Alona di gantikan alina

2079 Words
Aku tidak percaya kalau Alona adalah anak supir akan ku buka kedok tuan putri misterius itu "Kamu mengenal alona Rama?" "Iya kaisar dia satu sekolah dengan kita hanya saja dia di kelas III MIPA" "Aku jadi penasaran siapa dan bagaimana rupa nya dia waktu itu ayah melamar alona untukku sayangnya ayahnya tidak menyetujuinya karena Alona tidak datang saat acara makan malam "Besok kita jebak dia" Senyum rama mulai sinis dan dia akan merencanakan hal yang memalukan untuk Alona yang telah membohongi semua orang dengan tipu dayanya. "Para hadirin waktunya untuk kita berdansa kami persilahkan tuan putri dari kerajaan Amerta memilih rekan dansanya" Alina maju dia sudah berganti pakaian dengan baju yang di kenakan Alona. Saat ini Alona memang sudah dipersilahkan pulang oleh ayahnya dari pintu belakang. "Pak jalankan mobilnya kita pulang saja saya takut kalau orang lain melihat saya" "Baik nona Alona" Dan di aula Alina berdansa dengan Rama dia menelisik melihat leher Alina yang tanpa tanda tato bunga tulip. Dia bukan Alona dia tidak mempunyai tanda tulip tapi hanya bunga mawar Apakah dia selir raja atau kerabat raja Amerta batin Rama. Alina tersenyum dan terus merasa bahwa Rama menyukainya "agh....!" Rama melepaskan tanganya saat memutar Alina dan terjatuh dengan keras "UPS....maafkan saya nona...Alona!" "Ih.... dasar pangeran kasar bukanya di bantu berdiri malah meninggalkanku pergi!" Pesta telah usai semua raja dan putranya pulang kembali ke kerajaan mereka masing-masing ayah Alona pulang dan mencari keberadaan Alona. "Alona!" "Iya ayah saya disini" Alona membuka pintu kamarnya "Mulai besok Alina akan satu kelas denganmu dan dia akan mengantikan mu menjadi ALONA!" "Lantas siapa namaku ayah?" "Kamu akan menjadi Alina" "Apa! ayah benar ingin menggantikan ku dengan seorang Alina? ayah benar-benar membuatku semakin muak hidup di istana ini" Kesal dan membanting pintu almari alona mengambil beberapa baju dan memasukannya ke koper. "Atas dasar apa kamu akan meninggalkan tahtamu! benarkah kamu bisa hidup sebagai orang biasa?" "Alona sudah tidak tahan tinggal di istana dengan menjadi boneka ayah yang bisa diperlakukan sesuai kemauan dan keinginan ayah saja!" "Diam kamu! plak" ayah Alona marah dan mendaratkan pukulan Alona memegang pipinya dan menatap tajam dengan emosi yang tinggi.... "Hah....aku tidak pernah menyesal di lahirkan oleh ibuku tapi aku menyesal punya ayah yang kasar seperti anda! "Sret.....brak!" "Alona....Alona!tunggu Alona!" Ayahnya tak sempat mengejarnya dia melihat putrinya itu pergi dari istana tanpa kata. Perlu pembaca tau Alona di didik keras oleh ayahnya hanya karena ayahnya menyimpan dendam terhadap kakek alona yang menghinanya tidak bisa mempunyai keturunan laki-laki. Dalam hatinya sakit dan hancur melihat sikapnya sendiri kepada Alona yang keterlaluan. "Maafkan ayah Alona! suatu saat kamu akan mengerti kenapa ayah seperti menganak tirikan dirimu!" Menangis dalam kamar. "Untung aku membawa sedikit uang aku bisa mencari tempat yang layak aku tinggali" Saat Alona di jalanan tak sengaja Rama melihatnya di halte bis "cit!BRM..." "Ya tuhan kenapa aku harus bertemu dia!" "lagi apa nona bisu disini?" Alona lebih memilih diam seperti biasa "Heh aku minta maaf kalau aku salah!" Rama menyodorkan tanganya "Iya....saya maafkan tuan Rama!" "Gitu dong bicara....aku sempet sebel dan terus mengganggumu karena kamu tidak mau merespon ku!" "Saya memang tidak terbiasa dengan kata-kata kasar jika ada seseorang memperlakukan siapapun itu tanpa memandang kasta kalau kasar dan tak terpelajar saya lebih baik diam dan membalasnya jika dia keterlaluan." "Oke....Jadi sekarang boleh tau dong kamu mau kemana!" "em....saya mau cari tempat tinggal tuan" "hah...tempat tinggal! malam-malam begini?!" "sebenarnya saya sudah tidak mau tinggal di istana Amerta tuan karena nona Alona yang asli sudah datang" "Tunggu-tunggu maksud kamu kamu bukan Alona!! hanya mengaku-ngaku?" "Begini tuan saya alona putri pak karim sedangkan tuan putri adalah Putri Alona anaknya raja Amerta kenapa nama saya sama karena ayah saya mengagumi nama anak raja Amerta" Alona menjelaskan dengan terbata-bata Rama tidak sedemikian percayanya tapi di mengangguk setuju saja lantas Rama menawarkan untuk Alona tinggal di istananya tapi Alona menolak karena dia tau akan semakin rumit masalah ini. "Lantas kamu malam begini mau kemana!" "Saya cari tempat kost/kontrakan saja tuan... saya berani kok sendiri karena saya hampir setiap hari berlatih pedang" "Sudah ayo aku Carikan kamu tempat tinggal" Rama memegang tangan Alona dan menyuruhnya masuk ke mobil. di perjalanan rama dan Alona hanya terdiam sesekali Rama memandang Alona walaupun Alona pura-pura tidak tau setelah putar-putar ternyata Alona tertidur melihat alona tertidur Rama binggung mana mungkin cari kost dengan kondisi...sudah larut begini Rama memutuskan pergi ke apartemen yang dia tinggali. Saat Rama sampai di parkiran Rama mengendong Alona yang sepertinya sangat lelah dan tak menyadari kalau Rama mengendongnya "Pak...tolong bawa koper itu ke kamar saya ya!" "Baik tuan!" Saat Rama menaruh Alona di tempat tidur dia mencari tanda tulip tapi tidak ia temukan. "Hm.... tidak mungkin kalau kamu anak supir dari caramu bicara tata Krama dan sikapmu sangatlah berbeda dengan kalangan biasa." Alona tertidur pulas Rama membuka sepatu yang di kenakan Alona dan menyelimutinya Rama akhirnya tertidur di sofa. pagi ini alona merasa ada sinar matahari tiba-tiba dia terkejut ada sosok laki-laki di tatapnya. "Asataga! Rama dia tidur satu kamar denganku....hah! dan ini kamar siapa?" Alona beranjak dari tempat tidurnya...dan membangunkan Rama "Tuan Rama! bangunlah" Rama tidak menghiraukan pangilan alona karena Alona sudah sangat sebal lantas mengambil air di kamar mandi. "Agh....agh! ish....hah... apa-apaan kamu Alona! gila ya atau kenapa?hah!" Rama marah dan bangkit dari sofa dan mengambil gayung di tangan Alona dan memercikan air kepada Alona untuk membalas perbuatanya dia melihat senyum lepas pada Alona dan kagum akan kecantikannya "Ah ..maaf tuan rama berhentilah! lihatlah basah semua" Alona kemudian mengambil baju ganti dan mulai membersihkan diri untuk mandi. sementara rama sibuk memesan makanan. "Tuan sudah selesai silahkan anda mandi!!" "Hm....iya nanti kalau ada pengantar makanan bilang sudah di bayar" Alona mengangguk-anggukkan kepala bel berbunyi ternyata itu bukan pengantar makanan tapi Kaisar putra abiguna "Astaga!! kamu siapa?" "Saya....! Belum sempat menjawab Rama keluar dari kamar mandi tanpa baju. "Heh....jangan ganggu dia pagi-pagi sudah ganggu aku! ada apa?" "Alah sepertinya aku memang selalu kesini!" "Itu Alona anak supir keluarga Amerta kemarin aku temui dia di jalan sendirian bawa koper lagi ya aku bawa kesini saja." "Hm....kamu Alona anak supir? mau gak jadi pacarku saja kamu terlalu chantik jadi anak supir" Alona memilih tidak menjawab dan Rama mengusir kaisar tapi dia tidak mau Alona berpamitan "Tuan Rama saya permisi trimakasih atas tumpangganya kemarin" "Kamu mau kemana!" Rama menghalangi Alona pergi. "Saya harus kesekolah hari ini" "Sudalah sama aku aja ayo kita berangkat dan 1 lagi biarkan koper itu disini tinggallah disini saja dan jangan menolak!" Rama menatap tajam Alona dan kaisar hanya tersenyum melihat mereka berdua saat ini Alona tidak perlu memikirkan hal yang lebih rumit mereka berangkat ke sekolah. "Selamat pagi pak Alfian" "pagi Alona ikut saya ke kantor ada hal yang mau saya tanyakan silahkan duduk kamu tau kenapa saya panggil?" "Tidak pak" "Jelaskan kepada saya siapa kamu kok ada siswa yang namanya sama dan dari keluarga Amerta" "Iya....pak saya alona anak pak Karim supir keluarga Amerta dan sangking ngefansnya ayah saya menamai saya dengan Nama putrinya" Kemudian Alfian tak berhenti di situ berkeliling mencari tanda di leher Alona yang tengah duduk. "Ys sudah saya faham kembali ke kelas sekarang" Alona kembali ke kelas dan mendapati Alina tengah duduk di bangku nya. "Kring...kring" Bel masuk Alona masih binggung dan dia tidak duduk. Alfian yang tau Alona tidak duduk menyuruhnya duduk di bangku guru. "Alona Karim duduk disini!" Alona hanya menuruti kata wali kelasnya itu. pukul 11,00 waktunya istirahat Alona pergi keatas gedung untuk mencari angin. "Apa yang kamu lakukan disini! "Oh..pak Alfian! saya hanya ingin makan disini pak sepertinya cuaca sedang mendung" mencari alasan. Alfian duduk di sebelah Alona dan Alona menyodorkan makanan dikotak makannya. "Silahkan pak kalau mau maaf hanya roti keju" "Tidak buat kamu saja" Alfian tersenyum matanya membuat Alona tertarik kepada guru bahasa Inggrisnya itu. "Pak Alfian sudah berkeluarga?" "Belum!" "Oo" "Kenapa emangnya?" "Ya tidak apa-apa pak cuma tanya saja" "Pak....sepertinya jam istirahat hampir selesai! Tiba-tiba Alona terburu-buru dan menyeret tangan Alfian saat di tangga turun Alona hampir terjatuh lantas Alfian dengan sigap memeluknya dan memutar badan Alona dan tidak sengaja bibir mereka berargumen. "UM...aps" Alfian buka melepaskan ciuman yang tak sengaja itu malah melanjutkan lebih dalam. Alona yang terbawa suasana tak menyadari perbuatanya salah malah membiarkan Alfian menciumnya. "argh..." Alona tersadar tindakannya salah dan mengigit ujung bibir Alfian dan berlari meninggalkannya. "Hm....Alona" Alfian tersenyum penuh arti. Alona yang kembali ke kelas mendapati bangku di belakang kosong dia duduk di sana selama pelajaran berlangsung Alona memikirkan apa yang terjadi di atas tadi dia menutupi mulutnya sesekali tersenyum geli jam pelajaran selesai Alona dan Alina saling bertatap muka. "Dengar ya Alona gue akan tetep ngerebut tahta yang elo punya!" "aku tidak butuh tahta itu ambil saja!" Alona hendak pergi tapi ada Rama mendekat dan menggeser Alina dengan keras lantas memegang tangan Alona. "Tuan Rama please lepaskan saya" "Tentu tapi jawab dulu pertanyaanku tadi pas istirahat kamu kemana?" "Saya..." belum sempat penjawab ada pak Karim datang. "Ehem Alona pulanglah dengan ayah jangan pergi-pergi" kata pak Karim. "maaf ayah Alona sudah sangat tidak tahan tinggal di istana" "kalau begitu tinggallah di rumah nak" pak Karim dan Alona sudah terbiasa melakukan dialog pura-pura. "Maaf tuan Rama terimakasih atas tumpangannya semalam" Alona berpamitan Rama merasa kecewa karena belum dekat dengan Alona. "Pak Karim saya benar-benar tidak mau kembali ke istana pak!" "iya nona ini kunci apartemen yang baru di pesan mohon jangan menolak tuan begitu kuatir dengan nona jangan kabur darinya nona kasihan tuan!" Alona hanya tersenyum kecut. Alona terpaksa menerima tawaran pak Karim koper yang tadinya di apartemen Rama pun sudah di ambil karena kaisar memberitahu ayah Rama dan dia sangat marah Rama saat ini tidak boleh dekati anak supir yang beda kasta. "Oh...tuhan lelah sekali pintu ini kok gak terkunci? ya sudahlah biarkan saja" Alona salah masuk kekamar Alfian guru bahasa Inggrisnya itu. Alona membaringkan tubuhnya di atas ranjang tiba-tiba Alfian keluar dari kamar mandi "Ceklek kamu Alona!" "Aaaa! astaga! kenapa pak Alfian masuk kamar saya hah!" Alona emosi dan melempar Alfian dengan bantal,guling,selimut Alfian yang melihat Alona ngamuk mencoba memeluknya dan menjelaskan ini kamar siapa "Alona stop!" "Buk" Alona terbaring di ranjang. "Dengarkan saya kamar ini nomor 102 dan saya tinggal disini sudah 5th mana mungkin saya lupa dengan nomor kamar saya!" Alfian menatap tajam dan Alona melihat luka di mulut Alfian nafas tersengal-sengal. "Um... saya minta maaf pak dan sudah membuat luka itu" Alona malu lantas kabur dari kamar Alfian tapi Alfian mengejarnya Alona terus menoleh mencari ternyata nomor kamarnya di sebelah kiri kamar Alfian. "Gimana! sudah ketemu?" "Hm Alona cengingisan. "Iya pak ini" lantas Alona malu dan segera mungkin masuk dan menutup pintunya "huft... hah...hampir gila aku ketemu dia AAAH...sadar Alona!" Alona menepuk pipinya. Alona begitu mengingat ciuman pertamanya adalah Alfian gurunya dia tak habis pikir perasaan apa yang ada dalam dirinya hingga dia menikmati ciuman tadi. "Ting tong Ting tong" "siapa ya?" "saya!" "hah...pak Alfian" Alona mengigit jari dan mondar mandir di pintu. "Alona....! please open the door !" Alona menyerah dan mengintip di balik pintu... "Saya sudah minta maaf pak Alfian tolong jangan di perpanjang Hum..." "Kamu itu apa sih... ini makanan diantar ke tempatku mungkin sebelum ke atas kamu pesan makanan ya?" "Oh iya pak saya lupa" Silahkan masuk sebagai permintaan maaf saya mari kita makan saja" Alona menyiapakan makanan Alfian duduk di meja makan memperhatikan Alona yang grogi. "Alona apa perlu aku bantu?" "enggak....ini sudah ada piringnya pak ketemu lantas mereka makan. Selesai makan Alona membersihkan piring kotor Alfian melihatnya dan berfikir tidak mungkin seorang tuan putri bisa melakukan pekerjaan pelayan. "Pak Alfian silahkan duduk di sofa" Alona mengambil dan membuka kotak p3k. "Saya obati lukanya ya pak maaf kalau sakit" Alfian memandangnya penuh Alona grogi takut dan menunduk tiba-tiba Alfian memegang tangan Alona. "Siapa cinta pertamamu? dan siapa ciuman pertamamu!" "Ci...cinta pertama? ciuman pertama!"Alona gemetar "Saya belum mencintai siapapun dan ciuman pertama saya adalah.....Ups" Alona menutup mulutnya tersipu malu. "Aku! Alfian melebarkan senyumnya "Enggak kok pak"um.... Alfian dengan sigap mencium alona lagi dan lagi. "Ah...hentikan pak!" saya tidak mau semakin berlarut akanenjadi Boomerang nanti bapak adalah guru saya tidak pantas guru dan murid menjalin hubungan" "Siapa yang bilang cinta tidak perlu memandang kasta Alona.... walaupun aku orang seperti apapun tapi masalah cinta aku sendiri yang menentukan"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD