CLIRING! Pintu apartement Kana terbuka dari luar. Perempuan itu beranjak dari tidurnya—membuka pintu kamarnya setelah mengenakan pakaian tidurnya walaupun terlihat sangat seksi. Seorang laki-laki yang beberapa hari ini tidak terlihat di manapun tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah raket nyamuk miliknya. Kana menatap laki-laki di depannya dengan tatapan aneh dan penasaran; mengapa harus raket nyamuk? Padahal di apartement- nya tidak ada nyamuk sama sekali.
"Siapa laki-laki itu? Kata Pak Satpam di depan, kamu bawa laki-laki masuk ke dalam apartement dan orang itu belum keluar sampai sekarang! Aku sudah bilang untuk tidak membawa siapapun ke tempat privasi seperti apartement! Kamu bisa melakukan one night stand di tempat lain. Kamu bisa dimanfaatkan, Kana. Kamu tidak tahu bahwa jaman sekarang mudah sekali menjebak seseorang. Apalagi ini adalah tempat pribad—" ucapan Arond terputus begitu saja ketika laki-laki itu membuka pintu kamar Kana dan akhirnya menutupnya lagi.
Arond membelalakkan kedua bola matanya sambil mengelus dadanya yang berdetak cepat. Setelah tenang, laki-laki itu kembali membuka pintu kamar Kana dan memastikan apakah yang dilihatnya tadi benar-benar orang yang kemungkinan besar dia kenal. Arond tidak bisa berkata-kata saat melihat sosok Arkana yang kini masih tertidur pulas dengan posisi tengkurap dan terlihat jelas bahwa laki-laki itu tidak mengenakan pakaian atasannya.
Dengan pelan, Arond menutup pintu kamar Kana kembali dan menatap ke arah Kana yang memberikan senyum tanpa dosa sama sekali.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian melakukan itu?" Tanya Arond yang memberikan isyarat dengan kedua tangannya.
Tentu saja Kana memukul tangan temannya itu dengan keras karena membuat kode yang jelas-jelas Kana ketahui apa maksudnya.
"Kami hanya tidur bersama. Tidak melakukan itu!" Jawab Kana yang memilih untuk membuka lemari pendingin dan mengambil kaleng minuman soda dan meminumnya dengan santai.
Arond mendekat ke arah Kana dan duduk disamping perempuan itu dengan tatapan yang penasaran.
"Orang-orang tidak akan percaya dengan semua ucapanmu tentang tidak melakukan apa-apa. Lihatlah diri kalian! Bahkan kalian setengah telanjang. Ah, ... bagaimana aku bisa mendeskripsikannya!" Tandas Arond yang merasa frustasi dengan apa yang dilihatnya. "Padahal aku berusaha untuk menjagamu dengan baik dan ternyata kamu sudah dewasa. Lebih dewasa dari apa yang aku pikirkan." Sambung Arond tidak percaya.
Kana tersenyum tipis dan mengelus pundak Arond, "kamu seharusnya bisa mencari kekasih agar kita tak selalu disangkut-pautkan. Padahal kita hanya berteman. Bukankah begitu? Kamu tidak menyimpan perasaan sama sekali, bukan?"
Arond hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Tidak ada kata saling suka diantara kedua sahabat itu. Mereka sudah pernah saling berjanji bahwa tidak akan pernah saling jatuh cinta. Karena mencintai akan membuat mereka menjadi jauh dan melupakan rasa percaya satu sama lain suatu hari nanti. Bukankah lebih baik saling berteman agar hubungan yang lama itu tetap terjaga dan tidak terputus?
"Sepertinya aku selalu gagal dalam percintaan. Aku berusaha mencintai orang yang mencintaiku. Tetapi pada akhirnya aku akan kembali mencintai orang yang tidak mencintaiku. Berat bukan?" Ucap Arond dengan wajah lelahnya dan akhirnya memilih untuk memejamkan matanya sejenak.
Kana mengangguk-anggukkan kepalanya, "kamu seharusnya bisa bergerak lebih cepat! Gala tidak baik untuk Isabela. Sepertinya Gala hanya memanfaatkan perasaannya! Dia tak terlihat tulus sama sekali. Mereka juga tidak cocok. Kenapa tidak kembali mencoba mendekatinya kembali? Lagipula mereka hanya berpacaran, bukan menikah."
Tatapan Arond fokus kepada Kana dengan serius. Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari bibirnya.
"Isabela hanya mirip dengan orang yang aku kenal, orang yang aku suka. Tapi keduanya berbeda! Isabela orang yang lembut dan berhati rapuh. Tapi orang yang aku suka, bertindak cepat dan berhati karang. Dia sama sekali tidak takut apapun. Aku menyukai Isabela, mungkin karena orang yang aku suka tidak membalas perasaanku dan memilih untuk berteman. Dia mempertahankan identitasnya dan terus mengatakan bahwa mungkin jika kami saling kenal, dia akan memilihku. Bukankah itu aneh?" Sambung Arond yang membuat Kana terdiam beberapa saat sambil terus menatap manik mata Arond.
Kana memukul lengan Arond untuk memecahkan suasana yang terasa canggung entah karena apa, "apa maksudnya identitas? Kamu mulai bermain game online lagi? Aku 'kan sudah bilang untuk berhenti kencan dengan orang yang tidak kamu kenal. Berhentilah mempertaruhkan hati dan perasaanmu hanya untuk orang yang tidak kamu kenal."
"Hm, ... matanya sangat cantik. Dia menyebut namanya Beauty! Sangat cocok dengan dirinya." Ucap Arond lagi. "Jika kamu Beauty, apa kamu akan menyukaiku juga?" Sambung Arond dengan nada serius.
Kana memutus kontak matanya dengan Arond dengan buru-buru. Perempuan itu beranjak dari posisi duduknya dan mengambil kalengnya yang sudah habis lalu membuangnya ke tempat sampah. Kana meredakan detak jantungnya yang berdetak tak karuan hanya karena ditatap dengan sedekat itu oleh Arond. Mereka tumbuh bersama, tetapi Kana juga tidak tahu bahwa temannya itu juga sudah tumbuh dewasa dengan baik.
"Apakah Beauty akan menyukaiku juga?" Tanya Arond sekali lagi dan mendapatkan perhatian dari Kana kembali.
Kana menghela napas panjang dan tersenyum mengejek, "tentu saja dia tidak akan menyukaimu! Kalian itu hanya sekedar virtual. Sudah aku katakan, jangan bermain game lagi. Menyebalkan sekali! Apa susahnya mencari perempuan sungguhan? Bagaimana kalau tokoh Beauty itu jelek atau lebih parahnya lagi dia seorang laki-laki?"
"Ya! Aku akan berusaha menemukan orang lain lagi. Tapi jangan memaksa untuk mencintai orang yang baru aku temui itu." Tandas Arond lagi.
Kana mengelus kepala Arond dan tersenyum tulus, "kita sudah lama hidup bersama. Kamu adalah orang yang selalu ada untukku sejak kecil. Kamu membantuku dalam segala masalah. Aku bersyukur karena mempunyai kamu selama ini. Terimakasih banyak, Arond."
"Jangan bicara seperti itu! Ucapanmu seperti memintaku untuk tidak lagi membantumu. Kamu akan sering mendapatkan masalah. Jadi tetap mempunyai teman yang populer, terkenal, dan sebaik aku." Ceramah Arond kepada Kana kembali.
Kana tentu saja tertawa. Namun apa yang dikatakan Arond memang ada benarnya. Selama ini Kana selalu membuat masalah dan Arond yang selalu membereskan segala macam kekacauan yang telah dibuat oleh Kana itu. Semua orang mengira mereka mempunyai hubungan spesial karena saking dekatnya. Namun kenyataannya, mereka hanyalah sebatas dua manusia yang menyebut diri mereka sebagai seorang sahabat saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
"Arond," lirih Arkana yang baru saja keluar dari dalam kamar Kana. Kali ini laki-laki itu sudah mengenakan pakaiannya.
Arond yang tadinya duduk santai di sofa pun beranjak, "Kak Arkana, ... selamat pagi, Kak. Tadi cuma mau mampir aja ke apartement Kana. Soalnya beberapa hari ini aku lagi banyak urusan dan belum ketemu Kana. Iya, 'kan?"
Jika tidak membuat masalah, bukan Kana namanya. Perempuan itu malah menggelengkan kepalanya, memilih untuk mengatakan hal sebenarnya untuk menggoda keduanya—Arond dan juga Arkana. Kana ingin melihat ekspresi kedua laki-laki itu.
"Security di depan 'kan kenal aku sama Arond. Gara-garanya Arond sering banget datang ke apartement dan selalu minta dikabarin setiap aku keluar atau masuk ke apartement. Terus mereka ngabarin Arond nih, katanya aku pulang sama laki-laki dan belum keluar sampai sekarang. Dia kira aku begituan sama kamu." Tandas Kana yang tanpa filter sama sekali.
Baik Arkana atau Arond hanya saling menatap, memberikan respon yang diluar dugaan. Keduanya hanya bisa terdiam selama beberapa saat, tidak bisa memutuskan keheningan yang ada. Keduanya terlihat salah tingkah, namun berusaha ditutupi. Kana yang merasa puas dengan respon keduanya hanya bisa tertawa dalam hati.
"Kalau gitu, aku ke kampus dulu." Ucap Arond akhirnya, namun tidak membahas perihal kedatangannya ke apartement Kana itu. "Salam untuk Isabela, Kak. Eh, ... tapi sekampus. Salamnya ditarik." Sambung Arond yang terdengar garing.
Arkana hanya membalasnya dengan senyuman canggung dan tanggung. Dia benar-benar payah saat bicara tentang hal-hal semacam ini. Kana adalah orang yang bebas dan sangat mudah mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Sehingga tidak heran jika perempuan itu secara spontan mengatakan hal semacam itu di depan dua laki-laki sekaligus.
Setelah itu Arond pamit dan Arkana memilih untuk duduk di sofa dengan kepala yang menengadah ke atas. Dia benar-benar pusing sekali. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Kana duduk disampingnya dan mengelus pundaknya. Arkana tidak membuka matanya, memilih untuk menikmati elusan di pundak kanannya. Kana tahu bagaimana memberikan kenyamanan yang dia inginkan.
"Aku harus pulang! Isabela pasti mengkhawatirkan aku." Ucap Arkana yang membuka matanya kembali.
Kana tidak menjawab, dia hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin bersama dengan Arkana. Tetapi tidak ada alasan untuk melarang Arkana pergi. Terlihat Arkana yang mulai beranjak dari duduknya, mengambil kemejanya dan celana panjangnya yang teronggok mengenaskan di lantai kamar Kana. Kana sendiri hanya duduk diam sambil terus memperhatikan Arkana.
"Besok datang kesini?" Tanya Kana kepada Arkana yang hanya dijawab dengan gelengan saja. "Kenapa tidak mau datang lagi? Katanya aku rumah barumu?" Sambung Kana kembali.
Arkana berjalan mendekat ke arah Kana yang menampilkan wajah kesal ke arahnya. Laki-laki itu mencium kening Kana cukup lama. Setelah itu memberikannya senyuman manis dan pergi begitu saja.
Memang terlihat b******k, namun Arkana tidak bisa menjanjikan Kana apapun. Termasuk dengan pertemuan dan juga perasaan. Arkana merasa nyaman. Namun dia laki-laki pada umumnya yang terkadang hanya merasa mempunyai tempat tinggal tetapi tidak berniat untuk menetap.
Arkana keluar dari apartement mewah itu dan memesan taksi online untuk mengantarkannya ke rumah. Dia bisa mendengar suara siaran radio yang menyiarkan tentang kematian pemimpin terakhir dari Naga merah. Dafollo yang ditemukan meninggal di dekat sungai dengan patah tulang parah. Mereka menduga bahwa Dafollo melakukan bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Jasadnya membusuk karena sudah beberapa hari dan baru ditemukan.
Arkana hanya bisa tertawa dalam hati. Orang-orang itu bermain dan menyingkirkan permainan mereka dengan baik. Sebenarnya Arkana lah yang ingin membunuh Dafollo. Tetapi orang-orang kepercayaan laki-laki itu lah yang turun tangan sendiri. Arkana tahu bahwa alasan terbesar mereka membunuh Dafollo adalah agar tidak ada yang tahu dari identitas orang dibalik kekacauan dan juga yang menyebalkan kematian Bear.
Laki-laki itu hanya bisa menatap nanar ke arah keluar jendela sambil terus memikirkan hal-hal yang terus memenuhi kepalanya. Masalah yang terjadi silih berganti dalam kelompok mereka juga merupakan ujian yang berat untuk dirinya—sebagai ketua dari kelompok Jendela Kematian itu. Padahal biasanya, mereka bisa mengambil banyak jobs dalam sekali jalan. Namun beberapa bulan belakangan ini, mereka seperti dipaksa menyelesaikan masalah internal mereka. Tentang para manusia yang mulai tahu tentang keberadaan Jendela Kematian.
Arkana sedikit bersyukur karena beban di kepalanya berkurang saat bersama dengan Kana. Elusan tangan perempuan itu masih begitu terasa di kepalanya dan detak jantungnya pun berdetak dua kali lipat dari biasanya. Arkana jarang dekat dengan manusia berjenis kelamin perempuan selain Isabela dan Beauty. Namun bersama dengan Kana adalah sebuah rasa nyaman yang seperti mereka sering bertemu. Padahal belum ada satu bulan mereka bertemu. Tapi Kana memberikan dunia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh—taksi itu berhenti di depan sebuah gerbang rumah yang lumayan jauh dari perkotaan. Lalu Arkana turun setelah membayar ongkos taksinya. Laki-laki itu pun masuk ke dalam rumahnya, melihat seorang perempuan yang tertidur di sofa ruang tamu sendirian tanpa menggunakan selimut sama sekali. Arkana bisa melihat bercak merah yang ada di kulit adiknya, bekas gigitan nyamuk yang merajalela.
Arkana menepuk bahu Isabela dan perempuan itu langsung membuka matanya.
"KAKAK!" Teriak Isabela karena kaget dengan kehadiran Arkana yang ada di depannya. "Untunglah, aku tidak jadi memukul Kakak. Kenapa baru pulang ke rumah? Kakak darimana saja? Aku bahkan meminta Kak Gala untuk datang ke club', tapi katanya Kakak tidak ada. Kakak kemana? Tidur di mana?" Sambung Isabela dengan penuh selidik.
Arkana hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Dia sulit menjawab karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya; tentang dirinya yang tidur di apartement Kana. Namun, apakah dengan berbohong akan menjamin bahwa Kana tidak akan mengatakannya kepada Isabela? Seperti perempuan itu akan dengan sengaja dan bangga mengatakannya kepada Isabela.
"Hm, ... Kakak bersama dengan Kana semalam." Tandas Arkana yang kali ini memilih untuk menjawab jujur kepada Isabela.
Perempuan itu membuka mulutnya tidak percaya, "Kakak berpacaran dengan Kana sekarang? Mengapa Kakak mau bersamanya? Bukankah Kakak bilang tidak ingin berpacaran karena takut aku cemburu?"
Terlihat bahwa Isabela menatap Arkana dengan tatapan cemburu. Biasanya, Isabela akan menjadi satu-satunya di dalam hidup Arkana. Jadi terasa aneh ketika Arkana menyebutkan nama lain yang menjadikan alasan Arkana untuk meninggalkan Isabela sendirian.
"Aku hanya minum dengannya. Kami hanya duduk bersama dan bercerita masalah masing-masing." Ucapnya yang kali ini berbohong.
Isabela mengerutkan keningnya tidak percaya, "tidak melakukan sesuatu dengannya juga? Maksudnya, Kakak benar-benar tidak berpacaran dengan Kana? Jika iya, bisakah Kakak bicara padaku juga?"
Arkana memegang kedua pundak Isabela dengan tatapan serius, "aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Kana tidak akan bisa hidup dan menjadi bagian dari kita. Kehidupan kita terlalu keras untuk orang sepertinya. Dia hanya buruh kasih sayang, tidak butuh Kakak."
Kali ini Isabela yang dibuat bungkam. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk egois. Namun apakah Kakaknya benar-benar menyukai Kana? Terlihat sekali bahwa Arkana mempunyai banyak rahasia yang sepertinya sengaja disembunyikan.
Arkana meninggalkan Isabela sendirian setelah mengecup keningnya cukup lama.
"Kakak bisa mencari kebahagiaan Kakak. Kenapa harus takut kepada tanggapan orang lain tentang hidup kita. Jika Kana benar-benar menyukai Kakak, seharusnya tidak masalah jika masa lalu kita buruk." Tandas Isabela akhirnya.
Arkana hanya tersenyum. Dia hanya tidak mau menyeret orang lain lagi. Cukup dirinya yang masuk ke dalam kubangan! Jangan pernah lain yang tidak bersalah!
~~~~~~~~~