Aku meminta ibu untuk berangkat sendiri karena, perkumpulan ibu di titik kumpul pukul lima pagi, sedang aku pukul empat. Jadi aku harus berangkat dulu. Aku sempat sarapan nasi dengan sarden dan teh manis hangat sebelum berangkat, persis seperti apa yang direncanakan ibu tadi malam.
Hari ini aku memakai celana Jogger, kaos reeb lengan panjang, dan sepatu kets warna cream favoritku. Sebenarnya dengan begitu aku tidak ingin membawa jaket lagi, karena memakai kaos reeb lengan panjang sudah cukup hangat, tapi tentu saja ibu memintaku untuk tetap membawa jaket untuk berjaga-jaga, lagi-lagi aku menurut saja apa kata ibu.
Tepat pukul empat kurang lima menit aku tiba di kantor Hizi. Teman-temanku sudah berkumpul. Kami memakai mobil kantor, dan Raka salah satu rekan tim kami yang menyopir. Kaizan duduk di kursi penumpang sebelah sopir. Aku, Rindani dan Siska duduk di bangku nomer dua. Lintang dan Hendra duduk di bangku paling belakang. Sebenarnya untuk panitia kecil, masih ada dua anggota lagi, tapi mereka izin tidak ikut karena urusan kantor.
Perjalanan kami pun dimulai, ibu benar, rekan-rekanku tidak ada yang membawa makanan. Sehingga ketika Raka mengeluhkan ingin makan dan masih terlalu pagi lalu aku mengeluarkan makananku, mereka semua bersorak bersyukur. Masih terlalu pagi untuk mampir ke sebuah restoran, tapi perut sudah terasa lapar karena bangun pagi lebih awal dari biasanya.
Roti sobek, kripik kentang, kacang atom pun segera diserbu anggota tim. Mereka semua beda dari ketika sedang berada di kantor. Semua tidak jaim-jaim lagi, kami tertawa ngakak, bercerita, saling meledek menggoda, dan bernyanyi karaoke bersama. Saat itulah pertama kali aku melihat Kaizan begitu lepas. Tidak lagi formal.
Separuh perjalanan kami lalui. Pukul setengah delapan pagi kami sudah mencapai separuh perjalanan. Kami berhenti di sebuah warung sop ayam legendaris. Kami semua sarapan sop ayam dan air jeruk hangat.
Sejauh itu perjalanan berlangsung lancar hingga suatu jarak tertentu, sudah dekat dengan lokasi yang kami tuju, tiba-tiba kami mendapat musibah. Ban mobil kami meledak di tengah perjalanan mengakibatkan sopir kehilangan kendali dan menabrak seorang pengendara sepeda motor yang sedang melintas.
Kami bersyukur, kami sedang melaju dengan kecepatan sedang, kami semua baik-baik saja meskipun panik dan gugup. Tapi sayangnya, pengandara motor yang kami tabrak terluka cukup parah.
Dari situ aku melihat, betapa kepemimpinan Kaizan sangat patut kami acungi jempol. Kemampuannya menguasai diri ketika sedang tertimpa masalah, mengelola emosi, mengambil keputusan, dengan mempertimbangkan berbagai hal benar-benar mencerminkan karakter seorang pemimpin.
Mobil kantor rusak lumayan parah, padahal yang kami bawa, hitungannya adalah mobil baru. Jadi kerugian kantor akibat kecelakaan bisa cukup besar, tapi Kaizan sangat memperhatikan tanggung jawab terhadap korban yang kami tabrak.
Kaizan segera menginstruksikan kami menghubungi rumah sakit dekat yang berkualitas baik, agar korban ditangani dengan baik dan cepat.
Sebelum makan siang, kami seharusnya sudah sampai titik lokasi tujuan pertama, tapi karena kecelakaan, sampai tengah hari pun kami masih belum sam. Kami beristirahat di rumah makan tidak jauh dari rumah sakit.
"Sepertinya, kita harus mengatur strategi. Keluarga korban belum bisa dihubungi dan korban pun belum sadarkan diri. Harus ada seseorang yang menjamin di sini. Tapi di sisi lain, agenda kita harus tetap berjalan. Siapa diantara teman-teman yang berkenan untuk tinggal di sini untuk menjamin korban?" Kata Kaizan selepas kami makan siang, sembari meneguk segelas jus alpukat.
Aku mengangkat tangan. Hanya aku yang mengangkat tangan, aku sudah mengira, teman-teman mungkin keberatan tinggal di rumah sakit, apalagi tujuan utama kami adalah survey lokasi.
"Tidak, kalau bisa jangan Bivi karena Bivi adalah ketua pelaksana."
Aku menganga kaget mendengar perkataan Kaizan, kepanitiaan untuk agenda kami yang baru memang belum dibentuk, kukira akan tidak jauh beda dengan agenda sebelumnya. Sehingga aku tidak bertanya-tanya. Tapi ternyata Kaizan langsung menunjukkan sebagai ketua panitia. Aku langsung diam seribu bahasa. Bagaimana bisa aku yang jadi ketua pelaksana sedang untuk berangkat kesana saja (nanti) aku belum mendapat izin.
Selanjutnya, Hendra dan Lintang angkat tangan. Akhirnya diputuskan dua orang teman kami ini tinggal di rumah sakit untuk mengurus segala keperluan korban hingga tuntas tanggungjawab.
"Tolong perlakukan korban dengan baik, juga keluarga korban jika sudah datang nanti, pastikan semua hak terbaiknya terpenuhi. Ini bukan hanya menyangkut kemanusiaan, ini juga kredibilitas perusahaan. Kita membawa nama Hizi, kia bertujuan utama membuat semua orang Indonesia mencintai Hizi. Aku tidak menyangka kita akan mendapat ujian dari tujuan mulia kita, tapi tidak apa-apa, semoga dengan ini, tim semakin kompak dan niat kita menyebarluaskan kebaikan semakin kokoh."
Kalimat itulah yang dikatakan Kaizan sebelum kami meninggalkan meja makan. Benar-benar membuat kami berpikir positif dan tidak larut dalam penyesalan.
Kami kamudian meneruskan perjalanan berlima, sebelumnya, mobil telah masuk bengkel untuk memastikan semua aman dan layak jalan. Perjalanan kira-kira masih kurang satu jam lagi.
Tujuan utama kami adalah tiga desa di Kulon Progo. Di sana kami tidak mengunjungi stakeholder setempat karena khawatir menimbulkan harapan, padahal kunjungan kami masih bersifat survey. Kami langsung mendatangi tempat ibadah, pasar, sawah, fasilitas umum, sekolah yang masih buka di hari Sabtu.
Kami membagikan produk Hizi yang kami bawa, tidak banyak, sekedar untuk oleh-oleh orang yang kami temui dan beberapa yang kami wawancarai. Mereka senang sekali menyambut kami.
Pukul lima sore, kami selesai survey. Tidak membutuhkan waktu lama memang. Hanya hanya butuh melihat kondisi lapangan yang sesungguhnya. Karena khawatir yang kam inginkan lihat di medis sosial tidak yang sebenarnya. Pukul enam sore, selepas magrib, kami berangkat pulang.
"Sepertinya kita sudah bisa menyimpulkan, lokasi mana yang akan kita pilih." Kata Kaizan sambil tertawa. Memang ada satu lokasi yang terlihat mencolok perbedaannya. Meskipun mungkin survey kami tidak merata, tapi apa yang kami lihat di sebuah lokasi, sangat mencerminkan kebutuhan kami, sesuatu standart yang kami susun.
"Yang ada ibu-ibu mencuci beras di sungai?" Tanyaku menanggapi, semua berseru setuju.
"Sepertinya desa itu bisa kita jadikan proyek jangka panjang, perlu kita bangun dalam waktu yang berkelanjutan."
"Setuju, apalagi pendidikan perempuannya juga masih kurang seimbang dengan laki-laki. Anak-anak perempuan lebih banyak di rumah. Aspek yang perlu kita bangun sepertinya universal kalau di sana." Tambah Rindani.
Kami terus berdiskusi sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Ya, kami masih ada urusan untuk menjemput Lintang dan Hendra, teman kami yang tertahan di rumah sakit sebagai jaminan tanggungjawab kami terhadap korban.
Belum sampai rumah sakit, Lintang menelpon, mengabarkan ada situasi genting yang mereka hadapi di rumah sakit.
"Kondisi korban memburuk?" Tanya Kaizan. "Lalu..? Baik-baik... tahan-tahan, tunggu, sebentar lagi kami sampai sana." Kaizan menutup teleponnya dan menghela nafas panjang.
"Ada apa?" Tanyaku melihat wajah tegang Kaizan.
"Keluarga korban menuntut ganti rugi yang besar, kata Lintang sepertinya mereka tahu kita dari perusahaan besar. Tapi ganti rugi permintaan mereka tidak masuk akal." Kaizan berbicara sembari seperti sedang berpikir-pikir.
"Apakah diminta mengganti motor mereka dengan yang baru?" Tanya Siska setelah kami semua diam.
"Mereka menyebutkan sejumlah uang." Jawab Kaizan, "lima puluh juta."
"Haha??" Aku, Siska dan Rindani kompak terkejut mendengar nominal yan yg disebutkan Kaizan.
"Ini sih sistem pemalakan namanya." Celetuk Raka.
"Sis, coba selidiki pemilik nama ini. Aku kirim foto KTP nya di handphone kamu. Kamu cari tahu apa profesinya, bagaimana kondisi perekonomian nya, apakah dia tulang punggung keluarga, kalau iya, berapa yang ditanggung. Tolong ya Sis." Kaizan berbicara kepada Siska, setengah menghadap ke belakang.
Setelah itu Siska membuka laptopnya, mencatat sesuatu, menghubungi seseorang lewat telepon selama beberapa kali, dan terus begitu sampai akhirnya kami sampai di rumah sakit.
Kaizan meminta aku, Siska dan Raka tetap di mobil, agar tidak terkesan datang beramai-ramai. Kaizan dan Rindani masuk, dan kulihat dari jauh Lintang dan Hendra menyambut mereka di depan lobi. Mereka segera bercakap-cakap sambil berdiri, seperti sedang briefing kilat. Tak lama kemudian, mereka semua masuk ke mobil.
"Gimana Siska, sudah menemukan data terkait korban?"
Siska yang masih menghadap laptop segera menoleh. "Sudah, tapi belum lengkap. Aku meminta data dari kepolisian terdekat untuk dihubungkan pada pengurus kelurahan terdekat dengan alamat korban. Dan aku mendapatkan info.." Siska diam sebentar mengamati lagi layar laptopnya.
"Kita berhadapan dengan keluarga preman, sepertinya susah jika kita menempuh jalur kekeluargaan. Mereka bukan orang tidak mampu, tapi mereka memang sering mengambil kesempatan seperti ini, kayaknya hari ini kita sedang sial aja."
"Kelihatan, istri korban pun pakai tato, dan terlihat garang. Anak-anak mereka pun tidak tersenyum sama sekali ketika kami beri mereka snack yang kami beli dari supermarket dekat sini." Lintang segera menyahut
"Teman-teman tetap kontrol emosinya, posisi kita memang sedang tidak menguntungkan, tapi kita bisa memilih jalur hukum. Daritadi aku tidak memilih jalur hukum karena aku tidak mau kita menghabiskan waktu yang panjang untuk proses hukum dan kukira masalah ini bisa kita selesaikan secara kekeluargaan, nyatanya tidak." Kata Kaizan mencoba menenangkan kami yang mulai panas.
"Baik, kita hubungi polisi ya? Meskipun kita tetap mendapatkan denda yang besar, paling tidak itu fair karena melalui proses hukum."
Kami semua mengangguk-angguk mendengar penjelasan Siska, namun kekurangannya, sepertinya kita tidak bisa langsung pulang malam ini, sampai urusan ini selesai.
"Rin, segera pesan hotel untuk kita bermalam di kota ini." Perintah Kaizan pada Rindani.
Aku menghela nafas panjang, membayangkan ibu harus di rumah sendirian malam ini. Aku harus segera mengabari ibu. Aku berpikir, apakah aku meminta tolong saja pada Zahra agar ke rumah menemani ibu. Ah kutanya ibu dulu.
Raka mengantarkan aku dan Rindani ke hotel. Kaizan meminta kami, yang menurutnya tidak berkaitan dengan kasus di rumah sakit untuk istirahat saja. Awalnya aku dan Rindani menolak karena merasa tidak enak, tapi Kaizan bilang kami tidak memberi pengaruh apa-apa di sini, jadi sebaiknya menyimpan energi untuk besok. Bisa jadi, besok bisa gantian istirahat, akhirnya kami menurut.
"Zan, nanti tolong beri kami info secara berkala bagaimana perkembangan kasus ini agar kami tidak over-thinking, karena masa bisa kami enak-enakan tidur di kamar hotel sedang kamu dan tim kita yang lain masih berjibaku dengan masalah." Kata Rindani sebelum kami pergi, Kaizan hanya membalas dengan mengacungkan jempolnya.
Hotel yang dipilih Rindani tidak jauh dari rumah sakit, hanya sekitar lima ratus meter jaraknya.
Sesampainya kamar hotel, kami segera mandi secara bergantian, ketika sedang menunggu Rindani mandi, aku menelpon ibu.
"Ibu.." Kataku begitu teleponku tersambung.
"Iya, Nak. Bagaimana sudah sampai mana? Ini ibu sudah mau masuk kota." Kata ibu diantara suara-suara yang bising, mungkin teman-teman ibu sedang bercakap-cakap.
"Ibu, maafkan aku, kami belum perjalanan pulang."
"Ha?" Sepertinya ibu tidak mendengar perkataanku, kucoba ulangi lagi kalimatku tadi.
"Kenapa, Nak Biv? Ada masalah apa? Apa kalian mendapat musibah?"
Mendengar pertanyaan ibu aku berpikir sebentar, mencoba merancang kalimat yang tidak bohong sekaligus tidak membuat ibu khawatir. Ibu bertanya lagi karena aku tidak segera menjawab.
"Biv, kalian kena musibah?"
"Iya, Bu.."
"Astaghfirullah, kalian kecelakaan?"
Ibu langsung menyahut padahal aku belum selesai bicara.
"Ibu dengarkan Bivi dulu, ban mobil kami meledak, sopir kami kehilangan kendali dan kami menabrak salah seorang pengendara sepeda motor. Tapi kami semua baik-baik saja. Percaya lah Bu, kami semua baik-baik saja, sekarang kami sedang di hotel."
"Kamu benar baik-baik saja?" Terdengar suara ibu menjadi serak, mungkin ibu menahan tangis.
"Baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatirkan Bivi, sekarang Kaizan masih mengurus proses hukum dengan korban, jadi kami tidak bisa pulang malam ini. Maaf kan Bivi ya Bu, nanti Bivi minta Zahra menemani Ibu."
"Tidak perlu, Biv. Ibu tidak apa-apa sendiri."
"Ibu yakin?"
"Iya."
Kami terus bercakap-cakap membahas kejadian yang kami alami hari ini. Aku menceritakan desa-desa yang kami kunjungi dan ibu menceritakan oleh-oleh yang beliau beli. Ibu tidak surut semangat untuk menelponku meskipun beberapa kali suara hilang karena jaringan.
Tak lama setelah itu, Rindani selesai mandi. Aku izin untuk menutup telelpon ibu dan pamit hendak mandi.
Setelah mandi, aku dan Rindani keluar hotel untuk mencari makan. Dan ternyata restoran hotel tidak menyediakan layanan restoran di malam hari, hanya pagi hari. Hotel tempat kami menginap memang kecil, pertimbangan Rindani memilihnya tadi bukan bagus atau tidaknya tapi jaraknya dari rumah sakit.
Kami berjalan keluar lingkungan hotel tapi tidak menemukan penjual makanan yang sekiranya membuat kami nyaman untuk membeli. Hanya ada warung kopi yang banyak laki-laki sedang nongkrong dan kukira di sana tidak menjual makanan kecuali gorengan dan mie instan.
"Kayaknya kita pesan makanan lewat ojek online saja, Biv." Rindani akhirnya menyerah. Kami berjalan kembali ke hotel.
Kami sengaja tidak naik ke kamar, kamar kami lantai lima, hotel ini setinggi delapan lantai. Kami masih di lobi hotel untuk memesan makanan lewat ojek online sekalian menunggunya datang.
"Kamu mau apa, Biv? Nasi goreng mau?" Kata Rindani masih mencari-cari menu yang tepat.
"Aku ikut aja, Rin. Sejujurnya aku nggak begitu selera." Jawabku.
"Sama sih, tapi kita harus makan karena kita butuh makan." Rindani menyemangati ku, aku mengangguk.
"Okay, fix dua porsi nasi goreng kambing spesial, dua cup teh hangat dan dua bungkus kerupuk udang." Rindani berbicara sendiri sembari memberi tahuku isi pesanannya.
"Gimana Kaizan dan yang lain?" Tanyaku begitu Rindani selesai membuat pesanan.
"Oh iya, aku kirim pesan dulu." Rindani mengambil handphone yang baru saja ia letakkan di meja. Lalu mengetik sesuatu dengan cepat. Beberapa saat kemudian handphone itu menyala. "Kaizan menelpon!" Seru Rindani buru-buru mengangkat handphone nya.
"Iya, Zan? Bagaimana?" Kata Rindani. Lalu ia diam menyimak Kaizan bicara dengan mengangguk-angguk.
"Okay, kita perjuangkan kebenaran saja, Zan. Menjaga citra perusahaan memang utama, tapi jangan sampai dengan itu kita justru tertindas. Apakah Pak Wayan sudah tahu tentang ini?"
Rindani terus bercakap-cakap dengan Kaizan, aku belum mendapat kabar kejelasan kejadian di sana. Aku hanya diam menunggu mereka bicara. Dan aku lega ketika akhirnya Kaizan menutup teleponnya.
"Bagaimana?" Aku segera menodong Rindani dengan pertanyaan.
Kata Rindani, tim kami masih berada di kantor polisi dengan salah satu keluarga korban. Mereka pada awalna agak gentar diajak ke kantor polisi dan mencoba menurunkan tuntutannya jadi tiga puluh juta, tapi Kaizan sudah terlanjur bulat ingin membawa kasus ini ke ranah hukum, bukan semata karena seberapa banyak denda, tapi bagaimana kasus ini bisa diselesaikan secara hukum yang adil, dan kami setuju itu.
Pak Wayan sudah tahu tentang ini, bahkan ketika kecelakaan baru saja terjadi, Kaizan sudah langsung memberi tahu Pak Wayan. Dan Pak Wayan tentunya menganggap ini masalah kecil yang mampu diatasi Kaizan.
Tidak lama kemudian, pesanan makanan kami sudah sampai. Setelah itu, aku dan Rindani bingung apakah kamu akan kembali ke kamar untuk makan, atau makan di lobi sambil menunggu Kaizan dan tim kami kembali ke hotel. Akhirnya kami memutuskan kan untuk makan di kamar dan mengirim pesan pada Kaizan agar memberi tahu jika hendak kembali ke hotel.
Pukul sebelas malam, mataku sangat ngantuk. Rindani masih berkutat dengan laptop, dia seperti sama sekali tidak mengantuk. Aku akhirnya membuat kopi panas dengan heater yang disediakan pihak hotel.
"Mau kopi?" Tanyaku pada Rindani, dia menoleh, lalu menggeleng, kemudian kembali berkonsentrasi dengan laptopnya. Aku tidak tahu dia sedang mengerjakan apa, katanya tadi tugas kantor.
Aku tidak jadi membuat kopi, tapi teh panas saja karena takut tidak bisa tidur. Meneguk teh panas membuatku sedikit hilang rasa kantuk. Rindani membangunkan ku yang tertidur di sofa kamar hotel. Jam dinding kamar hotel menunjuk pukul setengah dua belas.
"Teman-teman datang!" Katanya, aku segera bangun dan ini membuatku sangat pusing, kepalaku berdenyut-denyut.
Kami turun dengan cepat dan menunggu tim kami di lobi hotel. Kira-kira sepuluh menit kemudian, mereka baru sampai.
"Bagaimana?" Tanyaku begitu Kaizan dan yang lain sudah duduk diantar kami di sofa lobi.
"Sudah diputuskan." Jawab Kaizan singkat.
"Bayar denda berapa?" Tanya Rindani.
"Dua puluh juta." Jawab Lintang.
"Tapi proses pembayaran dan segala pengurusan administrasi diselesaikan besok pagi ketika kantor polisi buka. Jadi malam ini kita istirahat, dan bersiap untuk besok pagi." Kata Kaizan, kami semua mengangguk.
Sebelum kami berdiri dan bubar, Kaizan memberi kode bahwa ia ingin bicara dengan kami sebentar.
"Aku minta maaf untuk kejadian hari ini, terutama untuk Bivi karena masih baru, dan meninggalkan seorang ibu di rumah. Kejadian ini benar-benar di luar kendali. Ya, inilah yang namanya musibah. Semoga dengan mengalami ini, usaha kita semakin diberkahi dan kita ditingkatkan derajat nya."
Aku begitu terharu Kaizan berkata seperti itu, seketika rasa mengantuk dan penat hilang dari kepala. Aku tahu Kaizan pasti sangat penat, dia hampir-hampir tidak istirahat sejak pagi tadi. Terus memikirkan banyak hal dan disibukkan menghubungi banyak pihak, tapi dia tetap menjadi orang yang mampu memimpin dan menenangkan kelompok kecil ini. Terutama tentang perhatian kecilnya untuk keluargaku. Aku tidak tahu dia tahu darimana, mungkin saat meminta seseorang mengirim bingkisan saat aku sakit waktu itu.
Kami bertiga, aku, Rindani dan Siska naik kemar. Kamar kami mungkin memang sengaja dipilih kan oleh Rindani yang double bed queen size, jadi masih lumayan lapang dihuni bertiga.
Ketika aku hendak memejamkan mata, Rindani justru mewawancarai Siska untuk menceritakan apa yang terjadi di sana tadi yang tidak kami ketahui. Dan Siska dengan seru bercerita. Sehingga kami bercakap-cakap hingga pukul tiga pagi.
***
Paginya, kami bangun pukul enam karena Kaizan menelpon Rindani meminta mengerjakan suatu hal. Kaizan meminta kami segera menyiapkan diri dan bersarapan bersama di restoran hotel pukul tujuh pagi. Dan kemudian kami berebut ke kamar mandi.
Kaizan dan tim laki-laki sudah di meja makan restoran ketika kami bertiga sampai di sana. Mereka sudah menyantap makanan masing-masing. Kami segera bergabung agar tidak ketinggalan. Aku mengambil nasi liwet khas solo dengan ayam suwir dan gudeg dan minuman jeruk hangat.
Selepas makan, kami langsung menuju polres. Rencana kami akan tiba di polres tepat pukul delapan. Dan tepat, pukul delapan kurang sepuluh kami sudah siap di ruang tunggu pelayanan di polres.
Alhamdulillah tidak lama Kaizan masuk sebuah ruangan, setengah jam kemudian dia keluar dan masalah kami sudah beres. Padahal dalam bayangan kami, Kaizan akan berjam-jam diwawancarai untuk dimintai keterangan.
Dan akulah orang yang paling bersyukur. Aku ingin segera pulang, aku ingin segera bertemu ibu. Aku tidak tahu yang lain.