GEDUNG putih kembali terbuka—para karyawan mulai bekerja seperti biasa. Seorang laki-laki berjas hitam rapi baru saja keluar dari mobilnya, tersenyum tipis ke arah dua orang satpam yang berjaga di depan pintu sambil membawa alat keamanan. Saat ini, di setiap sudut bangunan ada dua bodyguard berbadan besar dengan membawa senjata dibalik jasnya. Agen-agen profesional mantan anggota pasukan khusus atau dari militer yang sengaja keluar untuk mendapatkan uang lebih. Intinya, mereka bukan orang sembarangan atau asal-asalan.
Semenjak kejadian itu, tepatnya lagi, setelah meninggalnya Prada, gedung itu semakin diperketat penjagaannya. Kekuasaan penuh atas gedung putih itu jatuh ke tangan Gala sepenuhnya. Seperti yang pernah dia katakan, jika sang Kakak menempati perusahaan yang berada di luar negeri dan tidak ada yang tahu siapa Kakak dari Gala. Mereka sangat menutup rapat segala hal tentang kehidupan anak pertama dari Prada itu. Sehingga yang terlihat dan tersorot selama ini hanya Gala saja. Itu saja mereka baru mengetahui setelah Prada meninggal dunia.
"Gedung ini lebih mirip penjara bawah tanah daripada sebuah perusahaan. Kamu benar-benar memperkerjakan ahli hanya untuk melindungi gedung tua ini. Apakah itu cukup? Bodyguard berbadan besar, mantan anggota militer dan juga pasukan khusus, dan mempunyai banyak pengalaman di bidangnya. Kamu pikir orangmu mampu untuk mengalahkan Jendela Kematian? Ralat, menandingi. Karena untuk mengalahkan, seperti itu tidak mungkin. Mereka juga sekelompok orang yang terlatih." Tandas seorang laki-laki yang berada di dalam ruangan Gala, ruangan Prada dulu.
Gala yang baru saja masuk ke dalam ruangannya tidak menanggapi apa yang Kakaknya itu ucapkan. Sudah banyak masalah akhir-akhir ini dan Gala tidak mau menambah lagi beban pikirannya hanya untuk hal remeh dan tidak penting. Memang semua yang Kakaknya katakan benar, tapi yang paling penting dari misi balas dendam ini adalah menstabilkan kembali keuangan mereka. Banyak sekali investor yang menarik saham mereka karena kematian Prada dan meragukan kepemimpinan Gala. Sehingga laki-laki itu berusaha untuk menarik mereka kembali dengan skill dan kemampuan yang dia miliki. Jika tidak mau perusahaan mereka mati.
"Jadi, ... biarkan aku menyelesaikan semua urusan perusahaan. Rencana kita akan tetap berjalan, tapi semua itu tidak mudah karena aku masih harus menyelesaikan kekacauan ini. Kamu tahu betul jika perusahaan ini bisa bangkrut kapan saja. Aku harus menanganinya." Tandas Gala yang tidak menggubris ucapan Kakaknya tentang misi mereka yang lainnya.
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis sambil menatap Gala, "jangan lupa dengan bisnis keluarga yang lainnya. Bukankah lebih menguntungkan? Kamu tidak bisa mengelolanya?"
"Aku tidak biasa bermain dalam kubangan penuh lumpur. Aku selalu berpakaian rapi, putih, bersih. Jadi, bermain di tempat kotor bukanlah tempatku. Aku hanya ingin bermain di tempat yang bersih. Kamu tahu itu!" Ucap Gala yang menanggapi ucapan Kakaknya tentang bisnis Prada yang lain. "Kamu ahli dalam bisnis semacam itu. Jadi, aku tidak akan ikut campur." Sambungnya lagi.
Laki-laki itu menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, sibuk memperhatikan Gala yang tengah membuka-buka map yang berada di atas mejanya. Namun, bukan map ini yang dicarinya, bukan map ini yang diinginkannya. Semuanya tidak bisa dirinya kerjakan! Semuanya terlalu sulit. Gala merasa sangat frustasi. Dan itu seperti hiburan untuk Kakaknya yang menatapnya sambil tersenyum samar.
"Kamu berpikir bahwa perusahaan ini juga bersih? Kamu salah besar, Gala. Perusahaan ini bisa kita sebut sebagai sebuah kubangan dari segala kubangan kotor penuh lumpur. Tidak ada orang dengan pakaian rapi, putih, bersih di sini. Kamu pikir perusahaan ini legal? Tentu saja, ... iya. Lalu, apa perusahaan ini murni perusahaan dagang biasa? Tentu saja, ... tidak. Semua aset yang kita miliki, bahkan sepatu dan pakaian yang kamu pakai sekarang adalah hasil dari masuk ke dalam kubangan penuh lumpur itu! Jadi bersih yang sebenarnya seperti apa menurutmu?" Tandas Kakaknya dengan senyuman sinisnya.
Mereka tidak pernah akur meskipun sekali. Mungkin, mereka bersama saat ini pun karena mempunyai tujuan yang sama; balas dendam. Namun tetap saja, Gala tidak setuju dengan kehidupan Kakaknya atau kembali bergelut dengan kehidupan lama Ayah mereka sebagai pengusaha ilegal.
"Selesaikan urusanmu yang sok bersih itu. Aku tidak butuh orang yang mengandalkan perasaan dalam bertindak. Tujuan kita ada di depan mata. Jadi, jangan sampai lengah dan terus awasi temanmu itu." Sambung Kakaknya dengan menunjuk wajah Gala.
Gala menatap Kakaknya, "apa yang Tuan El katakan? Kamu tak memberi tahu aku sama sekali. Aku tidak bisa membaca pikiranmu juga. Apa yang dia katakan tentang Jendela Kematian? Aku perlu tahu tentang keterlibatan Arkana dalam kelompok itu."
"Mengapa tidak kamu tanyakan sendiri saja pada Tua Bangka itu. Bahkan aku lebih merasa senang ketika melihat dirinya berada di panti rehabilitasi itu. Bahkan dia telah kehilangan satu kakinya. Apa itu impas?" Tanya Kakaknya itu dan melambaikan tangannya ke arah Gala.
Gala menatap kepergian Kakaknya dengan tatapan kesal. Dia tidak tahu harus terjebak dalam kubangan yang sangat dia benci. Bukannya munafik, namun Gala tidak pernah ingin ikut andil dalam bisnis semacam ini dan memikirkannya saja, rasanya Gala tidak sanggup. Bahkan dia tidak tahu tentang bisnis Prada di gedung putih ini termasuk perusahaan yang menutupi bisnis ilegal lainnya. Jadi, perusahaan ini hanya kedok. Pantas saja alat pelindung canggih itu digunakan untuk melindungi gedung ini. Sayangnya, alat itu sudah hilang. Lenyap tanpa bekas.
Laki-laki itu pun memilih untuk duduk di kursinya, menekan tombol yang menghubungkan dengan sang sekretaris yang berada di ruangan depan, memintanya untuk segera meng-cancel seluruh agendanya khusus hari ini. Gala tidak ingin melakukan apapun sementara. Jika ada waktu lebih lagi, Gala berharap bisa tidur dengan pulas tanpa ada pengganggu seperti kekhawatiran yang selalu saja membuatnya merasa tertekan akhir-akhir ini.
Dia mengambil sebuah flashdisk yang ada di dalam saku jasnya. Seharusnya dia tidak boleh mempunyai salinan kamera CCTV itu. Namun Gala pun tetap nekat meng-copy video yang merupakan sebuah bukti nyata di mana Arkana berdiri di depan berangkas itu dan mengambil alat keamanan yang dipasang di gedung putih itu. Gala masih tidak habis pikir; mengapa Arkana bisa dengan mudah mengambil benda canggih itu?
"Kenapa alat itu tidak memindainya? Seharusnya alat itu akan membunuh penyusup sepertinya! Jadi, ... apakah mungkin Arkana bukan penyusup? Atau Arkana bukan bagian Jendela Kematian? Tapi, bagaimana dengan ponsel dan rokok aneh yang aku lihat di dalam tasnya? Siapa sebenarnya Arkana? Mengapa dia membunuh Papi? Ah, tapi apapun alasannya, bukankah nyawa harus dibalas dengan nyawa juga!" Ucap Gala dengan tatapan marah.
Drt Drt Drt
Sebuah panggilan masuk, terlihat sebuah foto seorang perempuan cantik yang beberapa hari ini selalu menghiasi layar ponselnya. Gala diam sejenak, mendiamkan panggilan itu tanpa berniat untuk mengangkatnya. Dia tidak tahu mengapa harus melibatkan Isabela dalam urusan balas dendamnya. Bukankah itu tidak adil? Tapi, ... apakah semuanya adil untuknya juga?
Panggilan terputus, Gala tidak mengangkatnya sama sekali. Dia hanya menatap layar ponselnya dan diam, hubungan macam apa ini? Bahkan selama ini, dia tidak pernah berpikir untuk mengencani gadis manapun. Gala ingin hidup tanpa perempuan. Karena cinta baginya hanyalah sebuah kemalangan! Dia belajar dari Prada yang begitu mencintai Ibunya, tetapi Ibunya begitu saja meninggalkan keluarga mereka demi cinta pertamanya. Sejak saat itu, semuanya berubah. Bahkan tentang pandangannya terhadap perempuan di dunia ini. Termasuk Isabela? Entahlah! Sampai saat ini Gala tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Layar ponselnya kembali hidup, menunjukkan sebuah pesan dari seseorang yang sebenarnya tidak ingin dirinya lihat.
Arkana : kamu tidak datang ke club'? Kamu benar-benar tidak datang lagi karena sudah mempunyai kekasih? Kamu tidak ingin minum-minum sesekali? Bersamaku, mungkin.
Beberapa hari ini, Gala memang tak datang ke club'. Semua itu dilakukan bukan karena dirinya mempunyai kekasih atau apalah itu. Tetapi karena Gala malas bertemu dengan Arkana. Karena terkadang, Gala tidak bisa menyembunyikan rasa bencinya dan kemarahannya untuk menghajar Arkana. Sehingga dirinya memilih menghindari segala macam kemungkinan itu.
Gala : apa Isabela bilang begitu? Wah, dia benar-benar keterlaluan. Hahaha. Apa kamu akan membiarkan aku minum? Ayo nanti malam.
Arkana : ya, ... dia bilang begitu. Apa kamu tipikal pacar yang takut kepada pasangan? Aku akan mengijinkanmu minum air mineral seperti biasanya.
Gala : kalau begitu, aku tidak mau datang! Kamu selalu mengajakku minum, tapi tidak pernah memberi minuman yang ku inginkan.
Arkana : iya, karena aku peduli padamu. Aku tidak mau tubuhmu rusak karena alkohol. Nanti siapa yang akan menjaga Isabela jika aku tidak ada? Tolong jaga dirimu dan jagalah Isabela menggantikanku nantinya jika sampai aku mati lebih dulu.
Deg. Entah mengapa pembahasan terakhir Arkana membuatnya tidak nyaman. Gala tahu jika Arkana akan mati; mungkin saja di tangannya atau kakaknya. Namun ketika membaca tentang menjaga Isabela, sebagian hatinya meringis pedih. Jika Arkana benar-benar meninggal, lalu apa yang akan dilakukannya kepada Isabela?
Gala mengetikkan kembali sebuah pesan untuk membalas pesan yang dikirim Arkana.
Gala : kita bisa menjaganya bersama. Pasti akan lebih menyenangkan! Kamu tidak boleh mati sebelum melihat aku dan Isabela menikah, punya anak, hidup bahagia, punya cucu, cicit. Intinya, ayo terus bersama.
Arkana : jangan khawatir, itu 'kan hanya perumpamaan. Aku tidak akan mati semudah itu. Tapi, tolong jaga Isabela. Dia tidak sama sepertiku. Kami walaupun sedarah, tapi dia begitu berbeda. Dia sepertinya sangat menyukaimu, sampai aku harus menebalkan telinga dan menahan rasa cemburu.
Dari kata-kata yang dituliskan Arkana, terlihat sekali bahwa dirinya sangat menyayangi Isabela. Laki-laki itu seperti menjelaskan secara tidak langsung bahwa Isabela tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian Prada. Tapi, baik Isabela atau Arkana, mereka adalah satu kesatuan. Isabela tetap adik Arkana. Dan kenyataan itu tidak bisa dilupakan oleh Gala begitu saja.
"Maaf Arkana, tapi Isabela tetaplah benalu. Isabela tetap adikmu dan aku tidak akan membiarkannya hidup dalam kebahagiaan. Kamu memulai semuanya dan aku lah yang berhak mengakhirinya. Atau mungkin, tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun itu." Ucap Gala sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
~~~~~~~~~~