Chapter 2: Mula

1051 Words
A LOVE WITH NO CONDITIONS Sayup aku denger suara langkah masuk kekamar, serentak langkah itu menuju ke arah kekuatan yang sejak tadi mengintip dari luar seakan hendak masuk dan menerkamku yang masih setengah sadar. "sreeeekkkkk" suara gordyn kamar yang dibuka melepaskan semua kekuatan itu dan memenuhi seluruh kamar dan sontak hilang semua rasa ngantuk. "Ibuuuu jam berapa ini? Mila masih ngantuk Buu, gordyn nya tutup Bu silau!" "Mila, bangun sayang. Kan katanya malem minta Ibu bangunin jam 8, bangun yuk. Ibu udah beli bubur ayam Mang Somad tuh, kita makan dibawah ya sayang." suara renyah Ibu menjauh dengan segembolan pakaian kotor di tangannya. "Oh, udah pulang dari haji dia Bu." "Hush.. kamu itu, emang dia sulam tukang haji naik bubur!" Teriak Ibu dari tangga. "Ibu becanda nya garing." Sahut aku pelan sambil garuk-garuk kepala. Aku sapu pandangan ke sekeliling kamar. Aku cek buku agenda hari ini, dan alangkah bahagianya aku hari ini aku gak ada agenda apa-apa. Aku tutup buku agenda sambil senyum-senyum sendiri dan berfikir apa yang hari ini bakalan aku lakuin. Kayanya bakalan seru kalo hari ini spending time bareng Ibu, udah lama juga gak jalan berdua. ** Di meja makan. "Hari ini Ibu ada acara ngga?" "Kamu ini kebiasaan kalo ngomong sambil makan pelan-pelan dong, tuh belepotan." sahut ibu sedikit melotot sambil ngelap mulut aku yang entah apa yang belepotannya aku gapaham. "Ibu malah ngurusin yang belepotan, Mila kan tadi tanya ke Ibu." "Dikira Ibu wanita karir apa, ya kamu tau sendiri kan jawabannya Ibu gak pernah kemana-mana." "Jalan yuk Bu, udah lama gak jalan-jalan bareng Ibu." "Yaudah ayok, tp kamu yang ijin sama Ayah yaa!" Jawaban iya ibu dengan sedikit isyarat mata yang tertuju ke arah Ayah yang sedari tadi di halaman rumah sibuk dengan bunga-bunga nya. "Gampaaangg.." Suaraku yakin! "Ayah! Kemarin Mila liat ada yang jual kantong semar warna kuning loh yah, nanti Mila belikan ya, tapi Mila ajak Ibu soalnya malu kalo beli sendirian!" Cara aku minta izin ke Ayah dengan sembari mempertahankan posisi kami masing-masing. "Gak sopan, minta izin tuh samperin orangnya!" Tegur Ibu sambil senyum-senyum melihat tingkah anak bungsunya yang gak pernah ada dewasa nya. "Kan lagi makan bu, tuh Ayah aja cuman kasih kode jempol doang." "Yaudah Ibu ganti baju dulu ya, kamu abiskan makannya." "Yang cantik yah Bu, biar nanti kalo ketemu g***n tua kaya Mila jodohin." "Hush ngecaprak aja!" Ibu berlalu dengan cubitan manja yang mendarat manis di pipi aku. Seusainya aku sarapan dan Ibu look sooo pwetty with her own style, dan kita langsung segera bersiap buat berangkat 'ngedate'. "Bu, kunci mobil Mila dimana ya?" "Oh iya Ibu lupa bilang, tadi subuh mobilmu dipakai Abang, mereka mau pemotretan jadi bawa barang banyak butuh mobil kamu yang agak besaran." "Kebiasaan pinjem gapernah bilang." gerutu aku dengan darah yang ngalir cepet dari kaki ke kepala. "Yasudah kamu pakai mobil Abang aja, yuk sudah yuk berangkat." Ibu menarik tanganku dengan menenteng kunci mobil milik Abang kembar. Abang kembar emang suka semena-mena kalo pakai barang punya aku, meskipun mereka gapernah pelit kalo aku pake barang punya mereka. Tapi aku beda sama mereka, atleast aku selalu bilang kalo mau pakai barang mereka. Bukan masalah mobil yang dipakainya, tapi di mobil aku ada handphone yang biasa manager ataupun orang management ngehubungin aku. Tapi karena Ibu bilang mereka cuman pinjem sampe sore nanti its okay lah, today is day off. Jadi aku fikir gak akan ada yang kontek ke handphone itu. Selama perjalanan aku banyak cerita dan bercanda sama Ibu, aku banyak menggali tentang cinta ke Ibu. Dan aku baru tau kalo Ibu akhir-akhir ini lagi ada masalah sama Ayah, namun sebesar apapun masalah itu aku yakin itu gak sebanding sama rasa cintanya ke Ayah dan begitupun sebaliknya, Ayah pasti lebih tau seberapa besar pengorbanan wanita yang menemaninya puluhan tahun ini. Sebelum emosi Ibu mulai berlarut-larut, aku potong pembicaraan kita tentang Ayah. "Bu, enaknya kemana dulu ya?" "Jadi kita jalan ini belum ada tujuan?" "Yaudah Mila terserah Ibu deh mau kemana?" "Ih, Ibu yang terserah Mila mau kemana juga!" Nada Ibu sedikit meninggi kesal. "Yaudah kita ke lembang gimana? Ke yang kaya peternakan sapi gitu Bu." Suara dering HP memotong pembicaraan penting antara aku dan Ibu mengenai tujuan kemana kita mau jalan. Meskipun nomor telepon masuk ini gak terdaftar di phonebook aku, tapi kayanya aku kenal sama nomor ini. "Halo!" Sapaku. "Rey, kemana aja sih lo gue kontekin kaya mau mati dari semalem kaga ada balesan. Untung gue inget pernah save nomer temen lo jadi aku kontek dia minta ....." suara disebrang sana terus ngomel tanpa rem. "Mba Mira? Pelan-pelan mba! Kan sekarang dayoff dan HP gue yg itu ketinggalan di mobil. Dan mobilnya dipake Abang gue. Anyway ada apasih misuh-misuh?" Seru aku motong yang pembicaraan Mba Mira, managerku. "Gue gabisa jelasin di telepon, sekarang juga lo ke Jakarta. Penting Rey!" Tegas Mba Mira. "Gabisa besok? Lagi jalan sama Ibu!" "Ini soal karir lo!" Mba Mira lebih menegaskan. "Oh waw, penting berarti. Yaudah gue jalan ke Jakarta" Jawabku pasrah. "Oke aku tunggu! ... oww, wait!" "Ada apa lagi?" "Salam ke Tante, bilang gue kangen pepes ayam buatannya! Oke, bye~" Obrolan penutup yang nggak penting terlontar diiringi sama nada panggilan terputus. Aku terpaksa jelasin ke Ibu dan membatalkan rencana jalan-jalan kita, berhubung aku udah di Sukajadi dan deket ke gerbang tol Bandung-Jakarta via Pasteur, Ibu meminta naik taksi menuju rumah. Memang Ibu adalah wanita paling banyak memiliki stok pengertian di gudangnya. Sesampainya di kantor label yang sekaligus manajemenku di Jakarta, aku langsung bertemu dengan Mba Mira yang lagi garuk-garuk kepala. "Ubanan apa kutuan Mba?" tanya aku menghampiri Mba Mira. "Lagi gini sempet-sempetnya lo becanda Reeyyy!" "Lha kan gue gatau ada apa dan kenapa lu mumet kaya gitu?" jawabku mengingatkan kalo aku belom tau apa-apa. "Emang aku belom jelasin?" tanya Mba Mira dengan wajah polos. "Belom!" "Serius aku belom jelasin?" "Belom mbaaa!" "Iya gitu ya? yaudah deh lo ngomong langsung sama Bu Tiwi deh" "Ya ayo!" aku mulai kesel dengan kelemotan manager kesayangan aku ini. "Yaudah sana, tau kan ruangannya dimana?" Mba Mira balik nyolot. "Lha elu kan manajer gue Mbaaaa! masa gue ngadep sendiri, yang lucu aja" aku ngingetin Mba Mira siapa dia sebenernya. "Ya emang! ayok!" "Ya ayok" Tangan gatel yang rasanya mau aku emek-emek aja muka nya Mba Mira. "Gass!" Mba Mira narik tangan aku sambil senyam senyum gak jelas. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD