Chapter 3 : Mulai

2023 Words
BEGIN Diruangan Bu Tiwi. "Reya, Mira udah cerita?" Bu Tiwi menambah atmosphere mencekam di ruangannya. Sementara aku cuman bisa mengernyitkan dahi dan memandang tajam penuh tanya ke arah Mba Mira. "Oke kayanya dia belum cerita. Jadi gini Rey, kita dari pihak label udah diskusiin sama management kamu dan produser dari kita bahwa launching album kamu kita percepat ke bulan depan, seudahnya kita adakan roadshow ke beberapa kota dan ditutup sama konser bareng Juna, Risa dan Hope Band" Terang Bu Tiwi sembari memperlihatkan presentasi hasil rapat direksi nya. "Bulan depan Bu?" Tanyaku memperjelas. "Iya bulan depan, soalnya momennya pas banget. Konser penutupnya kita adakan 4 bulan dari sekarang, kita gabungkan kamu sama artis-artis yang sedang happening, sekalian kita bantu dongkrak lagi popularitas kamu, semata-mata ini bentuk apresiasi atas kerjasama kita yang udah terjalin baik beberapa tahun belakangan ini" "Maksud Ibu saya udah gak diminati bu?" "Ya, itu faktanya Reya. Mira sudah saya jelaskan kondisinya kamu sekarang ini seperti apa?" Bu Tiwi melihat ke arah Mba Mira yang disambutnya dengan menundukan kepala. "Dengan segala hormat Bu, saya lebih milih balik ke schedule awal deh Bu. Bulan depan saya UAS. Kan sudah komitmen awal saya, saya gamau menunda perkuliahan saya Bu." "Don't be ridiculous Rey, you have no choice- have you seen your position on our board? Kamu ada di nomor 13 dari 15 artis yang label kita naungi, bahkan posisi kamu berada jauh dibawah artis yang hanya modal tampang dan body. Take it or leave it! Is your last chance Rey. And sorry to say, this is our final decision, direksi sudah memutuskan!" "In my life, there's no such thing as 'no choice,' Bu. This is my life, and no one decides what I do except me! Maaf bu, saya gabisa." "Are you sure? Then we're no longer on the same path, Rey! You know what that means! Silahkan cari label lain!" "Dengan senang hati. Permisi saya pamit!" Aku berdiri dan pergi meninggalkan ruangan. Aku bukan tipikal orang yang arogan, tapi aku berusaha buat tetap memegang teguh komitmen dari awal. Sudah beberapa kali ini terjadi, dan batas toleransiku sudah habis. I'm not one of their puppets, aku bisa putusin apapun yang aku mau. Tugas utama aku adalah berkarya, bukan menjadi (sorry) 'peliharaan' yang dapat diatur sesukanya. "Reya tunggu!" suara Mba Mira memecah lobby yang sepi. "Rey, lu coba fikir ulang deh. Jangan keburu kebawa emosi!" Mba Mira berusaha meyakinkan aku buat ambil 'the last chance' yang Bu Tiwi tawarkan. "Siapa yang kebawa emosi mba? lu kaya baru sehari dua hari jadi manager gue mba. Lu tau kan kalo gue bukan orang yang bisa ngerubah planning gitu aja? Lagian ini kan gue udah keiket kontrak kuliah mba, lu kata itu kampus punya babeh gue, gak ikutan UAS ya gue kudu ngulang satu semester. sayang effort gue kemarin Mba!" "Reyaa, emang siapa sih yang minta lu jangan ikutan UAS? kan nyuruhnya launching album Rey!" Ke oon-an Mba Mira memang gak pernah ada matinya. "Mba, lu baru ya jadi manager penyanyi? Sekalinya launching album kan ada promo media, belum tadi katanya tour ke beberapa kota, lu kata gue bisa membelah diri?" "Oiya bener!" "Theres a will, theres a way Mba" "Tapi Rey." Suara Mba Mira tiba-tiba menjadi berat dan tatapannya berubah menjadi serius. "Lu boleh stick to your plan, tapi lu juga harus inget nasib crew lu. Bukan cuma gue, road manager, band dan yang lainnya yang udah ikut lu lama. Kita sayang sama lu Rey, mereka selalu prioritasin lu kalau jadwal lu bentrok sama job mereka diluar, dan mereka gapernah komplain meskipun lu cuman minta manggung tanpa ngeganggu jadwal lu kuliah. Tapi sekarang? Lu coba fikirin deh berapa banyak orang yang bergantung hidupnya sama karir lu?" Mba Mira ngeluarin semua yang ada didalam kepalanya, dan memang baru kali ini aku denger Mba Mira ngeluh. Dan kata-katanya berasa nampar, aku hanya bisa diam tanpa berkata sedikitpun. "Yaudah, Bu Tiwi tadi udah ngomong ke gue. Sekarang lu fikirin baik-baik" tutup Mba Mira. -- BENCANA Hari itu aku putusin buat gak pulang ke Bandung, aku pergi ke apartment di Jakarta Selatan. Aku khawatir kalo harus nyetir perjalanan jauh dengan fikiran yang gak tenang. Percakapan aku dengan Mba Mira tadi terus berdengung di kepalaku, semua crew dan orang-orang yang terlibat dalam proses perjalanan karir aku selama ini kaya roll film yang diputer dikepala. Aku bingung. Terlebih sebagian dari crew aku bisa dibilang punya loyalitas yang tinggi sama aku, sampai-sampai mereka selalu prioritasin job dari aku ketimbang ambil job dari artis lain. Aku tau dan aku sadar aku gabisa ambil keputusan sepihak, sempet terfikir buat cari label lain. Tapi, dengan kondisi popularitas yang lagi gak bagus gini label mana yang mau ambil? Harus buat sensasi dulu? Duh bukan aku banget. Karena berfikir terlalu keras aku rasa aku butuh udara segar, daerah kemang jadi destinasi pertama yang jadi pilihan pertama. Kemang memang terkenal sebagai pusat hiburan di Jakarta, disini berdiri banyak resto, cafe, bar, hotel yang cocok buat hanya sekedar iseng ngelepas penat atau emang cari hiburan. Mataku tertuju ke salah satu cafe bergaya classic kalau diliat dari luar, aku berjalan pelan menuju ke dalam cafe dan melihat satu spot yang cocok buat dijadiin tempat merenung. Terlebih alunan music jazz kawin banget sama suasana design interior bergaya classic vintage dan suasana cafe yang emang gak padat pengunjung buat seenggaknya beban fikiran yang bikin berat tengkuk sedikit terurai. "Amil?" Sapa suara halus dari arah kursi belakang. Aku gak langsung nengok. Barangkali orang itu manggil orang lain, memang Amil nama aku, tapi itu nama panggilan jaman SMA. Dan aku SMA di Bandung, pelosok pula. Aku gak yakin ada temen SMA aku yang punya taste ke tempat kaya gini. Bukan under estimate, tapi notabene nya temen-temen cewek di SMA aku lulus langsung nikah. "Hey Amil! Dipanggil sombong banget nggak noleh!" Cewek tadi bukan cuma nyapa, tapi dia sekarang diri depan aku. Aku ngernyitin dahi ngeliat cewek tinggi, berambut pirang, kulit kecoklatan Indonesia dengan dandanan elegan khas sosialita Jakarta. Aku nginget sekeras mungkin siapa cewek yang lagi diri depan aku ini, tapi gak ada satupun temen cewek di SMA aku yang mendekati tampilan cewek ini. "Hey kok bengong?" cewek misterius ini dadah-dadahin tangannya depan muka bengongku. "Maaf siapa ya? Kok panggilnya Amil?" tanya polos aku setengah b**o, who knows mungkin cewek ini salah satu fans aku yang emang tau nama lengkap aku dan sengaja manggil aku dengan part dari nama aku yang gak lazim orang sebutin. "Emang itu nama lo kan?" "Iya sih, tapi.." "Tapi gak banyak yang panggil lo Amil? Masa lupa sih? Ini aku Maryati!" Sebut cewek ini dengan sedikit memelankan suaranya. "Maryati? yang gendut keling itu? yang suka jadi Ketua Kelas?" Aku mempertegas. "Sssttt... jangan keras-keras! Panggil Maria, di sini nama gue Maria!" "Oh.. tapi kok lu berubah drastis gini?" Aku terheran-heran sama perubahan temen SMA aku ini, pantes aku gak ngenalin karena totally she changes 180 degree. Malam itu percakapan kita berlanjut panjang lebar, dari mulai aku ceritain perjalanan karir aku, tetus dia ceritain gimana dia bisa berubah from an ugly duckling to a beautiful princess yang didasari karena patah hati. Memang kita ini para cewek kalo udah punya tekad bakalan mati-matian ngewujudinnya. Ternyata Maria lebih kenal Jakarta dibanding aku, setelah ngobrol ngalor ngidul di coffee shop kita mutusin buat keliling-keliling Jakarta liat suasana lengang Ibukota tengah malem. karena suasana yang mulai relax Maria ngajak aku ke salah satu club malam, I have no reason to say "No". Laser lamp and beat of the music ditambah dengan beberapa teguk minuman alkohol buat aku lupa sama semua masalah yang lagi aku hadepin, aku semakin larut. ** Kilatan cahaya memaksa kedua kelopak mata aku terbuka, perlahan aku bangkit dari tempat tidur dengan kepala yang serasa berlipat ganda ukurannya karena terasa berat. Diluar ternyata hujan. Ternyata aku gak tidur sendirian, ada cowok tidur disebelah yang hanya ngasih pemandangan punggungnya aja. Aku kaget sejadinya. Seingatku aku pergi dengan Maria dan kenapa aku ada disini? Tak lama kemudian Maria masuk kamar dan berusaha menenangkan aku yang lagi panik. "Gung, bangun! Gw bilang juga apa jangan tidur dikasur!" Maria membangunkan teman pria nya. "Itu siapa? Kok gue ada disini?" Aku masih berusaha menyusun memori apa yang terjadi semalam. "Lu malem kebanyakan minum, terus karena gue gatau alamat rumah lu ya gue bawa ke apartemen gue!" Maria menerangkan. "Trus dia siapa? Kok bisa sekasur sama gue?" Aku masih keheranan. "Sorry.. Sorry.. Gue Agung!" Si pria berusaha memperkenalkan dri tapi aku masih belum habis kagetku. "Kan gue bilang apa lu tidur di sofa!" Maria menghardik temen cowoknya. "Dia Agung! Room mate gue. Gausah hawatir dia spesies jinak buat cewek. You know what I mean!" Imbuh Maria dengan mengedipkan sebelah mata. Aku bergegas balik ke apartment aku sambil berfikir keras dan mengingat apa yang udah kejadian semalam. Dan fix aku rasa aku nggak ngelakuin apa-apa sama temennya Maria. Ternyata apartment Maria di daerah Jakarta Barat yang kalau hari Sabtu pagi gini tol Jakarta biasanya padat sama orang-orang yang mau keluar kota. Diperjalanan aku berusaha nelepon Mba Mira manager aku. Aku udah ambil keputusan buat ngorbanin kuliah aku, walau bagaimanapun aku gabisa ninggalin orang-orang yang udah bersusah payah bekerja dibalik nama REYA. Berkali-kali aku coba telepon namun gak ada jawaban, aku putusin buat ngabarin mba Mira via pesan singkat. Baru mau masuk tol tiba-tiba ada panggilan masuk, di layar tertulis nama Bang Ichal, abang kembar aku. Aku udah bisa nebak, pasti dia mau ngomel-ngomel aku belom balikin mobil dia. "Halo Assalamualaikum!" Sapa aku "Miya dimana kamu?" Benar tebakan aku, bang Ichal belom apa-apa udah ngegas. "Masih di Jakarta bang, Miya balik nya besok pagi, abang pake dulu aja mobil Miya. Miya disini masih ada urusan" "Kamu pulang sekarang, Ayah masuk rumasakit!" "Hah? Kenapa bang? Oke, Miya pulang sekarang!" Aku panik. "Nanti kita omongin disini, kamu pulang dulu aja" Ayah memang sering bolak balik rumasakit, bila sakit ringan yang hanya memerlukan perawatan sehari atau dua hari baik Ibu maupun Abang gak pernah ngontek buat nyuruh pulang, kalau udah disuruh pulang berarti kondisi Ayah sudah parah. Ditengah perjalanan handphone aku berdering lagi, kali ini panggilan masuk dari Mba Mira. "Iya mba? Gue lagi dijalan balik ke Bandung nih." aku berusaha ngasih tau posisi aku lagi nyetir dan butuh konsentrasi. "Duh, lo balik lagi deh Rey. Bu Tiwi minta ketemu lo hari ini juga." suara Mba Mira bergetar. "Kenapa lagi Mba? Bokap sakit Mba!" "Waduh.. Yaudah kebetulan aku masih bareng Bu Tiwi. Nih, lo ngobrol langsung sama Bu Tiwi nya langsung!" "Bebbenntar mba!" jawab aku kaget karena belom siap. "Halo Reya? we need to talk Rey!" "Iya Bu ada apa lagi ya?" "I told you Rey! We need to talk. Tapi bukan di telepon. Ini bukan sesuatu yang bisa di bicarakan melalui telepon Reya!" "But I can't, saya diperjalanan menuju Bandung Bu. Ayah saya masuk rumasakit!" "Baik kalau begitu. Reya, you are trending topic now!" Suara Bu Tiwi melembut. "Masalahnya Bu? Isn't is good?" "Not in the good way!" "Maksudnya Bu?" Aku gak paham sama sekali ke arah mana pembicaraan Bu Tiwi. "Coba kamu cek Reya. Kamu ketangkap kamera wartawan pas masuk ke apartment dalam keadaan mabuk parah sama seorang sama cowok. You should careful Reya, I told you kalau kamu mau nakal jangan di Jakarta, ke Bali atau luar negeri sekalian. Kita bangun image kamu tuh susah payah lho Rey! Saya sudah gak bisa bantu kamu lagi, shareholder minta kontrak kamu diputus." aku kaget mendengar penjelasan Bu Tiwi. Semua berlalu cepat dalam fikiran aku. Pasti ada gambar lebih otentik lagi, aku keinget kebangun di kamar Maria mungkin bukan karena cahaya kilat karena yang aku inget gak ada suara gemuruh petir, bisa jadi itu flash kamera. Damn! Dan penyebab Ayah masuk rumasakit pastilah berita ini. Tanpa terasa pedal gas yang aku injek mulai mengendor, kecepatan mobil pun sejalan mulai menurun, semakin melambat. Sedangkan, dari belakang mobil lain yang berjalan cepat belum siap mengurangi laju mobilnya langsung menghantam keras bagian belakang membuat mobilku terhuyung ke tengah jalan dan dihantam lagi hingga mobil terbalik dan berputar ke arah tepian jalan. Sementara pandangan aku mulai kabur, yang aku lihat cuma gelap dan sayup masih terdengar suara Bu Tiwi memanggil namaku. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD