Perubahan

2120 Words
Jarak adalah alasan supaya kita tahu seberapa berharganya orang itu." *** Keputusan yang tepat bagi Amanda, perlahan tapi pasti ia akan menyiapkan hati bila Angga berniat mengakhiri hubungan. Ia tak ingin berharap karena sudah tahu bahwa Angga akan melakukan itu, meninggalkannya dan mulai mencari Nessa. Yuda pun masih mencoba mendekati, pria itu seakan tak perduli bahwa Amanda telah menolak cintanya. Ia hanya yakin mampu mendapatkan wanita itu dengan lebih mendekatinya lagi, meyakinkannya kalau ia mampu menjaga dan mencintai Amanda lebih dari sekarang. "Aku nggak akan pernah menyerah, Amanda. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan terima rasa cintaku ini." Yuda begitu sangat yakin akan harapannya. Selama Amanda tak ada, Angga merasa ada yang berkurang dalam hidupnya. Jika dulu ini yang ia inginkan, tetapi tidak untuk sekarang. Tanpa Amanda ketahui pria itu selalu mengawasinya dari jauh, memastikan kalau wanita itu baik-baik saja. "Seenggaknya kamu dalam keadaan baik, walau jauh dari aku." Angga bernapas dengan lega saat mengetahui itu semua. *** "Kenapa kamu nolak aku, Amanda?" Lagi-lagi Yuda melayangkan pertanyaan yang sama. Ia seolah tak percaya Amanda mencintai pria lain, karena selama ini tak pernah melihat wanita itu dengan pria manapun. Amanda kembali menjelaskan tentang perasaannya kepada Yuda, bahwa hatinya telah dimiliki orang lain. Meski sakit, Yuda mencoba mencari tahu, siapa pria itu dan apakah cintanya berbalas. "Dia pria yang beruntung, tanpa berjuang sudah mendapatkan cinta kamu. Seandainya aku jadi dia, aku pasti akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini," ungkap Yuda dengan senyuman tipis, lelaki itu seolah merasa bahagia bila Amanda dengan pria lain. Amanda tersenyum sebagai respons, dalam hati dia membantah pemikiran Yuda, justru ia merasa bahwa Angga tidak seperti itu. 'Andai aja Angga sepemikiran kayak kamu, Yud. Semuanya pasti berbeda, ujar Amanda dalam hati. Sejak Angga mengetahui tentang perasaan Amanda, hubungan mereka semakin jauh terlebih kini ia yang tinggal terpisah dengan pria itu. Amanda mulai terbiasa tanpa Angga dan bila keputusannya adalah berpisah ia akan bisa menghadapi segalanya. Amanda dan Yuda masih berbincang, menghabiskan sisa jam makan siang. Yuda pun mengambil kesempatan untuk mencari lebih jauh tentang perasaan Amanda kepada pria lain itu. Cinta yang begitu besar meski tanpa meminta balasan. Dalam hati ia menyesal tak dapat memiliki cinta sebesar itu dari Amanda, tetapi selalu berdoa yang terbaik untuk sahabatnya itu. *** Ego yang cukup besar membuatnya mengabaikan rasa yang tersirat, mencoba mengelak, tetapi akhirnya menyerah. Beberapa hari tak melihat sang istri membuatnya yakin akan satu hal, ia merasa kehilangan. Entah kehilangan apa? Sosok Amanda yang selalu memperhatikan atau sosok yang selalu ia siksa dengan ucapan kasar dan menyakitkan hingga akhirnya egonya kalah oleh perasaan itu sendiri. Angga dengan tiba-tiba menghampiri Amanda di kediaman wanita itu. "Sudah malam, jangan biasa begadang, Amanda." Suara bariton yang amat dikenal terdengar nyata di rungunya, membuat pensil di genggaman terlepas begitu saja. Ia memutar tubuh dan terbelalak melihat Angga sudah bersantai di atas tempat tidur kecilnya dengan nyaman dan mata terpejam. "A ... Angga, gimana bisa kamu masuk ke sini?" lontar Amanda masih di tempat, sebuah kursi kecil di ruangan itu, tempat Amanda biasa belajar. "Ya, bisa aja, pintunya nggak dikunci. Lagipula aku suami kamu, bukan orang asing," sahutnya masih memejamkan mata, mengubah posisi menjadi tengkurap dan menikmati aroma parfum milik Amanda yang telah menyatu dengan tempat tidur. Amanda diam, menghela napas pelan dan mulai beranjak dari tempatnya. Melangkah menuju pintu, tetapi terhenti ketika Angga mengatakan telah mengunci pintu utama. "Mau ke mana?" Angga mengubah posisi jadi miring, menatap Amanda bingung yang sedang memegang kenop pintu. "Aku tidur di kamar bunda, aku juga nggak mau ganggu kamu. Silakan tidur! Dan ...." "Pintunya kukunci, lupa tadi taro di mana," ujar Angga polos, lalu kembali memejamkan mata. Amanda terbelalak, bagaimana bisa Angga mengunci kamarnya dan lupa meletakkan kunci? Ia harus tidur di bawah bila pria itu tidur di atas kasur, Amanda tahu benar bahwa Angga tak akan sudi berbagi tempat tidur dengannya. Namun, ia kembali dibuat terkejut ketika pria itu meminta supaya Amanda tidur di ranjang yang sama. "Kamu nggak perlu tidur di bawah. Kamu juga bisa tidur di sini. Lagipula aku nggak akan macem-macem." Angga tersenyum tipis, meyakinkan sang istri yang hanya terdiam mendengar ucapannya dan sepertinya terkejut akan permintaan anehnya yang pertama kali. Tidur dalam satu ranjang untuk pertama kali dalam enam bulan menikah membuat Amanda tak bisa terpejam, dadanya terus berdebar dan ia pun berulangkali menghela napas pelan. Bagaimana ia bisa hidup tanpa Angga bila kini pria itu malah mendekati, Amanda sudah mulai terbiasa tanpa pria itu. Namun, kini ia tak yakin mampu bertahan tanpa Angga di sisinya. *** Angga menyipitkan mata, membaca deretan kalimat yang terpampang di layar gawai milik Amanda. Pagi-pagi sudah ada notifikasi pesan dan yang membuat geram adalah si pengirim. Tanpa banyak kata ia mengerakkan jemari membalas pesan itu, dia bahkan seolah tak perduli bila Amanda akan kesal dengan sikap lancangnya. Ia menoleh, lalu memandangi wajah cantik yang masih terlelap di samping, menatap setiap inci wajah itu seolah baru sadar bahwa Amanda amat cantik kalau sedang terlelap. Senyum lebar tersungging ketika menatap bibir polos yang pernah menggodanya malam itu membuat si pemilik mengeluarkan suara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Angga memukul kepalanya cukup keras, menghilangkan bayangan erotis yang tiba-tiba hadir dalam kepala. Hanya dengan melihat bibir Amanda sudah membuat dia berpikiran kotor. Angga perlahan mengubah posisinya, dia memilih membaringkan tubuh dengan posisi miring supaya bisa mengamati wajah damai Amanda yang selama ini dia abaikan. Angga tersenyum saat mulai menyadari salah satu kesalahan terbesarnya. *** Pagi yang cerah, tetapi membingungkan bagi Amanda. Ia yang terbiasa bangun pagi ketika alarm berbunyi kini alarm itu membangunkannya lebih siang, Angga yang sudah tampan di pagi hari dan juga membuat sarapan untuknya, ah! Bukan untuknya, tetapi mereka berdua. Ini adalah kali kedua pria itu menyiapkan sarapan untuk mereka dan kali ini raut wajahnya sedikit berbeda. Entahlah, Amanda melihat wajah itu sedang bahagia pagi ini. "Dia nggak akan jemput kamu hari ini, jadi ke kantor sama aku," ujar Angga usai sarapan, menatap sang istri yang duduk di hadapan. Amanda mengernyit bingung, siapa yang dimaksud Angga dan ia terbelalak setelah tahu bahwa pria itu pasti telah membaca pesan di gawainya. "Kamu udah ...." "Kenapa? Nggak ada yang salah, aku suami kamu jadi udah hakku mengetahui segalanya. Lagi pula kamu masih punya suami, nggak sepantasnya jalan sama laki-laki lain." Angga tak perduli bila Amanda beranggapan bahwa ia lancang. Satu hal yang dia perdulikan, bahwa dia tak suka dengan keberadaan Yuda di sekitar Amanda. Amanda mendesah pelan, beranjak dari duduknya dan membereskan bekas sarapan pagi. Dalam hati menggerutu dan bertanya-tanya tentang sikap Angga yang aneh sejak semalam. Bahkan, kini pria itu telah mengakui bahwa mereka adalah suami-istri. 'Dia cuma ngaku sebagai suami bukan mengakuimu sebagai istrinya, sadar Amanda! Sampai kapan pun dia nggak akan terima kamu sebagai istri.' Angga telah berubah. Namun, Amanda terus menyadarkan diri sendiri kalau semua sikapnya tak lain karena kasihan, ia seorang diri sekarang jadi wajar Angga bersikap demikian. *** Matanya masih mengawasi Amanda dan Yuda yang sedang makan siang bersama, ini bukan pertama kali Angga melihat itu. Bahkan, ia bisa melihat dengan amat jelas semua perhatian Yuda kepada sang istri. Ia akui tak tahu segalanya tentang Amanda termasuk hubungannya dengan Yuda yang terlihat sangat dekat itu. "Apa mereka ada hubungan?" Tanpa sadar Angga berucap demikian membuat Reni—sekretarisnya—menjadi bingung. Wanita berambut pendek itu mengikuti arah mata sang atasan dan tersenyum tipis. "Saya kurang tahu, Pak, tapi mereka itu teman dekat sejak lama. Rumor yang saya dengar, Yuda menyukai Amanda," jelas Reni ikut melihat kedekatan Amanda dan Yuda. Angga reflek menoleh dengan mata melebar, tak percaya dengan ucapan sekretarisnya yang mengatakan bila pegawai keuangan itu mencintai istrinya. Amanda juga selalu tersenyum setiap bersama pria itu, mungkinkah mereka memiliki perasaan yang sama. Ia menggeleng pelan, teringat akan pernyataan Amanda malam itu tentang perasaannya kepadanya. 'Aku cinta sama kamu asalkan kamu tahu itu. Pernikahan ini dan semua sikap aku bukan karena aku incar harta kamu, tapi karena aku memang mencintai kamu, Angga. Calon adik iparku sendiri. Aku juga nggak menyesal udah jadi bagian dari hidup kamu walau kamu sendiri muak sama aku.' "Mereka serasi ya, Pak? Amanda dan Yuda juga sama-sama masih sendiri," celetuk Reni masih memperhatikan kedekatan dua orang yang dimaksud. Angga bergeming tak ada niatan menjawab celetukan Reni, satu hal yang ia rasa ... perasaan tak suka melihat kedekatan mereka yang seperti ini. Reni masih berceletuk, bercerita banyak hal tentang rumor yang tersebar kalau Yuda memiliki perasaan lebih kepada Amanda yang statusnya hanya sebagai pegawai biasa di kantor itu. Ia juga mengatakan bahwa Amanda termasuk idaman para pria, tetapi karena sikap tertutup wanita itu para pria segan untuk mendekati. Bahkan, Reni pun merasa sedikit iri dengan sifat sempurna seorang Amanda. Angga masih menatap Amanda dari kejauhan sambil mendengar cerita dari Reni, dalam hati membenarkan ucapan wanita itu dengan senyum tipis di bibir. "Bapak juga suka, ya, sama Amanda?" Angga terbelalak. Pertanyaan Reni dia pun tak tahu apa jawabannya. "Ngaco kamu, mana mungkin saya menyukai dia. Kenal saja baru beberapa bulan ini." Reni mengangguk sambil tersenyum. "Tapi Amanda cocok, ya, Pak sama Yuda." "Ah, iya." *** Amanda menghentikan ayunan langkahnya ketika suara mobil lain terdengar, ia menoleh dan menatap bingung ke arah Angga yang keluar dari dalam mobil dengan satu koper besar di tangan. Pria itu tersenyum sebentar sebagai sapaan kepada sang istri. "Kamu, kok, balik lagi. Aku pikir nggak akan kemari?" berondong Amanda seolah lupa dengan koper besar yang Angga bawa. Dia sudah bisa bernapas lega saat tahu Angga tak lagi mengikutinya ke rumah Rania. Namun, sekarang pria itu malah kembali dan membawa sebuah koper. Pria itu tersenyum lagi, menjelaskan bahwa ia membawa pakaian di dalam koper itu. Amanda terbelalak sebentar dengan d**a mulai sesak, apakah ini akhirnya? "Jadi kamu yakin ingin mengakhiri semuanya? Seharusnya nggak perlu susah-susah antarkan pakaian itu, aku bisa mengambilnya sendiri di rumah kamu. Itu pakaianku dan kamu ...." "Ini pakaian kita, lagipula siapa yang mau mengakhiri. Itu keinginan kamu bukan keinginanku," sela Angga cepat dan berlalu dari hadapan Amanda sambil menyeret koper besar yang ia bawa, berjalan menuju kamar wanita itu dan bersiap merapikan pakaiannya. Amanda menghampiri Angga di kamar, melontarkan banyak pertanyaan kepada pria itu tentang pakaiannya yang di letakkan di dalam kamar Amanda. "Kalau niat kamu ke sini cuma untuk mengenang Nessa sebaiknya jangan! Aku nggak akan sanggup melihat itu," tuding Amanda membuat Angga mendongak, menatap wajah sang istri yang berubah sendu tak lagi berseri ketika bersama Yuda. Angga menarik napas pelan karena benar-benar telah menghancurkan hati wanita di hadapannya. "Kamu nggak mau pulang, 'kan, jadi aku yang akan tinggal di sini," jawab Angga, lalu kembali merapikan pakaian ke dalam almari. "Kenapa dan buat apa?" "Karena aku ingin." Singkat, padat dan jelas. Angga memang menginginkan itu, tetapi tak tahu alasan terkuatnya karena apa. "Ingin apa? Belum puas juga kamu nyakitin aku sampai ngelakuin ini segala." Amanda menatap Angga dengan sorot sedih membuat pria itu merasakan lagi rasa bersalahnya. Sejak hari itu mereka tinggal dalam satu atap lagi, kini Amanda yakin tak akan mampu semudah itu hidup tanpa Angga. Pria itu selalu saja hadir dan meruntuhkan tembok tinggi yang telah Amanda bangun cukup kuat dan lagi-lagi kalah dengan rasa cintanya sendiri yang akhirnya membuat ia melayani Angga seperti biasa, kembali menjadi istri yang baik dan penurut. "Makan malam dulu." Suara Amanda di bibir pintu menyadarkannya dari lamunan, Angga menoleh dan menatap wajah sang istri yang tanpa polesan make up di wajah, sangat alami dengan penampilan yang begitu sederhana. Ia mengangguk dan tersenyum, melangkah menghampiri Amanda yang masih di tempat. Namun, Angga tersandung sesuatu sehingga ia terjatuh dan menimpa tubuh Amanda di depannya. Mereka masih terpaku dengan netra yang saling tatap, mengabaikan posisi yang kini berubah intim. Amanda memejamkan mata dengan rapat ketika kejadian beberapa bulan yang lalu kembali terulang, Angga kembali yang memulai segalanya dan jauh dalam lubuk hati berharap kalau kegagalan waktu itu tak terulang lagi. Namun, nyatanya itu hanyalah keinginan sepihak dari Amanda sendiri. "Ma ... maaf, aku nggak bermaksud. Aku makan dulu," ucap Angga, beranjak dari atas tubuh Amanda dan berlalu begitu saja. *** "Mimpi indah, Amanda. Maaf, udah buat kamu kecewa tapi aku janji setelah ini nggak akan seperti itu lagi," lirih Angga, kemudian mengecup pelipis Amanda cukup lama sebelum akhirnya menjauhkan tubuh dan melanjutkan istirahat malamnya. Amanda mendengarnya, wanita itu hanya berpura-pura terlelap. Ia bimbang kenapa sikap Angga berubah jadi sangat manis? Mana Angga yang selalu memakinya dengan ucapan kasar? Menolak ia setengah mati dan kini pria itu meminta maaf hanya karena masalah tadi. Sejak kapan dia memiliki rasa bersalah kepada Amanda? Semua pertanyaan itu hanya bisa ia pendam tanpa ada niat mengutarakan. Amanda membalikkan tubuh dan kini menatap wajah damai sang suami yang telah terlelap. 'Apa arti ciuman tadi, kecupan barusan dan ucapan itu? Apa mungkin kamu udah bisa terima aku di hidup kamu sebagai seorang istri. Aku bingung, Angga. Jangan beri harapan kosong padaku, kumohon!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD