Lelahnya Amanda

3752 Words
"Kenapa kamu cegah aku semalam?" lontar Amanda setelah melihat pria itu menyiapkan sarapan di meja makan. Ia mengingatnya, kejadian semalam secara keseluruhan. Janji Angga, bujukannya dan juga dekapan pria itu sehingga ia tertidur dalam dekapan sang suami. Angga bergeming, menyiapkan roti bakar untuk keduanya sebagai sarapan. Tak berniat menjawab pertanyaan Amanda yang bahkan sudah ia jelaskan semalam. "Sarapan dulu! Kamu lapar, 'kan?" ucapnya, lalu meletakkan roti bakar untuk Amanda di atas piring yang telah tersedia. "Kenapa cegah aku semalam?" Amanda mengulangi pertanyaannya, tak perduli bila Angga sudah menyiapkan sarapan pertama kali untuk dia. "Sarapan dulu, Amanda! Duduk di kursimu dan makan roti itu." Angga kembali pada sifat dinginnya supaya Amanda menurut dan tak banyak bertanya. "Jawab pertanyaanku! Kenapa kamu cegah aku untuk susul mereka? Seharusnya kamu senang bisa terbebas dari aku dengan cepat. Bukannya ini yang kamu mau," desis Amanda masih berdiri di dekat Angga. Menatap pria itu penuh arti. Angga menghentikan suapannya, mengembuskan napas berat dan kini mendongak untuk menatap wajah polos Amanda. "Aku sudah janji sama almarhumah mama, akan menjaga kamu dan memastikan kamu baik-baik saja." "Aku akan baik-baik saja kalau sudah tiada. Aku sendirian sekarang lalu untuk apa aku masih hidup juga?" Amanda tetap kukuh dengan keinginannya ingin mengakhiri hidup dan semua selesai. Ia benar-benar telah putus asa, rupanya kesabaran itu telah menguap membuatnya pasrah pada keadaan sehingga nekat melakukan bunuh diri. "Kamu anggap aku apa? Orang asing," kata Angga seolah tak suka Amanda menganggapnya demikian. Amanda tersenyum samar, bukan senyum bahagia atau senyum sandiwara melainkan senyuman penuh luka. "Bukannya kamu yang lebih dulu Anggap aku orang asing," cetusnya masih dengan senyuman. Angga tergugu, ucapan Amanda benar. Selama ini ia telah menolak Amanda, tak mengijinkan wanita itu hadir dalam hidupnya, menolak dengan terang-terangan bahwa Amanda tak berarti di kehidupannya. Angga menunduk dan mengucapkan kata maaf. "Aku minta maaf kalau selama ini udah sering nyakitin kamu. Aku bener-bener minta maaf, Amanda." Amanda tersenyum lebar. "Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah di sini karena mencintai kamu," aku Amanda seolah Angga harus tahu segalanya. Angga mendongak, menatap Amanda tak percaya. Apakah ia salah dengar? Amanda mencintainya, tetapi sejak kapan? "Asalkan kamu tahu, aku terima pernikahan ini bukan karena materi, tetapi karena aku cinta sama calon iparku yang kini jadi suamiku. Aku salah dan kini sadar bahwa selamanya kamu nggak akan pernah balas cinta aku dan inilah reksikonya dari pernikahan terpaksa itu. Seharusnya aku harus sadar ini dari awal, tapi aku abai dan kini aku tinggal terima karmanya aja." Angga kembali menunduk dan mengucapkan kata maaf, ia pun merasa terluka melihat keadaan Amanda yang seperti ini. Amanda terdiam, melangkah menjauh menuju kamar dan mengabaikan roti bakar buatan Angga membuat pria itu merasa terluka. Pertama kali menyiapkan sarapan dan ditolak oleh Amanda. *** Suara ketukan heels dengan lantai keramik membuat Angga tersadar, ia menatap bingung Amanda yang telah rapi dengan pakaian kantornya. "Mau ke mana kamu?" Angga perlahan berubah, sedikit menghangat tak lagi seperti dulu yang tak mau tahu. "Kerja, aku berangkat dulu," pamit Amanda, berniat mengecup punggung tangan Angga. Namun, diurungkan takut ditolak seperti waktu itu. Dia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. "Kita ke kantor bersama," putus Angga membuat Amanda menghentikan langkah. Memutar tubuh dan menatap wajah pria itu dengan senyuman. "Nggak perlu, aku sudah pesan taksi. Mulai sekarang aku nggak boleh bergantung sama kamu, aku juga sudah siap kalau kamu ingin mengakhiri semuanya. Carilah Nessa dan bahagia sama dia!" Amanda masih tersenyum, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Namun, Angga tidak ... pria itu bahkan tak tahu ada apa dengan dirinya, seharusnya bahagia Amanda pergi. Namun, bukan itu yang dirasakan. *** Semenjak pagi itu, Amanda benar-benar menjauhi suaminya. Mereka tak lagi berangkat bersama seperti beberapa bulan lalu, ia hanya mencoba membiasakan diri tanpa Angga karena merasa yakin bahwa pria itu akan kembali kepada cintanya. "Maaf, ngerepotin kamu," ucap Amanda sambil menunduk, tak berani menatap pria yang duduk di sampingnya. "Nggak pa-pa, aku senang bisa bantu kamu." Yuda menoleh dengan senyuman, sedangkan Amanda terus menundukkan kepala takut untuk mendongak. Ia bersalah telah menyakiti Yuda, tetapi pria itu masih sangat baik padanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Amanda keluar karena tak ingin terjebak waktu terlalu lama dengan sahabat sekaligus pria yang mencintainya. Menutup pintu tanpa menoleh atau tersenyum kepada pria itu. "Besok aku jemput, siap-siap, ya. Sampai ketemu besok, Amanda," suruh Yuda tanpa bertanya lebih dulu. Amanda membuka mulut bersiap membantah, tetapi mobil Yuda lebih dulu berjalan menjauhinya. Ia mendesah pelan, apakah mampu bertemu Yuda besok? Amanda melangkah gontai memasuki rumah kenangannya dengan hati kacau. Rumah itu masih sangat bersih dan terawat, ia mengedarkan tatapan menatap sekeliling. Rasa rindu itu kian menyerang tiap mengingat sudut di dalam rumah sederhana itu. *** Gadis berambut sebahu itu terus tertawa, menertawakan wajah sang kakak yang selalu berubah masam kerap kali ia goda. Bukannya berhenti gadis itu malah semakin menggoda sang kakak. "Bunda, aku penasaran, loh! Seperti apa nantinya calon suami Kakak. Apalagi Kakak jomlo sekarang," ujarnya kepada sang ibunda yang sedang menjahit kala itu. "Heh! Maksudnya apa bicara seperti itu, kamu juga jomlo jangan mengejek statusku, Nessa." Nessa terkikik, mendekati Rania dan memeluk lengannya lalu mengadu, "Aku punya pacar, Kak, bunda juga tahu seperti apa pacarku." Amanda mencibir, sejak kapan adiknya ini memiliki kekasih. Ia bahkan tak pernah melihat kekasihnya datang menjemput. "Aku cuma nggak mau buat Kak Amanda iri, makanya larang dia ke sini, takut jiwa jomlo Kakak memberontak kalau melihat kemesraan kami." Amanda gemas, mendekati Nessa, tetapi gadis itu cepat menghindar sehingga aksi kejar-kejaran tak bisa terelakkan. Rania hanya tersenyum melihatnya, berdoa semoga kebahagiaan ini tak akan pernah hilang. *** "Amanda kangen sama kalian," lirihnya sambil menatap potret keluarga yang sudah ia genggam. Mengusapnya penuh cinta dan kerinduan. "Kamu di mana, Nessa? Apa kamu tahu bunda telah tiada, kakak kangen sama kamu." *** "Hallo, assalamualaikum. Siapa, ya?" tanya Amanda dengan gawai menempel di telinga. "Kenapa nggak pulang, lupa sama rumah?" Amanda mendesah pelan. Tanpa bertanya sekalipun itu siapa, ia sudah tahu. Angga meneleponnya setelah hampir dua jam ia berada di rumah Rania. "Aku lagi ada di rumah bunda." "Lain kali kalau mau pergi pamit, kamu anggap aku suami atau enggak, sih?!" tanya Angga membuat Amanda tertawa lirih, merasa lucu dengan ucapan suaminya dan sejak kapan juga pria itu merasa dia sebagai suami. "Aku selalu anggap kamu suami, justru kamu yang nggak pernah terima kehadiranku dan maaf kalau aku pergi tanpa pamit, aku pikir nggak ada bedanya pamit atau enggak." Angga terdiam, ucapan yang Amanda lontarkan cukup menusuk hatinya. Sejahat itu ia selama ini tak pernah menganggap, tetapi ingin dianggap. Amanda kembali tertawa cukup keras, meminta Angga untuk berhenti bersikap sok peduli. Ia bisa jaga diri sendiri meski tanpa Angga, sudah siap kalau mereka memutuskan jalan sendiri-sendiri. "Kamu nggak perlu khawatir lagi, aku bisa jaga diri, kok. Aku juga pastiin kalau kejadian malam itu nggak akan terulang lagi. Kamu nggak perlu pura-pura lagi, Angga. Papa sama Mama juga udah nggak ada, jadi stop pura-pura peduli lagi," cibir Amanda dengan air mata yang mulai mengalir. "Cukup, Amanda! Aku minta kamu pulang!" titah Angga tak ingin dibantah. "Maaf, aku nggak bisa pulang. Aku mau menenangkan diri dulu." Amanda menolak, beralasan ingin menenangkan diri di rumah Rania tanpa batas waktu. Ia hanya sedang mencoba tanpa melihat Angga setiap saat. Angga mengizinkan meskipun berat. Mungkin, Amanda akan lebih tenang kalau seorang diri. "Aku sangat mencintainya, bunda, tapi bila ini akhirnya aku menerima," lirihnya sambil memeluk foto Rania dengan air mata mengalir. Membayangkan keputusan hakim dan akhir dari pernikahannya membuat ia benar-benar tak sanggup. "Amanda udah capek, bunda. Amanda bener-bener udah nggak sanggup lagi jalani ini semua." 8. Lelahnya Amanda "Kenapa kamu cegah aku semalam?" lontar Amanda setelah melihat pria itu menyiapkan sarapan di meja makan. Ia mengingatnya, kejadian semalam secara keseluruhan. Janji Angga, bujukannya dan juga dekapan pria itu sehingga ia tertidur dalam dekapan sang suami. Angga bergeming, menyiapkan roti bakar untuk keduanya sebagai sarapan. Tak berniat menjawab pertanyaan Amanda yang bahkan sudah ia jelaskan semalam. "Sarapan dulu! Kamu lapar, 'kan?" ucapnya, lalu meletakkan roti bakar untuk Amanda di atas piring yang telah tersedia. "Kenapa cegah aku semalam?" Amanda mengulangi pertanyaannya, tak perduli bila Angga sudah menyiapkan sarapan pertama kali untuk dia. "Sarapan dulu, Amanda! Duduk di kursimu dan makan roti itu." Angga kembali pada sifat dinginnya supaya Amanda menurut dan tak banyak bertanya. "Jawab pertanyaanku! Kenapa kamu cegah aku untuk susul mereka? Seharusnya kamu senang bisa terbebas dari aku dengan cepat. Bukannya ini yang kamu mau," desis Amanda masih berdiri di dekat Angga. Menatap pria itu penuh arti. Angga menghentikan suapannya, mengembuskan napas berat dan kini mendongak untuk menatap wajah polos Amanda. "Aku sudah janji sama almarhumah mama, akan menjaga kamu dan memastikan kamu baik-baik saja." "Aku akan baik-baik saja kalau sudah tiada. Aku sendirian sekarang lalu untuk apa aku masih hidup juga?" Amanda tetap kukuh dengan keinginannya ingin mengakhiri hidup dan semua selesai. Ia benar-benar telah putus asa, rupanya kesabaran itu telah menguap membuatnya pasrah pada keadaan sehingga nekat melakukan bunuh diri. "Kamu anggap aku apa? Orang asing," kata Angga seolah tak suka Amanda menganggapnya demikian. Amanda tersenyum samar, bukan senyum bahagia atau senyum sandiwara melainkan senyuman penuh luka. "Bukannya kamu yang lebih dulu Anggap aku orang asing," cetusnya masih dengan senyuman. Angga tergugu, ucapan Amanda benar. Selama ini ia telah menolak Amanda, tak mengijinkan wanita itu hadir dalam hidupnya, menolak dengan terang-terangan bahwa Amanda tak berarti di kehidupannya. Angga menunduk dan mengucapkan kata maaf. "Aku minta maaf kalau selama ini udah sering nyakitin kamu. Aku bener-bener minta maaf, Amanda." Amanda tersenyum lebar. "Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah di sini karena mencintai kamu," aku Amanda seolah Angga harus tahu segalanya. Angga mendongak, menatap Amanda tak percaya. Apakah ia salah dengar? Amanda mencintainya, tetapi sejak kapan? "Asalkan kamu tahu, aku terima pernikahan ini bukan karena materi, tetapi karena aku cinta sama calon iparku yang kini jadi suamiku. Aku salah dan kini sadar bahwa selamanya kamu nggak akan pernah balas cinta aku dan inilah reksikonya dari pernikahan terpaksa itu. Seharusnya aku harus sadar ini dari awal, tapi aku abai dan kini aku tinggal terima karmanya aja." Angga kembali menunduk dan mengucapkan kata maaf, ia pun merasa terluka melihat keadaan Amanda yang seperti ini. Amanda terdiam, melangkah menjauh menuju kamar dan mengabaikan roti bakar buatan Angga membuat pria itu merasa terluka. Pertama kali menyiapkan sarapan dan ditolak oleh Amanda. *** Suara ketukan heels dengan lantai keramik membuat Angga tersadar, ia menatap bingung Amanda yang telah rapi dengan pakaian kantornya. "Mau ke mana kamu?" Angga perlahan berubah, sedikit menghangat tak lagi seperti dulu yang tak mau tahu. "Kerja, aku berangkat dulu," pamit Amanda, berniat mengecup punggung tangan Angga. Namun, diurungkan takut ditolak seperti waktu itu. Dia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. "Kita ke kantor bersama," putus Angga membuat Amanda menghentikan langkah. Memutar tubuh dan menatap wajah pria itu dengan senyuman. "Nggak perlu, aku sudah pesan taksi. Mulai sekarang aku nggak boleh bergantung sama kamu, aku juga sudah siap kalau kamu ingin mengakhiri semuanya. Carilah Nessa dan bahagia sama dia!" Amanda masih tersenyum, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Namun, Angga tidak ... pria itu bahkan tak tahu ada apa dengan dirinya, seharusnya bahagia Amanda pergi. Namun, bukan itu yang dirasakan. *** Semenjak pagi itu, Amanda benar-benar menjauhi suaminya. Mereka tak lagi berangkat bersama seperti beberapa bulan lalu, ia hanya mencoba membiasakan diri tanpa Angga karena merasa yakin bahwa pria itu akan kembali kepada cintanya. "Maaf, ngerepotin kamu," ucap Amanda sambil menunduk, tak berani menatap pria yang duduk di sampingnya. "Nggak pa-pa, aku senang bisa bantu kamu." Yuda menoleh dengan senyuman, sedangkan Amanda terus menundukkan kepala takut untuk mendongak. Ia bersalah telah menyakiti Yuda, tetapi pria itu masih sangat baik padanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Amanda keluar karena tak ingin terjebak waktu terlalu lama dengan sahabat sekaligus pria yang mencintainya. Menutup pintu tanpa menoleh atau tersenyum kepada pria itu. "Besok aku jemput, siap-siap, ya. Sampai ketemu besok, Amanda," suruh Yuda tanpa bertanya lebih dulu. Amanda membuka mulut bersiap membantah, tetapi mobil Yuda lebih dulu berjalan menjauhinya. Ia mendesah pelan, apakah mampu bertemu Yuda besok? Amanda melangkah gontai memasuki rumah kenangannya dengan hati kacau. Rumah itu masih sangat bersih dan terawat, ia mengedarkan tatapan menatap sekeliling. Rasa rindu itu kian menyerang tiap mengingat sudut di dalam rumah sederhana itu. *** Gadis berambut sebahu itu terus tertawa, menertawakan wajah sang kakak yang selalu berubah masam kerap kali ia goda. Bukannya berhenti gadis itu malah semakin menggoda sang kakak. "Bunda, aku penasaran, loh! Seperti apa nantinya calon suami Kakak. Apalagi Kakak jomlo sekarang," ujarnya kepada sang ibunda yang sedang menjahit kala itu. "Heh! Maksudnya apa bicara seperti itu, kamu juga jomlo jangan mengejek statusku, Nessa." Nessa terkikik, mendekati Rania dan memeluk lengannya lalu mengadu, "Aku punya pacar, Kak, bunda juga tahu seperti apa pacarku." Amanda mencibir, sejak kapan adiknya ini memiliki kekasih. Ia bahkan tak pernah melihat kekasihnya datang menjemput. "Aku cuma nggak mau buat Kak Amanda iri, makanya larang dia ke sini, takut jiwa jomlo Kakak memberontak kalau melihat kemesraan kami." Amanda gemas, mendekati Nessa, tetapi gadis itu cepat menghindar sehingga aksi kejar-kejaran tak bisa terelakkan. Rania hanya tersenyum melihatnya, berdoa semoga kebahagiaan ini tak akan pernah hilang. *** "Amanda kangen sama kalian," lirihnya sambil menatap potret keluarga yang sudah ia genggam. Mengusapnya penuh cinta dan kerinduan. "Kamu di mana, Nessa? Apa kamu tahu bunda telah tiada, kakak kangen sama kamu." *** "Hallo, assalamualaikum. Siapa, ya?" tanya Amanda dengan gawai menempel di telinga. "Kenapa nggak pulang, lupa sama rumah?" Amanda mendesah pelan. Tanpa bertanya sekalipun itu siapa, ia sudah tahu. Angga meneleponnya setelah hampir dua jam ia berada di rumah Rania. "Aku lagi ada di rumah bunda." "Lain kali kalau mau pergi pamit, kamu anggap aku suami atau enggak, sih?!" tanya Angga membuat Amanda tertawa lirih, merasa lucu dengan ucapan suaminya dan sejak kapan juga pria itu merasa dia sebagai suami. "Aku selalu anggap kamu suami, justru kamu yang nggak pernah terima kehadiranku dan maaf kalau aku pergi tanpa pamit, aku pikir nggak ada bedanya pamit atau enggak." Angga terdiam, ucapan yang Amanda lontarkan cukup menusuk hatinya. Sejahat itu ia selama ini tak pernah menganggap, tetapi ingin dianggap. Amanda kembali tertawa cukup keras, meminta Angga untuk berhenti bersikap sok peduli. Ia bisa jaga diri sendiri meski tanpa Angga, sudah siap kalau mereka memutuskan jalan sendiri-sendiri. "Kamu nggak perlu khawatir lagi, aku bisa jaga diri, kok. Aku juga pastiin kalau kejadian malam itu nggak akan terulang lagi. Kamu nggak perlu pura-pura lagi, Angga. Papa sama Mama juga udah nggak ada, jadi stop pura-pura peduli lagi," cibir Amanda dengan air mata yang mulai mengalir. "Cukup, Amanda! Aku minta kamu pulang!" titah Angga tak ingin dibantah. "Maaf, aku nggak bisa pulang. Aku mau menenangkan diri dulu." Amanda menolak, beralasan ingin menenangkan diri di rumah Rania tanpa batas waktu. Ia hanya sedang mencoba tanpa melihat Angga setiap saat. Angga mengizinkan meskipun berat. Mungkin, Amanda akan lebih tenang kalau seorang diri. "Aku sangat mencintainya, bunda, tapi bila ini akhirnya aku menerima," lirihnya sambil memeluk foto Rania dengan air8. Lelahnya Amanda "Kenapa kamu cegah aku semalam?" lontar Amanda setelah melihat pria itu menyiapkan sarapan di meja makan. Ia mengingatnya, kejadian semalam secara keseluruhan. Janji Angga, bujukannya dan juga dekapan pria itu sehingga ia tertidur dalam dekapan sang suami. Angga bergeming, menyiapkan roti bakar untuk keduanya sebagai sarapan. Tak berniat menjawab pertanyaan Amanda yang bahkan sudah ia jelaskan semalam. "Sarapan dulu! Kamu lapar, 'kan?" ucapnya, lalu meletakkan roti bakar untuk Amanda di atas piring yang telah tersedia. "Kenapa cegah aku semalam?" Amanda mengulangi pertanyaannya, tak perduli bila Angga sudah menyiapkan sarapan pertama kali untuk dia. "Sarapan dulu, Amanda! Duduk di kursimu dan makan roti itu." Angga kembali pada sifat dinginnya supaya Amanda menurut dan tak banyak bertanya. "Jawab pertanyaanku! Kenapa kamu cegah aku untuk susul mereka? Seharusnya kamu senang bisa terbebas dari aku dengan cepat. Bukannya ini yang kamu mau," desis Amanda masih berdiri di dekat Angga. Menatap pria itu penuh arti. Angga menghentikan suapannya, mengembuskan napas berat dan kini mendongak untuk menatap wajah polos Amanda. "Aku sudah janji sama almarhumah mama, akan menjaga kamu dan memastikan kamu baik-baik saja." "Aku akan baik-baik saja kalau sudah tiada. Aku sendirian sekarang lalu untuk apa aku masih hidup juga?" Amanda tetap kukuh dengan keinginannya ingin mengakhiri hidup dan semua selesai. Ia benar-benar telah putus asa, rupanya kesabaran itu telah menguap membuatnya pasrah pada keadaan sehingga nekat melakukan bunuh diri. "Kamu anggap aku apa? Orang asing," kata Angga seolah tak suka Amanda menganggapnya demikian. Amanda tersenyum samar, bukan senyum bahagia atau senyum sandiwara melainkan senyuman penuh luka. "Bukannya kamu yang lebih dulu Anggap aku orang asing," cetusnya masih dengan senyuman. Angga tergugu, ucapan Amanda benar. Selama ini ia telah menolak Amanda, tak mengijinkan wanita itu hadir dalam hidupnya, menolak dengan terang-terangan bahwa Amanda tak berarti di kehidupannya. Angga menunduk dan mengucapkan kata maaf. "Aku minta maaf kalau selama ini udah sering nyakitin kamu. Aku bener-bener minta maaf, Amanda." Amanda tersenyum lebar. "Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah di sini karena mencintai kamu," aku Amanda seolah Angga harus tahu segalanya. Angga mendongak, menatap Amanda tak percaya. Apakah ia salah dengar? Amanda mencintainya, tetapi sejak kapan? "Asalkan kamu tahu, aku terima pernikahan ini bukan karena materi, tetapi karena aku cinta sama calon iparku yang kini jadi suamiku. Aku salah dan kini sadar bahwa selamanya kamu nggak akan pernah balas cinta aku dan inilah reksikonya dari pernikahan terpaksa itu. Seharusnya aku harus sadar ini dari awal, tapi aku abai dan kini aku tinggal terima karmanya aja." Angga kembali menunduk dan mengucapkan kata maaf, ia pun merasa terluka melihat keadaan Amanda yang seperti ini. Amanda terdiam, melangkah menjauh menuju kamar dan mengabaikan roti bakar buatan Angga membuat pria itu merasa terluka. Pertama kali menyiapkan sarapan dan ditolak oleh Amanda. *** Suara ketukan heels dengan lantai keramik membuat Angga tersadar, ia menatap bingung Amanda yang telah rapi dengan pakaian kantornya. "Mau ke mana kamu?" Angga perlahan berubah, sedikit menghangat tak lagi seperti dulu yang tak mau tahu. "Kerja, aku berangkat dulu," pamit Amanda, berniat mengecup punggung tangan Angga. Namun, diurungkan takut ditolak seperti waktu itu. Dia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. "Kita ke kantor bersama," putus Angga membuat Amanda menghentikan langkah. Memutar tubuh dan menatap wajah pria itu dengan senyuman. "Nggak perlu, aku sudah pesan taksi. Mulai sekarang aku nggak boleh bergantung sama kamu, aku juga sudah siap kalau kamu ingin mengakhiri semuanya. Carilah Nessa dan bahagia sama dia!" Amanda masih tersenyum, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Namun, Angga tidak ... pria itu bahkan tak tahu ada apa dengan dirinya, seharusnya bahagia Amanda pergi. Namun, bukan itu yang dirasakan. *** Semenjak pagi itu, Amanda benar-benar menjauhi suaminya. Mereka tak lagi berangkat bersama seperti beberapa bulan lalu, ia hanya mencoba membiasakan diri tanpa Angga karena merasa yakin bahwa pria itu akan kembali kepada cintanya. "Maaf, ngerepotin kamu," ucap Amanda sambil menunduk, tak berani menatap pria yang duduk di sampingnya. "Nggak pa-pa, aku senang bisa bantu kamu." Yuda menoleh dengan senyuman, sedangkan Amanda terus menundukkan kepala takut untuk mendongak. Ia bersalah telah menyakiti Yuda, tetapi pria itu masih sangat baik padanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Amanda keluar karena tak ingin terjebak waktu terlalu lama dengan sahabat sekaligus pria yang mencintainya. Menutup pintu tanpa menoleh atau tersenyum kepada pria itu. "Besok aku jemput, siap-siap, ya. Sampai ketemu besok, Amanda," suruh Yuda tanpa bertanya lebih dulu. Amanda membuka mulut bersiap membantah, tetapi mobil Yuda lebih dulu berjalan menjauhinya. Ia mendesah pelan, apakah mampu bertemu Yuda besok? Amanda melangkah gontai memasuki rumah kenangannya dengan hati kacau. Rumah itu masih sangat bersih dan terawat, ia mengedarkan tatapan menatap sekeliling. Rasa rindu itu kian menyerang tiap mengingat sudut di dalam rumah sederhana itu. *** Gadis berambut sebahu itu terus tertawa, menertawakan wajah sang kakak yang selalu berubah masam kerap kali ia goda. Bukannya berhenti gadis itu malah semakin menggoda sang kakak. "Bunda, aku penasaran, loh! Seperti apa nantinya calon suami Kakak. Apalagi Kakak jomlo sekarang," ujarnya kepada sang ibunda yang sedang menjahit kala itu. "Heh! Maksudnya apa bicara seperti itu, kamu juga jomlo jangan mengejek statusku, Nessa." Nessa terkikik, mendekati Rania dan memeluk lengannya lalu mengadu, "Aku punya pacar, Kak, bunda juga tahu seperti apa pacarku." Amanda mencibir, sejak kapan adiknya ini memiliki kekasih. Ia bahkan tak pernah melihat kekasihnya datang menjemput. "Aku cuma nggak mau buat Kak Amanda iri, makanya larang dia ke sini, takut jiwa jomlo Kakak memberontak kalau melihat kemesraan kami." Amanda gemas, mendekati Nessa, tetapi gadis itu cepat menghindar sehingga aksi kejar-kejaran tak bisa terelakkan. Rania hanya tersenyum melihatnya, berdoa semoga kebahagiaan ini tak akan pernah hilang. *** "Amanda kangen sama kalian," lirihnya sambil menatap potret keluarga yang sudah ia genggam. Mengusapnya penuh cinta dan kerinduan. "Kamu di mana, Nessa? Apa kamu tahu bunda telah tiada, kakak kangen sama kamu." *** "Hallo, assalamualaikum. Siapa, ya?" tanya Amanda dengan gawai menempel di telinga. "Kenapa nggak pulang, lupa sama rumah?" Amanda mendesah pelan. Tanpa bertanya sekalipun itu siapa, ia sudah tahu. Angga meneleponnya setelah hampir dua jam ia berada di rumah Rania. "Aku lagi ada di rumah bunda." "Lain kali kalau mau pergi pamit, kamu anggap aku suami atau enggak, sih?!" tanya Angga membuat Amanda tertawa lirih, merasa lucu dengan ucapan suaminya dan sejak kapan juga pria itu merasa dia sebagai suami. "Aku selalu anggap kamu suami, justru kamu yang nggak pernah terima kehadiranku dan maaf kalau aku pergi tanpa pamit, aku pikir nggak ada bedanya pamit atau enggak." Angga terdiam, ucapan yang Amanda lontarkan cukup menusuk hatinya. Sejahat itu ia selama ini tak pernah menganggap, tetapi ingin dianggap. Amanda kembali tertawa cukup keras, meminta Angga untuk berhenti bersikap sok peduli. Ia bisa jaga diri sendiri meski tanpa Angga, sudah siap kalau mereka memutuskan jalan sendiri-sendiri. "Kamu nggak perlu khawatir lagi, aku bisa jaga diri, kok. Aku juga pastiin kalau kejadian malam itu nggak akan terulang lagi. Kamu nggak perlu pura-pura lagi, Angga. Papa sama Mama juga udah nggak ada, jadi stop pura-pura peduli lagi," cibir Amanda dengan air mata yang mulai mengalir. "Cukup, Amanda! Aku minta kamu pulang!" titah Angga tak ingin dibantah. "Maaf, aku nggak bisa pulang. Aku mau menenangkan diri dulu." Amanda menolak, beralasan ingin menenangkan diri di rumah Rania tanpa batas waktu. Ia hanya sedang mencoba tanpa melihat Angga setiap saat. Angga mengizinkan meskipun berat. Mungkin, Amanda akan lebih tenang kalau seorang diri. "Aku sangat mencintainya, bunda, tapi bila ini akhirnya aku menerima," lirihnya sambil memeluk foto Rania dengan air mata mengalir. Membayangkan keputusan hakim dan akhir dari pernikahannya membuat ia benar-benar tak sanggup. "Amanda udah capek, bunda. Amanda bener-bener udah nggak sanggup lagi jalani ini semua." mata mengalir. Membayangkan keputusan hakim dan akhir dari pernikahannya membuat ia benar-benar tak sanggup. "Amanda udah capek, bunda. Amanda bener-bener udah nggak sanggup lagi jalani ini semua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD