“Eh, Dis sini duduk.” Seru Niko saat melihat kedatanganku.
“Gimana kalian menikmati pesanan kalian? Ada yang kurang nggak? Kalau ada buat masukan Cafe boleh kok.” Seruku saat sudah duduk diantara mereka.
“Cukup kok, malah kita hampir kekenyangan.” Seru Silvi yang merasa puas dengan apa yang sudah di sajikan.
“Beneran nih?” tanyaku yang meyakinkan.
“Serius nggak bohong.” Tambah Ajeng sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan.
“Nah kalau begitu jangan lupa promosi di akun sosial media kalian masing- masing ya.” Celetuk Tania dengan nada menggoda.
“Nah setuju tuh.” Timpalku.
“Pasti kok. Secara nenek rempong ini udah sempat foto- foto tadi.” Tambah Niko.
“Iya benar kata kakek.” Seru Ratna yang tak mau kalah untuk mengatai Niko hingga membuat kami tertawa.
“Oh ya, Dis. Besok bisa datang ke acara reuni sekolah kita kan? Acaranya dari sore sih.” Tanya Ratna.
“Heem diusahain deh ya.” Jawabku yang ragu karena masih tidak yakin untuk datang saat Cafe masih dalam tahap pembukaan. Apalagi esok menjelang malam minggu hari dimana pengunjung Cafe akan lebih meningkat.
“Diusahain ya, soalnya kan udah setahun belakangan kamu nggak datang.” Seru Ajeng dengan nada sedikit memohon. Lalu diiringi wajah mereka yang berharap kehadiranku di acara tersebut.
“Iya deh tapi nggak janji on time ya.” Aku menyerah dengan permintaan mereka karena kalau di pikir- pikir sejak kejadian Gerald kecelakaan saat itu, aku sempat melewatkan satu tahun acara reuni yang masih rutin diadakan oleh beberapa alumni sekolah kami.
Beberapa jam pun akhirnya berlalu, menjelang malam teman- temanku termasuk Tania pamit undur diri. Setelah mereka selesai mengobrol bahkan melihat- lihat keadaan Cafe. Aku pun senang saat mereka terus memberikan pujian tentang Cafe ini. Seakan usahaku sepertinya menemukan titik terang untuk kembali lebih berkembang.
“Oh ya, Pak Arya dan Pak Remy besok kan jadwal Cafe sudah normal dengan beberapa shift jadi besok saya mau ijin masuk setengah hari. Nah nanti sisanya kalian mulai handle berdua ya. Biar besok Pak Remy bagian Opening dan Arya bagian Closing. Pak Remy kan udah berpengalaman nih di tempat kerja sebelumnya tapi kan mungkin ada beberapa sistem yang berbeda, jadi nanti tanya- tanya Arya aja ya.” Jelasku.
“Baik, Bu.” Ucap Pak Remy.
“Terus nanti tetap ya perhatikan kinerja anak- anak buat diajukan sebagai karyawan terbaik bulan ini.” Pintaku.
“Siap, Bu. Oh ya saya mau tanya kira- kira kapan ya bisa mulai ambil cuti untuk karyawan.” Tanya Arya.
“Kalau itu nanti kurang lebih sekitar tiga bulan masa percobaan pembukaan Cafe sih. Ini juga berlaku untuk Spv juga kok. Tapi kan kalian disini Cuma berdua ya dan saya juga nggak mungkin selalu ada di sini bisa aja bolak- balik Jakarta. Nah besok kalau ada email soal poster dan brosur lowongan kerja jangan lupa di pasang dan dibagikan ya. Kalau perlu kalau memang ada sanak saudara atau teman kalian yang mau gabung untuk kerja di Cafe saya persilahkan. Hitung- hitung buat memudahkan pencarian Sdm untuk Cafe kita.” Seruku menjelaskan apa yang memang sudah aku dan Tania bahas siang tadi.
“Kalian juga bisa sampaikan sama karyawan lain ya. Siapa tahu bisa membantu itu juga kalau nggak keberatan ya.” Tambahku sebelum mereka menjawab apa yang sudah aku perintahkan.
“Baik, Bu.” Jawab keduanya secara bersamaan.
“Ya sudah kalau begitu. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian untuk segera menutup Cafe.” Ucapku dan mereka pun kembali mengejakan tugas masing- masing. Syukurlah hari ini semua berjalan lancar walau ada sedikit kendala tapi masih bisa ditangani.
# # #
Aku membanting tubuhku di atas kasur karena terlalu lelah bekerja. Tania yang sedang menonton televisi di kamar menoleh ke arahku.
“Capek banget ya, Dis?” tanya Tania.
“Iya, Tan. Aku mau merem sebentar deh.” Ucapku sambil menutup mataku perlahan.
“Sebaiknya kamu mandi dulu, Dis biar enak tidurnya nanti.” Usul Tania yang membuatku terbangun dan menuruti perkataannya untuk segera membersihkan diri sebelum rasa malas melanda.
Beberapa menit berlalu, dan aku telah selesai mandi dan merasa sangat tubuhku sangat segar. Kini aku duduk di meja rias untuk sekedar menyisir rambut dan memakai beberapa perawatan wajah.
“Dis..” Panggil Tania.
“Kenapa?”
“Kamu tahu nggak, kemarin aku ketemu Gerald di Mcd.” Aku sangat amat terkejut saat namanya di sebut oleh Tania. Tapi ia menemukan lelaki itu tanpa sengaja di tempat favoritku Mcd. Aku tahu betul lelaki itu tak akan datang walau hanya untuk membelikan pesanan orang lain. Karena Gerald selalu akan melarang siapa pun untuk mengonsumsi Junk Food. Jadi aku merasa sangat aneh dengan hal ini.
“Hah? Serius? Sama siapa?” tanyaku yang penasaran saat Tania mulai membicarakan topik tentang Gerald. Aku pun segera menyelesaikan rutinitas perawatan wajahku itu. Dan menghampiri Tania yang duduk di karpet sambil menonton televisi itu.
“Kamu semangat banget kalau topiknya Gerald. Belum move on ya.” Ledeknya yang membuatku salah tingkah. Jujur aku akui sampai detik ini aku masih saja memikirkan lelaki itu, seseorang yang pernah menjadi cerita cintaku dan hampir menjadi teman sehidup semati.
“Ya kan kamu sendiri yang buka topik soal dia. Kalau nggak mau lanjutkan ya aku tidur.” Seruku lalu mulai beranjak namun tanganku di tarik olehnya dan tersenyum saat aku meliriknya dengan tatapan kesal.
“Oke, aku lanjutkan deh. Dia ke sana sendiri tapi aku nggak tanya sih kenapa dia tiba- tiba ada di sana.”
“Tapi kok tumben dia ke sana. Apa jangan- jangan dia mampir buat beli pesanan Marissa?” tebakku.
“Kayaknya nggak deh, Dis. Orang aku lihat dia lagi makan di sana dan kamu tahu apa yang bikin aku terkejut?” seru Tania yang kembali membuatku penasaran. Aku menggeleng pelan karena tidak tahu.
“Dia pesan makanan yang mirip sama yang biasa kamu pesan.” Kata Tania yang membuatku sontak saja kaget. Ada apa dengan lelaki itu? Apa yang merubahnya menjadi bukan seperti dia? Atau mungkin ini sikap aslinya sebelum jauh menjalin hubungan denganku? Entahlah aku bingung. Tania kembali menceritakan hal- hal yang sempat ia ketahui tanpa sengaja. Dan hal itu berkaitan dengan hal yang pernah aku dan Gerald lakukan bersama saat keadaan baik- baik saja.
“Dia itu kayaknya kelihatan linglung tahu, Dis.” Tambah Tania.
“Dan beberapa kali aku sempat berdiri di depan rumah kamu loh.”
“Hah buat apa?” aku kembali tersentak kaget.
“Nggak tahu, pas aku tanya Dimas. Gerald pernah mampir nggak ke rumah, Dimas bilang nggak sih.” Jawab Tania yang semakin membuatku penasaran ada apa dengan Gerald.