Sepulang dari rumah Gerald aku segera membersihkan tubuhku. Kali ini aku memilih untuk berendam di bath tub dengan beberapa aroma terapi. Aku ingin menenangkan sejenak pikiranku dari semua hal yang terjadi di diriku beberapa bulan belakangan yang membuatku terasa sesak dan jenuh. Syarat yang Gerald buat hari ini, seperti sebuah kesempatan terakhir untukku. Selama ini aku selalu berusaha dan berharap semuanya baik- baik saja serta berjalan sesuai ekspetasi. Namun pertemuannya kembali dengan mantan kekasihnya membuat penilaian lain di hidupku. Walau semua sudah aku usahakan, namun tak semua usahaku berakhir seperti yang aku inginkan. Pada akhirnya di titik lelahku, aku memang harus merelakannya dengan yang lain. Merelakan bahagianya bersama yang lain, walau bukan dengan aku (lagi).
Semua kenangan itu akhirnya kembali berputar di pikiranku layaknya kotak musik. Terasa indah, dan menyentuh saat setiap kenangan itu berganti satu per satu. Aku dan dia selalu bersama dalam senang dan sedih hingga kejadian Na’as itu tiba. Masa kritisnya saat itu membuat aku ingin menggantikan posisinya yang terbaring dengan peralatan medis. Lalu di susul dengan tidur panjangnya yang membuatku harus kembali menunggu diantara ketidakpastian. Aku selalu berdoa kepada tuhan agar ia segera cepat sadar dan pulih kembali. Tapi hal itu dikabulkan oleh beliau masalah lain datang kepadaku dengan hilangnya memori diantara kami.
“Tunggu, dulu aku selalu meminta agar ia cepat tersadar dan pulih bukan?” tanyaku dalam hati. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya begitu saja. Aku menatap pandanganku di cermin setelah selesai membersihkan tubuhku dan menyisir rambutku. Sepertinya kali ini, jika akhirnya aku tidak bisa bersama dengan lelaki yang kucintai selama beberapa tahun ini. Aku harus bersiap dengan semua tenaga, pikiran serta hati yang kuat untuk bernar- benar melepasnya. Bisa dibilang aku harus pasrah tapi bukan menyerah.
“Mulai saat ini aku akan berusaha untuk perjuangin kamu lagi, Ge. Tapi jika ekspetasinya tidak sesuai dengan kenyataan aku harus benar- benar ikhlas melepaskan kamu.” Kataku sambil berkaca pada cermin dan tersenyum pada pantulan diriku sendiri. Aku berusaha tegar, menguatkan, serta menyemangati diriku.
# # #
“Dis, boleh masuk?” tanya Kak Dimas saat ia sudah membuka pintu kamarku.
“Iya..” kataku mempersilahkannya masuk. Aku kembali mengunyah beberapa cemilan yang ada di depanku. Ia masuk mendekatiku dan duduk di tepat di sampingku sambil mengambil cemilan milikku. Kami sama- sama menatap layar persegi di depan yang berisikan video liburan antara aku dengan Gerald beberapa waktu lalu. Sesekali aku tersenyum mengingat memori kala itu.
“Gerald apa kabar?” tanyanya.
“Baik..” jawabku singkat.
“Terus, apa dia udah inget sama kamu?” tanyanya lagi yang membuatku berhenti mengunyah.
“Belum ada perkembangan kan.” Kataku putus asa.
“Sabar ya.” Katanya sambil mengacak- acak rambutku. Aku mendesus kesal saat rambutku berantakan.
“Iya sabar, tapi jangan pakai ngacak- ngacak rambut dong. Kamu kesini mau ambil filenya kan?” tanyaku sambil berdiri dan berjalan kearah meja yang berada tak jauh dari tempatku menonton video tadi.
“Dis, kalau kakak nikah duluan nggak apa- apa? Gantiin kamu gitu?” tanyanya yang membuat seluruh badanku membeku. Aku jadi teringat dulu pernah meminta ijin untuk menikah, melangkahi kakakku. Tapi kini malah pernikahanku berakhir dengan ketidak jelasan seperti ini. Air mataku tiba- tiba menetes begitu saja, namun dengan segera aku menghapusnya. Aku tak ingin Kak Dimas merasakan sedihku.
“Bolehlah, kenapa enggak.” Jawabku sambil kembali memastikan beberapa file yang aku kerjakan tadi sudah selesai. Tiba- tiba aku merasa hawa hangat mendekat ke arahku. Sebuah pelukkan yang menyelimuti tubuhku dari arah belakang. Tangannya melingkar tepat di leherku hingga membuatku sedikit kesulitan bernafas.
“Makasih ya, Dis. Maaf ya, padahal rencananya aku mau nikah setelah kamu tapi..” ucapannya terhenti saat aku mengelus- elus tangannya. Rasanya tangisku sudah mau pecah, namun aku masih harus menahannya.
“Nih filenya, di cek dulu kalau emang ada yang kurang bilang. Nanti gue revisi lagi.” Kak Dimas melepakan pelukkannya dan mengambil file tersebut. Ia membaca secara detail setiap apa yang aku tulis di beberapa lembar kertas berukuran A4 itu. Setelah selesai, ia menarik senyumnya lebar.
“Kamu tuh, memang adikku yang paling baik.” Pujinya. Aku tersenym berjalan melewatinya dan kembali duduk diatas karpet berbulu berwarna merah jambu. Warna yang menujukkan sifat feminim setiap wanita. Aku kembali mengambil toples, dan mengambil beberapa cemilan di dalamnya.
“Tapi tunggu deh, kamu mau nikah sama siapa? Padahal selama ini nggak pernah sekalipun bawa cewek ke rumah.” Tanyaku penasaran karena memang benar selama ini aku tidak mengetahui sosok yang akan ia ajak ke pelaminan tersebut.
“Rahasia..” jawabnya yang terdengar meledek.
“Tahu gitu nggak akan aku bantuin kerjain tugasnya deh.” Gerutuku kesal.
“Nanti di kenalin kok kalau waktunya udah siap ya.” Katanya lagi sambil tersenyum dan meninggalkanku pergi. Dalam hati aku selalu bertanya- tanya siapa sosok misterius itu. Sosok yang membuat kakakku berani mengambil keputusan untuk menikah. Karena pasalnya kakakku adalah seorang laki- laki yang selalu ingin hidup bebas dan tak ingin terikat oleh apapun. Karena kak Dimas, ia ingin mencapai cita- citanya terlebih dahulu. Sejujurnya hobi fotografinya selalu di tentang Papa, mengingat kak Dimas adalah anak lelaki tertua dikeluarga ini yang harus meneruskan bisnis keluarga. Sejak kecil hingga saat ini kak Dimas selalu mengikuti apa yang papa inginkan. Hingga akhirnya semasa kuliah kak Dimas berusaha menentang papa karena hobinya tersebut. Kak Dimas juga pernah kabur dari rumah selama berbulan- bulan setelah bertengkar dengan papa. Sampai mama jatuh sakit. sejak saat itu papa memutuskan untuk tidak memaksakan kehendaknya dan menyerahkan semua hal kantor kepadaku setelah aku selesai kuliah. Aku sendiri tidak masalah saat itu, mengingat dari kecil aku ingin menjadi wanita karir yang mapan di usia muda. Menurutku sosok wanita karir adalah hal yang keren kala itu.
Tapi sejak kecelakaan Gerald, kak Dimas mau tak mau harus kembali menanggung kembali tugasnya yang seharusnya ia lakukan. Mungkin salah satunya karena kondisi diriku saat itu yang tak bisa meninggalkan Gerald, apalagi mengurus- urusan kantor dan Cafe. Kak Dimas juga dengan berat hati berusaha mengubur dalam- dalam mimpinya sebagai fotografer terkenal karena seperti yang kalian tahu kalau kan dia masih belum mahir untuk membagi waktu antara pekerjaan dan hobinya. Walau begitu kak Dimas adalah satu- satunya saudara kandungku yang tak pernah ingin melihat diriku sedih. Salah satu orang yang selalu meminjamkan tubuhnya untuk kupeluk, dan menangis didada bidangnya yang lebar itu. Lelaki yang mengerti untuk memperlakukan wanita dengan baik dan tidak pernah ingin menyakiti hati wanita. Walau kadang memang dia terkesan cuek sekali saat sudah sibuk dengan hobinya atau urusan lainnya.