Cinta Pertama

2059 Words
Selamat pagi" "Pagi juga pak Alfian" lantas Alfian berlalu pergi ke ruang guru Suasana disekolah semakin menyenangkan bagi Alona kini dia bisa menikmati hidup sebagai orang biasa. "Buk" Agh....ah...aduh...sakit...!" Alona tertimpa pot bunga yang jatuh dari lantai atas alona melihat di atas tidak ada siapapun. "Alona! kamu kenapa?" Rama menghampiri Alona. "Tidak tuan Rama saya tidak apa-apa" merintih kesakitan karena punggung Alona terluka dan rama mengantarnya ke UKS. Alfian datang dan melihat kondisi Alona. "Kak...Alona ganti bajunya saja dengan baju olahraga dan biarkan saya mengobati lukanya" Wah gawat kalau sampai beberapa orang tau tanda bunga tulip di punggungku bisa-bisa semua orang tau kalau Aku adalah putri raja Amerta gumam Alona. "Maaf saya izin saja untuk pulang" "Baiklah...nanti biar kepala sekolah yang mengurus dan mencari pelaku yang sudah sengaja menjatuhkan pot bunga" "Saya permisi dulu pak Alfian" "Biarkan saya mengantarmu" "Tidak usah pak saya tidak mau bapak mengistimewakan saya dan nanti mereka salah faham" Alona pergi untuk pulang Rama yang ada di luar UKS berusaha untuk membantu Alona pulang tapi Alona pun menolak. Di sepanjang perjalanan Alona sedih karena saat sakit begini ada pelayan yang selalu membantunya kini dia sendiri dan tanpa orang-orang yang menyayanginya walaupun mereka hanyalah pelayan. "Krek" "Huft..hm....kenapa sesakit ini bagaimana caranya aku mengobati punggungku" beberapa waktu kemudian datang seseorang. "Ting tong" "Dat kayak gini siapa yang datang" "Hah pak Alfian aku tidak ingin dia yang membantuku"Alona panik. "Alona!buka pintunya biarkan saya membantumu" "Terpaksa!" Alona membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Alfian masuk dia tidak sendiri tapi dia bersama Yumna. "Hai sahabat kamu melupakanku ya... aku datang untuk menjengukmu tadi kepala sekolah membiarkan aku ikut pak Alfian datang kesini" "Terimakasih Yumna kamu masih mau menjadi sahabatku" Alona memeluk Yumna dan lupa kalau punggungnya sakit. "Ayo aku bantu mengobati lukamu. Kemudian Alona masuk kekamar dan di kunci kamar tersebut Alona mencari akal untuk membuat Yumna tidak melihat tanda tulip di punggungnya. "Yum...em...aku tidak pernah membuka baju di hadapan siapapun termasuk wanita bisa kah kamu menutup mata saat mengoleskan obat ku mohon" "Ha ha...kamu lucu Alona iya-iya aku akan mencari penutup mata" Yumna menutup matanya dengan kain dia berfikir Alona memang sedang malu Yumna di bantu Alona untuk mengoles obat kepunggungnya dan menutup luka dengan perban. "Sudah selesai nih aku buka ya mataku" "hm....iya trimaksih sekali Yumna" Alona dan Yumna keluar kamar dan melihat Alfian sedang duduk di sofa. "Sudah selesai?" "Sudah pak Alfian mari kita kembali kesekolah agar Alona bisa istirahat pak" "Em...kamu kembali bersama supir saya saja ya saya sudah ijin hari ini akan ada pertemuan keluarga" "OOH iya pak siap" Yumna pamit dan meninggalkan Alfian dan Alona Alona balik badan dan Alfian mendekapnya. "Uh...agh...punggung saya sedang sakit pak tolong jangan tiba-tiba memeluk saya. "Alona hentah perasaan apa ini tapi yang jelas aku nyaman melihatmu setiap hari di mataku anggaplah aku ingin melindungi mu. "Ehem...pak Alfian kan hanya mengenal saya 1minggu ini di sekolah kok sudah nyaman?" Alona binggung dan melepaskan genggaman Alfian dan duduk di sofa. "Siapa bilang aku mengenalmu 1 Minggu" Alfian duduk di hadapan Alona dan menatapnya penuh pertanyaan. "Maksud pak Alfian apa?" Alona semakin binggung Alfian berdiri dan menyilakan tangan di d**a dan menjelaskan. "Aku pernah melihatmu di penjara istana Amerta aku melihat raja Amerta menjambak rambutmu dan kamu memohon ampun saat itu aku tidak tau hentah kamu tahanan atau siapa dan saat kamu bilang ampuni aku ayah aku terkejut kamu adalah putrinya kita sama-sama masih muda Alona ya...aku berumur 22tahun sedangkan dirimu masih berusia 12th untuk anak remaja sepertiku masih lah mengingat kejadian itu" "Ah...anda tau tentang masa lalu putri alona? maaf pak Alfian mungkin anda salah sangka saya tidak pernah di penjara" Alona berkilah. "Jangan membohongiku Alona!" "Beneran pak Alfian saya juga tau kisah itu dari ayah saya pak Karim." "Waktu itu nona Alona membuat kesalahan dengan memotong rambut seperti laki-laki dan membuat beberapa petani marah kepada ayah nya karena ulah putri alona membakar ladang gandum putri Alona melakukan itu semua agar ayahnya memberikan ganti rugi untuk para petani dan mengeluarkan hartanya untuk menolong para petani yang sebenarnya gandum itu sudah rusak di makan hama sejak saat itu putri Alona di didik keras oleh ayahnya" "Pak alfian tau dari mana kalau saya putri raja Amerta?" Alona menyelidiki penuh tanya. "Kalau begitu aku bisa mengenalimu dari lambang tulip di lehermu." "Lihat saja ini pak nih...gak ada kan" Alfian semakin binggung dia mengetahui pasti gadis yang dia lihat di masa lalu adalah Alona alfian menceritakan kisah hidupnya kepada Alona dia sudah terlalu lama mengagumi Alona. "Em....pak Alfian kenapa tidak menikah dengan putri sandrina!" "Hm....sandrina lebih mencintai karirnya dan aku tidak pernah merasa menjadi mantan tunanganya karena setelah perkenalanku denganya aku tidak menaruh hati padanya gadis centil dan sosialita masalah apapun di upload dan share ke media elektronik" "Oh...." "Aku masih penasaran dengan putri Alona"Alfian menunjukan pandangan serius ke Alona. "Kalau pak alfian penasaran mendingan introgasi saja nona Alona oh iya pak nona Alona tidak ada lambang tulip di lehernya tapi bunga mawar. "Benarkah?" Tapi perasaan Alfian merasa kalau yang dihadapannya lah Alona yang asli. "Ya sudah aku ada pertemuan jam 10 pagi ini kamu aku tinggal ya semoga segera membaik" "Terimakasih pak" Alfian meninggalkan kecupan manis di dahi Alona dan Alona hanya diam terpaku dia tidak mau terlalu gampang perasaan karena bagi Alona cinta itu menyakitkan untuk saat ini Alona tidaklah berharap Alfian menyatakan cintanya. "Ting tong" "Hah....ayah!!" Alona binggung dan membuka pintunya ayah Alona menanyakan kabarnya "Alona pulanglah apa kamu bahagia tinggal di sini?" "Alona baik-baik saja ayah susunlah rencana yang lebih seknifikan Alina rubah lah menjadi diriku yang pintar di sekolah,pendiam dan terutama leher Alina gantilah tato bunga tulip bukan mawar." "Wah....kamu begitu mendukung persembunyian putri yang tak ingin aku publikasikan apakah kamu benar-benar tidak sakit hati?" "Sudahlah ayah.... aku akan membuat Alina pantas mengantikan ku hentah sebenarnya apa tujuanmu menghilangkan identitas diriku sebagai putrimu" Ayah Alona menyodorkan kertas disana tertulis Alona akan di pindahkan sekolah di kalangan rakyat jelata di asingkan dari istana dan bisa menghidupi dirinya sendiri. "Ag" Alona berkaca-kaca dia benar-benar hancur dengan syarat dari ayah kandungnya tapi Alona bertekat dan geram mengiyakan mau ayahnya. "Alona hanya ingin apartemen ini dan uang tabungan alona ayah Alona akan buktikan pendapat ayah salah tentang seorang wanita yang tidak bisa menjadi sukses karena kodratnya!" "Baik buktikan! dalam waktu 3tahun ini" "Baik saya sepakati ayah." Ayah Alona melangkah pergi Alona menangis meratapi hidupnya yang tidak di akui oleh ayahnya. Alona tertidur dalam tangisnya tersadar waktu sudah malam. "Alona!" "Ah....hm...sebentar!" Alona membuka pintu dan ternyata itu Alfian "Oh...pak Alfian" "Jawaban kamu hanya OOH!!" "Ya pak apa lagi?" "Kamu sadar gak sih saya dari tadi sore memencet bel kamarmu tak ada jawaban aku pikir kamu bunuh diri tau gak!" Alona tertawa "Pak Alfian terlalu lebay ya tidak sekecil itu hati saya lagi pula saya takut sama tuhan belum siap" Alfian cemberut duduk di sofa lantas menyodorkan sebuah kotak kado. "Ini buat kamu karena nilai ulangan bahasa Inggris mu bagus" "Wah....apa semua siswa dapat seperti ini pak!" "iya ada 3 siswa" Alona membuka kotak itu dan ada sebuah handphone beserta SIM card. "Hah...ini bagus banget pak maaf saya tidak bisa menerima hadiah semahal ini" "Semua nya mendapatkan handphone Alona walaupun hanya dengan merek berbeda." "UM... okelah...fine" Alfian tersenyum melihat Alona tapi dia juga curiga dengan mata alona yang bengkak. "Oh iya pak mulai besok Senin saya sudah tidak lagi sekolah di sana saya minta maaf karena sudah merepotkan bapak" "Tunggu! kenapa tiba-tiba kamu tidak sekolah? apa kurang biaya saya bisa membiayai sekolahmu" "Saya ingin jauh dari embel-embel keluarga Amerta pak...dan lagi nama saya sama dengan tuan putri besok Senin saya harus pindah sekolah. "Kalau begitu aku tidak akan memaksamu sudah malam istirahatlah see you" ------- Keesokan paginya Alona menyiapkan pakaiannya di tas dan mencari informasi lowongan pekerjaan Alona mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di coffe shop Alona menyimpan semua pakaian mewahnya menjadi gadis biasa Pagi ini adalah hari Minggu alona mendatangi coffe shop yang dia kirimi surat lamaran lewat email. "Alona" Alona bertemu Alfian di lift Alfian melihatnya rapi dan sederhana wajahnya yang cantik,tinggi dan putih semakin membawa daya pikat tersendiri untuk laki-laki. "Kamu rapi sekali! mau kemana?" "Saya mendapatkan pekerjaan pak di sebuah coffe shop" "Apa! untuk apa kamu bekerja sekolahmu nanti bagaimana?" Alfian menyeret Alona dan mengajaknya masuk ke kamar Alfian. "Duduk! bukankah aku sudah bilang aku akan membiayai sekolahmu!" Alona marah "Pak Alfian yang terhormat putra Finnara Wang tidak semua manusia hidup di dunia ini menyenangkan saya bukan anak orang kaya tuan,walaupun saya miskin saya juga tidak mau dibantu terus itu akan membuat saya menjadi benalu." Alona hendak pergi dari kamar Alfian tapi di halanginya. "Lepaskan saya pak Alfian anda menyakiti saya!" Alona di tempelkan ke pintu dan Alfian menciumnya lagi dan lagi. "Agh" "Anda sudah tidak waras!" Alona mengigit keras mulut Alfian dan membuka pintu dan menutup pintu keras-keras. "Brak! "Aku membuat kesalahan fatal dengan memaksanya" Alfian memejamkan mata dan mengepalkan tanganya dan memukulkannya ke tembok darah mengucur dari tangannya tapi Alfian biasa saja. Disisi lain Alona berlari segera mungkin sampai ke coffe shop. "Haa" tersengal-sengal nafasnya memburu waktu. "Selamat pagi mbak saya ada wawancara hari ini!nama saya Alona" "Tentu...anda sudah ditunggu di ruangan pemilik coffe shop ini" Lantas Alona mengetuk runa pemilik coffe shop. "Permisi" "Iya silahkan duduk" Alona terkejut ternyata Diza Rijef wong adalah pemilik coffe shop. "Anda bernama Alona? silahkan duduk" "Em...iya pak ini profil saya dan copy nilai terakhir saya" "Kamu masih sekolah ya? kamu tidak kesulitan harus shif Sore apa tidak akan menggangu sekolahmu!" "Tidak pak saya benar-benar butuh pekerjaan ini." Lantas diza mengiyakan dan menerima Alona Diza yang sedari tadi memandang Alona sempat berfikir dia terlalu cantik untuk menjadi orang biasa. "Besok jam 15.00 adalah jam kerjamu dan sekarang pulanglah dan ambilah baju seragam di kasir depan tugasmu sebagai kasir di coffe shop saya" "Baik pak...trimaksih sudah menerima saya sebagai karyawan bapak diza" Alona melanjutkan perjalanan hari ini adalah hari Minggu Alona ingin merasakan indahnya kota dan bagaimana suasana di keramaian "Gruk gruk! Pesan masuk "Alona....maaf aku sudah khilaf membuatmu marah!" .... .... ... "Aku akan menunggu untuk minta maaf secara langsung!" Alona memilih tidak menjawab pesan Alfian Alona naik bis kota dan melihat beberapa orang membuat kegaduhan berebut tempat duduk. "Astaga" "Brak..." "Wo...wo...gimana sih pak bawa bisnya kenceng amat sih!" Alona berdesakan dan merasakan ada tangan jahil ingin merampas tasnya Alona tanpa pikir panjang memegang tangan orang itu dan memelintirnya. "Apa yang anda lakukan!" Alona menatap kejam "Wii...copet Lo ya heh pak pir ada copet nih" Suara penumpang yang duduk di depan copet itu di bawa turun dan di bawa kekantor polisi. Alona pun turun tapi tidak mengikuti orang-orang tersebut karena Alona ingin menghabiskan waktu untuk melihat dunia luar yang tidak pernah dia jumpai. "Wah...tasku disobek gini untung isinya masih utuh" "Hei...kita ketemu lagi Alona" "Ya tuhan dunia ini begitu sempit kenapa aku bertemu dengan dia"dalam hati Alona. "ngapain kamu di jalan gini? "Maaf tuan kaisar saya sedang ingin ke pasar jadi jalan kaki" "What! pasar really?" "Iya...saya permisi dulu tuan kaisar" Alona membungkukkan badanya sebagai penghormatan. Sesampainya di pasar Alona melihat banyak sayur,buah,ikan dan berbagai pilihan jajanan mungkin bagi seorang anak raja ini tidaklah bisa diterima tapi bagi Alona ini adalah caranya untuk memahami keadaan dan situasi bermasyarakat". "Bu....saya mau beli tas model selempang itu, berapa?" "Harganya 75rb mb ini import!" "Boleh kurang Bu?" "Boleh asal tidak berlebihan nawarnya" Alona tertawa dia bisa saja membelinya tapi Alona sekarang bukanlah putri raja dia sekarang adalah masyarakat biasa. "Ini Bu saya beli seharga 60rb kalau boleh" "Em...iya udah deh gak apa-apa yang beli orang cantik" Alona tersenyum malu. Alona melanjutkan belanja bahan-bahan untuk memasak setelah mendapatkan semua keperluan Alona kembali ke apartemen "Pak...bisakah mengantar saya ke apartemen garden Palma?" "Wah...itu jauh sekali nona...apa tidak apa-apa tarif mahal dikit?" "Berapa pak?" "55rb nona!" Alona mengiyakan tawaran tukang ojek itu sepanjang perjalanan Alona begitu menikmati trik matahari yang menyengat di badannya bercampur keringat,polusi dan kebisingan kendaraan karena macet. Sesampainya di apartemen Alona bergegas naik lif menuju kamar dia mendapati Alfian di depan pintu apartemen nya sedang tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD