Sebuah Perhatian Kecil

1175 Words
Tak terasa waktu yang berlalu semakin cepat hingga tibalah besok waktu untuk pembukaan Cafe. Dan kami pun mulai sibuk dengan berbagai macam hal tentang Cafe sampai lembur beberapa hari belakangan. Untung lokasi Mess berada tepat di belakang Cafe ini jadi aku tidak khawatir dengan karyawan yang pulang larut malam. Mes itu berbentuk sebuah perumahan yang di bagi menjadi dua bagian, dan beberapa karyawan di kelompokkan menjadi beberapa orang di setiap kamarnya hingga setiap rumah terlihat seperti kos- kosan atau seperti sebuah asrama mini. Aku dan Tania memutuskan untuk membeli dua rumah tersebut agar karyawan yang di rolling ke tempat ini tak perlu repot untuk mencari tempat tinggal sementara dengan catatan tidak ada yang membawa tamu lawan jenis untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Dan Arya juga pindah ke Mes tersebut, bedanya iya tidak tinggal dengan karyawan lain melainkan ia sekamar dengan supervisor lainnya. “La, Gimana udah selesai?” tanyaku kepada Lala saat kami tengah merapikan ruangan di lantai satu. “Sudah, Bu.” Jawabnya. “Oke, kalau begitu kita bantu tim yang di lantai dua dan Tiga ya.” Ajakku yang di jawab dengan anggukan dan ia juga mengikuti langkahku bersama beberapa karyawan lain. Namun saat di ujung tangga Arya dan karyawan lainnya turun dari lantai atas hingga kami saling bertemu. “Eh Arya, Pak Remy bagaimana di atas udah selesai?” tanyaku pada kedua supervisor saat kami saling berhadapan. “Sudah, kok Dis kamu sendiri bagaimana?” tanya Arya balik. “Aman kok, jadi kita tinggal pulang aja ya?” tanyaku untuk meyakinkan kembali. Kami pun akhirnya turun dan berkumpul melingkar untuk menutup hari ini dengan sebuah obrolan singkat dan berdoa bersama. “Selamat Malam semua..” Sapaku sambil melirik satu per satu karyawan yang ada di depanku. Sebagian dari mereka adalah karyawan lama yang di rolling sementara ke Bali, tugasnya untuk membantu sebagian karyawan baru di Cafe ini. “Malam, Bu..” sapa mereka balik yang terdengar kompak. “Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk kekompakan kalian malam ini yang mau bahu membahu untuk menjadikan Cafe ini hidup kembali. Maaf juga jika beberapa hari belakangan kalian harus lembur karena kita di kejar waktu untuk Opening Cafe besok tapi tenang saja uang lembur akan tetap berjalan.” Mereka pun tersenyum lega saat aku membicarakan kompensasi untuk kerja keras mereka. “Oke, karena kita besok buka agak siang jadi untuk hari pertama buka besok semua masuk full ya tapi tenang tetap di hitung lembur. Dan hari kedua semua akan berjalan sesuai Sihft yang akan di buat oleh Pak Arya atau pun Pak Remy.” Aku melirik ke arah keduanya dan di jawab anggukan dengan senyum dari mereka. “Saya berharap besok di hari pertama semua berjalan lancar.” “Aamiin..” ucap mereka kompak tanpa aku minta hingga membuatku tersenyum. “Oh ya, saya berharap buat senior yang ada di sini mohon bersabar ya dalam mengajarkan Juniornya. Dan para Junior juga jangan malu untuk bertanya. Karena ke depannya satu per satu dari kalian pasti akan naik ke jenjang karier berikutnya. Apalagi kondisi Cafe saat ini masih baru, jadi kalau memang lancar nantinya akan ada struktur karyawan baru jadi semua bisa saling bersaing secara sehat.” Mereka masih antusias mendengarkan. “Tapi ingat ya jangan hanya pas ada saya, Pak Arya atau Pak Remi ya kalian rajinnya.. Hehe..” seruku yang membuat mereka tertawa dan saling melemparkan tatapan satu sama lain. “Oke.. Kalau begitu malam ini kita tutup malam ini dengan doa agar kalian besok masih dalam keadaan sehat dan besok kita semua diberi kelancaran untuk mencari rezeki..” “Aamiin..” jawab mereka yang kembali kompak. “Berdoa menurut kepercayaan masing- masing di mulai.” Kataku sambil mengangkat kedua tanganku dan menundukkan kepala serta berdoa dalam hati. “Berdoa selesai..” seruku setelah beberapa menit selesai berdoa. “Oke sekarang, kita satukan tangan kita masing- masing terus kasih yel- yel Hope Cafe, terus kita jawab kita bisa ya.” Pintaku yang di jawab anggukan oleh mereka sambil tersenyum. “Hope Cafe..” teriakku. “Kita bisa...” teriak mereka kompak dan kami saling tertawa lalu membubarkan diri. “Oke kalian boleh pulang, hati- hati ya jangan ada yang bergadang.” Seruku sambil tersenyum dan berjalan menuju salah satu meja untuk mengambil tas dan barang- barangku yang sempat kutinggal di sana. “Dis..” Panggil Arya dari balik punggungku lalu aku menoleh ke arahnya. “Eh iya, Arya kenapa?” “Kamu pulang sendiri?” tanyanya. Aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam. “Masih sore, Ar. Ada apa sih?” tanyaku. “Ya nggak apa- apa sih, Cuma aku khawatir aja kamu malam- malam nyetir sendiri.” Tambahnya yang begitu perhatian. Sejak Arya datang ke Bali dan kami sering jalan bersama, kami seakan semakin dekat tapi aku menganggapnya hanya sebatas sahabat. Sahabat dekat yang sama seperti hubunganku dengan Tania. Arya pun sering memberikan perhatian- perhatian kecil untukku. Dan aku pun begitu kepadanya. “Tenang aja Arya beberapa minggu belakang ini aku udah hampir mengenal setiap sudut Bali jadi aku merasa aman- aman aja kok.” Jawabku santai sambil mengunci pintu utama Cafe. Kami pun lanjut berjalan menuju area Parkir mobil. “Bu, Gladis duluan ya. Pak Arya mau bareng?” pamit Pak Remy padaku dan mengajak Arya untuk kembali ke Mes bersama. “Hati- hati ya, Pak Remy.” Seruku sembari tersenyum kepadanya. “Bapak duluan aja, saya masih ada urusan lain.” Tolak Arya. “Ya sudah, saya duluan ya.” Pamitnya lalu pergi meninggalkan kami berdua. “Sebaiknya kamu langsung pulang ke Mes gih, besok bisa jadi hari yang sangat melelahkan buat kita.” Suruhku padanya. “Emm, gimana ya.” Ia terlihat bingung. “Kenapa sih? Masih mau ngobrol atau masih khawatir sama aku?” aku berusaha menebak apa yang sedang di pikirkan lelaki yang ada di hadapanku. “Dua- duanya..” jawabnya singkat. “Heem gini deh, kamu tetap balik ke Mes sekarang soalnya aku lagi capek banget nih mau istirahat di Villa. Kalau memang nanti ada apa- apa pasti aku kabari kamu dan nanti kalau aku udah sampai rumah dan nggak capek aku telefon deh.” Usulku yang langsung ia pertimbangkan. Karena jujur aku sendiri sedang merasa lelah karena dalam beberapa waktu ini otak dan tenagaku sudah terkuras. “Baiklah, pokoknya kalau ada apa- apa kabari aku ya dan kalau udah sampai Villa kabari aku lewat pesan aja.” Jawabnya setelah selesai mempertimbangkan usulku tadi. “Pesan? Yakin nggak mau lanjut ngobrolnya?” ledekku kepadanya yang membuat ia tersenyum. “Nggak usah, aku tahu selama beberapa hari ini kamu kelihatan lelah banget kan? Jadi nanti kalau udah sampai Villa kabari aja ya. Dan jangan lupa langsung istirahat.” Jawabnya yang kembali diiringi dengan sebuah perhatian kecil. “Siap Bos..” seruku lagi sambil meletakkan tangan kiriku di dahi sebagai tanda penghormatan. Ia yang terlihat gemas langsung mencubit pipiku namun dengan lembut hingga tidak membuatku kesakitan. “Ya udah ya, aku pamit pulang dulu.” Pamitku sambil mencari kunci mobil di tas dan mulai membuka pintu mobil. Namun saat aku membuka pintu mobil, Arya menarikku ke dalam pelukannya hingga wajahku terbenam dalam d**a bidangnya. “Hati- hati ya, Dis.” Serunya lembut seperti tak ingin kehilanganku. “Iya, Arya.. Ya udah ya lepasin peluknya. Malu tahu kalau ada karyawan kita yang lihat bisa- bisa jadi gosip.” Aku pun menarik diriku untuk melepaskan peluknya. Lalu masuk ke dalam mobil, dan menurunkan sedikit kaca jendela hingga aku bisa melihat Arya. “Aku pamit ya, See you tommorrow.” Aku melambaikan tanganku dan menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan ia yang masih berdiri di tempat sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD