#14 Makan Malam

2007 Words
Aku mandi dengan air hangat yang disiapkan ibu, sengaja berlama-lama karena perasaanku sedang hangat juga. Sebelum masuk ke kamar mandi Ibu sempat berpesan, "Jangan lama-lama, ibu nggak sabar pengen denger cerita." Aku hanya tertawa nyengir. Seluruh ritual mandiku sore itu ditemani segala bayang-bayang peristiwa yang terjadi pagi hingga siang hari ini. Beberapa membuatku senyum-senyum tak jelas, beberapa membuatku takut, beberapa membuatku menyesal (seperti salah dress code), atau berbunga-bunga atas hal biasa saja yang kuanggap istimewa, seperti saat Kaizan menatapku. Jujur, aku belum pernah jatuh cinta yang benar-benar terpesona. Bukan maksudku mengadakan pengakuan kalau aku jatuh cinta kepada Kaizan. Tapi perasaan aneh itu memang ada. Desir jantung, rasa ingin membayang kan, pengen senyum ketika mengingat, rasa ingin menepis dan sulit menyembunyikan perasaan. Aku merasai semua, di setiap tetesan hangat air yang kuguyurkan di badanku, aku merasai dan memang harus kuakui, perasaan ini nyata. Dok..Dok..Dok...suara pintu kamar mandi diketuk. Baru saja aku hendak mengambil facial foam. "Ya, Bu?" Tumben-tumbenan ibu menyusul ku ke kamar mandi, benar-benar tidak sabar mendengar cerita kah? Aku ngikik sendiri dalam hati. "Ada Alana di depan." Jawab ibu lalu terdengar suara sandalnya menjauh. Huhh...mengapa Alasudah datang? Dia tadi bilang katanya mau datang malam. Aku masih ingin menikmati perasaanku, aku ingin bicara banyak dengan ibu sehabis ini. Mengapa Ala datang lebih awal? Segera kuselesaikan ritual mandi ku. Dan cepat-cepat menuju kamar untuk berganti. Tanpa berlama-lama. Segera ku temui Ala di teras. Dia duduk bersama Ghulam dan Kavya. Kavya melambaikan tangan dan berlarian menyambutku seperti seolah menyambut nenek yang lama tak jumpa. "Halo Kavya!" Kavya mengangguk tersenyum, meraih tanganku dan menciuminya. Aku berjongkok untuk mencium pipinya. Aroma Kavya masih bayi sekali, seperti aroma minyak telon atau cologne bayi. Kavya menggandeng tanganku, kami bergabung dengan Ala dan Ghulam. "Kalian darimana?" Sejujurnya itu pertanyaan basa-basi yang terucap hanya karena bingung mau bicara apa. Menurut cerita Ala, mereka bertengkar kemarin. Bahkan siang tadi ketika menelfonku, Ala tidak mengatakan apakah hubungan mereka sudah membaik atau belum. Tapi jika kuamati gestur mereka, mereka sudah baikan. "Kami hanya jalan-jalan sore, dan berencana mengajak kamu dan ibu dinner di luar." Ala tenang sekali menjawab, aku diam saja masih bingung menanggapi. "Kalian belum ada agenda kan malam ini?" Lanjut Ala ketika melihatku diam saja. "Emmm aku tanya ibu dulu ya," "Ibu tidak ada agenda apa-apa, tadi rencananya malah pengen pesan nasi goreng mas-mas yang biasanya lewat pakai gerobak." Ibu menyahut begitu datang ke teras sambil membawa beberapa gelas air jeruk nipis hangat dan sepiring roti bakar yang kelihatannya masih panas. "Alhamdulillah...kebetulan ya Tante..Wah ada roti bakar! Tante bikin sendiri?" "Rotinya tawarnya beli, ada grosiran dekat sini, roti tawar khas Bandung. Tante beli banyak, kalau kamu mau nanti Tante bawain. Eh tapi ini tadi nggak ada yang rasa coklat, selai Tante cuman tinggal kacang dan nanas. Nggak papa ya?" Pembicaraan selanjutnya dikuasai Ala dan Ibu. Mereka datang bukan untuk membicarakan masalah hubungan mereka. Benar-benar murni silaturrahim. Namun, memang Ghulam lebih banyak diam. Hanya menjawab sesekali itupun ketika ditanya ibu. Beberapa saat kemudian, kami bersiap pergi untuk makan di luar. Aku dan ibu berangkat sendiri dengan mobil kami, Ala meminta kami bergabung dengan mereka tapi aku menolak dengan alasan ingin mampir ke suatu tempat pulangnya nanti. Mobilku membuntuti mobil Ala memasuki halaman sebuah restoran khas Sunda. Aku pernah kesini, bersama Zahra dan salah satu klien lembaga, ditraktir klien lembaga itu. Kesanku waktu itu, rumah makan tradisional yang harganya sungguh modern. Ala rupanya sudah reservasi tempat. Waiters mengantarkan kami menuju ruang privat, sebuah gazebo yang terpisah lumayan jauh dari pengunjung lain. Gazebo itu semu terbuka, di dekatnya Ini terdapat beberapa pancuran dari kendi air yang terus mengucur, dibawanya sebuah kolam berbentuk persegi, karena gelap, aku tidak tahu ada ikannya atau tidak. Di dalam gazebo itu, sebuah meja berbentuk oval dari kayu dengan ukiran yang nampak etnik. Sudah tersaji bermacam hidangan di atasnya. Sebakul nasi, kental hati ayam balado, udang cumi balado, Teri kecombrang, tumis teri daun pepaya, opor ayam, jamur krispy, ayam goreng lengkuas, sambal bawang dan rendang, setoples kerupuk, satu teko lemon tea dan beberapa gelas jus buah. "Kalian sudah memesan makanan sebanyak ini?" Begitu masuk gazebo, ibu langsung berucap demikian tanpa basa-basi. "Nanti kalau tidak habis kita bisa bungkus kok Bu, jangan khawatir, tidak akan mubadzir." Ala pun sigap menjawab. Kami langsung duduk mengitari meja, Kavya sudah mencomot jamur krispy, dan segera mengunyahnya, ibu pun langsung mengambil piring kosong di hadapannya tanpa sungkan. Aku sendiri yang masih kaku karena merasa kejanggalan dari makan malam ini. Tadi di mobil aku bilang pada ibu, bahwa ini aneh sekali, ibu bilang aku harus berprasangka baik, mungkin mereka sudah rukun. Ya, mungkin saja, mungkin kejadian liburan terulang kembali. Tapi, untuk apa baikan kalau bersifat sementara seperti kemarin? Segera kubuang jauh-jauh perasaan ganjilku. Dan mencoba bergabung menikmati malam itu. Aku mengambil ayam lengkuas, sambal bawang dan oseng teri daun pepaya, tak lupa juga segenggam kerupuk. "Bivi suka oseng pepaya?" Ala melontarkan pertanyaan ketika aku menambah oseng pepaya ke piringku. Aku segera mengangguk. "Suka banget." "Alhamdulillah, tadi mau persen maju mundur karena aku dan Ghulam sama-sama nggak suka, tapi masak nggak ada sayurannya. Ini, teri kecombrangnya enak banget lhoo.." Ala menggeser piring besar berisi teri kecombrang pada aku dan ibu, ibu gercep mengambilnya. Kami semua makan dengan lahap. Selama makan malam itu, Ghulam juga masih banyak diam. Mungkin perasaannya juga belum benar-benar pulih. Tapi Ala, bagaimana bisa dia secepat itu berubah. Aku menggeleng lagi-lagi. Saat Ala kemudian izin ke kamar mandi, aku gerak cepat menyusul nya. "Kalian sudah benar-benar baikan?" Aku mensejajari langkah Ala menuju kamar mandi, kami melewati jalan taman yang berbatu. Ala menolehku, lalu tersenyum mengangguk. "Kamu penasaran apa yang membuat kami baikan?" Begitu sampai di depan pintu kamar mandi Ala berbalik menghadapku. Ganti aku yang mengangguk. "Tunggu ya, aku kebelet pipis." Dia tertawa lalu ngeloyor masuk. Aku tidak masuk ke ruang kamar mandi, aku menunggu ala di depan kaca wastafel sambil pura-pura cuci tangan. "Sebenarnya siang tadi ketika aku menelepon kamu membuat janji, aku sudah mulai baikan dengan Ghulam. Ghulam minta maaf dulu." "Kamu tahu apa yang membuat dia minta maaf dulu?" "Aku tidak tahu, dia orang yang paling sulit minta maaf, tadi ketika menelponmu aku ingin bertanya, apakah aku harus memaafkan atau apa yang harus kulakukan." "Terus?" "Saat menelepon mu aku di kamar, tidak ada siapa-siapa di sana. Begitu aku menutup teleponmu, aku menyadari, Ghulam sudah di belakangku. Dia pasti mendengar semua percakapan kita. Aku takut dia kembali marah. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Dan aku terkejut sekali ketika kemudian dia memintaku mengajakmu makan malam. Dan aku rasa sebaiknya kami datang lebih awal untuk mengajak kalian makan malam di luar secara langsung." Ala menatapku seperti memelas jangan diungkit-ungkit karena akan merusak kebahagiaannya malam ini. "Ayo kita kembali, mereka pasti sudah menunggu." Ala menarik lenganku, mengajakku kembali menuju gazebo. Aku mengikutinya dari belakang dengan kepala dipenuhi ribuan tanda tanya. Pukul 20.00 kami berpisah di tempat parkir, Kavya bersemangat melambaikan tangan kepada kami. Terlihat jelas sekali mimik bahagia di wajahnya. "Apakah mereka bahagia?" Kata-kata ibu begitu kami sampai di dalam mobil, duduk dan memakai sabuk keamanan. "Menurut ibu?" Jawabku singkat. "Alana terlihat bahagia, aku tidak tahu suaminya, dia banyak diam, memang pendiam atau sedang tidak selera bicara. Yang jelas bahagia adalah Kavya." Aku tersenyum mendengar jawaban ibu, ibu benar, mereka terlihat bahagia dari luar, keadaan hati mereka, mereka sendiri yang tahu. "Mereka baru baikan sore ini. Setelah pertengkaran berhari-hari hingga membuat seorang suami tega tidak mengizinkan istrinya bertemu anak mereka ketika sakit. Lalu mereka baikan tanpa alasan yang jelas dan semuanya seolah tidak pernah terjadi apapun." Ibu diam menyimak penjelasan ku, pandangannya menuju mobil di depan kami, ya kami sedang terjebak macet di perempatan lampu merah. "Tidak baik-baik saja kalau begitu." Mimik muka ibu menjadi datar dan serius. "Entah pura-pura menjadi baik-baik saja, atau…" Ibu menggantung kalimatnya… "Atau apa, Bu?" Tanyaku setelah akhirnya penasaran dengan kalimat lanjutan yang diucapkan ibu. "Atau ada yang tidak beres. Kamu pasti lebih paham." Aku diam tak menanggapi perkataan ibu, karena memang benar, Ala dan Ghulam sedang tidak baik-baik saja meskipun dia baikan. Dan tugas besarku untuk membantu mereka menghadapi ini. "Besok aku akan meminta Ala untuk ke kantor." Jawabku kemudian, ibu langsung menggeleng. "Jangan besok, beri mereka waktu dua atau tiga hari. Biar mereka menggambil jeda." Aku pun mengangguk mendengar perkataan ibu, ibu benar, terlalu terburu-buru dan menghakimi jika aku besok langsung menyuruh Ala ke kantor. "Ohya!" Tiba-tiba ibu teringat sesuatu, mimik mukanya berubah dari serius menuju girang, rambut ibu yang sebahu berguncang saking girangnya. "Ohya apa?" Tanyaku pura-pura berpikir, aku sebenarnya tahu yang ibu maksud, tapi malu kalau langsung to the points. "Cerita kamu. Ibu sampai kelewatan mendengar hari pertama di project besar Hizi." Ibu benar-benar penasaran, wajahnya di hadapkan sempurna menghadapku, bahkan ibu bersila menghadapku, aku hanya tersenyum sambil terus serius menyetir menghadap jalanan di depanku. Jalanan lumayan ramai, kami melaju pelan-pelan. "Ayo dong! Masak cuman senyum-senyum." Ibu mencolek perutku, aku mengaduh karena geli. "Tadi...ibu tahu nggak, aku salah pakai baju." Aku dan ibu tertawa "Bagaimana bisa?" "Ada informasi yang terlewat di grup w******p. Bodoh banget Bu, aku tadi dandan ala dosen-dosen yang serius dan teamku berdandan ala anak muda yang stylist." Ibu tidak lagi tertawa meskispun aku tertawa, beliau menyimak ceritaku dengan serius dan mimik muka antusias. Aku menceritakan semua dari A sampai Z. Bahkan hidangan apa untuk makan siang, coffer break atau rapat kecil kami. Aku cerita tentang posisiku di project itu, tentang galauku, tentang tatapan Kaizan, tentang Rindani, tentang restoran itu, tentang Kaizan lagi yang mengantarku ke mobil ketika kami pulang. Aku bercerita tanpa henti, dan ibu masih menyimak dengan wajah yang makin antusias. Kami bercerita hingga mobil masuk ke halaman rumah, kami tidak segera turun karena masih asyik bercerita. "Biv, apakah kamu bahagia bergabung di project itu?" Ketika kami hendak memutuskan turun dari mobil, ibu tiba-tiba bertanya serius. "Ibu melihatnya gimana?" Aku balik bertanya, perasaan ku menjadi hangat ditanyai demikian. "Ibu melihat kamu bahagia, kamu menaruh harapan pada Kaizan, tapi maafkan ibu jika ini terlalu awal untuk mengatakan, jagalah hatimu dan jangan terlalu berharap banyak." Aku diam terpaku mendengar perkataan ibu, sungguh kalimat yang ibu ucapkan sangat benar sekali dan menghujam ke hatiku perih sekali. Aku tidak menjawab apa-apa hanya menunduk. "Orang sepeti Kaizan, bukan orang jahat, dia orang baik dan pintar. Saking pintarnya, dia pandai mengambil hati siapapun. Perlakuannya hari ini padamu, bisa sangat berarti istimewa bagimu, tapi biasa saja baginya, karena bisa jadi itu adalah standartnya memperlakukan orang lain. Maafkan ibu Bivi, ibu hanya tidak ingin anak ibu kecewa suatu saat. Ibu hanya ingin anak ibu berhati-hati dan tetap menjaga wibawa nya sebagai perempuan." Ibu melanjutkan kalimatnya, aku semakin terdiam, semua yang dikatakan ibu benar sekali. Ibu memelukku dari samping. "Ibu tahu, kau adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta. Dia ibu sangat percaya, kamu akan jatuh cinta dengan orang yang benar-benar tepat." Ibu menutup kalimatnya, mengelus-elus bahuku, dan keluar dari mobil terlebih dahulu. Kulihat punggung ibu dari dalam mobil, ibu adalah sosok yang selalu kudengar nasehatnya selama ini. Dan ibu benar, aku tidak boleh terlalu GR menanggapi Kaizan. Ahh Ibu, kukira ibu akan menggodaku dan berkata cie-cie, tapi ibuku tahu benar apa yang kubutuhkan saat ini. Kaizan memang pantas dikagumi, dan aku memang sudah kagum padanya, terpesona padanya. Namun aku belum mencintainya. Aku harus pandai-pandai membawa diriku, menjaga profesionalitas kerjaku agar tidak terseret cinta buta. Aku baru saja mengenal Kaizan, baru tiga kali bertemu dan baru kemarin tahu nama lengkapnya. Ibu benar sekali, bisa saja Kaizan memang memperlakukan semua orang dengan istimewa, tidak hanya denganku saja. Akhirnya aku turun dari mobil, masuk dari rumah dan menemui ibu. Ibu di dapur sedang menyalakan kompor, merebus air untuk membuat teh panas, ibu selalu membuat teh panas setelah bepergian. Kupeluk ibu dari belakang, ibu nampak kaget dan segera tersenyum. "Terimakasih, Bu. Sudah menasehati ku demikian. Nasehat ibu sangat berarti." Kuciumi pipi ibu. Ibu tersenyum lagi. "Kamu mau teh apa s**u?" "Kopi aja, Bu. Kopi s**u, Bivi ada pekerjaan yang harus lembur malam ini." "Baiklah, jangan sampai lewat jam 12 ya…" "Siapp" aku mengacungkan tanganku tanda hormat, ibu tertawa. Lalu kami membawa cangkir kami masing-masing dam menuju meja makan untuk minum bersama sebentar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD