Menyelamatkan Gerald

1224 Words
Siang ini, aku meluangkan waktu untuk makan bersama dengan Gerald di sebuah restoran yang berada dekat dengan kantorku. Salah satu tempat yang sering kami kunjungi kala kami ingin bertemu di sela kesibukan kami masing- masing. Kami berjanji akan bertemu disana, dan Gerald yang katanya akan memesan tempat tersebut. Karena jaraknya yang cukup dekat, kali ini aku berusaha berjalan kaki untuk ke sana. Hanya terpaut lima sampai empat bangunan saja untuk sampai ke tempat itu. Sesampainya di pintu masuk, aku langsung di sambut oleh seorang pelayan dan langsung diantar ke meja yang sudah lelaki itu pesan. Dengan rasa bahagia dan senyum yang sejak tadi tak pernah luncur aku berjalan ke arahnya. Namun saat aku hampir sampai, aku mendapatinnya tengah duduk dengan Marissa sambil saling ngobrol mesra. Setika saja bahagiaku tadi berubah menjadi sebuah rasa kesal, marah dan kecewa yang saling beradu. Aku coba untuk menahan semuannya karena saat ini kami sedang berada di tengah keramaian. “Silahkan, Bu..” kata sang pelayan yang mempersilahkan duduk saat kami sudah sampai di meja. “Makasih, Mba.” Jawabku. “Mau langsung pesan atau mau pilih- pilih dulu?” tanyanya “ Nanti aja, Mba..” jawabku sambil menatap sinis Marrisa yang sedang tersenyum saat melihat ke arahku. Pelayan itu akhirnya pergi setelah memberikan sebuah buku menu di atas meja. “Maaf ya, Dis kita harus ajak Marissa soalnya kebetulan lagi lewat sini dan pas banget makan siang jadi aku ajak. Nggak apa- apa kan?” seru Gerald saat aku masih menatap sinis wanita itu. “I.. iya Nggak apa- apa.” Jawabku yang mungkin terdengar agak kesal. Menurutku Gerald sudah mengingkari persayaratan yang sudah aku buat. Ingin aku marah, atau mungkin menjambak rambut wanita ini karena sudah ikut masuk kedalam kisah kami. “Tenang Dis, aku di sini Cuma sebentar aja kok. Lagian mau sering kamu sama Gerald juga hatinya buat aku.” Kata wanita itu yang terdengar sedang meledek diriku. Aku langsung meraih segelas air putih yang tepat di samping kiriku dengan geram. Dan menatap tajam gadis jalang itu, mungkin jika di gambarkan dalam animasi kartun kali ini sudah muncul tanduk dan beberapa api disekelilingku. “Jangan, Dis.” Kata Gerald sambil memegang tanganku yang sedang memegang gelas tadi. Melirik lelaki itu yang sedang memohon ke arahku. Ia berusaha meredam amarahku saat ini agar tidak menimbulkan kekacauan. Aku menyingkirkan tangannya kasar lalu menenggak minuman itu sampai habis. Keduanya terlihat menelan ludah saat aku mengangkat gelas tadi membuatku tertawa geli dalam hati. Siapa suruh mereka menyulutkan sebuah api padaku. Hahaha “Tolong ya Mar, kalau kamu nggak mau aku buat malu di tempat umun jangan memacing amarahku.” Tambahku saat meletakkan gelas di meja. “Oke.. Oke..” jawab wanita itu. “Yaudah sekarang kita pesan makan ya.” Kata Gerald yang berusaha mencairkan suasana. Akhirnya kami bertiga membuka buku menu dan memilih beberapa menu. Saat kami sudah yakin barulah kami memesan makanan. “Saya mau pesan Sop Iganya satu tapi nggak usah pakai nasi ya.” Kata Marissa. “Baik, Bu..” kata sang pelayan sambil mencatat pesanannya. “Aku mau Sate ayamnya seporsi pakai lontong.” Kata Gerald. “Aku juga deh, Mba. Tapi buat Mas ini tolong jangan di kasih bumbu kacang sama sekali dan nggak pakai bawang ya.” Seruku yang membuat Gerald menoleh ke arahku bingung. “Baik, Bu..” “Masa makan sate nggak pakai bumbu sih? Mana enak?” ucap Marissa protes. “Tapi Gerald alergi kacang. Bisa sesak nafas nanti dia.” Kataku yang tak mau kalah hingga beberapa pengunjung menoleh ke meja kami. “Gerald aja nggak bilang kalau nggak pakai kok. Jadi kamu yang atur- atur sih!” Marissa kesal. “Yaudah, Mba pakaiin aja bumbunya.” Kata Gerald untuk menyelesaikan perdebatan ini. “Baik, Mas.” Kata sang pelayan. “Ge..” kataku yang kesal melihat lelaki itu seakan lebih menuruti wanita itu. “Sedikit doang kok, Dis.” Kata lelaki itu yang terdengar tak ingin meneruskan perdebatan ini. “Oke, Mba tapi saya maunya di pisah ya.” Tambahku. “Nah gitu dong. Mau makan aja ribet pakai diatur- atur sih!” gerutu wanita itu lagi. Lagi- lagi aku hanya bisa diam karena tidak ingin memacing keributan. Tiga puluh menit sudah kami menikmati makanan dan minuman yang sudah kami pesan tadi. Walau jujur aku masih khawatir kalau saja nantinya alergi Gerald kambuh. “See.. Nggak apa- apa kan Gerald sekarang.” Kata wanita itu yang merasa semua baik- baik saja. “Aku mau ke toilet dulu.” Pamitku yang tak menggubris ucapan wanita itu. Aku berjalan meninggalkan keduanya. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan kami yang bertemu seperti ini. Sejak melihat kehadiran Marissa membuatku ingin pergi saja. Tapi selalu aku tahan karena aku tak ingin kalah olehnya. Aku masih meyakinkan hatiku kalau saja keajaiban itu ada. “Lebih baik kamu menyerah sekarang. Biarkan Gerald bahagia sama aku.” Kata Marissa yang melihat aku keluar dari toilet dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. Ia sedang merapihkan dandanannya dikaca besar di salah satu wastafel. Sepertinya ia selalu sengaja membuat amarahku meledak. Aku mengambil nafas dalam dan membuangnya, berusaha untuk membuat diriku lebih tenang. “Kenapa kamu minta aku buat menyerah? Bukannya kamu tadi bilang ya, kalau mau sering aku sama Gerald hatinya masih tetap buat kamu? Apa yang buat kamu ragu sekarang?” aku menghujaninya dengan pertanyaan yang begitu meledek seperti apa yang dia lakukan padaku. Aku berusaha membuat amarahnya juga meledak. Dan benar saja kalau raut wajahnya terlihat kesal dipantulan cermin. Aku tersenyum bahagia saat ia meliriku yang tengah mengelap tanganku di sampingnya. “Siapa yang ragu? Aku Cuma kasihan aja sama kamu kalau usahamu nanti hanya membuang- buang tenaga dan waktu.” Katanya yang tak mau kalah. “Ini baru awal, kita lihat aja nanti. Sekarang Gerald lagi lupa ingatan aja kok, kalau nanti dia udah inget sama aku dan soal kamu yang ninggalin dia karena lelaki lain juga semua bakalan tamat.” Tambahku lalu pergi meninggalkan dia yang terdiam beku karena ucapanku barusan. “Mba, yang tadi di meja nomer delapan sama Masnya kan?” panggil seorang pelayan yang menghampiriku dengan ekspresi panik dan ketakutan. Tiba- tiba hatiku pun berubah menjadi semakin khawatir. “Iya ada apa, Mba?” tanyaku penasaran. “Masnya, Mba..” ucapan pelayan itu terpotong saat aku belari untuk segera menghampiri Gerald. Dan saat aku hampir sampai meja yang tadi sempat kami duduki tadi telah ramai orang- orang yang sedang berkerumung. Aku pun berlari berkerumung menembus mereka. Saat aku sudah mencapai titik poin, ku lihat Gerald sudah tergeletak dilantai dan mulai terlihat seperti kesulitan bernafas. Beberapa bagian tubuhnya terlihat memerah, dan muncul ruam. “Kenapa ini?” tanya Marissa saat ia baru saja sampai. Wanita itu datang dan berusaha mengangkat kepala Gerald namun aku tahan. “Tolong biarkan kepalanya sejajar dilantai.” Pintaku. “Please ini bukan waktunya kamu cemburu sama aku.” Kata Marissa. “Ini bukan soal cemburu, tapi kalau kamu melakukan hal itu ia akan semakin kesulitan bernafas.” Kataku sambil merogoh saku celananya dan berusaha mengambil kunci mobil milik lelaki itu. Karena aku ingat Tante Mayang pasti selalu menyiapkan obat suntik Epinephrine di laci mobil Gerald. “ Kamu mau kemana?” tanya Marissa. Aku yang tak menggubris ucapannya langsung berlari ke parkiran mobil untuk mencari mobil Gerald. Saat sudah menemukan mobil sport berwarna merah yang terpampang megah itu. Aku langsung mencari obat tersebut di dalam laci yang membawanya ke dalam restoran. “Permisi..” kataku yang sudah kembali sampai. “Eh kamu mau ngapain? Jangan main- main deh.” Protes Marissa saat aku bersiap ingin menyuntikkan obat trsebut. Namun lagi- lagi aku hanya mengabaikannya dan langsung menyuntikannya. Selang beberapa menit lelaki itu terlihat tenang, seakan kondisinya membaik. Saat aku bernafas lega, lelaki itu bangun dan memelukku hingga orang yang ada di sekitar kami berdecak kagum. “Makasih sudah selamatin hidup aku.” Lirih Gerald yang membuat hatiku bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD