Sesampainya di dalam Villa aku membawanya ke ruang tengah untuk duduk sebentar. Sementara aku mengambil ponselku yang tertinggal di kamar.
“Kenapa kamu kesini nggak kabari aku dari pagi tadi?” tanyaku saat keluar dari kamar yang posisinya dekat dengan ruang tengah tersebut.
“Biar kejutan, Bu eh Dis.” Ucapnya yang masih kaku dengan sapaan yang kuminta.
“Yaudah kamu istirahat di kamar sebelahnya, kalau ada apa- apa bisa bilang sama saya.” Ucapku sambil mengotak- atik ponsel untuk memesan makanan secara online.
“Iya, Dis. Aku ke kamar dulu ya.” Pamitnya sambil membawa koper dan tasnya.
“Eh tunggu.” Ia terhenti.
“Kamu udah makan belum?” tanyaku saat ia sudah berbalik ke arahku.
“Hehe.. Belum, Dis.” Serunya sambil tertawa kecil dan terlihat malu.
“Mau aku pesanin makanan juga nggak?” tawarku.
“Memang kamu nggak masak, Bu?” tanyanya bingung.
“Ibu lagi? Emang aku ibumu.” Ledekku yang membuatnya tertawa sejenak.
“Eh maaf, Dis maksudnya hehe.”
“Nggak soalnya tadi pulang dari Cafe saya langsung ke pantai.” Jawabku.
“Ada bahan makanan di dapur?” tanyanya lagi.
“Ada sih kayaknya tapi siapa yang mau masak?” tanyaku bingung karena pada dasarnya aku tidak bisa memasak, karena selama ini kan Bibi atau pun Mama yang menyiapkan makanan untukku.
“Biar aku yang masak deh. Kamu tunggu di sini dulu.” Ucapnya sambil meletakkan koper di tempatnya berdiri.
“Eh, taruh dulu barang- barang kamu di kamar terus baru masak.” Suruhku dan di turuti olehnya.
Sambil menunggu Arya yang tengah sibuk memasak di dapur, aku melihat- lihat acara di televisi kala itu. Hingga beberapa menit aku merasa mengantuk dan tertidur karena lelah.
“Dis.. Dis.. Bangun.” Panggil Arya sambil menepuk- nepuk bahuku. Ada aroma makanan yang tercium terlebih dahulu saat aku terbangun. Aroma masakannya sangat enak membuat perutku kembali meronta- ronta.
“Makan dulu yuk.” Ajaknya saat aku sedang mengucek- kucek kedua mataku. Ia juga membantuku untuk bangun dan beranjak ke meja tengah yang memang ada di antara sofa. Sebuah makanan rumahan sederhana seperti dimasak Bibi di rumah.
“Aku makan ya.” Seruku lalu mulai melahap beberapa makanan yang ada di depanku. Sungguh makanan ini begitu lezat hingga aku tak ingin berhenti. Aku merasa beruntung karena Arya datang di waktu yang tepat dan cepat.
“Dis, kamu tinggal di sini sendirian?” tanya Arya membuka obrolan.
“Sebenarnya ada pembantu dan penjaga rumah lainnya tapi mereka hari ini ijin pulang ke lombok buat jenguk anaknya.” Jawabku sambil menikmati makananku.
“Oh ya, habis ini kamu istirahat atau masih mau nonton di sini juga boleh tapi di kamar juga televisi sih. Cuma ya bebaslah kamu mau apa aja. Tapi yang jelas besok agak siang kita ke Cafe buat tinjau kemajuan renovasi soalnya dalam seminggu paling nggak harus udah selesai.” Jelasku yang di jawab anggukan olehnya.
“By the way, Thanks ya udah buatin makanan.” Tambahku untuk berterima kasih kepadanya lalu meneguk minumanku.
“Siap kalau begitu aku pamit ke kamar ya. Soalnya masih mengantuk nih.” Pamitku sambil membawa peralatan bekas makanku ke dapur dan kembali ke kamar. Tapi saat aku baru memegang pintu kamar aku kembali menoleh ke arahnya.
“Oh ya Arya nanti kalau mau tidur tolong cek lagi ya pintu utama udah aku kunci apa belum.. Hehe”
“Siap Bos..”
“Tapi tunggu..” tambah Arya.
“Kenapa?”
“Bahan makanan di kulkas kamu udah abis, Dis. Paling cukup untuk sarapan besok aja.” Jawabnya.
“Oke tenang, besok sepulangnya dari Cafe kita mampir belanja dulu ke mal. Kebetulan aku juga ingin beli peralatan mandi yang mulai habis.”
“Heem.. Oke.”
“Ya udah ya aku pamit tidur dulu, kalau ada apa- apa ketuk aja pintunya ya. Jangan sungkan, anggap aku ini teman kamu bukan atasan kamu.” Pamitku sambil tersenyum ke arahnya dan kali ini aku benar- benar masuk ke dalam kamar. Tak lupa sebelum tidur aku membersihkan beberapa bagian tubuhku dan kembali tidur.
# # #
Esok hari seperti ucapanku semalam aku dan Arya pergi ke Cafe untuk kembali meninjau sejauh mana perkembangan renovasi tempat ini. Walau aku sendiri sejujurnya sudah bosan dan tahu kalau tak ada pekerjaan yang akan mudah selesai tapi entah aku bingung harus melanjutkan aktivitasku seperti apalagi.
Tapi tunggu aku teringat kalau saat ini aku sedang bersama dengan Arya. Aku bisa memanfaatkan momen ini untuk refreshing sejenak selama Cafe belum beroperasi. Setidaknya untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosanku dengan aktivitasku yang terlalu monoton. Anggaplah Arya adalah malaikat pengganti Tania.. Hihi
Setelah melihat keadaan Cafe yang masih belum bergerak banyak terkait prosesnya. Aku mengajak Arya untuk berjalan- jalan menggunakan mobil untuk mengelilingi beberapa tempat di Bali seperti Tanah Lot, Ubud dan GWK (Garuda wisnu kencana). Kami juga mengabadikan semua perjalanan kami dalam sebuah foto serta video yang lalu kami upload di sosial media masing- masing. Cukup? Eh malah sangat menyenangkan buatku bisa melewati hari ini dengan bersenang- senang. Apalagi Arya orangnya penurut sehingga ia tidak pernah sekalipun menolak apa yang aku inginkan. Hingga kami hampir melupakan waktu untuk pergi berbelanja kebutuhan dapur.
“Hufftt capek tapi seru jalan- jalan hari ini.” Seruku saat selesai menenggak segelas air putih dingin yang baru saja aku ambil di kulkas. Rasanya sangat melegakan untuk menghilangkan dahaga. Aku berjalan lalu duduk di meja bar dapur saat Arya tengah sibuk merapikan barang belanjaan.
“Iya seru, baru pertama kali loh aku ke Bali terus jalan- jalan mengelilingi Bali kayak hari ini berasa seperti mimpi.” Ungkapnya yang merasa sangat senang.
“Ah serius?” tanyaku tak percaya.
“Iya benar kok, kalau nggak kerja di Cafe kamu dan mau buka cabang di sini rasanya Cuma sebuah angan.”
“Ih lebay..” ucapku sambil sedikit tertawa mendengar ia mengatakan hal yang sangat berlebihan menurutku. Setelah itu aku kembali menenggak minumanku karena masih merasa haus.
“Oh ya, Arya kalau capek kita pesan makan di luar aja yuk. Kebetulan aku lagi banget Mcd.” Tawarku padanya yang diikuti olehnya yang sedang menimbang- nimbang tawaranku.
“Heem boleh deh..”
“Yaudah sebentar aku pesan ya..” aku meraih ponselku, lalu dengan lihai jariku memesan beberapa pesanan favoritku.
“Kamu mau pesan apa?” tanyaku lagi.
“Samain aja deh.” Jawabnya. Dan aku kembali fokus dengan ponselku.
“Oke selesai nanti kalau ada yang antar makanan kamu tolong ambil aja ya makanannya soalnya udah aku bayar via online.” Aku beranjak berdiri.
“Kamu mau kemana, Dis?” tanyanya.
“Aku mau mandi sebentar soalnya badan aku udah lengket banget sama keringet.” jawabku lagi sambil pergi meninggalkan Arya di dapur.
“Oke..” Teriaknya saat aku sudah ada di depan pintu kamarku.