Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Suasana kelas XI IPA 2 mulai sepi karena sebagian siswa sudah pulang. Namun tidak dengan tiga sahabat yang masih duduk berkumpul di pojok kelas: Alan, Iden, dan Elyas.
Alan terlihat gelisah sejak tadi. Ia memutar-mutar pulpen di tangannya sambil sesekali menghela napas panjang.
"Kenapa sih muka lu kayak orang mau ujian nasional?" tanya Elyas sambil bersandar santai di kursinya.
"Bukan ujian nasional, Yas… ini lebih parah," jawab Alan.
Iden yang sedang membuka bungkus snack menoleh. "Apaan yang lebih parah dari ujian?"
Alan menatap kedua sahabatnya dengan wajah serius. "Besok gue mau mulai deketin Gia…"
Elyas langsung tertawa kecil. "Wah akhirnya! Setelah dua tahun cuma jadi pengagum rahasia."
Iden mengangguk setuju. "Iya, kita juga udah capek denger curhatan lu tiap minggu."
Alan menepuk meja kesal. "Makanya itu! Kalian katanya punya rencana. Cepet kasih tau."
Elyas dan Iden saling berpandangan seolah memberi kode. Kemudian Elyas maju sedikit mendekati Alan. "Baiklah… kita sebut ini Operasi Deketin Gia."
Alan menaikkan alisnya. "Kedengarannya gak meyakinkan."
"Diam dulu!" protes Iden. "Dengerin sampai habis."
Elyas mulai menjelaskan dengan penuh percaya diri. "Langkah pertama… lu harus punya alasan buat deket sama Gia."
"Ya jelas lah, gue suka dia," jawab Alan.
"Bukan itu maksud gue," kata Elyas sambil menggeleng.
"Lu butuh alasan yang masuk akal supaya bisa ngobrol sama dia tanpa keliatan aneh."
Iden ikut menimpali. "Nah kebetulan banget… Gia itu anggota OSIS."
Alan mengangguk. "Terus?"
"Terus minggu depan OSIS lagi nyiapin acara Festival Sekolah," lanjut Iden. "Mereka lagi nyari banyak panitia."
Mata Alan mulai berbinar. "Oh… jadi gue masuk panitia?"
Elyas menunjuk Alan seperti guru menemukan jawaban muridnya benar. "Betul sekali!"
"Tapi… gue kan bukan anak OSIS," kata Alan ragu.
Iden tersenyum licik. "Siapa bilang harus anak OSIS? Mereka selalu buka volunteer dari siswa lain."
Alan mulai memikirkan rencana itu. "Hmm… lumayan juga."
Elyas melanjutkan penjelasannya. "Langkah kedua… jangan langsung keliatan kalau lu suka sama dia."
"Hah? Kenapa?" tanya Alan bingung.
"Soalnya kalau dari awal lu keliatan ngejar, dia bisa ilfeel," jawab Elyas.
"Lu harus santai dulu. Anggap aja kalian teman."
Iden menambahkan sambil mengunyah snacknya.
"Intinya lu harus sering ketemu dia dulu."
Alan mengangguk pelan. "Masuk akal."
Elyas lalu menyeringai. "Nah… langkah ketiga ini yang paling penting."
"Apa lagi?" tanya Alan penasaran.
"Kita bikin momen." Sahut Elyas
"Momen?"
"Iya," jawab Elyas. "Momen dimana Gia mulai ngeliat lu bukan cuma anak nakal yang sering masuk BK."
Iden tertawa kecil. "Itu sih reputasi lu udah terkenal banget."
Alan mendesah. "Jadi gimana caranya?"
Elyas mengetuk meja pelan. "Gampang. Di acara festival nanti pasti banyak kerjaan. Lu harus jadi orang yang paling bisa diandalkan."
Alan menyipitkan mata. "Maksudnya gue harus jadi anak rajin?"
"Minimal kelihatan rajin," jawab Iden cepat.
Ketiganya tertawa.
Beberapa saat kemudian Alan kembali serius.
"Tapi kalau Gia tetep gak tertarik gimana?"
Elyas menyilangkan tangan. "Minimal lu udah berusaha."
Iden menambahkan dengan nada santai. "Dan kalau rencana ini gagal…"
Alan menatap mereka khawatir.
"Kita bikin rencana baru."
Alan akhirnya tersenyum. "Baiklah… gue ikut rencana kalian."
Elyas berdiri dari kursinya dengan semangat. "Bagus! Besok kita langsung daftar jadi volunteer festival."
Iden ikut berdiri. "Operasi Deketin Gia dimulai besok!"
Alan menghela napas panjang sambil tersenyum kecil.
Di dalam hatinya ia berharap satu hal.
Semoga kali ini…
Gia benar-benar mulai melihatnya.