Ceplas- Ceplos

1092 Words
Diruang kerja, aku dan Tania saling bertukar pendapat tentang urusan Cafe hingga kami menemukan kata setuju untuk itu. Beberapa hal yang memang harus dibicara intens dengannya karena usaha ini milik kami berdua. Dan hal ini selalu menjadi komitmen dari awal kami memutuskan terjun ke dalam usaha bisnis kecil- kecilan ini. Hal ini dilakukan agar suatu saat tidak ada kesalahpahaman diantara kami berdua. “Pembukaan hari ini produk aman?” tanya Tania untuk meyakinkan kembali. “Sejauh ini sih aman tapi karena seminggu ke depan kita masih dalam tahap promosi kayaknya memang harus selalu di pantau sih biar stok nggak berlebih banyak atau kurang.” Jelasku padanya. “Oh iya benar jangan sampai kayak waktu beberapa tahun lalu pas ada promosi di hari kemerdekaan tiba- tiba stok kita habis ludes nggak ketahuan terus pengunjung komplain deh.” Ungkap Tania ketika mengingat ke lalai kami yang saat itu masih begitu polos dengan usaha ini. “Iya nanti aku minta Arya sama Remy buat koordinasi deh. Tapi Cafe di Jakarta aman kan?” tanyaku untuk mengecek keadaan di sana. “Aman sih tapi Sinta kan udah mulai hamil jadi...” “Wah, Alhamdulillah akhirnya yang dia tunggu tiba juga.” potongku yang juga merasakan kebahagiaan Sinta karena pasalnya dua tahun pernikahannya ia belum punya momongan sehingga kadang aku sering melihat raut kesedihannya saat sedang membicarakan soal anak. “Iya, aku juga senang Cuma kayaknya kita harus tambah Sdm lagi, Dis. Biar bisa back Up kalau Sinta nanti cuti hamil.” Ucapan Tania ada benarnya hingga membuat aku setuju dengan usulnya tersebut. Aku juga membutuhkan orang baru di sini untuk membantu Arya dan juga Remy kalau sewaktu- waktu salah satu dari mereka ada yang cuti nantinya. Karena aku juga tak mungkin stay di Bali dalam waktu lama jika ada kendala terkait masalah atau perkembangan lain soal Cafe. Karena kantor pusat kami juga masih berada di Jakarta. Bisa jadi selama beberapa bulan aku akan bolak- balik Jakarta- Bali. “Iya, aku juga perlu orang juga buat bantu Arya sama Remy kalau salah satu dari mereka mulai cuti setelah masa percobaan Cafe ini buka.” Tambahku yang membuat Tania mengangguk setuju. Tak lama saat kami tengah asyik membicarakan soal Cafe Arya masuk dengan membawa kantung makanan. “Dis, kamu udah makan belum?” tawarnya setelah sebagian badannya masuk ke dalam ruangan kerja sambil melihat bungkus makanan tersebut. Tapi sesaat setelah itu ia menyadari keberadaan Tania yang sedang bersamaku. “Eh Bu Tania.” Ucapnya tersipu malu. “Eh Pak Arya, perhatian banget sampai bawa makanan buat Bu Gladis.” Ledek Tania yang membuat aku mencubit lengannya kesal. Hingga gadis itu merintih kesakitan. “Aauu sakit, Dis.” “Lagian kamu, kalau ngomong asal.” Seruku yang malu karena ia berbicara terlalu jujur di depan Arya. “Tapi memang benar kok, kedekatan kalian itu jadi gosip dan beritanya sampai di Jakarta loh.” Tambah Tania yang tak menyadari peringatanku hingga membuat aku Dan Arya tertunduk malu. Sumpah rasanya aku ingin menyumpal mulut Tania dengan sepatu karena ia masih tidak sadar telah membuat aku malu. “Oh ya, terima kasih ya Arya tapi kayaknya aku bakalan makan nanti deh soalnya aku mau cek stok di gudang dulu.” Seruku untuk mengalihkan topik. “Eh jangan, Dis biar aku aja. Memang kebetulan tadi niatnya habis kasih ini, aku mau cek stok buat sore nanti jadi aku ya. Oh kalau begitu aku pamit dulu ya Dis, Bu Tania.” Pamitnya setelah meletakkan makanan tersebut di atas meja lalu meninggalkan kami di ruang kerja. “Kamu tuh, kebiasaan kalau bicara langsung ceplas ceplos nggak enak tahu sama Arya, Tan.” Gerutuku kesal karena ulah sahabat kesayanganku ini. “Ya habis, aku kan mau menyampaikan kebenaran aja.” Katanya yang menyesal. “Kebenaran sih, kebenaran tapi jangan pas ada orang yang berkaitan lagi sama- sama begitu kan malu, Tan.” Ucapku yang masih kesal sambil memperhatikan layar laptopku. “Maaf ya, Dis.” Ia berusaha meminta maaf ketika aku terlihat sangat marah dan cemberut. “Hufftt..” aku membuang nafas panjang seketika aku tak bisa marah dengan gadis itu walau hanya sedetik. “Oke aku maafin, tapi lebih baik kamu ketemu sama mereka dulu deh, temenin mereka dulu soalnya nggak enak kalau kita berdua kelihatan sibuk sama urusan Cafe. Lagian kamu lagi ambil cuti ini.” Pintaku kepadanya. “Oh ya tapi besok datang kan ke acara reuni?” tanyanya. “Kita bicarain nanti ya di rumah, soalnya otakku masih fokus di sini nih.” Jawabku yang masih mengerjakan sesuatu hingga fokus dengan layar laptopku. “Heem oke deh Bu bos, aku pamit dulu ya.” Pamitnya sambil beranjak pergi. “Oh ya, Tan koper kamu dimana? Udah diantar ke vila?” tanyaku. “Masih di hotel sama yang lain paling nanti sore aku pindahin ke Vila. Kamu pulang jam berapa hari ini?” “Belum tahu sih niatnya jam sepuluh malam tutup tapi kan harus bersih- bersih dulu jadi agar mundur pulangnya. Cuma kalau kamu mau ke vila duluan nggak apa- apa soalnya ada Bibi Ira kok.” Jelasku. “Oke deh nanti aku kabari, aku keluar dulu ya. Nanti kalau senggang nyusul.” Pamitnya lagi sebelum ia benar- benar pergi meninggalkan ruang kerja ini. Setelah tiga puluh menit aku berkutat dengan layar laptop aku keluar dari ruang kerja menuju Bar station yang tak jauh dari ruang kerja. “Rey, gimana keadaan Cafe? Makin ramai apa sepi?” tanyaku untuk menanyakan kondisi Cafe yang sempat aku tinggalkan. “Lumayan Bu ada aja dari tadi.” Jawab Rey. “Syukurlah, Pak Remy sama Pak Arya kemana?” tanyaku. “Pak Remy lagi ijin istirahat kalau Pak Arya..” ucapannya terpotong saat melihat Arya datang dengan papan berjalan berisi kertas tersebut. “Nah ini Pak Arya.” Imbuh Rey yang membuat Arya menoleh ke hadapan kami berdua. “Oh ya, Dis. Kebetulan ini stok produk yang kamu minta.” Ucapnya sambil memberi papan berjalan yang berisi stok produk yang telah ia periksa dari gudang. Aku menerima kertas tersebut dan mengamati setiap lembar demi lembar stok itu. Namun saat aku sedang mengamati, tiba- tiba tangan Arya menyisirkan anak rambut ke punggung telingaku dan membuat aku menoleh ke arahnya. “Cie Pak Arya perhatian sama Bu Gladis.” Ledek Rey yang sedang memperhatikan kami. “Apa sih Rey? Kamu mau juga di rapikan rambutnya? Sini bapak rapikan kalau perlu bapak botakin ya.” Jawab Arya sambil bercanda yang membuat aku ikut tertawa. “Hehe maaf Pak bercanda. Abisan bapak sama ibu kelihatan mesra terus kayak pengantin baru kalau kata orang.” Timpal Rey cengengesan. “Lah kita kan memang pengantin baru.” Ucap Arya sambil merangkul bahuku. Aku yang kaget langsung memukul tangannya. “Kalian ini bercanda terus deh.” Ucapku yang menghentikan banyolan konyol diantara keduanya. “Oke Arya, ini udah cukup nanti pas closing tolong Di stok lagi ya.” Seruku lagi sambil memberikan papan berjalan itu kepadanya. “Oh ya kamu pantau sebentar ya Cafe, soalnya saya ada tamu. Kalau ada apa- apa nanti bilang aja.” Pamitku sambil pergi meninggalkan keduanya menuju meja Tania dan Teman- temanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD