Beberapa hari kemudian...
Sejak hari itu, hari dimana aku kembali memutuskan untuk fokus dengan bisnis di Cafe, aku jadi jarang bertemu bahkan seminggu ini aku hanya bertemu sekali dengan Gerald. Itu pun juga hanya sebatas ia menjemputku pulang dari Cafe. Walau begitu kami masih saling mengabari walau rasionya tidak sesering dahulu. Entah kami yang sama- sama sibuk dengan urusan masing- masing atau memang kami yang tidak mau mengganggu satu sama lain. Tapi sesibuk apa pun Gerald, ia kadang masih sering mengirimiku hal- hal manis. Dari sering mengirimiku makan siang bahkan terkadang bunga dan coklat. Aku pun juga kadang tak mau kalah untuk bergantian mengiriminya makan siang yang aku kirim ke kantornya menggunakan ojek online.
Hari ini tepat dimana aku dan Gerald sudah berjanjian bertemu berdua untuk makan malam bersama sepulang dari tempat kerja masing- masing. Jadi dari rumah aku putuskan untuk membawa baju ganti agar aku tidak bolak- balik ke rumah. Dengan dress hitam selutut dan heels yang berwarna senada aku menatap diriku di cermin. Tersenyum senang kepada pantulan wajah diriku yang ada disana. Riasan tipis yang kugunakan agar terkesan sangat natural. Dan tak lupa rambut panjangku yang terurai serta sempat kucatok beberapa jam lalu membuat penampilanku terkesan seperti wanita yang feminim pada umumnya.
“Cantiknya, sahabatku ini.” Puji Tania yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja kami. Aku menoleh ke arahnya dengan raut wajah tersipu malu.
“Terima kasih sahabatku sayang.”
“Sayang deh hari ini aku shift malam, kalau nggak kan kita bisa double date sekalian.” Serunya saat aku sedang memasang jam tangan kulit di tanganku.
“Lain kali deh kita dinner sama- sama ya.” Imbuhku sambil menepuk bahunya.
“Oh ya, Tan menurut kamu kalau jam tangan ini aku kasih Gerald dia bakalan suka nggak ya?” tanyaku sambil menunjukkan sebuah jam tangan couple padanya. Ia terlihat takjub saat ia benar- benar melihatnya, pasalnya jam tangan Couple ini keluar terbaru saat ini dan edisi terbatas.
“Bagus banget, kok kamu bisa sih dapat? Soalnya aku sendiri aja mau ikut pre- ordernya langsung habis.” Serunya sambil cemberut.
“Aku dapat ini dari teman aku sih Dita yang kerja di toko pusatnya langsung. Dan pas banget dia udah pisahin buat aku. Kalau tahu kamu mau ini sih aku titip juga sama dia.” Jelasku yang di jawab anggukan kecil olehnya.
“Ya sudah nanti deh kalau ada keluaran terbaru titip ya.”
“Pasti..” jawabku semangat. Setelah meletakkan kembali kotak jam tangan itu ke dalam kantung kertas, aku memakai parfum untuk melengkapi penampilanku kali ini.
“Gerald jemput jam berapa?” tanyanya.
“Tadi sih bilang dia langsung ke restorannya aja soalnya takut nggak keburu.”
“Udah pesan taksi?”
“Udah kok, paling sekitar dua sampai tiga menit lagi sampai.” Kataku sambil merapikan beberapa barang yang ada di meja ke dalam tasku.
“Aku turun sekarang ya, kamu yang semangat kerjanya.” Tambahku sambil tersenyum ke arahnya. Ia membalasnya dengan sebuah senyuman lalu kami berdua sama- sama turun untuk menuju ke tempat dimana taksi biasanya datang. Dan benar saja taksi yang ku pesan tadi sudah datang.
“Hati- hati ya, Dis.” Kata Tania seraya mengantarku masuk ke dalam taksi. Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
Setengah jam kemudian aku sampai restoran yang memang sudah di pesan Gerald. Sesampainya aku di pintu masuk, aku langsung diantar sang pelayan masuk ke meja yang sudah di siapkan.
Saat kami sudah sampai, pelayan itu menarikan kursi dan mempersilahkan aku duduk. Sambil menunggu Gerald, aku memesan segelas minuman dingin untuk melegakan dahagaku.
Tempat ini begitu romantis, sepertinya tempat yang memang di design untuk sepasang kekasih karena aku juga melihat beberapa pasang dari mereka. Alunan musik romantis yang di nyanyikan oleh live musik di tempat ini membuat para pengunjung seakan terbuai.
Detik demi detik, menit demi menit hingga kini jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi tak kudapati kehadiran Gerald, kekasih hatiku. Beberapa jam lalu aku berpikir kalau dia mungkin sedang terjebak macet. Ponselnya juga mati saat aku mencoba berkali- kali menghubunginya. Cacing di perutku juga semakin meronta- ronta namun aku masih ingin menunggu Ge. Aku berusaha untuk baik- baik saja agar tak terlihat seperti orang aneh di tempat ini walau beberapa kali pelayan datang untuk menanyakan pesananku. Beberapa pasang mata pengunjung juga silih berganti menatapku aneh karena duduk sendiri di meja ini.
Empat puluh menit pun berlalu, keadaan restoran semakin sepi dan terlihat beberapa karyawan restoran perlahan mulai membersihkan dan merapikan beberapa bagian toko ini. Merasa tidak enak dengan keadaan ini dan menunggu Gerald yang tak kunjung datang. Aku memutuskan untuk segera membayar segelas minumanku lalu pergi.
Aku masih berdiri di depan restoran, mataku masih memperhatikan sekeliling tempat ini berharap Gerald akan datang tapi nihil. Aku memutuskan untuk memesan sebuah taksi agar bisa mengantarkanku ke rumah Gerald. Aku takut terjadi sesuatu dengan lelaki itu.
Tak lama taksi datang, di dalam taksi aku menatap keluar jendela yang semakin gelap tanpa bintang. Seakan sebentar lagi akan turun hujan. Saat aku asyik memandang keluar jendela, Tania menghubungiku.
“Hallo..” Sapaku kepadanya dengan nada lesu. Karena memang perasaanku kesal bercampur khawatir.
“Dis, tadi aku dapat kabar kalau ternyata Bu Sonya udah dapat tempat yang sesuai sama restoran kita ya mau kita buka di Bali.” Serunya yang terdengar sangat senang. Aku menarik garis di wajahku karena ikut merasa senang dengan kabar yang di berikan.
“Aku senang dengarnya tapi harus dilihat dulu ke sana supaya kita makin yakin.” Tambahku.
“Iya nanti kita jadwalkan ya buat berangkat ke sana. Oh ya kamu masih sama Gerald?” tanya Tania membuatku menarik nafas panjang.
“Gerald nggak datang, Tan. Ini aku mau ke rumahnya mau ngecek keadaannya yang nggak ada kabar.”
“Heemm.. Mau aku temenin? Kebetulan Dimas udah dateng nih.” Tawar Tania.
“Nggak usah kalian pulang aja ya. Lagian aku udah hampir sampai kok.”
“Ya udah kalau gitu, jangan malam- malam ya.” Katanya lagi lalu menutup telefonnya.
Sesampainya aku di rumah Gerald, tak kudapati mobilnya di pengarangan rumah. Aku segera masuk untuk bertemu dengan Mama Mayang, sudah lama juga aku tidak menemui beliau.
Seperti biasa walau sudah larut malam, Mama Mayang masih duduk sambil menonton Tv di ruang tengah.
“Mama..” panggilku yang berlari ke arah beliau.
“Gladis, sayang. Apa kabar?” tanya beliau yang menyambut pelukku padanya.
“Baik, Ma. Mama apa kabar? Maaf ya aku nggak pernah kesini.” Seruku sambil melepaskan pelukku dan menatap beliau.
“Nggak apa- apa sayang. Oh ya tapi kenapa kamu ada di sini bukannya kalian lagi makan malam?” tanya beliau padaku.
“Iya, Ma tapi Gerald nggak datang terus handphonenya nggak aktif. Makanya aku kesini, Ma.” Jelasku padanya.
“Oh mungkin Gerald lagi sibuk kerja kali ya soalnya kan kalian dua hari lalu habis pergi ke pulau seribu sama- sama.” Seru Mama Mayang yang membuatku terkejut kaget. Padahal jelas- jelas beberapa hari ini aku dan Ge tidak bertemu untuk menghabiskan waktu bersama. Kalau pun kami bertemu dia hanya menjemput atau mengantarku pulang dari Cafe tanpa mampir kemana- mana. Jangankan untuk berlibur ke pulau, makan malam bersama saja baru hari ini, itu juga gagal. Ada apa sebenarnya? Apa ada hal yang di sembunyikan darinya kepadaku.
“Mama senang sama gelang yang kamu titip ke Gerald kemarin.” Tambah beliau sambil menunjukkan sebuah gelang emas berkilau yang melingkar di tangannya. Aku semakin di buat heran dan terkejut. Hah? Apa lagi ini?