Sebuah Perjanjian Konyol

1024 Words
Setelah di persilahkan duduk di ruang tengah. Tante Mayang menyuruh pembantunya untuk membuatkan minum untukku. Sementara beliau sendiri memanggil putranya yang sedang berada di kamarnya di lantai atas. Sambil menunggu, aku mengotak- atik ponselku untuk melihat- lihat apa yang sedang tren di media sosialku. Atau mungkin sekedar melihat beberapa online shop. “Non Gladis, ini minumnya.” Kata Bibi Noni saat meletakkan secangkir teh hangat di atas meja. Beliau adalah pembantu di rumah ini yang bekerja untuk keluarga Gerald sejak lelaki itu lahir ke dunia. Aku tak asing dengannya begitu sebaliknya. Bibi Noni juga sudah dianggap bagian di keluarga ini. Beliau begitu setia menemani keluarga ini dalam suka maupun duka. Kata Tante Mayang belum pernah sekalipun beliau ijin untuk mengudurkan diri. Kalau pun ia ijin, itupun hanya untuk pulang kampung di hari besar atau pun ada sanak keluarganya yang menikah ataupun sedang sakit. “Bi Noni, apa kabar?” tanyaku saat beliau hendak pergi. “Baik Non, Cuma ya namanya orang tua rematiknya masih suka kambuh.” Beliau tersenyum. “Heem, begitu ya jangan lupa vitaminnya. Masih ada kan?” tanyaku. Aku sering membawakan beberapa vitamin dan beberapa obat- obatan untuk sang bibi yang sudah sesuai anjuran dokter. “Masih Non.. oh ya Non apa kabar? Udah udah hari ini saya nggak lihat Non datang kesini.” “Oh itu, aku lagi mulai ambil kerjaan lagi, Bi. Selain itu Tante Mayang yang suruh aku buat lebih perhatian sama diri aku.” Jelasku yang diikuti anggukan olehnya. “Iya Non, seharusnya memang begitu. Kalau Non nanti sampai sakit siapa yang bakalan merawat Mas Gerald.” Ledek beliau. “Bi, kok malah ngobrol disini? Masakannya gosong itu.” Kata Tante Mayang menyela obrolan kami. Bi Noni menepuk jidatnya, seakan ia baru saja mengingat kembali kegiatannya sebelum menyuguhkan aku minuman. “Tuh kan Bibi lupa.” Tambah Tante Mayang. “Keasikan ngobrol Nyonya, yaudah saya pamit ke belakang dulu.” Pamit beliau dan pergi ke dapur dengan setengah berlari. “Tunggu ya, Gerald lagi mandi. Itu sekalian di minum ya.” Kata Tante Mayang mempersilahkan aku untuk minum. Beliau kemudian duduk di sebelahku. “Kamu udah mulai kerja lagi ya?” tanya beliau. “Iya Ma, sekalian bantuin tugas kantor Kak Dimas.” Jawabku sambil menyeruput secangkir teh. “Bagus kalau gitu. Seneng Mama dengernya tapi kenapa sekarang kamu kesini? Apa kamu kangen sama Gerald?” tanya beliau yang tak mengetahui alasan utama keberadaanku saat ini. “Aku Ma, yang suruh dia kesini.” Kata Gerald yang tiba- tiba muncul diantara kami. Aku dan Tante Mayang menoleh ke arahnya yang berada di anak tangga bawah. Lelaki itu menghampiri kami dengan wajah tersenyum persis saat ia masih kembali menginggat aku. Senyuman hangat itu seperti sebuah tanda keajaiban. Apakah dia sudah kembali mengingat semua tentang aku? Tentang hubungan kita berdua? Dan semua kenangan diantara kita? “Apa kamu sudah ingat semuanya?” tanya Tante Mayang yang merasa penasaran sepertiku. “Belum tapi mungkin hampir sedikit.” Jawab lelaki itu santai. Aku dan Tante Mayang saling melempar tatapan heran dengan sikap lelaki tampan itu. Lalu apa yang ingin ia lakukan? Kenapa ia mengundangku ke rumahnya. “Terus mau kamu apa?” tanyaku tanpa basa- basi lagi. “Aku mau, kamu bantu aku mengingat semua kenangan antara kamu dan aku.” Kata- katanya barusan seperti aku baru saja mendapat durian runtuh. Aku dan Tante Mayang sama- sama tersenyum sangat bahagia hingga saling berpelukkan satu sama lain. “Tapi kamu beneran nggak lagi bercanda kan, Nak?” tanya beliau yang berusaha meyakinkan kami. Lelaki itu tersenyum. “Beneran kok. Tapi dengan satu syarat..” kami yang mendengar kalimat itu saling terdiam dan menatap lelaki itu yang kini mencondongkan badannya kedepan. Dan meletakkan kedua telapak tangannya di lutut. ”Syarat apa?” “Aku kasih waktu satu bulan untuk kembali mengingat semuanya. Tapi jika selama itu aku nggak bisa mengingat kamu.” Ia menunjuk diriku dan menekan suara di kata “Kamu.” “Aku mau kamu tinggalin aku. Anggap hubungan yang pernah tanpa sadar kita buat itu selesai. Dan Mama harus restui hubungan aku sama Marissa untuk segera menikah.” Syarat itu terdengar seperti dua mata pisau yang kapan saja bisa melukaiku atau mungkin bisa menguntungkan. Sekarang aku semakin di buat bingung dengan keadaan ini, haruskah aku bahagia karena ia mau berusaha mengingatku. Atau sedih jika akhirnya nanti tidak sesuai dengan ekspetasiku. “Baik, Mama setuju,” seru Tante Mayang yang membuyarkan lamunanku yang sedang menimbang beberapa kemungkinan baik dan buruk. “Mama yakin?” tanya lelaki itu yang seakan optimis dengan hasil akhir dari persyaratan yang sudah di buatnya. Aku masih tertunduk gusar dan masih belum yakin untuk mengambil keputusan. “Kamu yakin kan, Dis?” tanya beliau sambil menggenggam tanggaku hingga membuat aku mengangkat wajahku. Dan menatap beliau yang sedang menatapku penuh harap. Seakan sedang memberi energi dan meyakinkan aku untuk mengambil keputusan ini. “I.. Iya, Ma. Aku yakin tapi boleh aku boleh mengajukan syarat sama kamu. Ge?” “Boleh, apa itu?” “Saat kamu lagi sama aku jangan ada Marissa diantara kita.” Lelaki itu mulai menimbang ucapan aku. “Tenang, kali ini aku nggak akan minta semua waktuku sama kamu kok. Soalnya aku juga udah kembali ke rutinitasku.” Tambahku yang membuatnya bernafas lega. “Oke kalau gitu. Ada lagi?” tanyanya. “Satu lagi kalau memang aku sama kamu nggak bersatu nantinya. Aku mau kamu gunakan WO yang udah kita pesan sebelumnya. Beserta beberapa pernak- perniknya.” “Dis..” panggil Tante Mayang yang seakan tak setuju dengan persyaratan yang aku berikan. “Aku Cuma mau biar nggak kebuang sia- sia aja, Ma. Lagian aku nggak batalin kok ke WO itu, Cuma menunda aja. Lagian sayang udah hampir sembilan puluh persen kok dan Dp udah dilunasin dimuka.” Jelasku yang memang berat mengatakan ini. Tapi aku ingin semua hal yang aku mulai harus di selesaikan sampai akhir juga. “Anggap ini sebagai hadiah terakhir buat kamu sama Marissa nantinya.” Tambahku sambil menatap Gerald. Dalam hatiku masih berharap kalau nantinya aku dan dia yang menjadi pasangan pengantin. “Baiklah, aku terima lagi pula aku jadi nggak harus keluarkan banyak biaya.” Jawabnya santai dan beranjak pergi meninggalkan kami. “Apa kamu menyerah, Sayang?” tanya beliau. Aku menggambil nafas dalam- dalam dan membuangnya. “Bukan begitu, Ma. Justru aku sendiri sebenernya masih setengah yakin tapi siapa tahu nanti ada keajaiban kan? Malah aku dan Ge yang akan jadi sepasang pengantin. Mama bantu doa ya.” Kataku lagi yang berusaha memberi sebuah pengertian. Mungkin hal ini sulit di terima oleh beliau. Tapi inilah keputusan yang harus kami ambil bagaimana pun resikonya nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD