Keesokan harinya suasana SMA Angkasa kembali ramai seperti biasa. Para siswa berjalan di koridor, beberapa berkumpul di kantin, sementara yang lain sibuk dengan tugas sekolah.
Namun bagi Alan, hari itu terasa berbeda.
Sejak pagi ia terlihat lebih gelisah dari biasanya. Berkali-kali ia melihat ke arah ruang OSIS yang berada di ujung koridor lantai dua.
Iden yang berjalan di sampingnya menyenggol bahu Alan.
"Lu kenapa sih dari tadi nengok ke sana terus?" tanya Iden.
Alan menghela napas. "Itu ruang OSIS..."
Elyas yang berada di sisi lain langsung tertawa kecil. "Wah... udah mulai deg-degan ternyata."
Alan menatap kesal ke arah Elyas. "Ya jelas lah! Ini pertama kalinya gue beneran mau deketin cewek."
"Lebay," jawab Iden santai.
Elyas kemudian menepuk bahu Alan. "Udah, jangan kebanyakan mikir. Kita tinggal masuk, daftar jadi volunteer, selesai."
"Semudah itu?" tanya Alan ragu.
"Semudah itu," jawab Elyas yakin.
Ketiganya akhirnya berjalan menuju ruang OSIS.
Saat pintu dibuka, beberapa anggota OSIS terlihat sedang sibuk dengan laptop, kertas, dan berbagai daftar kegiatan.
Di tengah ruangan itu, berdiri seseorang yang membuat langkah Alan langsung berhenti.
Gia.
Ia sedang berdiskusi dengan dua anggota OSIS lain sambil memegang beberapa lembar kertas.
Rambutnya yang panjang terikat rapi, dan wajahnya terlihat serius saat berbicara.
Alan langsung membeku di tempat.
Iden menoleh. "Kenapa berhenti?"
Alan berbisik pelan. "Itu... Gia..."
Elyas melirik ke dalam ruangan lalu tersenyum. "Oh iya."
Ia lalu mendorong punggung Alan pelan. "Ayo masuk."
Alan hampir tersandung karena dorongan itu. "Eh pelan pelan!"
Beberapa anggota OSIS menoleh ke arah mereka.
Gia juga ikut melihat ke arah pintu.
Untuk beberapa detik, mata Alan dan Gia saling bertemu.
Alan langsung salah tingkah. "Eh... anu... kami..."
Iden langsung maju menyelamatkan situasi. "Kami mau daftar volunteer buat festival sekolah."
Salah satu anggota OSIS mengangguk. "Oh iya, memang lagi dibuka."
Gia berjalan mendekat sambil membawa papan catatan. "Kalian dari kelas mana?" tanyanya.
Alan yang berada paling depan justru diam.
Elyas menyikutnya pelan. "Jawab woy."
Alan akhirnya sadar. "Oh! Kami dari XI IPA 2."
Gia menulis sesuatu di catatannya. "Nama kalian?"
"Alan."
"Iden."
"Elyas."
Gia mengangguk setelah mencatat nama mereka. "Kebetulan kami memang butuh banyak bantuan untuk persiapan festival."
Alan memberanikan diri bertanya. "Emm… kita nanti bantu apa?"
Gia berpikir sebentar. "Sementara ini bantu dekorasi dan persiapan panggung dulu."
Elyas langsung menjawab dengan semangat. "Siap!"
Gia tersenyum tipis. "Kalau begitu kalian bisa mulai sore ini setelah jam pelajaran selesai."
Alan mengangguk cepat. "Iya... siap."
Setelah itu Gia kembali ke meja kerjanya bersama anggota OSIS lainnya.
Ketiga sahabat itu keluar dari ruang OSIS.
Begitu pintu tertutup, Elyas langsung tertawa. "Lu tadi kaku banget!"
Alan menutupi wajahnya dengan tangan. "Gue gugup!"
Iden menepuk bahu Alan. "Tenang... yang penting langkah pertama udah berhasil."
Alan menoleh. "Berhasil?"
"Iya," kata Iden."Lu sekarang satu tim sama Gia."
Elyas menyeringai. "Artinya... kesempatan lu makin besar."
Alan tersenyum kecil mendengar itu.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa sedikit lebih dekat dengan Gia.
Namun Alan tidak tahu...
Bahwa kedekatannya dengan Gia justru akan menjadi awal dari masalah besar yang menunggunya di masa depan.
Masalah yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.