Sebuah Kekalahan

1177 Words
Dua hari sejak kejadian itu, aku dan Gerald sama sekali tidak saling berkomunikasi atau pun bertemu. Aku berusaha untuk fokus kembali ke dalam bisnis Cafeku ini. Besok aku dan Tania mulai memutuskan untuk berangkat ke Bali, untuk sekedar mengecek lokasi Cafe baru kami di sana. Segala persiapan untuk membuka cabang baru kami di sana sudah selesai, mulai dari beberapa Sop produk, beberapa vendor yang akan berkerjasama serta lain- lainnya. Tania juga sudah mengatur jadwal beberapa karyawan di sini agar tidak bentrok satu sama lain. Di meja kasir kini, aku berdiri menatap beberapa meja yang masih kosong. Aku kembali memikirkan hubunganku dengan Ge yang terlihat seperti menggantung. Kebohongan yang di buatnya, membuat aku terlihat seperti orang bodoh selama ini. Pantas saja sikapnya beberapa hari ini menjadi acuh tak acuh kukira ini karena kesibukan kami tapi benar saja setiap keraguan yang timbul dari dalam hati sudah seperti alarm tersendiri bagiku. “Bu, mau minum ini nggak biar relax.” Tawar arya sambil menunjukkan secangkir coklat hangat kepadaku. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum. “Kalau ini buat saya, kamu nanti nggak ada lagi.” Seruku yang membuatnya tersenyum. “Ya nanti buat lagi, Bu.” Jawabnya santai. “Boleh, tapi buatkan yang baru aja yang dingin ya. Karena saya lagi panas.” Jawabku sambil bercanda. “Siap, Bu.” Ucapnya dengan senyum manisnya. Tak lama ia segera kembali membawakan segelas coklat dingin dan berdiri di sebelahku. “Ini, Bu.” Katanya sambil menyodorkan gelas tersebut. “Terima kasih ya, Arya.” Aku menerimanya dan meneguk minuman itu secara perlahan. “Oh ya, dengar- dengar kita mau buka cabang di Bali ya?” tanyanya. “Iya rencananya besok saya sama Bu Tania bakalan cek tempatnya di sana. Kalau memang udah cocok mungkin beberapa karyawan di sini bakalan saya ajak ke sana itu pun kalau kalian nggak keberatan.” Jelasku padanya. “Bu, Lala mau ya jadi tim opening disana.” Cela Lala yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan kami. “Boleh, asal orang tua kamu setuju ya.” Seruku sambil tersenyum. “Nah kalau supervisornya diajak nggak, Bu?” tanya Arya. “Ya, di antara kamu sama Sinta nanti bakalan di pilih soalnya nggak mungkin dua- duanya di sana. Kasihan nanti Bu Tania keteteran di sini.” Kataku lagi sambil tertawa. “Kalau Sinta udah nikah pasti nanti ijin dulu sama suaminya kan belum tentu di boleh in. Pastinya saya ya, Bu.” Seru Arya percaya diri. “Wooo.. Itu mah maunya Pak Arya.” Seru Lala menyoraki Arya. Aku tertawa geli melihat tingkah laku keduanya. “Ada apa ini? Asyik banget kalian bicaranya.” Seru Tania yang tiba- tiba muncul di antara kami. “Ini loh Lala sama Arya mau minta diajak ke Bali.” Jawabku sambil tersenyum. “Boleh banget tapi nanti ya jadi tim opening.” Tambah Tania. “Beneran, Bu? Kalau begitu aku mau minta ijin sama orang tua aku mulai hari ini.” Ucap Lala semangat. Dan kami hanya tersenyum melihat tingkahnya. “Permisi..” ucap seseorang yang baru saja datang di antara kami. Kami sama- sama menoleh ke sumber suara tersebut yang tak lain adalah Gerald. Kenapa lelaki itu datang? Apa yang ingin ia perbuat? “Dis, bisa bicara sebentar?” tanyanya yang mengajakku entah untuk membicarakan apa. “Kenapa kamu kesini?” tanya Tania dengan nada meninggi. Sahabatku itu menatap Gerald dengan sebuah tatapan sinis. Aku menarik lengannya untuk menahan agar ia tak melanjutkan apa yang ingin di sampaikannya nanti. Aku tahu betul kalau Tania merasa sangat kesal saat ia tahu kalau beberapa hari lalu aku pulang dalam keadaan basah kuyup dan juga aku menceritakan semua kepadanya kalau Gerald kembali melukai hatiku dengan sebuah kebohongan. “Tan, jangan di sini nggak enak kalau di lihat yang lain. Lebih baik kita bicara di luar, Arya saya titip Cafe sebentar ya.” Seruku yang di jawab anggukan oleh lelaki itu. Kami bertiga akhirnya keluar dari Cafe lalu berbicara di dekat mobil Gerald. “Sekarang kamu mau bicara apa?” tanyaku yang berusaha tegar menghadapinya. Jujur aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi dengan hubunganku. Kali ini aku merasa sangat lelah dan merasakan sesak didada. “Aku mau kita putus dan aku mau kamu bilang sama Mama kalau kamu yang mau menyerah dengan hubungan ini.” Pintanya tanpa mau menatap wajahku. “Kamu itu benar- benar gila ya!! Bukannya minta maaf udah sakiti Gladis tapi kamu malah minta putus dan aarrghhtt Ge.. Kemana akal sehatmu sih?” tanya Tania yang mulai kesal dengan perlakuan lelaki itu. Bukan hanya Tania yang sangat marah tapi aku juga benar- benar marah. Dinding pertahananku untuk hubungan ini benar- benar sudah hancur dan runtuh. Hatiku yang luka terasa sangat perih seperti sedang di siram air garam. Tanpa sadar aku melihat wanita itu yang sedang tersenyum ke arahku. Seakan ia bahagia sudah menang memperebutkan Gerald. “Oke aku minta maaf sudah buat sahabat kamu terluka makanya aku begini agar tidak menambah luka lagi untuknya.” Jelas Gerald yang terdengar merasa bersalah dan frustrasi. Tak lama wanita itu turun dari mobil lalu menggandeng lengan Gerald dengan mesra. “Tega ya kamu bawa wanita itu kesini!!” teriak Tania yang seakan mulai bertanduk. Beberapa pasang mata di sekeliling kami mulai menatap ke arah kami. “Dis..” Lirih Tania sambil menggoyang- goyangkan badanku yang masih kaku menikmati setiap serpihan luka ini. Gerald masih menunduk sementara Marissa sedang tersenyum ke arah kami. Setelah hening beberapa saat, aku menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan. Menarik garis di wajahku agar sedikit tersenyum walau terasa nyeri di dalam d**a untuk melepaskan seseorang yang sudah aku perjuangkan selama ini. “Baik, aku bakalan penuhi keinginan kamu untuk putus dan menyerah dengan hubungan kita. Besok pagi aku bakalan ke rumah kamu tapi...” ucapanku tadi membuat Gerald mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku benar- benar melihat raut wajah bersalahnya namun ada hal yang tak kuasa yang ia ingin lakukan. “Dis..” tahan Tania. “Seperti perjanjian kita Ge, kamu harus mau melanjutkan pernikahan kita dengan semua hal yang udah kita buat sebelum kamu hilang ingatan.” Lanjutku yang membuat Marissa menatapku sinis. “Tapi, sayang.” Lirih wanita itu kesal. Gerald memegang lengan wanita itu sesaat hanya untuk menenangkan. “Udah nggak apa- apa ini udah jadi kesepakatan aku, Mama sama Gladis. Kamu tenang aja ya.” Ucap Gerald untuk menenangkan Marissa. Dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajah lelaki itu berjalan menghampiriku. Memberikan sebuah pelukan hangat untukku. “Terima kasih ya, Dis. Kamu memang yang baik udah mau bantu aku. Besok aku tunggu kamu.” Seru Gerald yang terdengar sangat bahagia. Marissa yang melihat tingkah laku kekasihnya tak tinggal diam begitu saja. Ia menghampiri kami, lalu menarik badan Gerald dengan wajah cemberut. “Udah ayo pulang.” Ajak wanita itu dan Gerald pun menurutinya namun ia tak lupa melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Saat mesin mobil dinyalakan, aku segera berbalik membelakangi mereka karena aku merasa sudah tidak tahan untuk menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah. Saat kudengar mobil itu semakin menjauh, aku menunduk dan saat itu tangisku mulai pecah perlahan- lahan tanpa suara. Tania yang melihatku sedang menangis memelukku erat. Ya aku, akui kalau aku sudah kalah dalam permainan ini. Aku sudah lelah bermain dengan perasaan ini. Aku terlalu lemah untuk sesuatu hal yang sangat aaahhh!!! Aku meratai diriku sendiri atas kegagalan ini hingga mulai terasa lemas kedua kakiku dan membuatku terduduk di tanah. “Dis..” Pekik Tania. “Aku kalah, Tan.” Lirihku dengan tangis yang semakin pecah. Hatiku menangis saat beberapa memori diantara aku dan Gerald berputar di benakku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD