Pukul 04.45 ibu mengetuk pintu kamarku pelan-pelan, "Biv, sudah subuh Nak!" Dengan nada yang tidak kalah pelan, tidak seperti gaya orang sedang membangunkan. Tapi aku mendengarnya cukup jelas karena memang aku sudah bangun. "Biv! " Ibu mengulangi lagi. "Iya Bu, Bivi sudah bangun." Jawabku malas-malas.
Semalam, aku tidur pukul 02.00. melanggar jam malam maksimal yang ditetapkan ibu. Sehingga konsekuensinya seberapa pun malamnya, ibu akan tetap membangunkan ku pagi-pagi. Mataku masih panas sekali, kelopaknya sulit dibuka, kepalaku pusing. Aku memang punya riwayat anemia yang jika kekurangan tidur dampaknya kepalaku akan pusing tujuh keliling.
Tapi ibu tidak boleh tahu aku tidur lewat tengah malam, aku harus segera bangun agar ibu tidak curiga. Aku segera duduk di tepi kasur, mengambil sebotol air putih yang selalu siap di meja samping kasurku. Tiba-tiba ingatan tentang Kaizan datang, sejenak kemudian tergeser kalimat ibu semalam,
"Orang sepeti Kaizan, bukan orang jahat, dia orang baik dan pintar. Saking pintarnya, dia pandai mengambil hati siapapun. Perlakuannya hari ini padamu, bisa sangat berarti istimewa bagimu, tapi biasa saja baginya, karena bisa jadi itu adalah standartnya memperlakukan orang lain."
Perasaan ini memang ada, tidak bisa ditekan, terus muncul, namun aku tersenyum. Ya, aku menerima perasaan ini sebagai kerja alamiah perasaanku sebagai manusia. Ya, aku harus menghadapi ini, berteman dengan gelombang emosiku yang sedang bergejolak.
Hampir saja aku mau berdiri, handphone di atas meja bergetar, berderit-derit kencang karena bergesekan dengan meja. Panggilan dari Zahra.
"Biv, kayaknya nanti kamu kudu siap hati. Kalau-kalau kamu bakalan kena tegur Pak Ruslam, karena si Malik sepertinya ngadu kalau kamu mengambil proyek di Hizi. Dan pasti, ngadunya tentu ditambah-tambahi."
Tanpa salam atau ba bi Bu, Zahra langsung nyerocos berbicara, nadanya mengungkapkan kekesalan.
"Aku udah nyangka sih, Ra!"
"Terus, kamu nggak khawatir bakalan di depak dari kantor?"
"Aku akan obrolin nanti sama Pak Ruslam."
"Biv, kamu nggak boleh keluar dari lembaga!"
"Tentu nggak dong, Ra!"
"Ya kali aja.."
Aku tertawa, lalu kututup telepon Zahra tanpa salam juga. Sebelum menerima pekerjaan di Hizi, aku sudah meminta pertimbangan Zahra, dan dia tentu sudah wanti-wanti jangan sampai aku melepas lembaga karena sudah bergabung dengan Hizi. Aku hanya tertawa menggeleng waktu itu. Karena memang sampai saat ini, aku tidak pernah berpikir keluar dari lembaga.
Dan Pak Malik, yah aku memang sudah menduganya. Dia makhluk paling kepo di kantor kami, dia pasti telah mengorek informasi dari segala penjuru. Mengapa aku kemarin tidak masuk, apa aku ada pekerjaan di luar, siapa klienku. Bukan hanya aku, dia terlalu mengurusi urusan semua orang di kantor kami. Aku tertawa sambil geleng-geleng membayangkan betapa rempongnya menjadi istri laki-laki seperti itu.
Aku sudah mengenakan seragam ketika keluar kamar, jam dinding menunjukkan pukul 07.15. ibu sudah duduk manis di meja makan sambil membaca koran. Hidangan di meja makan sudah tertata. Omelet, oseng sosis jagung manis, sambal kecap, dan air jeruk nipis hangat.
Kami makan dengan kilat karena aku sedikit kesiangan, segere kukecup pipi ibu, bilang terimakasih sudah memasak makanan yang lezat, lalu berlarian menuju mobil.
***
Begitu mau men-starter mobil, handphone ku bergetar, aku hampir melompat ketika membaca nama si penelpon. Kaizan? Secara tiba-tiba detak jantung ku berantakan tanpa kendali. Aku segera memencet tombol hijau sebelum panggilan berakhir.
"Iya, Halo…"
"Selamat Pagi, Biv!" Suara Kaizan bersemangat khas trainer-trainer di pelatihan motivasi.
"Iya, selamat pagi. Ada apa Kaizan?" Aku bingung mengapa bicaraku kaku sekali, ini bukan mauku, bukan kubuat-buat tapi aku sulit sekali santai.
"Kamu ada waktu senggang jam berapa? Hari ini panitia kecil akan rapat lagi."
"Jam empat sore sepertinya aku sudah free."
"Baik, jam empat sore ya, nanti aku share lokasinya."
Kaizan mengucap salam dan menutup teleponnya. Jantungku masih belum berdetak normal. Aku tarik nafas panjang dan hembuskan berulang-ulang. Hufttt mengapa dia menanyai aku bisanya jam berapa? Apakah dia juga menanyai kepada yang lain? Ah sudahlah...kubuang jauh-jauh pikiranku tentang itu dan segera melaju, aku sudah hampir telat.
***
Aku masuk ke kantor seperti biasa, menyapa Laila yang selalu sudah hadir lebih dulu, dan memesan minuman hangat di dapur. Namun, hari itu adalah hari yang buruk. Aku berpapasan dengan Pak Malik di depan dapur.
"Wow...kar-ya-wan HIZI Corp." Nadanya terdengar menyebalkan sekali, dan matanya melirikku sensi atau seperti jijik. Aku tidak peduli dan terus melewatinya, tapi dia berkata lagi.
"Gajinya gede dong sekarang!" Entah kenapa hari itu aku geram sekali. Aku tahu memang seperti itulah tabiat Pak Malik, dia sering berbuat seperti itu kepada rekan kantor yang lain, tentu saja kecuali Pak Ruslam, dia mana berani. Ini juga bukan kali pertama dia mengusiIiku, aku biasanya maklum saja. Tapi rasanya hari ini aku sedang tidak ingin memakluminya.
"Bapak, itu bukan urusan Bapak! Dan tidak etis menanyakan berapa gaji orang lain." Begitu selesai bicara, aku segera berbalik meninggalkannya menuju dapur dan tanpa mengamati lagi bagaimana ekspresinya.
Zahra melihat kami dari dapur tertawa ngakak. Aku masih dongkol dan sudah tidak nafsu untuk memesan minuman apapun.
"Tumben kamu berani serang balik itu orang tua!" Zahra berkata masih sambil menahan tawa. Aku hanya mengangkat bahu dan masih bersungut kesal.
Pukul 15.30, jam pulang kantor, aku segera mengambil wudhu shalat ashar, Zahra langsung menanyaiku, "Mau lanjut ke Hizi?" Aku mengangguk. Dia mengepalkan tangannya menyemangati ku.
"Mbak..mbak.." Laila dari arah depan memanggil.
"Iya, La?"
"Mbak Bivi diminta menghadap pak kepala!"
Wah! Gawat, batinku. Aku ada janji dengan Kaizan sore ini. Mengapa Pak Ruslam tidak dari tadi saja menyuruh menghadap. Huftt…
Aku sholat dengan tidak khusyuk, pikiran terpecah antara apakah aku harus membatalkan janji dengan Kaizan, atau menolak menghadap Pak Ruslam, kepala lembaga psikologi tempat dimana empat tahun terakhir ini aku bekerja.
Kuputuskan mengirim pesan pada Kaizan, bahwa aku akan datang terlambat, sudah tak kuhiraukan lagi bagaimana imejku di hadapannya, tapi aku memang harus memghadap Pak Ruslam. Aku harus menjelaskan pekerjaan sampingan ku ini.
Ketika aku hendak menuju ruangan kepala, aku lihat Pak Malik sedang bercakap-cakap dengan Laila di meja resepsionis. Ketika melihatku, tatapan menjadi beda dan menyebalkan, seolah mengatakan, "rasain lu!" Aku lewati saja dua orang itu tanpa menoleh.
"Iya Pak, Bapak memanggil saya?"
"Iya Mbak Biv..silakan duduk!" Aku masuk ke ruang kepala dan menemui Pak Ruslam yang sedang menghadap ke layar komputer. Ruang kepala adalah ruangan paling luas di kantor kami. Ukurannya kurang lebih tujuh kali lima centi meter. Tidak terlalu besar tapi paling luas dibanding ruangan yang lain.
Sofa ruang Pak Ruslam lebih besar dari pada di ruangan ku. Di ruangan ini ada kulkas, TV, dan kursi goyang. Hal yang tidak ada di ruang kerja kami yang lain. Sisanya, sama saja.
Aku sudah duduk manis siap menunggu wejangan, tapi Pak Ruslam belum beralih dari layar komputer. Mimik mukanya masih serius. Ya Tuhan...apakah dia memanggilku untuk menemaninya bekerja. Aku mengundur janji dengan orang lain yang sebenarnya sangat penting demi ini.
"Oh iya, Mbak Biv, saya mendapat laporan dari Pak Malik. Mbak Bivi sekarang bekerja di Hizi Corp. Apakah benar itu?" Setelah mendiamkanku dalam gelisah selama hampir sepuluh menit, akhirnya Pak Ruslam bicara dengan sangat to the point.
"Iya, Pak, benar. Saya juga hendak memberi tahu Bapak tentang ini." Pak Ruslam mangut-mangut mendengar jawabanku, pandangannya kembali ke layar komputernya. "Tapi saya berjanji, project yang saya terima dari Hizi ini, tidak akan menganggu pekerjaan utama saya di sini." Lanjutku setelah tidak mendapat respon. Pak Ruslam mengangguk-angguk lagi.
"Ya..kalau menurut Mbak Bivi itu yang terbaik, saya setuju saja. Tapi saya pegang ya kata-kata Mbak Bivi tadi. Tidak akan menganggu pekerjaan utama Mbak di sini. Hizi itu perusahaan besar lho! Proyeknya tidak mungkin kecil-kecilan." Sekarang gantian aku yang hanya mengangguk. Aku sudah mempertimbangkan ini matang-matang kemarin.
"Kalau boleh tahu, proyek apa yang kamu terima di sana?" Pak Ruslam beralih dari layar komputernya, sepenuhnya menghadapku.
"Human resource yang berkolaborasi dengan CSR. Sebuah program membangun cinta masyarakat kepada Hizi."
"Wah, bagus! Sesuai dengan passion kamu!" Pak Ruslam mangut-mangut lagi. "Ya sudah, kamu boleh pulang!"
Aku sangat lega ketika akhirnya Pak Ruslam membolehkan aku pergi. Aku tidak begitu khawatir sebenarnya, karena aku mengenal siapa Pak Ruslam. Beliau tipikal orang yang senang melihat orang lain berkembang. Orangnya sangat tulus membaikkan orang lain.
Dulu ketika aku bimbang mencari pekerjaan, setelah lulus dan resmi menjadi psikolog. Sertifikat profesiku belum keluar terkendala kesalahan penulisan nama. Waktu itu aku sudah mulai melamar di mana-mana, dan tidak ada yang menerima keterlambatan sertifikat profesi.
Saat aku akhirnya menyerah dan memilih menunggu saja berbulan-bulan menganggur, justru Lembaga Psikologi Nurani milik Pak Ruslam ini yang menawariku bekerja. Pak Ruslam menerimaku atas rekomendasi salah satu petinggi di tempat aku magang dulu, ya, hanya berdasar rekomendasi beliau mempercayaiku. "Saya melihat kelebihan kamu dalam bidang interpersonal. Kamu bisa berkembang baik di lembaga ini, katanya kemudian." Aku ingat-ingat selalu perkataan Pak Ruslam ini, sangat menyemangati ku di awal-awal memulai karir sebagai konselor hubungan keluarga.
Ketika aku keluar dari ruang Pak Ruslam, Pak Malik masih berdiri di depan meja Laila, kali ini aku menatap wajahnya dan kulemparkan padanya senyuman termanis dan berlalu tanpa mengatakan apapun.
Aku segera memacu mobilku menuju Summer Coffee, yaitu tempat rapat bersama panitia kecil. Summer Coffee kebetulan hanya 2 kilometer dari kantorku, aku tidak tahu ini memang kebetulan atau dicari yang paling dekat dengan kantorku agar aku mudah. Huftt aku ingat lagi kata-kata ibu semalam.
Begitu aku sampai di kafe itu, aku celingukan mencari dimana Kaizan dan panitia kecil duduk. Aku mengitari seluruh bagian kafe itu tapi tetap tidak menemukannya. Masak harus telfon Kaizan? Aku berhenti untuk berpikir sebentar.
"Kak, pertemuannya di ruang VIP!" Seseorang menyenggol ku, aku belum mengenal siapa namanya, tapi aku ingat dia team panitia kecil. "Lewat sini!" Dia membimbingku menuju ruang VIP, melintasi setengah bangunan kafe itu, dapur kafe, mushola, dan baru sampai di ruangan yang bertulisan VIP Room.
Aku minta maaf pada semua teman-temanku di sana. Dan mereka memaklumi. Entah kebetulan atau disetting seperti itu, tempat duduk yang tersisa hanya sisa satu tepat di samping Kaizan.
Huftt...aku menata hatiku baik-baik, sambil membatin minta kerjasama agar tidak ceroboh dan berbuat bodoh.
"Jadi Bivi, tadi kita membahas tentang agenda terdekat yaitu launching projects. Di sini, kami menyepakati mengambil Desa Bandar Kapuas sebagai tempat launching, dan ini susunan acara. Masih sebatas itu saja sih." Kaizan menjelaskan padaku dengan serius. Kulihat kemudian kertas yang ia serahkan. Isinya seperti gambar mind mapping yang tulisannya tidak bisa k****a karena hampir mirip tulisan di resep dokter. Aku mengangguk.
Selanjutnya Kaizan memintaku yang memimpin rapat karena dia akan kembali ke kantornya. Saat dia bilang akan undur diri, entah kenapa ada sebagian hatiku yang tidak rela. Yah...masak aku datang dia pergi. Tapi segera kutepis, ini baik untuk konsentrasi dan fokus ku.
Melanjutu rapat kecil itu seperti memasak yang tinggal menunggu masakan matang di wajan, meniruskan dari minyak goreng, dan menyajikannya di meja makan. Semua sudah berjalan sesuai instruksi. Kaizan benar-benar terstruktur cara berpikirnya. Ada tambahan sedikit saja yang kurang masukanku.
Ya, kami akan membranding kampung tempat kami launching program ini menjadi kampung binaan Hizi, kami akan totalitas membangun kampung itu. Aku tiba-tiba menggebu melihat rancangan program kami. Capekku hilang, semangatku tumbuh.
Pukul 19.30 rapat kami selesai. Setelah berbincang singkat dengan team, aku pamit karena tidak mau berlama-lama di luar, ibu pasti sudah menungguku. Mereka semua segera bubar juga ketika aku pamit undur diri.
Kafe mulai ramai pengunjung, bahkan sangat ramai. Aku melewati dapur kafe yang sibuk, dan menoleh ke arah tempat kafe bar, tempat barista mempertontonkan caranya membuat beraneka sajian kopi, tidak kalah ramai.
Bau kopi dan cake menyeruak, sebenarnya aku lapar, terutama ketika melihat meja-meja pengunjung yang terhidang potongan cake kekinian, perutku memanggil-manggil. Ah tapi ibu pasti menungguku untuk makan malam.
Aku keluar kafe dan berjalan menuju mobil dengan perasaan lega. Tugas tandemku lancar hari ini, terimakasih ya Allah. Begitu aku mau menarik pintu mobil. Aku melihat sekeluarga keluar dari mobil. Aku kenal sepertinya dengan mobil itu. Aku buru-baru masuk mobil sebelum mereka melihatku. Kuamati dari jauh mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju kafe, lewat depan mobilku.
Mereka adalah Ala, Ghulam dan Kavya. Mereka mungkin hendak makan malam di kafe ini. Aku terus mengamati mereka dari jauh. Mereka memakai baju kasual dengan tema wana sama yaitu hijau. Ala hijau olive, Ghulam hijau army, dan Kavya hijau sage.
Ternyata dugaan ku salah, mereka baik-baik saja, mereka terlihat bahagia. Mereka berjalan menuju kafe dengan mengobrol dengan santai, Kavya melompat-lompat dengan tangan digandeng ayah ibunya. Seperti keluarga harmonis pada umumnya. Begitu mengamati mereka masuk kafe, aku segera menjalankan mobil.