BAB 7 | Telepon Unik dan Rokok Mematikan

1486 Words
Belakangan ini, berita di televisi menunjukkan kasus yang unik. Ada cukup banyak kasus kematian yang berhubungan dengan jendela. Pasti korban yang meninggal ditemukan jatuh dari jendela. Kebanyakan pun disebut dengan kasus bunuh diri. Tetapi ada beberapa orang yang masih ragu dengan kevalidan dari informasi tersebut. Mereka masih curiga, jika memang bunuh diri. Bukankah ada cara lain seperti meminum obat-obatan, memotong urat nadi, dan lain-lain selain jatuh dari jendela. Bahkan kasusnya pun sama dalam beberapa pekan ini. Di lorong ruangan yang gelap, ada sebuah ruangan nyaman milik dari Prada. Laki-laki itu sibuk dengan cerutu besarnya sambil duduk bersandar di kursi empuk. Kedua kakinya sedang dipijit oleh dua perempuan muda dengan rok mini. Untuk kali ini, dia tidak menikmati hidupnya. Pikirannya bercabang tentang rumor-rumor yang terus beredar tentang adalah sekelompok pembunuh bayaran bernama Jendela Kematian. Namun, bagi seorang Prada, itu hal konyol. Beberapa diantara mereka pun terus saja menghubungkan dengan kematian Patra beberapa Minggu lalu. Menyebalkan! Klek. Pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki tinggi dan tampan sedang berjalan masuk ke dalam. Prada mengibaskan tangannya dan meminta kedua perempuan muda itu untuk meninggalkannya. "Dad, apa mungkin—" ucap laki-laki itu yang terputus karena dipotong oleh Prada. "Sudahlah! Aku bosan mendengar tentang omong kosong yang kalian kalian tentang kematian Patra." Sambarnya dengan jengah. "Dia sudah mati... Apa yang ingin kalian lakukan lagi? Apa dengan mencari tahu, Patra akan hidup lagi?" Tanya Prada dengan wajah santai. Laki-laki itu berjalan memutar dan mendekati Prada, "Dad, apa Daddy tidak penasaran dengan kelompok itu? Mereka bisa saja melakukan sesuatu kepada Patra sebelum dia jatuh dari menara itu. Bisa saja, 'kan? Itu masuk akal. Sangat masuk akal." "Lalu, apa yang mereka lakukan? Dokter-dokter yang Daddy minta untuk melakukan otopsi pun lebih pintar dan masuk akal daripada opini-opini gila kalian. Apa mereka mempunyai sihir, membunuh tanpa menyentuh? Apa di jaman modern seperti ini, masih ada lelucon seperti itu?" Kesal Prada kepada sang anak yang terus bertanya dan berasumsi tentang kematian Patra. "Gala!" Panggil Prada yang kepada laki-laki itu. "Kau tidak perlu repot memikirkan kematian Patra. Semua itu memang benar-benar bunuh diri. Orang tuanya mengatakan jika Patra sempat bertengkar hebat dengan orang tuanya. Bisa saja 'kan, dia frustasi." Sambung Prada. Laki-laki yang bernama Gala itu hanya menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan dari Prada, " kematian Patra bisa jadi sebuah kesengajaan, Dad. Tapi baiklah, aku akan mencoba untuk menerima kenyataannya. Kalau begitu, aku akan pergi ke club'." "Club'? Kau akan bersenang-senang dengan banyak gadis? Pikirkan jika melakukan dengan gadis yang sembarangan," pesan Prada kepada sang putra. Gala menggeleng, "aku tidak pernah melakukan apapun yang sangat membahayakan kehidupanku." Setelah itu Gala melaju dengan mobil sport miliknya untuk sampai disalah satu club' langganannya. Dia sering datang karena ingin bertemu dengan Arkana. Ah, Gala normal, tentu saja dia laki-laki tulen. Gala hanya merasa nyambung dan menjadi laki-laki normal ketika bersama dengan Arkana. Beberapa orang menganggap dirinya aneh. Entahlah, karena faktor apa. "Arkana," panggil Gala ketika laki-laki dibalik meja bartender itu sedang melayani tamu. Arkana hanya tersenyum lalu menunjuk salah satu tempat duduk yang berada di dekatnya, "kita akan bicara nanti. Aku buatkan minuman yang biasanya?" Gala menganggukkan kepalanya sambil menunggu Arkana yang sibuk membuatkan minuman sambil bicara kepada beberapa laki-laki yang juga memesan minuman kepadanya. Setelah selesai, Arkana meletakkan gelas itu di depan Gala. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arkana sambil mengelap meja. Gala mengangkat kedua bahunya bingung, "kau tahu, banyak sekali kejadian yang terlewati belakangan ini? Dari kematian-kematian yang tidak lazim sampai rumor-rumor aneh yang dibicarakan." Arkana mengerutkan keningnya bingung, "aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." "Menurutmu, apa mungkin ada kelompok pembunuh bayaran yang menggunakan jendela sebagai tempat untuk membunuh korbannya?" Tanya Gala tiba-tiba. Arkana membulatkan matanya, terkejut. Namun, sesegera mungkin dirinya menguasai ekspresinya itu. "Apa itu mengganggumu? Atau ada orang terdekatmu yang meninggal akhir-akhir ini?" Tanya Arkana memastikan. Gala menggeleng, "tentu saja tidak. Aku hanya sedang menceritakan berita di televisi. Bukankah itu hal yang aneh? Kau mendengar cerita tentang kematian Patra yang cukup fenomenal akhir-akhir ini?" "Ya, berita itu diulang di televisi sampai berulang kali. Aku bahkan hapal bagaimana host berita itu menyampaikan berita kematian Patra. Sampai bosan aku mendengarnya." Ucap Arkana jujur. Gala menganggukkan kepalanya, namun masih membutuhkan sebuah jawaban yang memenuhi kepalanya. "Apa kau masih memikirkan tentang kelompok pembunuh bayaran yang kau katakan tadi?" Tanya Arkana lagi. "Mungkin! Aku penasaran, jika memang mereka ada, apa yang mereka lakukan untuk membunuh korbannya?" Ucap Gala dengan antuasias. "Menurutmu, apa yang mereka lakukan untuk melakukan pembunuhan?" Tanya Gala kepada Arkana. "Menurutku, mereka akan membuat ramuan pelumpuh syaraf." Jawab Arkana seadanya. Namun ucapan itu langsung disambut Gala dengan tertawa, "bisa-bisanya kau bercanda ketika aku sedang serius mendengarkanmu." Mereka hanya tertawa, walaupun yang dikatakan Arkana sepenuhnya benar. Dibalik Jendela Kematian ada banyak sekali orang yang sangatlah ahli. Tentu saja mereka semua tidak bekerja diluar pekerjaan di Jendela Kematian dengan menggunakan keahlian itu. "Jika kau menjadi anggota dari Jendela kematian, apa yang akan kau kenakan?" Tanya Gala lagi. Arkana berpikir sejenak, "mungkin sebuah topeng wajah yang terlihat nyata." "Kau benar-benar mengejekku," ucap Gala yang membuat Arkana mulai tertawa. "Sebentar," ucap Arkana yang mendekati seorang tamu. Gala menatap layar ponselnya dan mendapati baterai ponselnya hampir habis. Gala menarik charge yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Namun Gala tertarik dengan tas kecil milik Arkana. Dia mengambil sebuah kotak rokok dengan salah satu merk mahal di sana. "Kukira, kau bukan perokok." Ucap Gala sambil memperlihatkan sebatang rokok kepada Arkana yang sedang melayani tamu. Sontak kedua bola mata Arkana membulat seketika, "jangan-jangan. Itu akan membunuhmu." Arkana langsung menyahut rokok itu dari mulut Gala dan memasukkannya kembali ke tempatnya. "Membunuh? Apa maksudmu?" Tanya Gala bingung. Arkana memutar otak lagi, "hm, tertera di bungkusnya." "Oke... Tetapi mengapa kau merokok jika tahu akibatnya?" Tanya Gala penasaran."Oh, itu bukan milikmu?" Sambungnya. "Ini bukan milikku! Iya..." Tandas Arkana sedikit gugup. "Ah, iya. Lagipula rokok seperti itu yang paling mahal di pasaran saat ini." Jawab Gala memberi tahu. Sebenarnya, bukan itu masalahnya. Namun rokok itu berisi sebuah peluru kecil. Jika ditiup, maka akan langsung mengenai sasaran. Semua anggota Jendela Kematian memilikinya sebagai proteksi diri. Tentu saja Happy yang membuatnya. Sehingga, jika ada keadaan darurat di muka umum, mereka bisa langsung menggunakannya tanpa dicurigai sama sekali. Arkana hanya menghela napas panjang. Lalu tidak lama kemudian, Gala sudah bertanya tentang ponsel Arkana yang unik. Kali ini Arkana ceroboh karena meletakkan barang berharga ini di atas meja. Jika sampai ada yang tahu, matilah riwayatnya. Tadi, dia lupa dengan ponselnya, dan yang ada hanyalah ponsel kerja ini. "Apa ponselmu masuk ke dalam kategori barang-barang antik? Boleh aku mencobanya?" Tanya Gala penasaran. Tentu saja Arkana menggelengkan kepalanya, "ini ponsel kuno. Ponsel ini adalah peninggalan kakekku dan aku selalu membawanya kemanapun. Katanya, ini adalah keberuntungan. Jadi maaf, aku tidak bisa memberikan benda berharga ini kepada sembarang orang." "Oh, baiklah. Tidak masalah!" Jawab Gala. "Bagus Arkana, kau memberikan jawaban yang tepat." Batin Arkana. Tiba-tiba, ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya itu. Arkana langsung memasukkan ke dalam sakunya dan meminta ijin kepada Gala untuk ke toilet sebentar. Dia juga meminta salah satu rekannya untuk menggantikannya. Setelah berada di dalam toilet dan menguncinya rapat-rapat, Arkana langsung mengambil ponsel itu. Ponsel yang Arkana gunakan berkode, tidak bisa orang sembarangan memecahkan kodenya. Bahkan ahli IT sekalipun. Tentu saja ponsel itu diberikan perlindungan berlapis. Salah satunya adalah, ponsel akan mati ketika si pemilik ponsel sudah mati. Teknologi yang sangat maju dibandingkan dengan semua teknologi yang sedang diusahakan pemerintah. "Big Boss," ucap orang yang berada diseberang sana. "Ada apa, Happy? Apakah ada informasi yang sangat penting?" Tanya Arkana penasaran. "Ada yang menghubungi kita lagi, Big Boss. Aku baru saja datang ke markas dan membuat sinyal panggilan kepada anggota lain. Tetapi mereka belum ada yang datang." Jawab Happy menjelaskan. Arkana menatap jam tangannya, masih ada beberapa jam lagi untuk bekerja. Dia tidak bisa langsung pergi begitu saja karena beberapa hari ini dia sudah meminta libur. Jika sampai dia libur lagi, maka kemungkinan terbesarnya adalah dipecat. Tentu saja Arkana membutuhkan pekerjaan ini untuk menutupi pekerjaannya yang lain. "Aku akan datang terlambat," ucap Arkana kepada Happy yang sejak tadi menunggu jawabannya. "Baiklah! Aku akan singkronkan semua data. Kau tenang saja, kami akan menyelesaikannya lebih dulu. Sehingga kau bisa memikirkan strateginya." Jawab Happy. Arkana menghela napas panjang lalu melanjutkan teleponnya, "kali ini, siapa target kita?" "Hm... Tuan Prada!" Arkana mengusap wajahnya, "seperti apa lagi?" "Kali ini, dengan peluru..." Jawab Happy lirih. "Ngomong-ngomong, sudah lama tidak melakukan hal itu karena Bear bisa meracik obat untuk pelumpuh syaraf. Jadi kita jarang menggunakan peluru. Pasti rasanya akan sangat aneh!" Sambung Happy yang terdengar khawatir. "Sudahlah, semua akan baik-baik saja. Tidak perlu kau pikirkan. Kau tahu, Beauty sangat bisa diandalkan untuk yang satu ini." Ucap Arkana yang menenangkan. "Baiklah! Sampai jumpa di markas, Big Boss." Sambungan pun terputus dan Arkana kembali bekerja. Sesekali dia akan bicara dengan Gala yang mulai menceritakan banyak hal. Tentu saja pikiran Arkana bercabang-cabang. Namun, dia tetap berusaha untuk profesional. Dia harus bekerja di sini lalu bekerja di tempat lain. Tetapi, mengapa harus menggunakan senjata? ~~~~~~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD