Pagi ini di meja makan, ibu sudah menyiapkan sop ayam dan perkedel kentang untuk makan pagi. Kami memang tim makan pagi harus pakai nasi. Selain itu, ibu juga menyiapkan oseng wortel udang kecambah untuk bekalku. Kadang aku merasa malu, sudah setua ini masih dibawakan bekal sama ibu. Aku sempat menolak, tapi ibu malah sedih jadinya. Jadi ya kuturuti saja.
Aku masih memiliki waktu sekitar sepuluh menit sebelum jam berangkat kantor. Aku ingin mengobrol dengan ibu tapi perhatian ku teralihkan oleh pesan masuk di handphone.
"Biv, terimakasih atas saran kamu tadi malam. Ghulam pulang tidak lama setelah kami mengirim pesan, dia bercerita panjang bahwa malam itu, akhirnya dia resign. Dan dia harus menyelesaikan segala urusan sebelum resmi berhenti kerja. Mulai bulan depan, dia resmi berhenti kerja. Dan kami, semalam tetap makan malam bersama, berdua di luar di lesehan pinggir jalan. Aku sangat mensyukuri bercerita dengan orang yang tepat yaitu kamu, Biv. Aku tidak tahu jadinya jika aku menghadapi nya dengan emosi ketika dia datang. Besok akan kusambung ceritanya ya, Biv. Doakan kami selalu."
Demi membaca pesan Alana, tak terasa aku menitikkan air mata. Ibu yang melihat itu bertanya-tanya, kutunjukkan pesan itu, dan ibu ikut menangis. Entah kenapa, permasalah Ala ini sangat menyentuh emosi kami. Dengan perasaan yang masih mengharu biru, aku pun berangkat ke kantor.
***
"Jadi kamu bulan depan bakalan cuti lama?" Zahra berkata keras sekali, segera kubekap mulutnya karena kami sedang berada di dapur kantor untuk makan siang.
"Bisa nggak sih pelan-pelan." Kataku kesal.
"Okay, okay." Zahra cekikikan melihat ekspresi kesalku.
"Kira-kira bakalan dikasih izin nggak ya sama Pak Ruslam?" Aku masih terus memikirkan agenda bulan depan Hizi.
"Kalau sedang mood baik biasanya dikasih, kalau lagi buruk biasanya enggak." Kata Zahra sambil melahap gado-gado yang dia beli dari warung dekat kantor.
"Ehemm…" Pak Malik tiba-tiba datang dan berdehem memberikan kami pandangan yang tidak enak. Mood kami untuk mengobrol hilang seketika, kami fokus pada makanan agar segera habis dan bisa cepat pergi dari dapur.
Sepanjang siang aku berjibaku dengan skoring hasil psikotes di depan laptop, kali ini aku mendapat tugas untuk membuat insterpretasi berupa grafik dan narasi. Cukup rumit dan membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi. Aku sedang semangat hari ini, masalah Alana dan Ghulam sedikit menemukan titik terang. Paling tidak, satu masalah mereka terurai, sedikit membuat pikiranku lebih ringan.
Sepulang kantor nanti, aku ada jadwal bertemu panitia kecil untuk rapat meng-fix-kan tempat dan waktu acara bulan depan. Jadi, bisa tidak bisa, segala tugas kantor harus selesai dengan segera agar aku tidak perlu lembur.
***
Aku menyelesaikan segala tugas kantor pukul tiga lima belas, tanpa ba bi Bu langsung buru-buru tancap gas berangkat ke kantor Hizi. Aku sudah mengira, sepertinya aku akan telat, dan benar aku sampai kantor Hizi pukul setengah empat lebih lima padahal kami rapat pukul setengah empat.
Aku benar-benar tidak enak dengan rekan-rekanku, terutama tentu saja Kaizan, tapi mereka memaklumi yang memiliki double job sendiri diantara mereka. Semua rekanku sudah paham, bagaimana asal muasal aku bisa bergabung bersama mereka. Pak Wayan yang meminta, dan aku tidak masuk melalui jalur seleksi. Jadi mau bagaimanapun mereka segan padaku, tapi aku tetap tidak enak juga diperlakukan seperti itu.
"Bagaimana, Biv. Apakah sudah menemukan titik lokasi yang sesuai dengan agenda kita?" Kata Kaizan begitu aku duduk. Aku tahu, dia tidak mungkin berbasa-basi, terumata ketika rapat sudah dimulai.
"Aku menemukan beberapa rekomendasi, aku akan mempresentasikannya di depan kalian sebagai bahan diskusi, setiap tempat memiliki kurang dan lebihnya masih-masing."
"Bagus, presentasikan sekarang."
Aku meminta Rindani untuk menghubungkan laptopku dengan layar proyektor.
"Aku memilih desa tertinggal, terpencil, beberapa diantara memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, dan menjadi sasaran pembangunan pemerintah." Kataku sambil menyiapkan file yang akan dipresentasikan. Aku semalam lembur membuat ini setelah berurusan dengan Alana.
"Semua tempat memiliki pertimbangan, diantaranya akses menuju kesana, instansi daerah terkait yang akan kita ajak untuk kerjasama, lembaga lain yang pernah menjadikan daerah tersebut sebagai lokasi acara."
Semua menyimakku dengan penuh perhatian. Aku merasa semangatku meletup dalam kondisi seperti ini. Aku lama tidak menemukan lingkungan yang sangat mendukungku untuk bertumbuh seperti di Hizi ini.
"Yaitu desa ini rata-rata terletak di Kabupaten Kulonprogo dan gunungkidul. Jujur, aku belum pernah ke sana. Aku hanya memperoleh semua informasi ini dari website daerah setempat yang terpercaya. Kita bisa survey dulu untuk memastikan semuanya."
"Terimakasih, Biv. Okay, kita buka diskusi, mana menurut teman-teman tiga terbaik dari lokasi yang disarankan Bivi yang perlu kita survey untuk kita cari yang terbaik dan paling tepat sebagai tempat acara. Atau jika ada yang ingin menyampaikan usulan tempat lain selama masih di Yogyakarta dipersilakan."
Diskusi kaki terus berjalan hingga selesai pukul lima. Rapat kecil tidak pernah berlangsung lama. Paling lama dua jam. Kaizan pernah mengatakan, rapat jika semakin lama semakin tidak berkualitas, dan aku setuju tentang itu. Kami mengakhirinya pukul lima dan telah memiliki tiga destinasi tempat yang akan kita survey pekan depan.
Sore ini, aku kembali pulang bersama Rindani. Dia kerap menolak ketika kutawari tumpangan, mungkin merasa tidak enak, tapi aku memaksa, akhirnya dia mau.
"Jadi ibu masih harus cuci darah setiap pekan?" Aku membuka percakapan dengan Rindani dengan menanyakan kabar ibu nya.
"Iya, tapi aku sangat bersyukur, sekarang kondisi ibu sudah cukup baik sehingga hanya perlu sekali, beberapa waktu yang lalu masih dua kali dalam sepekan."
"Kamu sangat hebat, Rin. Mampu merawat ibumu dengan baik. Ibumu pasti bangga mempunyai anak sepertimu.
"Tapi merawat orangtua tidak semudah itu, Biv. Banyak sekali tantangannya, terutama tantangan mental. Ibukku tidak bangga dengan aku yang sekarang, aku belum sepenuhnya membahagiakannya."
"Maksudmu?"
"Ibu kerap mendesak ku segera menikah. Usia dua lima bagi ibu adalah usia yang sangat tua untuk menikah. Ibu khawatir aku menjadi perawan tua."
Rindani bercerita sambil terus menatap ke depan, menatap jajaran mobil yang berjalan merambat di depan kami. Suasana jalan memang padat merayap. Aku mengangguk menunjukkan aku menyimaknya dengan baik.
"Ibuku," lanjutnya, "ingin menjodohkan aku dengan sanak famili jauh kami, seseorang yang lebih pantas aku panggil paman. Ibu mendesakku untuk menikah dengannya. Menurut ibu, jika aku menikah dengannya, aku tidak perlu susah payah bekerja seperti sekarang ini.
Aku saat ini memang bekerja keras, Biv. Hingga hampir-hampir aku tidak menikmati kerja kerasku karena semua demi ibu dan adik-adikku, tapi aku bahagia melakukannya. Setiap hari, aku dihantui dilema besar, Biv. Menikah tapi dengan siapa? Atau membiarkan ibukku terus mengkhawatirkan aku.
Aku pernah sangat tertekan menghadapi ini. Ketika tugas kantor dengan tingkat kedisiplinan yang kamu tahu sendiri bagaimana, ibukku memintaku keluar berpacaran. Beliau pernah menyusun janji dengan seorang putra kenalannya agar kami pergi berdua. Tentu saja aku tidak mau, terutama saat itu kantor sedang banyak pekerjaan, tidak banyak pekerjaan pun aku pikir-pikir jika harus keluar berdua dengan laki-laki asing.
Ibu marah besar, saat itu aku sedang tidak stabil emosi, aku juga marah. Kami saling berteriak, ini hal yang paling aku sesalkan, aku meneriaki ibukku. Aku sangat menyesal tapi aku sedang marah. Aku lelah diperlakukan seperti itu, Biv. Umurku masih dua puluh lima. Aku masih ingin melakukan banyak hal. Aku belum ingin menikah, kalau pun menikah, aku ingin dengan orang yang tepat dan persiapan yang matang. Bukan asal menikah, terutama atas alasan pelarian dan ekonomi. Apakah aku salah, Biv?"
Rindani menghentikan ceritanya, dia bercerita dengan penuh emosi. Seperti telah menahan lama untuk membicarakan ini dengan seseorang. Aku melajukan mobil dengan pelan, selain karena lalu lintas sedang padat, juga karena Agar bisa mendengarkan Rindani bercerita lebih lama.
"Maaf, Biv. Aku jadi bercerita macam-macam." Rindani tertawa kecil setelah diam beberapa saat.
"Aku sangat senang mendengarkan, terulah bercerita. Ceritakan semuanya." Kataku.
"Apa nanti aku akan kena tarif per satu jam?" Kata Rindani, kami tertawa bersama.
"Apakah kamu tidak punya pacar?" Tanyaku setelah tawa kami mereda.
"Aku pernah punya pacar, dua tahun lalu kami hampir memutuskan hendak menikah. Saat itu aku sudah di Hizi. Dia masih belum selesai kuliah. Kami kuliah di tempat yang sama, hanya beda program yang kami ambil.
Kami berpacaran sejak SMA, ibukku tahu tentang itu. Sejak aku lulus kuliah, ibukku terus mendesak agar Rendra segera melamar ku. Mana mungkin aku tega memintanya melamarku, dia saja sedang bergelut dengan skripsi.
Hingga berselang dua tahun kemudian, Rendra masih belum kunjung lulus. Ibukku murka. Ibu memintaku memutuskan saja hubunganku dengan dia. Awalnya aku tidak mau, kami terus menjalani hubungan di belakang ibukku. Tapi lama-kelamaan, aku berpikir, untuk apa hubungan tanpa restu seperti itu. Apa yang aku cari sebenarnya? Akhirnya, aku dan Rendra putus.
Saat itu, Rendra sangat sakit hati dengan keputusan ini. Dia bahkan mungkin sampai saat ini tetap membenciku. Dan kau tahu, Biv. Tuhan memang maha baik. Rendra tidak lulus kuliah, tapi sekarang dia menjadi pengusaha sukses. Dia memiliki usaha bengkel yang besar dan memiliki beberapa cabang. Andai ibu tahu ini, pasti ibu langsung mengizinkan aku menikah dengan dia, tapi apalah dayaku. Mau ditaruh dimana muka kami, kami terlanjur membuangnya dulu. Mana mungkin aku meminta balikan."
"Jadi dia belum punya pacar?" Katanya ketika Rindani berhenti bercerita. Rindani menggeleng. "Tidak tahu?" Tanyaku kemudian.
"Sepertinya dia belum punya pacar, atau punya tapi tidak pernah ditunjukkan. Rendra adalah temanku, kami berteman akrab bahkan sebelum kami berpacaran. Lingkaran pertemanan kami kebanyakan orang-orang yang sama. Semua temanku tahu, dia belum punya pacar."
"Jadi masih ada peluang dong?" Godaku, Rindani tertawa, kami tertawa bersama.
"Peluang itu tentu saja masih ada, sebelum masing-masing dari kami belum menikah, belum itu tetap ada. Tapi mungkin hatinya sudah terlanjur beku. Aku pun sudah tidak banyak berharap. Aku takut kecewa, Biv. Aku takut sakit hati. Lebih-lebih, aku juga malu padanya."
"Kalau perasaanmu?"
Rindani menggeleng, "aku tidak tahu perasaanku, banyak rasa yang selalu kutekan. Aku belum pernah mencintai orang lain lagi setelah putus dengan Rendra."
Tanpa terasa, mobil sudah berhenti di depan gang rumah Rindani, aku sudah menghentikan mobil sekitar lima menit, tapi Rindani masih meneruskan cerita, dan aku menikmatinya.
"Maaf ya, Biv. Kok jadi panjang gini, sampai lupa sudah sampai tapi nggak turun-turun." Rindani tertawa kecil menyadari sesuatu.
"Tidak apa-apa, aku sangat menikmati mendengarkan ceritamu." Kataku meyakinkan nya.
"Itulah kenapa kamu jadi konselor. Dan membuat aku ketagihan bercerita denganmu. Sebelumnya, aku tidak pernah bercerita ini dengan siapa pun, kau tahu kan aku orang yang tertutup. Apa karena kamu konselor, aku jadi lebih mudah terbuka." Kami tertawa kecil bersama. Rindani turun, tapi sebelum turun dia berkata. "Kau mau ikut turun? Mau ku kenalkan ibukku?"
Entah kenapa ketika mendengar tawaran Rindani kali ini, aku tergerak untuk menerima. Rindani selalu menawariku mampir ke rumahnya, tapi aku selalu belum tertarik. Setelah banyak mendengar ceritanya, aku menjadi tertarik untuk kenal lebih dalam tentang Rindani.
Kami turun bersama-sama. Lalu memasuk gang yang jalannya sedikit menanjak. Rindani tinggal di dalam gang kecil di tengah kota. Kami melewati rumah tetangganya yang mayoritas sedang bersantai di depan rumah.
"Maaf ya Biv jadi jalan kaki."
"Eh biasa aja, aku dulu kalau kuliah juga sering jalan kaki kok."
Tidak lama, mungkin setelah berjalan sekitar lima ratus meter, Rindani masuk ke sebuah rumah berpagar besi setinggi pinggang. Rumahnya bukan rumah yang kecil, sedang untuk ukuran rumah di dalam gang.
Dua orang gadis perempuan langsung menyambut dan menyalami Rindani, mereka juga menyalamiku. Rindani tidak mengajakku masuk rumah tapi menyuruhku duduk di kursi rotan yang terletak di teras.
"Bikinkan es sirum untuk teman kakak." Kata Rindani pada salah satu gadis tadi, mereka berdua lalu masuk rumah. "Kamu tunggu di sini ya, akan aku panggilkan ibu." Rindani berkata padaku, aku mengangguk.
Beberapa saat kemudian, keluar seorang perempuan paruh baya, lebih tua sepertinya dibandingkan ibuku. Tubuhnya kurus dan kulitnya kehitaman, mungkin efek dari cuci darah. Aku menyambut ibu itu dan menyalaminya.
"Ini teman Rinda yang setiap hari mengantar." Rindani mengenalkan ku. Ibu itu duduk di hadapanku, dan Rindani duduk di sampingnya.
"Nama saya Bivi, Bu." Aku mengangguk memperkenalkan diri.
"Bawa mobil?" Tanya Ibu Rindani. Raut muka Rindani langsung tidak enak dengan pertanyaan ibunya.
"Iya, Bu." Jawabku.
"Syukur ya, Nak. Masih mudah sudah bawa mobil." Lanjut Ibu Rindani, aku hanya mengangguk.
"Bagaimana Bu, kondisinya sehat? Maaf saya mampir tidak membawa apa-apa, tadi tiba-tiba tanpa rencana." Kataku mengalihkan pembicaraan.
"Ah tidak apa-apa. Ibu sehat, asal rutin minum obat, kalau sampai lupa, bakal tidak sehat." Ibu Rindani terkekeh, aku hanya tersenyum melihatnya. "Nak Bivi sudah menikah?" Deg, pertanyaan itulah yang kukhawatirkan sejak turun dari mobil tadi. Apa kata Ibu Rindani melihat usiaku yang sudah dua puluh enam dan belum menikah. Aku lalu tersenyum. Rindani langsung gelisah dan tidak enak menatapku.
"Belum, Bu. Belum ketemu jodohnya, mohon doanya ya. Saya hanya tinggal dengan ibu saya di rumah. Saya berharap juga segera menikah agar rumah saya semakin ramai dan ibu saya tidak kesepian lagi." Kataku sambil tersenyum menatap ibu Rindani.
"Ibu pasti doakan, pasti! Ibu ingin anak-anak perempuan, kalau sudah lulus sekolah, harus segera menikah. Biar tidak usah susah payah bekerja. Yang bekerja biar laki-laki. Maka dari itu, cari laki-laki yang bener."
"Bu.." Rindani memotong pembicaraan ibunya, raut mukanya benar-benar gusar, aku memberinya kode agar membiarkan saja ibunya bicara. Dan benar, ibu Rindani tidak menggubris sekalipun diberi kode, ia tetap berbicara.
"Cinta itu hanya punya anak-anak muda yang hidupnya bersenang-senang. Kalau sudah dewasa, cinta itu berubah jadi terpenuhinya kebutuhan. Kalau kebutuhanmu terpenuhi, ya kamu akan jadi cinta. Secinta apapun kamu sama orang, kalau dia tidak memenuhi kebutuhanmu, ya malah bikin gila." Seloroh ibu, lalu tertawa. Entah bagaimana aku ikut tertawa, Rindani tidak.
"Masak kamu belum punya calon, kamu cantik lho, punya mobil, mandiri, pinter lagi, kan kalau kerja sama Rinda ini semua orangnya pinter ya katanya." Aku hanya tersenyum.
"Ibu, sudah dong, Bu." Rindani berkata begitu sambil memegang lengan ibunya. Pada saat yang sama, salah satu adik Rindani keluar dengan nampan yang berisi secangkir sirup berwarna hijau.
"Apasih kamu, tiap ibu ngomongin pernikahan, selalu saja begitu, memangnya kamu tidak ingin menikah?" Rindani langsung diam seribu bahasa. Aku tersenyum menatap Rindani memberinya kode bahwa ini baik-baik saja.
Aku izin untuk meneguk sirup yang disediakan untukku. Lalu bersiap menjawab pertanyaan ibu Rindani.
"Belum, Bu. Nanti kalau saya sudah mau menikah, saya kabari ya, dan Ibu sama Rinda harus datang ya." Jawabku santai.
Tidak lama berselang setelah itu, adzan magrib berkumandang. Aku mohon izin karena tidak ingin pulang terlalu malam, khawatir ibu menunggu. Ibu Rindani menyuruh anaknya mengambilkan sesuatu di dapur untukku. Lalu adik Rindani kembali bersama kresek yang berisi mentimun.
"Maaf ya, Ibu nggak punya apa-apa. Ibu hanya punya mentimun untuk dibawakan pulang."
"Eh, tidak usah repot-repot, Ibu. Saya kesini juga tidak membawa apa-apa."
"Tidak apa, bawa saja mentimun ini untuk ibu kamu, biasanya orang tua butuh mentimun untuk menurunkan tekanan darah."
Aku akhirnya mengangguk, menerima satu kresek oleh-oleh itu, dan berpamitan. Rindani tetap mengantarkan ku ke jalan raya meskipun aku menolaknya.
"Makasih ya mentimunnya." Kataku sebelum masuk ke dalam mobil, tapi Rindani justru tertawa.
"Ibukku sepertinya menyukaimu." Kata Rindani.
"Ohya." Jawabku. Rindani mengangguk. "Aku akan mampir lagi suatu saat." Kataku selanjutnya.