Saat Mama Mayang sedang asyik memperlihatkan gelang emas yang melingkar di tangannya, Terdengar suara langkah kaki. Dan saat aku dan Mama Mayang menoleh ternyata langkah kaki tersebut adalah langkah kaki Gerald yang baru pulang.
“Dis, kamu disini?” tanyanya yang terdengar dengan nada bingung dan kaget. Ia berlari mendekat ke arahku seakan ia khawatir denganku.
“Maafin aku ya, pasti tadi kamu nungguin aku kan?” tambahnya sambil memelukku. Aku terdiam saat ia memelukku, ada rasa kesal, marah yang saling beradu di dalam hatiku. Apa ini? Bukankah aku seharusnya senang ia khawatir denganku. Tapi tunggu kenapa ada aroma parfum lain dari baju yang dikenakan Gerald. Ini bukan aroma parfum Gerald ataupun Mama Mayang tapi aku seperti mengenal aroma ini. Aku melepaskan peluknya tanpa berkata apa- apa.
“Kamu marah sama aku?” tanyanya saat ia merasa heran dengan sikapku. Aku menatapnya lekat, memperhatikan setiap detail raut wajahnya. Apakah ini Gerald ku? Kekasihku? Tapi kenapa aku merasa asing, merasa sedang di bohongi olehnya.
“Dis, kamu kenapa?” tanya Mama Mayang.
“Nggak apa- apa, Ma. Aku pamit pulang ya.” Pamitku yang ingin segera pergi.
“Ya udah, kamu diantar Gerald ya.” Pinta Mama Mayang yang aku jawab dengan anggukan kecil.
“Ge, kamu antar Gladis sebentar ya.”
“Baik, Ma.” Kata Gerald. Aku berpamitan dengan Mama Mayang sambil mencium punggung tangan beliau lalu pergi menuju mobil Gerald.
Sepanjang perjalanan pulang aku melihat keluar jendela. Hujan tak jadi turun padahal tadi langit seperti sudah menunjukkan tanda- tandanya. Gerald berusaha menggenggam tanganku tapi aku menarik tanganku. Di mobil ini semakin jelas aroma parfum yang sama persis dengan yang kuhirup di baju lelaki itu.
“Kamu marah sama aku?” tanyanya.
“Enggak...”
“Heem yakin? Tapi kenapa kamu cemberut begitu? Jujur ya tadi ada rapat dadakan pas aku mau pulang terus aku tadi mau kabarin kamu tapi ponsel aku mati, Dis. Tapi selesai rapat aku sempat datang ke restoran Cuma kamu nggak ada.” Jelasnya. Pikiranku kembali bertanya, apakah benar ia ada rapat hingga selarut ini?
“Dua hari lalu kamu kemana?” tanyaku yang membuatnya menoleh ke arahku.
“Aku kerjalah.” Jawabnya santai.
“Kerja di pulau? Sama siapa?” tanyaku lagi yang membuatnya menghentikan mobilnya secara mendadak seolah sedang terkejut.
“Kamu tahu dari mana?” ia menatapku kaget.
“Gelang itu? Siapa yang kasih gelang itu ke Mama atas namaku?” tanyaku kembali dengan rasa curiga yang semakin besar. Aku sangat yakin lelaki ini sedang berbohong kepadaku. Ia menunduk tanpa suara. Ingin rasanya aku menamparnya atas kebohongan yang telah ia perbuat.
Beberapa menit yang hening ini membuatku muak, hingga aku memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Aku tak ingin berlama- lama bersama pembohong ini tapi Ge mengikutiku keluar dari mobil. Ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam pelukannya.
“Aku minta maaf karena aku nggak jujur sama kamu.” Katanya saat aku berusaha melepaskan peluknya.
“Lepasin aku, Ge!” kataku dengan nada sedikit meninggi.
“Kamu bukan Gerald yang aku kenal dulu! Gerald yang aku kenal dia nggak akan pernah berbohong sama aku! Kamu ini siapa?”
“Aku Gerald Adhitya pacar kamu.”
“Kalau kamu pacar aku, dimana kamu melamar aku?” tanyaku.
“Aa.. Aa.. Aku.” Ucapnya yang terdengar terbata- bata membuat keraguan dan kecurigaan terhadapnya semakin bertambah.
“Aku melamar kamu tepatnya di restoran tadi.” Ucapnya yang begitu yakin. Aku menggeleng ke arahnya. Benar lelaki itu bukanlah Gerald seutuhnya melainkan sosok orang lain yang sedang memakai tubuhnya. Hatiku seketika hancur dan berubah menjadi sangat sesak. Tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya tumpah juga.
“Kamu salah..”
“Gerald Adhitya yang aku kenal, melamar aku tepat di depan orang tuaku, saat kami sedang liburan di puncak bersama bukan di restoran tadi.” sungai kecil itu semakin deras saat aku berusaha mengatakannya. Ia tersentak kaget saat mendengarkan semua ucapanku. Ia menghela nafas frustasi.
“Kamu jujur sama aku, ingatan kamu belum kembali kan?” tebakku padanya.
“Dis..” lirihnya yang terlihat bingung mau mengatakan kalimat selanjutnya. Aku menatapnya, yang terlihat sedang mematung.
“Udah jelas, Ge. Sebanyak apa pun kamu berusaha menipu aku, aku tetap tahu. Sebanyak apa kebohongan yang kamu tutupi akan tercium juga.” Terangku yang membuatnya menatapku. Ia berusaha mendekatiku tapi aku mundur menghindarinya.
“Dis, aku begini karena Mama sedang sakit saat itu dan Mama mau aku sama kamu kembali seperti dulu. Aku nggak ada pilihan lain selain bohongi kamu.” Jelasnya. Aku menatap tajam dirinya.
“Kamu tega bohongi aku? Tapi apa kamu tahu? Kalau Mama kamu juga bakalan lebih sakit dari ini. Apa kamu nggak peduli kalau hatiku juga ikutan sakit, Ge.” Aku berusaha menumpahkan semua amarahku padanya.
“Sekarang aku mohon jauhi aku..” seruku padanya dengan emosi yang semakin berantakan. Tapi lelaki itu tak bergeming. Aku berjalan meninggalkan dirinya tapi ia menarik lengan tanganku.
“Ijinkan aku antar kamu pulang.” Pintanya yang merasa bersalah. Aku melepas tangannya yang menggenggam lenganku.
“Aku bisa pulang sendiri!!”
“Tapi, Dis..”
“Kalau kamu masih paksa aku, aku bakalan teriak!!” Ancamku yang membuatnya sukses menurutinya. Aku terus berjalan tanpa dirinya. Malam ini aku ingin berjalan pulang hingga kedua kakiku lelah. Tapi sayang hujan akhirnya turun membasahi bumi.
Tangisku kembali tumpah, hatiku terasa semakin perih mengingat beberapa kebohongan yang ia buat. Apakah aku ini dianggap boneka olehnya? Tubuhku semakin terasa menggigil dengan dinginnya air hujan yang semakin deras. Cacing di perutku juga semakin meronta- ronta.
Sudah setengah jam berjalan, badan dan kakiku juga semakin lemas karena lelah berjalan. Kepalaku semakin pusing karena aku belum makan dan terkena air hujan. Rasanya aku ingin segera tertidur di dinginnya air hujan yang selalu menghantam tubuhku. Semakin lama pandanganku semakin gelap, tubuhku juga semakin lemas hingga aku terjatuh ke aspal.
Esok hari aku tersadar, aku sudah terbaring di kamarku dengan sehelai kain kompres di kepalaku. Masih terasa pusing kepalaku, mataku juga masih terasa berat untuk melihat mungkin masih sembab karena aku menangis semalam. Tak lama Mama masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Beliau tersenyum sambil meletakkan nampan tersebut di nakas sebelah tempat tidurku.
“Kamu, makan dulu ya.” Pinta Mama seraya membantuku untuk merubah posisiku menjadi duduk.
“Kamu kenapa malam- malam nekat hujan- hujanan sih kayak anak kecil?” tanya Mama sambil menyuapiku bubur buatnya.
“Nggak apa- apa lagi pengen aja.” Jawabku sambil tersenyum ke arah beliau.
“Tapi kan jadi begini, kamu pingsan terus sakit. Untung ada Gerald yang anter kamu semalam. Dia juga kelihatannya merasa bersalah banget loh.” Tambah Mama yang membuat aku terpenjarat kaget mendengarnya.
“Masa sih, Ma?”
“Ia dia minta maaf udah ajak kamu makan malam tapi gagal terus kalian marahan sampai akhirnya kamu hujan- hujanan begini.” Aku terdiam sesaat mendengar penjelasan Mama benarkah begitu? Dia bercerita jujur pada Mama.
“Ya udah ya kamu lanjutin makannya sendiri nggak apa- apa soalnya Mama masih ada yang harus di urus.” Suruh Mama yang ku jawab dengan sebuah anggukan.
“Tapi jangan lupa abis itu minum obatnya.” Tambah Mama lagi sebelum akhirnya keluar dari kamar dan meninggalkanku. Aku pun melanjutkan makanku dengan sesuai perintah Mama tanpa kembali memikirkan Gerald karena aku sudah merasa terlalu pusing.