Disappear

2677 Words
Bab 7 Disappear ***  Pagi hari. Setelah menjenguk Selly kemarin. Hari ini Yoga tidak bisa diam. Entah Ada yang salah dipikiran nya. Semua hal menjadi wajah Selly. Ia masih mengutuk dirinya kenapa Selly tidak seperti gadis lain yang mencoba didekati Yoga popular dengan tampangnya yang maskulin. kaya raya, jago basket. Genk nya sudah tidak bisa mendekati Yoga saat ini. Ia selalu uring uringan dan tidak mau kumpul seperti biasanya. Biasanya mereka diam dibawah pohon melihat rok mini adik kelas yang mencoba menggodanya atau sekedar bully anak lemah dan katro seperti biasanya, atau mereka diam dan bermain basket dan menikmati petikan gitar si Andi, nyanyi bersama. Kali ini Yoga masih berdiri dikoridor depan kelas. Keluar dari kelas karena guru yang tugas sedang sakit dan hanya memberi tugas. Setengah jam yoga masih diluar jam pelajaran, tiba-tiba ia teriak kesal dan membanting ponsel yang sedang ada ditangannya, membuka kedua headset nya lalu, berlari bagai orang kesetanan, ia pergi ke arah parkiran , menstarter motor nya lalu, melarikan motor nya bagai rider dimoto GP. Tito, Andi, jerry, mereka hanya melongo liat bos besarnya naeh banget, biasanya kalopun ia memiliki masalah dengan kedua orang tuanya pun ia tak pernah serisih ini, paling - paling nanti yoga akan minta bolos kelas cuman mau minta ditemenin main bilyard. Mereka saling bertatapan, bergidik, tak ada yang tahu apapun kali ini. Mereka saling tatap dan berusaha menghubungi ponsel Yoga. Tapi tidak aktif. " Eh ni hp nya yoga, ancur..nih!" Selvy memberikan ketangan jerry sambil liat wajah jerry yang ikutan senyum. " lu nelpon siapa, tuh hp nya.." " pantes gak diangkat."garuk tito. " Bos lu, lagi aneh belakangan ini. Apa ia suka sama selly, ya...." Selvy penasaran ia menatap ke wajah jerry lagi. " Udah lo terima belom? Mia." Selvy mencoba basa basi merayu Jerry yang sudah lama menyukainya. " Mia, bukan tipe gue." Selvy senyum, kearahnya mereka saling menggoda dalam tatapan. " Kira – kira Yoga kemana ya? Apa ia lagi ada masalah keluarganya kali." Jelas andi, lalu kembali memetik Gitar. Kali ini dengan lantunan lagu kerispatih. Jerry, Tito, mereka menggeleng. ___________ Ngrengggggg Yoga mengendarai motornya bagai kesetanan. Membelah jalanan menjadi dua, memotong arah perjalanan , melewati mobil-mobil yang berada tepat didepan nya. dipikiran nya kali ini hanya tertuju pada satu tempat, sebuah pavilliun di rumah sakit. ruang anggrek tempat selly dirawat. Ada rindu dalam meskipun baru beberapa hari selly di sekolah, ia rindu mata dingin itu. Yoga berjalan berhati-hati setelah ia keluar dari lift, ia memastikan ritme jantunnya supaya tak terlalu berdetak kencang, dan berusaha menenangkan ritme jantung, berulang ulang ia menarik nafas berkali-kali, lalu mengeluarkan nafas panjangnya dari mulut. Fuuuhhhhhh Langkah kaknya terhenti begitu melihat pintu kamar anggrek yang sedikit terbuka, sebuah ruangan VIP. Dimana Selly menginap beberapa hari ini. Ia masih berdiri diujung pintu, mengintip melihat seseorang yang berbaring. Telah tertidur dengan perban menutupi kepalanya. Ia memegangi d**a nya yang masih dag - dig- dug, ada soda api yang mulai melonjak lonjak di seluruh darahnya. " gila, nih gue.."desisnya sendiri memukul dadanya yang masih berdegub kencang. " Sell.." Jantungnya berhenti sedetik, ia menahan nafasnya. masih memandangi selly dengan gips dibahunya. Yoga menyembunyikan kepalanya. Supaya tak terlihat Selly yang mulai membuka mata, mendengar decitan pintu kamar yang sedikit terbuka, tapi kembali ia menutup lagi matanya dan berusaha tidur , menahan rasa sakit yang membuat kepalanya nyut-nyut an. Suara langkah kaki dengan high heel begitu nyaring. Tak..., tikk..., tukkk... heels itu membuat yoga melirik kearah samping melihat seorang ibu- ibu dengan tas mahal ditangan nya dengan rambut blow yang rapi dan wangi, aroma parfum nya jelas tercium mahal, seperti milik ibu Yoga yang sudah pulang dari paris, dan menyemburkan aroma wangi yang sama. Yoga senyum dan menghidarinya. pura - pura gak jadi masuk. " siang.." sapanya. Wanita itu melewati Yoga didepan pintu lalu diam melirik anak sekolah yang sedang berdiri didepan pintu, diam memaku tanpa masuk kedalam ruangan. Sedetik diam lalu hanya memandang Yoga dengan sebelah matanya, lalu masuk kedalam ruangan. " Hei, putri!!! bangun, mamah sudah bilang sama kamu, hati-hati kalau mencari barang !!! coba kalau kamu ngak cari barang sampah itu, mungkin hari ini kamu masuk sekolah seperti anak didepan itu." Teriak mama Novi kecut. "Siapa? gak ada siapa-siapa?" jelas selly melihat pintu masih terbuka, tak ada sosok temannya atau selvy. Bahkan tak ada bayangan siapapun kecuali mama nya datang dengan membanting tubuh nya di sofa. Mamah Novi duduk diatas sofa, melihat selly berusaha bangun dan membuka infusan yang dari kemarin menusuk lengan nya sakit. Selly meringis, mencabut infuse yang menempel dilengan nya, dan meneteskan darah ke lantai, ia menekan dengan tissue. " ikshhh.." Membuat mamah nya meloncat menghampiri dirinya yang berusaha berdiri . "s****n_anak tak tau diri, mau kamu apa sih..., Sell." bentak Novi mendorong keras tubuh Selly ke tempat tidur dan membuatnya jatuh diatasnya. Selly meringis bahunya terbentur tepian bed , hingga ia terus memeganginya. Matanya masih menatap tajam melirik wajah mamah Novi, menyemburkan penuh amarah dan kebencian. "Aku mau, pulang." teriak setengah melotot, masih dengan Novi menahan Selly bangun dari tempat tidur. " Aku, mau pergi ..., jauh dari mama yang selalu bersandiwara. apa mama belum tau, kepergian papa ke Kuwait karena mama berselingkuh dengan om Tino!! Papa ..., tau kelakuan, mama." Plak. Satu Tamparan keras mendarat lagi dipipi Selly, kali ini berhasil membuat Selly tertawa bukan lagi menangis. "Dasar anak s****n!!!! Kamu tau mama melakukan ini demi kehidupan kamu_!!!! Teriak Novi dengan melotot dan tak kuasa menahan amarah nya. Selly mendengus. " Buat, aku. atau nafsu mama..., jadi benar??!!" Tanya Selly melihat raut wajah Novi yang merah. Memastikan ucapan papanya dulu adalah benar. Padahal sampai hari ini Selly tak percaya mamanya tega mengkhianati cinta papanya. Selly mendorong tubuh Novi. Novi Diam. Ia menatap Putrinya kesal. "Lepaskannn!!!! Teriak selly. " Hegh, udah cukup, ma!!! om Firman orang baik sama kita! Semua kebutuhan kita dicukupi, apa mama masih merasa kurang ??? sekarang siapa lagi, maaaa_???" Teriak selly kesal, dengan tangisan yang membanjiri seluruh pipinya yang lembut. "Jaga ucapan kamu!!! Mama tak pernah main lagi dengan orang lain !!" "Oh_jadi hati-hati saja, kalau mata Selly melihat mama dengan orang botak itu!! Selly gak akan biarain mama nyakitin , om Firman, ma...., selly sayang dia karena ia baik sama selly tulus." Ancam Selly. Plak. Kembali Tamparan mendarat dipipi Selly. "Selly_!!!" Tangannya kembali hampir melayang dipipi Selly. "Semua yang mama lakukan demi kamu, Keisha, tempo hari sibotak berbisnis, mama menyanggupi. Tapi nyatanya si botak itu malah merayu mama, mama manfaatin dia supaya mau ngucurin dana nya buat bisnis mama!! Apa mama salah? hakh_??" Mata Selly masih tajam melihat Novi, ia langsung membereskan bajunya yang dibawa bi nur kemarin untuk ganti, selly berganti baju, lalu keluar dari ruangan meninggalkan mama nya dengan kesal. Tapi masih disambar novi dan ditahan. " mau kemana sih, anak bodoh."tahannya. Bukkk... Selly di lemparkan kembali keatas sofa. Membuat Selly membali meringis sakit, kembali ia memegangi bahu nya, menahan rasa sakit , yang mengenai bahu dan hati selly . Ia meneteskan air matanya pelan. Prayoga masih menatap kejadian itu setengah jam lalu, ia memegangi d**a nya dan menahan keinginannya masuk dan membawa lari Selly dari ruangan, tapi masih ia tahan, masih penasaran dengan kejadian selanjutnya, "Selly..., gak butuh uang, ma..." Matanya masih melemparkan pertanyaan yang jelas dan mutlak. " Selly, butuh mama buat merubah semua!! Hidup seperti biasa, ma ..." Novi mendengus, dan sedikit tersenyum samar. " Ck.. Ck.. Selly...selly... apa selama ini kamu tak membutuhkan uang? sekolah mu, semua kebutuhan mu, motor mu, hobby mu..., apa semua itu gratis, apa kamu bisa menghasilkan uang yang banyak. Haakhh..." teriaknya. " Selly ngak pernah MINTA MAU HIDUP MEWAH." "kita mengemis pada keluarga papa mu dulu, meminta belas kasihan untuk sekolah mu!! Mengemis minta bantuan untuk kebutuhan kita, hanya dengan uang pensiun yang kecil, apa cukup! buat kebutuhan kita kelak, hakhhhhhh!!!" Novi mengambil nafasnya panjang, "Apa kamu mau..., jadi gembel seperti dulu. Hidup dirumah asrama yang kecil, dengan uang yang selalu telat. Ditagih kebutuhan, sana sini mengandalkan papa mu yang hanya mengabdi pada negara, tenaganya tak dihargai lalu mati menuju medan perang. begitu mau, mu? masih mau mengemis pada Bu'de Rahmi dan pak de mu si Arman!" Selly mengangguk mengerti apa yang dikatakan Novi kali ini, ia tak banyak lagi bersuara dan mengambil tas ransel miliknya, menggendong dengan tangan yang masih nyeri dan darah yang masih menetes dari pembuluh darah nya. "Baiklah..., Selly pergi, Selly akan cari uang sendiri !!" Novi tak berhasil menahan Selly, beberapa kali selly meronta dan melepaskan genggaman tangan mamanya. Yoga yang dari setengah jam lalu, menonton kejadian itu tiba-tiba masuk menarik tangan selly dan menyeretnya keluar lalu berlari. Selly masih bingung siapa lelaki dengan seragam sekolah itu masuk dan membawa dirinya lari menuju parkiran dan berhasil dikejar oleh security, Selly mengikuti langkah lelaki itu dan dituruni nya anak tangga menuju lantai dasar, berusaha bicara namun saat melihat kebelakang mereka masih tengah dikejar oleh security dan mama nya. Mereka hanya taunya melarikan diri dan berlari saja. Lengan Yoga masih erat memegangi Selly lalu mengambil motornya, meronggoh kunci motor yang disimpan disaku celana mencoba menghidupkan motor nya kilat, selly memperhatikan punggung itu dan menepuk nya lalu loncat naik keatas motor Yoga yang belum berhasil di starter. " cepetan kita masih dikejar.." Motor nya berhasil nyala, dan langsung menerobos palang pintu, mata Selly terpejam saat gas motor itu di full kan lalu melewati palang dengan body motor yang sedikit penyok. Dan spion nya pecah. " Brakkk..kkk..prangggg..." Selly masih diam, dan melirik kebelakang, sekuriti itu menunjuk mereka yang sudah pergi jauh, meninggalkan pavilliun rumah sakit. Selly memandangi punggung Yoga. Ia sadar lelaki yang membawa nya lari ialah Yoga. Entah apa yang difikir Selly ia hanya diam dan berusaha menjauh dari rumah sakit, tak berpikir tujuan nya pergi kemana. Hingga Yoga membawa nya kesuatu tempat jauh dari rumah sakit dan menuju villa miliknya di puncak, arah puncak pas . Selly memeluknya erat, ia masih memajamkan matanya diseparuh perjalanan. Yoga tersenyum melihat selly memeluknya erat. Pukk..pu..k Selly menepuk keras punggung Yoga, hingga membuatnya melirik dan menepi, menghentikan laju motornya ditengah jalan. Menepi dipinggiran kebun teh yang luas dan udara yang membuat dirinya membeku tanpa jaket. "kita,mau kemana?" Tanya Selly bingung. Yoga membuka helm nya dan menggeleng dengan mata yang tak pasti. "Turun..., gue mau turun." Ucap Selly " Ishhhhhhh..."Selly meringis ketika berusaha turun dari motor memindahkan ransel miliknya kebahu kanannya. Menahan rasa sakit yang kembali menyerang. "Ini dimana??" Tanya selly. "Puncak. disana ada villa milik, saya ..." Tunjuk yoga pada sebuah g**g di sekitar kebun teh. Selly menatap wajah yoga. ia berfikir perkataan yoga kali ini sopan dengan kata 'saya'. Selly duduk di tepian benteng yang menghadap kebun teh yang menghampar hijau dan indah seperti permadani, ia menghela nafas panjang, meski matanya masih terlihat bengkak. Melihat matahari yang mulai menguning ke emasan. Yoga membawakan minuman hangat, segelas teh manis dan sekoteng ditangan nya . Ia meletakan di tepian Selly tanpa memaksa nya untuk meminum. Selly hanya meliriknya, tanpa memegang gelas itu, Yoga masih bingung apa yang harus ia katakan. Ia hanya terfikir memandangi wajah Selly, yang berusaha tenang, menghilangkan penatnya dengan tak berkedip melihat hamparan permadani. Menatap jauh kesekitar kebun teh yang hijau. Beberapa menit suasana menjadi hening, hanya suara kendaraan yang berlalu lalang , Menjadi melodi di tengah keheningan mereka. melantun sendiri. Selly bangkit dan berusaha berlari dari hadapan Yoga, Yoga menghalanginya . Selly hanya diam berusaha tak menatap mata Yoga lagi. "Terima kasih..., aku harus pergi!!" pamit selly. "Pergi kemana? Sell..." Selly membuang nafas, ia juga tak tentu akan pergi kemana, ia masih menunduk dan kembali duduk ditepian benteng lalu meneguk teh manis yang sudah dingin. Yoga melihatnya dan hanya senyum. Si gadis ini gadis langka yang membuat dirinya serba salah, kadang sikapnya dingin lalu berubah menjadi gadis baik. "Disini ...,terlalu bahaya. Apalagi seusia kamu!! Kamu bisa saja saya jual dikampung Arab dekat sini." Suara Yoga yang menyembur keluar berhasil menarik perhatian Selly yang membuat matanya meloncat kaget. Mata Selly membelak. Lalu kembali Yoga terkekeh dan senyum. "Tenang ajah ..., saya bukan orang seperti itu, kok!! Saya gak ada niat untuk jual kamu? paling kamu gak akan laku disini. Om-om disini suka sama gadis cantik, bohai, juga ramah, bukan tipe gadis seperti kamu" Jelas Yoga berusaha menahan tawanya. Selly menghindar, bangkit dan maju kearah jalan raya berusaha menyetop bis yang menuju arah Bogor-Bandung. Sekali bis itu tak mau berhenti karena Selly berdiri di belokan arah puncak yang membuat bis akan susah untuk berhenti, Selly berjalan menuju jalanan ditepian jalan raya meninggalkan Yoga dan motornya meski yoga dari belakang mengikuti langkah Selly tanpa memperdulikan motor nya yang ditinggal di tepi jalan. Selly berjalan tegas dengan sedikit tertatih, masih menahan rasa sakit menyerang nya kembali di bahu nya dan kepalanya yang sobek. "Sell ..., selly..., saya tau tempat buat kamu melarikan diri sell ..." Teriak Yoga dari belakang yang masih membuat dirinya tak menghentikan langkah Selly. Yoga mengambil sebuah bunga lily dari toko bunga di jalan dan berhasil ia beli tanpa tawar dengan uang 50 ribu yang ia lempar, Yoga menyusul Selly dan menarik tangan selly. Melihat air mata selly tumpah lagi dipipinya, tapi tak berani Yoga menyeka airmata. " Kamu mau saya antar kemana?" tanya Yoga. Selly diam. Ia masih berfikir kalau ia kabur akan membuatnya dicemaskan oleh seluruh keluarganya. " Antarkan gue, kerumah nenek, dibandung. Atau ke TPU Jakarta." Jawab Selly tegas. " Kalau elo ngak mau, tolong biarin gue pergi sendiri." " Oke, kalau itu yang buat elo bahagia. Gue antar! Tapi dengan satu syarat elo ngak boleh kabur dan balik kerumah elo. Gue pastiin elo nyampe lagi dirumah, elo." *** Selly mengangguk, tapikali ini ia tak membawa Selly kebandung. Yoga menuruti Selly untuk pergi ke TPU. Motor masih melaju dengan kondisi stabil. Selly masih memegang tepian motor tapi Yoga menarik lengannya supaya ia mau memeluk tubuh Yoga karena nanti akan bahaya jika ia mengebut kencang. " Pegangan ajah. Anggap ajah gue tembok." teriak Yoga dibalik helm nya. Selly mendekapnya dengan ragu-ragu, tapi Yoga kembali meyakinkan dengan menarik lengan selly kembali. Selly menahan nafasnya beberapa detik. Lalu mengiyakan apa yang yoga ucapkan dengan berani memeluk tubuh yoga. Sudah hampir satu jam melalui kp. Rambutan lalu menembus ke Jakarta kota menuju TPU Jeruk purut jakarta. Tempat shooting film horror waktu itu. Selly masih ragu. Yoga menatapnya. " Kenapa, kita sudah sampai." Selly masih ragu-ragu untuk melangkahkan kaki kedalam. " Apa kamu takut?" tanya yoga kembali. Selly menggeleng . " Ayo. Ikuti gue." Ucap Selly. Ia berjalan tegas melangkahkan kakinya masuk kedalam pemakaman umum yang sudah sepi dan hampir magrib. Suasana begitu mencekam dan dingin , beberapa kali Yoga merinding merasakan bulu kunduknya berdiri. Ia tahu kalau pemakaman umum ini terkenal angker. Tapi ia memberanikan diri menemeni Selly. Walaupun waktu belum begitu sore tapi suasana didalam pemakaman sudah hampir seperti maghrib. Selly diam ketika ia tiba di nisan yang bertuliskan nama Dhio pratama. Yoga menatap selly penuh dengan kesedihan. Dan menitikan beberapa air mata halus yang mengalir dipipinya. Ia hanya meraba batu nisan itu dan membaca doa dalam hatinya. "yog, kita pulang." Yoga mengantarkan Selly kembali kerumahnya, selama perjalanan ia memikirkan nisan yang bertuliskan nama Dhio, yoga melihat tanggal lahirnya bukan nisan ayah selly. ia juga ngak berani buat nanya sama selly. " Kuburan siapa itu?" hanya dalam hatinya saja. dua jam sudah perjalanan jakarta bogor lewat jalan kp rambutan, ia berjalan tak seperti biasanya, karena selly masih belum pulih dari sakitnya, ia membawa motor dengan hati - hati sekali. Istirahat sebentar untuk makan malam, karena selly belum makan apapun. Ia membawanya makan di restoran tapi selly menolaknya, akhirnya ia berhenti dijalanan makan ditempat pecel ayam. Selly mengangguk dan makan sedikit - sedikit, ia masih sering meringis bahunya. *** Teetttt..teetttt..tettttt... Ia memencet bel beberapa kali. Selly masih berada dibelakang punggung yoga. " Bu, Non selly pulang.." teriak bi Nur. Langsung dibukanya gerbang rumahnya. Selly yang langsung memeluknya. Bi Nur memboyong Selly kedalam rumah. " bi.." " Neng selly, hampir saja ibu, non. Mau lapor polisi." Yoga berpamitan tapi tak digubris oleh Selly atau ucapan terima kasih dari Selly, Ia hanya mendapatkan angin kosong untuk perjalananya hari ini. Ia hanya senyum sendiri menuju kediaman rumahnya. Ingat hari ini Selly mencoba ramah dan mau memeluknya dimotor, Itu saja sudah membuatnya bahagia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD