Kejutan Kecil

1117 Words
Dari pagi hingga siang, aku masih berkutat di kantor office untuk mengerjakan tugasku. aku ingin semua yang aku kerjakan nantinya tak ada kesalahan sedikitpun hingga membuat Tania kewalahan nantinya. sementara Tania ia sudah turun ke lantai bawah sejak beberapa jam lalu. ia mungkin sedang sibuk bergulat membantu karyawannya menghandle pengunjung cafe yang mulai berdatangan sejak menjelang makan siang. karena hari ini adalah hari ini minggu mungkin saat ini keadaan disana sudah cukup ramai lebih dari hari biasa. Aku merentangkan tanganku sejenak, menyandarkan tubuhku di kursi. sekilas aku melirik ponsel, untuk mengecek apakah ada pesan dari Gerald. tapi sayang tak ada kabar darinya mungkin saja ia masih tertidur atau sedang sibuk entahlah. Karena terasa bosan telah berkutat dengan layar laptop sejak beberapa jam lalu. aku memutuskan untuk turun ke bawah sekedar melihat- lihat keadaan Cafe. Syukur- syukur kalau ada yang bisa aku kerjakan nantinya. Aku berdiri dan beranjak keluar dari ruang kerjaku. Aku menurunin setiap anak tangga dan benar saja keadaan saat itu sedang sangat ramai hingga beberapa dari mereka termasuk Tania terlihat keteteran. aku ingin membantu, tapi aku bingung entah harus dari mana. "Dis.." Lirih Tania dengan wajah letihnya sambil berjalan ke arahku sambil membawa nampan kosong. "Kayaknya lagi ramai ya sampai keteteran begini." seruku saat ia sudah berada di hadapanku. "Iya beberapa ada yang nggak masuk, Dis." jelasnya. kedua mataku menyelusuri setiap sudut meja yang memang kondisinya sudah hampir penuh. "Kamu mau makan siang sekarang?" Tanya Tania yang membuatku menatapnya. "Nanti aja bareng kamu, lagian masih rame nih. aku bantu ya." seruku untuk menawarinya bantuan. "Kamu yakin? nanti kecapean loh." kata Tania yang terlihat khawatir. "Bu Tania, maaf bisa pegang kasir sebentar saya mau bantu antar makanan dulu." kata Nina salah satu kasir yang menghampiri kami. "Oh kamu stay di kasir aja biar saya yang antar makanannya ke meja." seru Tania cepat saat ia kembali berjalan menuju tempat pick up pesanan. "Kamu stay di kasir aja. wajah kamu udah kecapean tuh. biar aku yang bantu anterin makanannya." kataku sambil menarik tangannya. dan tanpa perdebatan lagi gadis itu hanya mengangguk. "Ayo Nina bantu aku antar pesanan ke meja." ajakku pada Nina yang sedaritadi sedang mematung menunggu perintah. "Baik, Bu." jawabnya seraya mengikutiku. Siang itu aku membantu Tania untuk terjun langsung melayani pengunjung Cafe. Dari mencatat pesanan, mengorder pesanan ke beberapa station minuman dan makanan hingga mengantar pesanan ke meja. Hal- hal seperti itu membuatku kembali mengingat kurang lebih dua tahun lalu saat aku belum sibuk di kantor Papa. Aku dan Tania memulai semua hal ini benar- benar dari nol. Dari kami mulai buka toko ini dengan karyawan yang minim hingga saat ini karyawan yang semakin memadai dan fasilitas Cafe yang semakin lengkap dari sebelumnya. "Dis.." Panggil Tania saat aku ingin mengembalikan nampan kosong ke meja pick up. "Iya kenapa, Tan?" tanyaku yang berubah haluan mendekatinya yang berada di station minuman. ia tersenyum dan meletakan segelas es teh manis di hadapanku. "Mau diantar ke meja berapa?" tanyaku. "Ini buat kamu bukan buat Customer, Dis." seru Tania. "Terima kasih ya." seruku seraya menenggak segelas es teh manis yang menggiurkan itu. jujur saja dari tadi aku sangat haus. Namun keadaan Cafe yang sejak awal hingga beberapa menit lalu tak menghentikanku untuk minum atau untuk istirahat sejenak. “Dis, makan siang sekarang yuk.” Ajak Tania saat keadaan Cafe sudah mulai agak sedikit sepi. “Tapi siapa yang bakalan jaga Cafe kalau kita istirahat berdua?” tanyaku karena tidak mungkin meninggalkan Cafe tanpa pengawasan dari salah satu dari kami. Bukan tidak percaya melainkan menghindari hal- hal yang tidak diinginkan jika terjadi komplain Customer. “Selamat siang, Bu Gladis.” Sapa Sinta salah satu supervisor yang memang bekerja membantu Tania di Cafe ini. Selain Sinta, ada juga Arya yang menjadi teman lawan Shift di antara keduanya. Hari ini Arya tidak terlihat karena ia sedang cuti karena ingin pulang ke kampung halamannya. “Siang juga, Ta. Gimana kabar kamu?” tanyaku berbasa- basi karena memang sudah lama aku tak mengunjungi tempat ini. “Baik, Bu. Ibu sendiri gimana? Tumben mampir ke sini, Apa ada masalah?” tanyanya yang penasaran dengan keberadaanku. Namun belum sempat aku menjawab seseorang yang terlihat seperti kurir makanan masuk dari pintu utama Cafe sambil membawa beberapa kantong dan menghampiri kami. Tania yang juga melihat orang itu, menyenggol lenganku. Aku pun menggeleng bingung dengan kedatangannya. Apakah milik salah satu Customer Cafe atau mungkin salah alamat tapi entahlah aku sendiri masih bertanya- tanya dalam hati. “Atas nama Ibu Gladis Giselle Setiawan?” Tanyanya saat meletakkan beberapa kantung di dekat meja kasir dan menatap layar ponselnya. “Iya saya sendiri, Mas. Tapi saya enggak merasa pesan.” Jawabku bingung saat kurir tersebut menyebutkan namaku dengan lengkap. “Oh ini ada kiriman makanan atas nama bapak Gerald Adhitya, Bu.” “Hah?” seruku dan Tania kaget mendengar nama kekasihku disebut. Tumben sekali lelaki itu mengantarkan makanan kepada kami tapi tidak mengabariku. Oh tuhan apakah mungkin ia menghubungiku saat aku sedang sibuk tadi? Tapi dimana ponselku? Oh tidak aku meninggalkannya di kantor yang berada dilantai dua. “Ini sisanya saya letakkan dimana ya, Bu?” tanya kurir itu lagi. “Taruh sini aja, Mas.” Kata Sinta yang berusaha membantu sang kurir saat aku dan Tania masih sibuk terperangah dengan keanehan ini. “Dis.. Dis..” panggil Tania sambil menggoyang- goyangkan tubuhku hingga aku kembali tersadar. “Ge, lagi kesambet apa deh? Tumben.” Tanya Tania yang pasalnya memang ini pertama kalinya Ge berbuat seperti ini sejak ingatannya kembali lagi. “Dibilangin Ge itu udah sembuh juga.” Jawabku yang merasa senang kalau Ge memang sudah benar- benar kembali seperti dirinya. “Kalau begitu saya permisi ya,Bu.” Pamit kurir itu lagi saat telah selesai meletakkan beberapa kantung makanan. “ Tunggu, Mas, Ini buat Kamu.” Seruku cepat seraya menghampirinya dan memberi beberapa rupiah dari kantung sakuku. “Terima kasih banyak, Bu. Semoga semakin berkah ya.” Ucap Kurir itu dengan binar wajah yang sangat bahagia dan bersyukur. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman dan mulai beranjak ke lantai atas karena sudah tak sabar ingin menghubungi Gerald. “Dis, ini gimana?” Tanya Tania yang menghentikan langkahku saat aku sudah menginjak beberapa anak tangga. Aku terhenti sesaat dan menoleh ke arahnya. “Kamu, ambil aja buat aku, kamu, dan Sinta sisanya bagikan ke karyawan lain ya. Aku mau hubungi Gerald dulu.” Pamitku yang segera bergegas menuju lantai dua. Sesampainya di ruangan kantor, aku segera mencari ponselku yang kuletakkan di meja kerja dan benar saja aku mendapati belasan panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang salah satunya dari Gerald. Tanpa basa- basi aku mencoba menghubunginya untuk mengucapkan terima kasihku. Tapi sayang, panggilanku hanya di jawab oleh mesin kotak suara. Mungkin saja lelaki itu masih sibuk dengan kegiatannya hari ini. Tapi tak sampai di situ aku berusaha mengiriminya sebuah pesan singkat, berharap jika senggang nanti akan dibaca olehnya. Walau agak sedikit kesal karena tak bisa berbicara dengannya tapi disisi lain aku sangat bahagia. Hingga wajahku tak berhenti untuk senyum- senyum sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD