Bab.8
Menghilang bagai angin
***
Sudah hampir satu minggu lebih selly menghilang. Sekolah Masih tetap sama dan tidak terpengaruh dengan kepergian selly. Suasana kelas masih ramai dengan geng yoga masih membuat ulah lebih nakal kali ini. Guru baru dibuat nempel dikursinya karena ulah si kriting tito yang iseng nempelin lem tikus dibangku guru di lem lagi dibawahnya.
Guru itu marah lalu kembali yoga memasang badan menghadap guru kimia. Menantangnya.
Plakkk..
Lalu Guru Baru itu menampar yoga, dan hari Itu juga guru itu dikeluarkan dari sekolah. Pak Setiawan hanya pasrah mendengar keputusan sepihak dari kepsek.
Ulahnya Semakin keterlaluan.
Teettttttt..teetttt..tettt
jam istirahat dimulai.
Yoga main basket dengan genk nya melepas rasa kesalnya, ia sudah seminggu tidak dapat kabar dari selly. beberapa kali ia menjatuhkan lawan mainnya, dengan curang, ia menyikut, body, dan mendorong lawan. permainan kali ini sangatlah curang. tapi tak ada yang mau melawannya.
Seseorang menghampirinya, hingga ia menghentikan gerakan shootingnya, ia hanya mendribel bola saja. nafasnya masih terengah - engah. ia mencoba mengaturnya dan senyum.
Plak..
satu tamparan mendarat di pipi yoga, ia bingung.
Plak..
satu tamparan lagi kembali mendarat dipipi yoga, semua orang melihatnya.
" apa salah saya tante?"
" karena kamu, selly kabur. kamu kan yang bawa lari lagi selly.."
Yoga Diam tak bicara dan Mencoba menjelaskan. Pertama kalinya Yoga meminta maaf atas kesalahannya.
" Maaf, saya salah. Saya akan membawa Selly kembali." Ucap Yoga meminta maaf. Wajahnya merah menahan amarah. " tapi jujur tante, malam itu. securiti juga tau saya membawa selly pulang kerumah."
" Selly bilang kalau ia mau ketemu kamu diluar, kamu tau selly ngak bawa apapun." teriaknya. " Bawa kembali anak saya, Saya ngak peduli kamu anak pemilik sekolah ini atau kamu anak presiden sekalipun. Kamu yang membawanya lari. Jangan sampai saya kembali melaporkan kasus ini dengan kamu menjadi tersangka. menyembunyikan anak saya."
" Maaf tante, sungguh. Malam itu saya mengantar selly kembali kerumah tante, dan pembantu serta sekuriti juga tahu bahwa saya bawa kembali selly pulang."
" Lalu dimana kamu sembunyikan. Selly. Pasti ia menghubungimu, memberi tahu kemana ia pergi." Ucapnya kesal dan masih melotot.
" Jujur aku ngak tau dimana dia, bahkan saya bukan teman atau siapa - siapa bagi dia."
" Tempo hari kamu bawa dia dari rumah sakit. itu sudah cukup jelas."
Yoga masih Diam menahan rasa amarahnya. Karena malam itu memang betul ia yang mengantarkan Selly kembali kerumahnya. bahkan Selly tidak berucap terima kasih sedikitpun.
" Cari dia! Saya mau Selly kembali." Ancam Mama selly, ia langsung balik kanan dan memakai kembali kacamata hitam miliknya dan kembali ke parkiran..
.
Yoga masih Diam mematung. Ia masih menahan sesak dan kesalnya.
" Argrghhhhhhh..." Lemparnya. Ia melemparkan ponsel miliknya kesal karena kali ini ia tidak berbuat salah. Malam itu ia benar- benar mengantarkannya. Tapi pihak keluarga Selly tidak percaya.
Semua Orang memandangi Kejadian itu dan hanya menjadi bisik – bisik pedas yang mengejutkan seluruh sekolah. Guru – guru hampir bertepuk tangan. Soalnya tidak ada yang pernah berani menampar dan membuat yoga meminta maaf atas semua salahnya.
Andi, Jerry, Tito masih memandangi Yoga.
Mereka menyeret yoga pergi kearah laboratorium. Duduk di ruangan dan menghancurkan semua tabung kimia.
Prangggg..
" s**l, sial.. kenapa lo kabur sih sell.."
Labu dan tabung tabung itu berserakan, sebagian ada yang pecah sebagian hanya berceceran dimana mana.
" Bos.. ada apa, kenapa tante itu..." tanya Andi. " gue, ngak nyangka dia..." abis ditampar beberapa kali.
Yoga Diam menatap kedalam mata teman-temanya. Ia mendengus kesal.
"Harusnya waktu itu gue gak biarin si selly masuk rumah ditemani pembokatnya, harusnya gue seret dia depan ibunya. Kalau gue gak gituh mungkin ajah hari ini dia sekolah!!!." teriak Yoga kesal.
Semua diam memandangi raut wajah penyesalannya. Mereka semua mencoba membuat Yoga tenang dengan menepuk bahunya dan memeluk Yoga.
Tapi ia menghindar.
Ia malah menjatuhkan tubuhnya dilantai. Memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya. Ia frustasi.
" Bos kita cari selly. Lacak hp nya, bos.."
Yoga menaikan wajahnya. Ia baru ingat ponsel yang diberikan kepada Selly. Yoga mengecup kening Tito dan bersyukur. Lalu di tepuk tepuk kembali pipi si Andi gorilla yang pipinya tembem kayak bakpo.
" Ck.Ck.. otak kalian main ternyata. Gak percuma gue punya kalian disini." Yoga bangkit dan senyum kembali. Melangkahkan lagi kaki nya menuju pintu keluar lab.
"Bos... elo bener suka sama si Selly. Gue liat di seminggu ini elo ngaco. Maaf gue perhatiin tubuh elo disini tapi pikiran elo dimana-,mana." Ucap Jerry.
Sambil menghalangi Yoga yang mau keluar dari pintu.
"Suka! gue, suka cewek itu. Gak mungkinlah..., gue ngerasa bersalah kalo gue yang bantu dia lari dari rumah sakit. Gue baru tau kalo nyokapnya suka nyiksa anak sendiri. Nyokapnya gak pernah merhatiin Selly. Waktu itu Selly emang mau kabur tapi gue yang halangi dan bawa dia ke TPU jeruk purut. Tadinya ia minta ke Bandung." Jelas Yoga.
" Bandung." tanya jerry heran.
Yoga diam sejenak, ia masih memikirkan kata bandung.
" Ampun deh, kenapa ngak kepikiran bandung. Ya, waktu itu Selly minta dianter ke Bandung, katanya itu rumah neneknya. Coba kita cari tahu." Ucap Yoga dengan sedikit Briliant. Mengingat kota Bandung sebelum Selly kabur lagi.
" Lo belum jawab pertanyaan kita, Bener nih, elo... suka Selly." tanya Tito kembali.
" Iya."jawabnya singkat." emang kenapa? apa gue harus ijin dulu kalo suka sama orang."
" Wah..., ini lebih gila lagi. Beneran bos gue udah kepincut tuh cewek s***s. Kapan terakhir dia jenguk kita, dirumah sakit? elo ingatkan, kita sakit meriang dirumah beberapa hari ajah ngak kerumah paling nelpon doang, kerumah juga maksa keluar ngajak bilyard. atau elo ngajak makan. Jangankan kita. Nyokapnya sakit ajah dia masih main bilyard sama kita. mana mau doi nungguin dirumah sakit ngak ada kegiatan, selain liatin orang tidur, nemenin orang sakit. Gila... " Ucap tito masih gak percaya apa yang barusan di denger dan keluar dari mulut yoga spontan.
Yoga mengernyit.
"Emang gue salah... jenguk si Selly disana..?" tanya Yoga pada gengnya yang masih pada cengengesan akhirnya doi bisa juga jatuh cinta kayak orang b**o. ditampar mamanya ajah ngamuk, nah ini ditampar sama orang diem bae.
Mereka menggeleng spontan. Semuanya kompak menggeleng. Dan menggendikan bahunya. Antara jawaban tidak salah dan gak taulah.
" Sial.. lo semua. Yaaaa...." sembur yoga.
Mereka kembali menghalangi.
" Tenang bos..., Soal hati biar ane yang ajarin." Ucap Jerry. "kita cari Selly sama-sama." tambah Jerry. Menepuk bahu yoga, Dan akhirnya membuat Yoga tersenyum.
Guru kimia datang mengecek semua peralatan. Dan dibuat bengong semua alat untuk praktikum berserakan dilantai semua dengan labu dan tabung-tabung. Kali ini mereka hanya nyengir dan memamerkan gigi lagi pada guru lalu semua kocar – kacir menuju lapangan basket.
***
" Yoga ..., dimana lo..., simpen Selly?"
Selvi Akhirnya datang dan menanyai Yoga yang asik main basket dengan gerombolannya memasukan bola dan shoot seketika.
Yoga membuka seragamnya dua kancing, melihatkan kaos dalam miliknya dengan topi putih yang dibalikan.
Yoga memang selalu terlihat keren dan popular. Banyak cewe yang bersedia dibawanya kemanapun. Tapi ia hanya memanfaatkannya untuk menjadi pesuruhnya saja. Dan dalam sehari itu juga ia langsung putus dan dicaci dihadapan umum.
Selvi masih diacuhkan.
Yoga masih mengoper bola, mendriblenya, lalu kembali shoot dan mengoper pada jerry.
" Yoga..., Gue tanya sama lo..., kemana selly pergi" teriak Selvi dengan oktaf tertingginya, dan akhirnya memberanikan diri untuk membuang bola basket itu dari tangan Yoga dengan menangkisnya.
Yoga Diam ia mengela nafasnya yang terengah-engah. Ia menghampiri Selvi yang menantang dirinya.
" Elo, salah tanyain Selly sama gue! Kalau gue tau udah gue jemput Selly . Gue seret dia kemari. Kalau bisa gue pasung Selly di lapangan basket!" Geramnya
"Srius..., tante Novi terus tanyain gue, desek gue dimana keberadaan Selly sekarang. Apa yang harus gue jawab." Isak Selvi.
"Srius.. Gue udah lacak keberadaan Selly dibantu para ahli Gps. Semoga aja dia nyalain hapenya sekali ajah." ucap Yoga khawatir.
Ia menyeka keringatnya dan mengelapnya kasar dengan sapu tangan yang ada di tangan Selvi
.
"Itu saputangan gue..., tauk!" ketus Selvi.
Yoga senyum kecut. Lalu kembali menatap mata Selvi . Geng dari semenit lalu udah duduk ditepian lapangan. Mengipaskan tubuhnya dengan kertas supaya keringatnya cepat kering, meminum air mineral.
geng nya sedang melihat pemandangan Yoga dan Selvi.
" Si bos tumben mau banyak ngobrol sama cewe.." tanya tito sambil menelan air minumnya.
"Itu karena Selly, kalau gak tentang Selly mana mungkin doi mau lama-lama ngobrol ditengah lapangan. Panas lagi." Ledek Andi sambil mengguyur Tito dengan air mineral supaya keribonya cepet lurus. " nih... biar keribo elo cepet lurus. Gak usah kesalon."
Wooooooo,,,
Mereka kejar - kejaran, sampe gulingan ditengah lapangan. Disorakin oleh orang orang lewat yang sedang keluar di jam pelajaran.
Yoga melihatnya dan berlari kearah kamar mandi. Lalu mengambil ember dari kamar mandi lalu mengguyur mereka yang saling guyur dengan air mineral dibotol.
Ia mengeluarkan spidol dicoret kewajah masing masing dan tertawa.
" ha..ha..ha.."
Tawa mereka lepas.
Yoga menyeret mereka keluar dari lapangan dan membawanya keparkir sekolahan. Memasukan kedua bocah tengik itu lalu keluar dari sekolah. Mereka pergi meninggalkan sekolah dan meninggalkan Jerry yang diam mematung disisi lapangan, ditemani Selvi yang menyenderkan kepalanya di bahu Jerry.
" Hmmm..., kelakuan mereka itu..ckckc.." Ucap Selvi. Ia menyanderkan kepalanya ke bahu Jerry.
Tak sadar Selvi merasa nyaman. " kok gue ditinggal, sih." Jerry yang masih aneh melihat Yoga meninggalkanya sendiri.
Drrrrrdrrrrrrr
Semenit lalu ponsel Jerry berdering. Sebuah panggilan dari Yoga.
" Siap bos, meluncur." Ucap Jerry lalu meninggalkan Selvi yang hampir jatuh karena tiba-tiba Jerry berlari kearah parkiran diluar gerbang sekolah.
"Eh..ehh... dasar elo.."
Selvi menahan jantungnya. Dan bersyukur ia tidak jatuh. Ia lupa tadi Ia tengah menyanderkan kepalanya dan separuh tubuhnya di Jerry. Ia mendengus kesal dan menghentakan kakinya ke lantai lapangan.
"ikhhh...jerry.."
Sewot ditinggalin sendirian.
***