Ibu tertawa geli mendengar ceritaku tentang Ibu Rindani, "manusia itu memang beda-beda, Biv. Sudut pandang orang terhadap masalah yang sama bisa jadi sangat berbeda. Bukan berarti salah, hanya berbeda, kita harus belajar menghormati itu. Meskipun ya, kasihan juga sama Rindani. Tapi itu jadi ladang pahal lho bagi dia. Hanya, dia harus pintar-pintar mengelola emosinya."
Aku mengangguk mendengar penjelasan ibu, aku beruntung memiliki ibu seperti ibuku. Dari kecil aku tidak pernah ditekan tentang hal apapun, tidak tentang prestasi atau hal lain di luar itu. Termasuk ketika sampai usiaku dua puluh enam ini dan aku belum kunjung menikah, jangankan menikah aku bahkan belum pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dan ibu tidak pernah mempermasalahkan itu. Padahal, aku tahu sendiri, beberapa rekan ibu atau tetangga kami sering mempertanyakan hal itu.
"Apakah Ibu khawatir aku belum kunjung menikah?" Tanyaku suatu hari, waktu itu setelah beberapa tetangga kami datang ke rumah untuk arisan RT dan mereka semua membahas itu, aku khawatir ibu merasa terpojok dan sedih.
"Ibu tidak pernah mengkhawatirkan takdir, Sayang. Semua itu sudah diatur. Ibu khawatir kalau melihat kamu tidak bahagia. Jadi, selama kamu bahagia, menjalani hidup dengan baik, ibu tidak peduli kata orang lain." Aku memeluk ibu erat-erat setelah mendengar pernyataan itu. Kami menangis bersama, bukan menangisi aku yang belum menikah, tapi sangat bersyukur Allah menghadirkan orang yang sangat menyayangi kami.
"Tapi menurut ibu," tambah ibu setelah melepas pelukannya, "kamu masih muda untuk menikah. Kamu boleh menikah dua atau tiga tahun lagi." Ibu terkekeh setelah itu, aku juga. Aku tahu, perkataan itu hanya ingin membuat hatiku tenang.
"Nasih gorengnya nambah ya?" Ibu membuyarkan lamunanku, aku segera mengangguk. Nasi goreng ibu adalah favoritku, nasi goreng yang selalu dimasak dengan bumbu lengkap dan toping yang banyak dan enak.
"Bu.." Di sela makan, aku teringat ada sesuatu yang harus kusampaikan pada ibu.
"Ya," kata ibu sambil menoleh masih sambil makan.
"Akhir pekan Bivi ada agenda ke luar kota untuk survey lokasi. Ibu nggak papa kan seharian di rumah sendiri?" Tanyaku hati-hati. Ibu pasti mengizinkan, tapi aku tidak enak sendiri, takut ibu sedih.
"Ohya?" Mendengar kalimatku, ibu justru sumringah, membuatku bertanya-tanya.
"Kok ibu kelihatan senang Bivi pergi?"
"Iya, soalnya dari kemarin ibu mau bilang, ibu ditawari Bu RT ikut dharmawisata, ibu bingung izinnya ke kamu, hihihi." Ibu tertawa kecil. Aku lega.
***
Jumat malam, aku dan ibu pergi ke supermarket, selain memang waktunya untuk belanja bulanan, kami pergi untuk membeli snack, minuman ringan dan bekal untuk agenda akhir pekan kami.
Kalau aku sih, tidak bawa apa-apa tidak masalah, tapi ibu selalu menyiapkannya. Entah itu sekedar buah-buahan, keripik kentang, roti sobek, s**u uht atau buavita, persis seperti anak SD ketika pergi berwisata.
Jumat malam sepertinya bukan waktu yang tepat untuk berbelanja, supermarket ramai sekali, ini malam akhir pekan di awal bulan, pantas ramai. Antrian di kasir bahkan sampai mengular.
Ketika mengantri, aku tidak sadar, dua antrian di depanku adalah orang yang sepertinya tidak asing. Ya, dia adalah Farisha. Rupanya Farisha juga sedang berbelanja di supermarket ini. Awalnya aku ragu, apakah perlu kusapa atau tidak. Tapi aku tidak menduga dia tiba-tiba melihatku, kami saling bertatapan.
Karena kami berjauhan, aku melambaikan tangan, dia membalas. Aku memberi kode bahwa aku bersama ibuku, aku menunjuk ibu yang berdiri di sampingku. Dia juga memberi kode lalu menunjuk seseorang, laki-laki sedang duduk di kursi roda di dekat pintu keluar. Oh, siapa yang bersama Farisha itu?
Sekarang saat selesai gilirannya membayar di kasir, Farisha mengodeku ke arah pintu keluar. Kupikir dia ingin menyampaikan bahwa dia ingin pergi dulu. Tapi setelah beberapa saat, dia tetap berdiri di sebelah laki-laki dengan kursi roda tadi. Sepertinya dia menungguku.
Aku bilang pada ibu, bahwa itu adalah Farisha. Ibu terkejut, dia terlihat sangat manis dan ramah sekali. "Sepertinya dia menunggu kita, Biv." Kata ibu, aku mengangguk.
Setelah selesai membayar, aku dan ibu segera menghampiri Farisha yang berdiri bersama laki-laki di atas kursi roda. Mereka masih tetap di dekat pintu keluar.
"Hai, Biv. Tante." Farisha segera menyalami ku dan ibu begitu kami mendekat mereka. "Aku sedang berbelanja dengan ayah, ini ayahku." Laki-laki di atas kursi roda itu mengangguk tersenyum ke arah kami. Aku dan ibu turut mengangguk lalu tersenyum.
"Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini." Kataku, sejujurnya aku bingung memulai pembicaraan. Terutama sejak peristiwa kemarin.
"Selepas ini, kami mau makan malam di sebuah restoran favorit kami, masih di dalam mall ini, mau gabung?" Kata Farisha, ayahnya mengangguk menyetujui. Farisha yang saat ini berbeda sekali dengan yang kutemui beberapa saat lalu di kantor atau di kafe, di sini dia terlihat seperti apa adanya.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku dan ibu sedang mempersiapkan sesuatu untuk bepergian besok. Aku sangat minta maaf belumd dapat bergabung." Kataku benar-benar merasa tidak enak. Ibu mengangguk di sampingku.
"Ayolah, belum tentu lain kali kita bisa bertemu, kan?" Ayah Farisha ikut bicara. Aku menoleh ibu, ibu mengangguk.
Kami berjalan beriringan menuju restoran yang di maksud Farisha, restoran itu ada di lantai lima, jadi lumayan jauh kami berjalan kaki menuju kesana.
Ternyata, restoran yang dimaksud adalah Rumah Makan Wicaksana, rumah makan langganan aku dannibu juga. Begitu tahu itu, ibu jadi lebih semangat.
Kami dudu mengelilingi sebuah beja, aku duduk di sebelah ibu, dan Farisha bersama ayahnya di depan kami. Farisha memesan beberapa makanan, dia menawari ibu memesan sesuatu tapi ibu bilang ikut saja.
"Kalian hanya pergi berdua?" Tanya ibu kepada Farisha begitu ia selesai mencatat pesanan dan menyerahkan buku menu kepada penjaga restoran. Farisha menoleh pada ayahnya, mereka mengangguk.
"Kami memang hanya berdua di rumah. Sebenarnya ada satu lagi, Nafis, yang setiap hari membantu kami di rumah, tapi dia enggan ikut." Jawab Farisha.
"Sama seperti kami, kami juga hanya berdua." Kataku menanggapi Farisha.
"Ohya?" Farisha terkejut mendengar pernyataan ku. Aku mengangguk.
"Sudah kah lama ayah sakit?" Aku beralih menatap ayah Farisha yang sedari tadi lebih banyak diam. Ayah Farisha tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit, meskipun tidak begitu besar, tapi masih terlihat perawakan nya gagah dan terlihat segar. Rambutnya juga hitam legam, seperti rajin perawatan. Sedari tadi, sepanjang jalan menuju restoran hingga sampai, beliau hanya diam, hanya sesekali mengangguk, tersenyum dan ikut tertawa kecil.
"Ayah sudah cukup lama sakit, kira-kira sudah ada sejak sepuluh tahun terakhir, sebenarnya ayah ini tidak sakit." Ayah Farisha akhirnya buka suara, "Hanya, ayah tidak bisa berjalan. Kaki ayah lumpuh sejak pulang dari satuan tugas di Kongo."
"Apakah ayah seorang TNI?" Tanyaku.
"Ya, dulu ayah adalah prajurit yang gagah. Sekarang, seperti inilah keadaannya tapi ayah beruntung memiliki Risha yang sabar merawat ayahnya ini. Dulu masih ada ibu Risha dua tahun sejak ayah kecelakaan, ibu Risha dipanggil yang diatas." Ayah Farisha berhenti bercerita dan tertawa getir.
"Waktu itu," lanjut ayah Farisha, "belum sampai ayah bisa menerima kondisi pasca kecelakaan, hati ayah masih menolak, merasa tidak berguna, hanya hidup dari uang pensiunan. Itulah masa terberat dalam hidup kami. Tapi kami bisa apa, hanya menjalaninya.
Sekarang, saat Risha sudah dewasa, dia sudah bekerja. Tuhan maha baik, dia beri anak yang berbakti, Risha merawat ayah dengan sangat baik, selalu menyiapkan apapun keperluan ayah, memberikan baju bagus untuk ayah, menemani ayah bermain catur, dan lain-lain juga seperti mengajak ayah belanja seperti malam ini, agar ayah tidak bosan."
Aku sangat terkejut ketika mendengar suatu fakta, bahwa Farisha adalah tulang punggung keluarganya. Aku merasa malu jika kemarin mensyukuri keputusan nya untuk resign adalah keputusan yang tepat. Aku tidak bisa membayangkan jika kemarin Farisha jadi resign, pasti hancur juga hati ayahnya.
"Risha anak yang baik, memang dikirimkan Tuhan untuk menemani ayahnya." Kata ibukku, ibu terlihat seperti terbawa perasaan mendengar cerita Ayah Farisha.
Ketika kami sedang asyik bercakap, pelayan restoran datang membawakan pesanan kami. Segera tertata hidangan yang lezat di meja depan kami. Farisha memesan sei sapi empat porsi, hidangan unggulan restoran ini memang sei sapi, dan juga empat porsi besar teh manis dan dua piring yang berisi pisang goreng krispy dan tahu isi sebagai cemilan.
Selanjutnya kami segera makan dan terus sambil bercerita. Kami sudah tidak canggung lagi, kami mengobrol dengan mengalir. Ayah Farisha bercerita dulu ia berdinas di beberapa wilayah Indonesia, bercerita tentang kecelakaan yang membuatnya lumpuh, juga penyebab kepergian Ibu Farisha. Aku dan ibu, tidak banyak bercerita, kami banyak menyimak namun sangat menikmati percakapan.
"Nak Bivi kerja atau kuliah?" Ayah Farisha menatap ku.
"Saya bekerja, Om. Saya psikolog, saya seorang konselor di sebuah lembaga psikologi." Jawabku, ada perasaan yang tidak nyaman, terutama terhadap Farisha, ketika menjelaskan bahwa aku seorang konselor.
"Wow hebat itu! Dulu ibunya Risha juga kuliah psikologi, tapi belum sampai lulus sudah ayah lamar, ayah minta jadi ibu Persit saja, hahaha." Kami tertawa mendengar perkataan Ayah Farisha.
Percakapan berlangsung seru dan hangat, malam itu, aku dan ibu benar-benar tidak menyangka akan ada acara makan malam mendadak dengan Farisha dan ayahnya. Awalnya kami takut makan malam akan berjalan kaku karena kami tidak begitu akrab, nyatanya makan malam ini berlangsung hangat.
Selesai makan, ayah Farisha malah memesan kopi karena mengatakan masih belum ingin pulang dan ingin mengobrol dengan kami. Kami pun akhirnya masih bertahan di sana.
Pukul sembilan lebih sedikit kami sepakat pulang. Ternyata Farisha dan ayahnya tidak membawa kendaraan, mereka tadi menumpang taksi online, kami menawari mengantar tapi mereka menolak. Kami pun menghormati keputusan mereka, mungkin ayah Farisha tidak nyaman.
***
Di mobil, ibu banyak membahas tentang makan malam tidak sengaja dengan Farisha dan ayahnya.
"Farisha gadis yang baik, pantas kamu kemarin tampak tidak tega melihat dia hendak resign." Kata ibu begitu mobil kami keluar area mall.
"Tapi aku sangat bersyukur, Ghulam yang jadi resign. Aku tahu Farisha memutuskan itu karena tak ada pilihan lain." Jawabku.
"Semoga dia mendapat kehidupan yang lebih baik sebagai ganti apa yang ia korbankan." Kata ibu, aku mengangguk mengaminkan.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang masih saja ramai. Dan aku masih membayangkan, misalnya aku berada di posisi Farisha, hidup berdua dengan ayah yang cacat fisik, pasti berat. Pertemuan dengan ayah Farisha dan Ibu Rindani beberapa hari terakhir ini sangat menyentuh emosiku dan membuatku bersyukur memiliki ibu seperti ibukku.
Kami sampai rumah pukul sepuluh, mengeluarkan isi belanjaan, heboh menata stok selama satu bulan ini di lemari dan kulkas, mencuci buah dan sayur, dan packing barang yang akan kami bawa besok. Dan benar sesuai dugaanku, bekal untukku banyak sekali, seperti anak SD hendak berwisata. Tapi karena ini sudah biasa, aku tidak mau berdebat dengan ibu.
"Ibu sengaja bawakan banyak biar kamu bisa berbagi dengan teman satu mobil." Kata ibu sambil menata snack di tasku, aku hanya mengangguk, kataku sudah mengantuk sekali.
"Ibu sudah menyiapkan sarden untuk kita sarapan besok pagi, jadi meskipun berangkat selepas subuh, kita harus tetap makan dulu. Jangan pergi dalam keadaan perut kosong." Ibu terus bicara dan aku hanya mengangguk.