Sesampainya di rumah aku segera membersihkan diriku dengan mandi lalu merebahkan badanku di atas kasur. Rasanya sangat nyaman sekali, empuknya bantal dan kasur seperti hal yang sangat aku rindukan beberapa hari ini. Lebih rindu dengan mereka daripada merindukan kehadiran Gerald. Tunggu? Kira- kira apa kabar dengan Gerald? Apakah ia sudah melangsungkan pernikahannya dengan Marissa? Dan Mama mayang apa kabar dengan beliau? Sejak menginjakkan kaki di Bali dan aku mengganti Sim Cardku aku lupa untuk menghubungi beliau karena aku memang tak ingin menghabiskan waktu untuk mengingat hal yang berhubungan dengan masa laluku itu lagi pula aku sendiri malah lebih memilih bersenang- senang dan fokus mengembangkan bisnis Cafe.
“Ting..” satu pesan masuk ke ponselku. Aku melirik layar ponselku dan mengecek siapa yang mengirimiku pesan malam ini. Dan di sana tertulis nama Arya. Ya ampun aku melupakan janjiku untuk menghubungi lelaki itu ketika aku sudah sampai Villa. Pasti dia menunggu pesan dariku untuk mengabarinya. Dan benar saat aku membuka pesan darinya ia menanyakan keberadaanku.
“Dis, apa kamu sudah sampai di rumah?” tulisnya dalam sebuah pesan singkat di sebuah aplikasi w******p. Aku yang tak ingin khawatir akhirnya dengan cepat membalas pesannya.
“Maaf Arya, baru sempat mengabarimu. Aku sudah sampai vila sejak beberapa menit yang lalu. Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan diri dan baru saja aku merebahkan diriku di atas tempat tidur. Dan baru teringat untuk mengabarimu.” Tulisku dalam pesan tersebut dan langsung mengirimnya ke Arya.
Tak lama ponselku kembali mendapatkan pesan darinya.
“Oke selamat tidur, Dis. Mimpi indah ya.” Tulisnya lagi yang membuat aku tersenyum.
“Kamu juga ya, Arya.” Balasku singkat kepadanya dan mulai mensenyapkan ponselku serta meletakkan ponselku di sebelah nakas yang ada di sebelah tempat tidurku. Aku juga tak lupa mematikan lampu utama dan menyalakan lampu kecil yang berada di di atas nakas. Karena jujur saja dari kecil aku tidak bisa tidur dalam gelap, aku memerlukan sedikit cahaya terang.
# # #
Siang ini Opening Hope Cafe di mulai, beberapa pengunjung sudah memenuhi meja di Cafe ini. Karena keadaan Cafe baru buka dan juga ada promosi untuk pembukaan Cafe pengunjungku berdatangan silih berganti. Tak sia- sia selama beberapa hari ini aku gencar membantu mempromosikan Cabang baru Cafe ini di setiap media sosial dan media cetak. Hingga menjelang makan siang beberapa meja mulai penuh dengan pelanggan.
“Gladis...” teriak seseorang saat aku sedang berbicara dengan salah satu waiter. Aku yang mendengar namaku di panggil langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Betapa kagetnya aku saat melihat Tania dan beberapa temanku datang ke pembukaan Cafe kami. Mereka adalah Silvi, Ratna, Ajeng dan Niko teman- temanku saat berada di SMP(Sekolah menengah pertama). Aku meninggalkan waiter tersebut dan menghampiri mereka dengan senyum bahagia yang bercampur dengan rasa kaget itu.
“Tania, Silvi, Ratna, Ajeng sama Niko kalian kapan datang ke Bali? Tumben bisa kompakkan begini datangnya.” Tanyaku kaget dengan keberadaan mereka semua di sini.
“Ye, kita kan di sini karena besok mau ada acara reuni makanya bisa sampai di Bali.” Jawab Ajeng sambil tertawa.
“Lagian kamu memang nggak baca grup chat sekolah?” tanya Silvi yang membuatku tersenyum.
“Begini loh Guys, ponselnya Gladis hilang beberapa waktu lalu nah belum sempat di masuki ke grup chat lagi soalnya aku sama Gladis sibuk sama pembukaan Cafe ini.” Seru Tania yang menjelaskan semua kebohongan ini. Aku pun menghela nafas tenang karena Tania mampu mencari- cari alasan.
“Oh jadi ini Cafe usaha kalian berdua.” Seru Ratna yang merasa terkejut dengan penjelasan Tania. Aku dan Tania sengaja tak ingin mengabari siapa pun untuk awal pembukaan cabang baru Cafe ini tapi aku percaya alasan kenapa akhirnya ia memberitahukannya kepada teman- teman kami ini. Bola mata mereka pun langsung memperhatikan setiap sudut ruangan di lantai satu yang di dekorasikan dengan gaya bernuansa klasik. Beberapa dari mereka merasa terkejut dan terkesan.
“Heem, bagaimana kalau obrolan kita dilanjut di lantai dua aja. Sambil makan, soalnya di lantai ini udah penuh.” Ajakku saat keadaan mulai riuh karena hari pengunjung semakin berdatangan.
“Eh iya, boleh ayo..” seru Ajeng yang terlihat bersemangat. Kami pun akhirnya naik ke lantai dua yang konsep ruangannya berbeda minimalis unik dan artistik sehingga lebih nyaman untuk berkumpul bersama keluarga atau teman- teman seperti saat ini. Sebelumnya aku sudah meminta waiter untuk menyiapkan tempat untuk kami berenam hingga sesampainya di lantai dua kami langsung diantar olehnya menuju meja.
Setelah duduk pun masing- masing dari kami langsung di beri buku menu. Mereka pun langsung melihat- lihat beberapa menu yang memang kami tawarkan di dalamnya.
“Dis, Cafe jadi jauh lebih bagus ya sekarang. Apalagi konsep lantai satu sama lantai dua kami buat berbeda begitu keren.” Bisik Tania untuk memberi pujian. Aku tersenyum merasa bangga dengan apa yang sudah aku kerjakan ini.
“Iya dong, Gladis.”
“Oh ya Arya mana?” tanya Tania sambil mencari keberadaannya di setiap sudut lantai dua ini.
“Oh dia ada di lantai tiga kayaknya.” Jawabku santai.
“Terus gimana?” tanya Tania singkat yang membuatku bingung.
“Gimana apanya?” tanyaku balik.
“Iya gimana hubungan kamu sama Arya?” tanya dengan penekanan saat mengucapkan nama Arya.
“Ya baiklah, Tania.” Jawabku sambil tersenyum.
“Kalian lagi ngobrolin apa sih kok bisik- bisik?” tanya Niko yang memang sedari tadi sepertinya sedang mengamati kami berdua.
“Hah, nggak apa- apa kok. Kita lagi ngomingin soal Cafe aja.” Dusta Tania. Aku pun tertawa melihat tingkah Tania.
“Oh ya kalian udah pesan?” tanyaku.
“Udah kok, Dis.” Jawab Silvi sambil mengembalikan buku menu kepada pelayan.
“Kamu nggak pesan, Dis?” tanya Ratna.
“Ih Ratna kamu gimana sih, kan ini Cafe Gladis juga ngapain dia pesan. Kalau mau kan tinggal ambil aja.” Celetuk Ajeng.
“Ya tapi kan Tania aja udah ikutan pesan.” Tambah Ratna tak mau kalah dengan menyodorkan beberapa kebenaran.
“Oh itu, aku masih bolak- balik mengawasi kinerja karyawan soalnya ini hari pertama kita buka takut nggak bisa fokus, ini juga aku nggak bisa lama ngobrol sama kalian soalnya ada yang masih diurus dan dikirim ke pusat.” Jelasku.
“Sesibuk itu ya, Dis kalau Opening Cafe begini?” tanya Niko yang penasaran.
“Cie Niko masih aja peduli sama Gladis.” Ledek Silvi yang membuat Niko malu.
“Apa sih, kan aku juga mau merintis usaha kayak Tania sama Gladis jadi mau tahu banyak seputar dunia usaha mereka.” Tepis Niko.
“Iya nggak apa- apa kok kita bisa sama- sama belajar.” Ucapku sambil tersenyum.
“Oh iya, kalian lanjut ngobrol dulu ya. Aku sama Tania mau undur diri dulu ke Office soalnya ada yang perlu di bicarakan sama dia dulu nih soal Cafe. Nggak apa- apa kan?” pamitku kepada mereka semua.
“Oh iya nggak apa- apa, Dis. Santai aja.” Jawab Silvi. Aku dan Tania pun langsung beranjak menuju office yang berada di lantai dua ini.