlaku untuk orang yang dirinya bunuh juga. Arkana tidak membenci Gala, namun dia tetap tidak menyetujui hubungan serius antara Isabela dengan Gala, apapun alasannya. Dan mungkin inilah momen yang tepat untuk memisahkan keduanya. Arkana takut! Dia juga khawatir atas keselamatan Isabela. Arkana sudah berusaha mati-matian untuk terus melindungi Isabela, namun apakah ini akhir dari semuanya? Dia tidak bisa menyerahkan adiknya kepada Gala. Meskipun Gala temannya dan dia mengenal Gala dengan baik—Arkana tidak bisa memberikan Isabela dan menukar segala hal di dunia ini. Tidak akan pernah terjadi! "Lebih baik, selesaikan hubungan kalian sekarang! Aku tidak mau ada hubungan spesial lebih dari sekedar teman diantara kalian berdua. Gala, aku harap kamu bisa mengerti jika Isabela masih terlalu muda untuk mencintai seseorang. Aku rasa, ... hubungan kalian lama-kelamaan akan menjadi hubungan yang tidak sehat. " Sambungnya dengan penuh penekanan. Gala mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Arkana baru saja. Namun dia berusaha untuk menahan amarahnya karena rencananya akan gagal total. Gala sudah berencana untuk menghancurkan Arkana dengan perlahan, sehingga dirinya harus berusaha semaksimal mungkin untuk menahan amarahnya. "Kak," panggil Isabela ketika Arkana hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruang tamu, meninggalkan keduanya. "Apa aku pernah meminta sesuatu pada Kakak? Apa aku pernah membangkang ucapan Kakak? Apa aku pernah protes ketika Kakak membatasi semua pergaulanku? Apakah Kakak pernah sekali saja bertanya; apa yang benar-benar ingin aku lakukan? Tidak 'kan? Jadi, ... apa salah jika aku jatuh cinta untuk yang pertama? Apakah aku tidak boleh mempunyai hubungan dengan orang lain? Apakah Kakak hanya ingin aku tinggal bersama dengan Kakak untuk selamanya?" Sambung Isabela sambil menangis. Arkana bungkam! Dia ingin sekali menjawab pertanyaan Isabela, tapi dia memilih untuk diam. Mungkin, Arkana egois, tapi semuanya demi Isabela sendiri. Arkana melakukan apapun untuk adiknya, untuk Isabela yang begitu disayanginya. "Aku bahagia bersama Kak Gala. Ini cinta pertamaku. Apakah aku salah? Apakah aku tidak boleh mencinta orang lain juga? Apakah aku harus hidup selamanya bersama dengan Kakak?" Tanya Isabela kembali dan kali ini menatap Arkana yang hanya bisa mematung dengan pertanyaan Isabela tentang; apakah aku harus selamanya hidup dengan Kakak? Arkana tersenyum masam, "kalau begitu, lakukan sesuka hatimu! Aku tidak akan melarangnya! Memang aku siapa bisa melarangmu? Kamu sudah dewasa 'kan? Kamu sudah bisa memilih jalan hidupmu sendiri? Jadi, lakukan semuanya sendiri. Aku tidak akan mempedulikanmu. Itu 'kan yang kamu mau? Silakan berciuman sesuka hatimu!" Blam. Arkana membanting pintu kamarnya dengan kencang. Tidak peduli bahwa ada Gala di sana dan memperhatikan pertengkaran antara kakak dan adik yang dramatis karena dirinya. Gala diam-diam tersenyum, bahagia karena rencananya sangat berhasil. Dia pikir, Isabela akan melepaskannya. Namun dugaannya salah, perempuan itu berusaha untuk mempertahankan dirinya. Ah, ... perasaan macam apa ini? Gala merasakan detak jantungnya yang tidak normal. Apalagi ketika melihat Isabela yang menatapnya dan tanpa aba-aba langsung memeluknya. Gala tidak siap, ini juga bukan bagian dari dramanya. Apakah jantungnya tidak bisa diajak kompromi? Mengapa berdetak sangat kencang tanpa skenario seperti ini? "Tenanglah! Arkana pasti sangat kaget. Dia tidak marah padamu dan padaku. Kamu harus memberikannya waktu sebentar lagi. Tidak apa-apa, semuanya akan membaik. Aku juga akan bicara padanya. Sekarang, kamu harus tidur. Jangan menangis terus dan biarkan aku menyelesaikan semuanya. Oke? Kamu percaya padaku, bukan?" Tanya Gala sambil menghapus air mata Isabela. Perempuan itu menganggukkan kepalanya dan menatap Gala intens. Dia percaya ucapan Gala, namun dia tahu betul bagaimana Arkana yang tidak semudah itu dibujuk. Apalagi ketika marah seperti ini. Dan Arkana sudah mengecap kesalahannya ini sebagai suatu kesalahan yang sangat fatal. Sehingga, untuk bertemu dengan Kakaknya saja, sepertinya Isabela tidak berani. Padahal mereka berada di dalam satu rumah yang sama. "Kamu tidur, oke?" Isabela mengangguk sekali lagi. Gala tersenyum tipis dan mencium kening Isabela cukup lama, "apapun yang terjadi, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan kamu. Aku akan meyakinkan Arkana bahwa aku tidak mempermainkan kamu. Aku tahu ini bodoh, tapi cinta tidak memandang usia, bukan? Aku mencintai kamu, Isabela. Sangat!" Arkana bisa mendengar ucapan Gala dengan baik. Namun kepercayaannya kepada Gala benar-benar tidak ada—semua itu karena kesalahannya yang telah menyebabkan Prada meninggal. Sehingga Arkana tidak mempercayai Gala mendekati Isabela. Sebenarnya itu juga bentuk rasa bersalahnya kepada Gala. Dia sudah membuat Gala kehilangan satu-satunya orang tuanya. Namun ini hanya balas dendam, bukan? Setelah itu semuanya telah selesai. Tidak ada dendam lagi atau semacamnya. "Apa Kakak sudah tidur?" Lirih suara dari depan kamarnya. Isabela duduk di depan pintu kamar sang kakak, menatap mirip ke arah depan dengan kedua mata sembab. Gala baru saja meninggalkan rumah mereka, hanya tersisa mereka berdua saja. Sehingga pembicaraan semakin intens dan juga privasi dari hati ke hati. Isabela menghapus air matanya pelan sambil terisak, "aku minta maaf soal ucapanku itu, Kak. Aku keterlaluan karena mengatakan banyak hal yang tidak masuk akal tentang Kakak. Aku sudah berutang budi banyak sekali kepada Kakak, aku membebani hidup Kakak selama ini. Aku seharusnya tidak melakukan apapun tanpa bicara pada Kakak terlebih dahulu. Tapi ini soal hati Kak! Aku tidak bisa begitu saja mengontrol hatiku. Apa aku begitu bersalah, 'kak?" Arkana mendudukkan dirinya di depan pintunya, menghela napas panjang sambil tersenyum masam. "Kamu tidak mengenalnya dengan baik!" Ucap Arkana kemudian. Arkana mengingat begitu jelas ketika mereka berdua hampir berciuman. Rasanya dunia Arkana hancur! Dia memang kolot untuk urusan adiknya, tapi sebenarnya itu juga tidak pantas dilakukan. Isabela terdiam beberapa saat dan kemudian menjawab ucapan Arkana kembali, "lalu, ... apakah itu penting untuk orang yang jatuh cinta? Kak Gala baru saja kehilangan Papinya. Apakah itu tidak cukup membuat Kakak bersimpati padanya? Tidak bisakah Kakak mengijinkan aku untuk bisa mengobati lukanya juga." "Tidurlah!" Perintah Arkana. "Aku masih ingin membicarakan semuanya! Aku mau hari ini semua masalah selesai antara kita. Aku tidak mau semuanya berlarut-larut! Kakak harus mendengarkan aku!" Tandas Isabela kembali. Arkana membuka pintu kamarnya, menatap Isabela yang menunjukkan wajah kaget karena melihatnya. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah menjadi pembangkang? Apakah itu sulit untukmu? Tidur?" Isabela beranjak dari duduknya dan menatap Arkana sengit, "Kakak tidak pernah berhenti untuk menjadi orang yang egois. Kakak selalu melakukan apapun yang Kakak inginkan tanpa mempedulikan perasaanku. Selama ini aku selalu menuruti Kakak. Tapi Kakak tidak pernah mengerti tentang perasaanku. Aku benci Kakak!" Tidak biasanya? Tentu saja! Isabela berubah hanya dalam hitungan menit saja. Perempuan itu seperti bukan adik kesayangannya lagi! Entahlah, siapa yang bersemayam dalam dirinya, sampai seperti itu kepada Arkana. ~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD