#13 Kaizan Ahkam Kamil

2038 Words
Pagi ini aku membatalkan janji dengan Ala dan jadwal bertemu seorang klien yang lain. Ada rasa bersalah sebenarnya, terutama mengingat-ingat alasanku mengapa aku membatalkan janji itu. Semalam Kaizan mengirimiku pesan menanyai kejelasan jawabanku tentang tawaran kapan hari. Hizi Corp. Akan menghelat projek besar dalam bidang psikologi sosial, sebenarnya bukan hanya aku, tapi ada beberapa psikolog yang lain. Tapi yang lain bergabung melalui pendaftaran dan seleksi, dan aku, aku ditawari secara langsung oleh pimpinan perusahaan dan manajer HRD langsung yang menemuiku. Jadi, mau gimana pun, aku merasa tidak bisa jika tidak merasa bangga. "Selamat malam, Biv. Bagaimana, apakah siap bergabung dengan Hizi?" Aku berpikir keras bagaimana menjawab pertanyaan itu. Bolak balik ke kamar mandi, ke dapur, ke teras, untuk alasan yang tidak jelas. "Kamu sedang bimbang?" Ibu menangkap keanehan gerak-gerikku. Matanya menyelidik ke arah mataku. Aku tidak ada alasan lain untuk kemudian tidak mengangguk. Keperlihatkan layar ponselku kepada ibu, ibu mengernyit. "Itu Kaizan?" Tanya beliau kemudian, aku mengangguk lagi. "Bagaimana, Bu?" Aku bertanya dengan nada sedikit merengek. Ibu tertawa. "Kok ibu tertawa? Ibu tertawa lagi, "nada pertanyaanku seperti kamu izin main hujan atau beli saat baru sembuh dari sakit. Persis seperti dulu saat kamu bocah." Ibu terus menggodaku, dan aku justru semakin menggebu manja melanjutkan kegalauanku. "Pilih yang membuat Bivi tenang, dan pastikan kamu tahu betul konsekuensi pilihan yang kamu ambil." Ibu lalu meninggalkanku di meja makan. Ku lirik jam dinding menunjuk pukul 20.10, kata ibu aku harus sudah membalas sebelum pukul 21.00 karena tidak sopan seorang perempuan mengirim pesan kepada laki-laki terlalu malam sekalipun untuk urusan pekerjaan. Pukul 20.45 aku terbaring di atas kasur berselimut hingga d**a dan mengetik di ponsel menyusun kalimat. Persis seperti kamu sedang pertama kali mendapat tugas membuat cerita pendek di hari pertama masuk sekolah. Segela kalimatnya penuh dengan pertimbangan. "Bismillah, saya terima tawaran ini, semoga dapat bekerja sama dengan baik." Aku mengetik kalimat itu selama sepuluh menit dan mengirimkannya pukul 20.55. Belum lewat dari nasehat ibu. Tidak sampai lima menit Kaizan membalas, aku deg-degan membuka pesannya, berpikir macam-macam. Tapi, bukan ucapan selamat bergabung seperti yang kubayangkan melainkan sebuah file dokumen TOR (Term of Reference) projek yang akan kami jalankan. Aku tertawa sendiri mengingat kekonyolan ku barusan dan segera mempelajari file yang Kaizan kirim. Dan, di sinilah sekarang aku berada. Aku sedang di dalam mobil di parkiran sebuah rumah makan. Kaizan sebagai pimpinan proyek sudah mengkonfirmasi di grup w******p jika dia sudah sampai, tapi aku tidak mau masuk duluan, nanti datang pertama dan dikira terlalu bersemangat. Aku mengamat-amati dulu, namun setelah kutunggu lama hingga hampir menuju jam rapat yang dijanjikan, aku tidak menemukan gerak-gerik orang yang datang ke resto itu dan hendak rapat. Ya sudah daripada terlambat, tidak apa-apa diduga terlalu bersemangat. Aku berjalan menyusuri koridor resto. Resto yang dipilih Kaizan ini temanya semi tradisional. Ada gazebo berbentuk joglo-joglo kecil yang diisi beberapa orang. Di tengah jogjo yang berderet melingkar terdapat aim mancur dan kolam ikan koi yang gemuk-gemuk dan berdesakan. Ruang pertemuan Slamet Mawardi, aku membaca tag di depan pintu, lalu kuketuk, dan betapa terkejutnya aku. Sudah banyak orang di dalam ruangan rapat. Dalam sapuan pandanganku, hampir semua kursi sudah terisi. Seseorang yang menyambutku di depan pintu melempar senyum dan mempersilakan. "Selamat datang dan selamat bergabung, Biv!" Kaizan menyambutku, menyalamiku dengan mantap seperti dengan seorang rekan bisnis. Aku hanya mengangguk dan bingung sekaligus mati gaya. Semua orang berseragam, berwarna merah putih. Mereka semua berpakaian kasual. Ya Allah...pantas saja tidak kutemukan seseorang yang berpenampilan seperti hendak rapat. Karena mereka semua rata-rata memakai celana jeans, kulot, rok selutut yang lebar, semua santai. Aku sendiri yang beda. Mereka ada yang memakai atas kemeja atau kaos bahan rib atau knit warna merah atau putih. Memakai flat shoes atau sneakers. Semua santai, aku sendiri yang beda. Aku memakai celana kain, kemeja putih lengkap dengan blazer yang sangat terlihat resmi dan paling beda dengan yang lain. Aku memakai sepatu pantofel. Aku duduk di kursiku dengan kondisi masih linglung. Aku duduk tepat di sebelah kanan Kaizan, Rindani di sebelah kirinya. Dia melambai begitu menyadari kedatanganku, aku hanya mengangguk karena masih merasa paling kuno di ruangan itu. Aku merasa aku seperti seorang dosen jadul yang masuk ke kelas mahasiswa kelas fashion. Mereka semua modis, cantik atau tampan, dan tentunya mereka memakai dress code. Ya, akulah ibu2 yang ketinggalan info kalau pertemuan kali ini ada seragam yang telah ditentukan. Aku menghela nafas, Kaizan di sebelahku, tepat di sebelahku, kami sangat dekat. Dia konsentrasi menghadap layar laptopnya. Ini memalukan, tapi jujur, dia terlihat sangat tampan ketika sedang serius. Ekspresinya natural, garis rahangnya tegas, dan terlihat pintar. Seperti tokoh-tokoh CEO dalam drama Korea. Kali ini ia memakai kaos polo warna merah darah, ia memakai celana jeans warna biru muda dan sepatu kets putih. Tampak fresh dan penuh semangat. Aku duduk di sampingnya menjadi semakin merasa kecil. "Baiklah, mohon perhatian sebentar. Meeting akan segera kita mulai." Rindani berdiri memecah kasak kusuk di ruangan. Semua tenang dan diam. Rindani perempuan yang manis, dia tidak putih atau glowing seperti gadis kebanyakan. Tapi kulit wajahnya yang sawo matang sangat bersih dan menarik untuk dipandang. Dari gaya bicaranya, dia terlihat perempuan yang pintar. Oh tentu saja, bagaimana dia bisa menjadi bagian dari Hizi Corp. jika tidak pintar. Rindani memakai blouse putih dengan kerah berbentuk pita yang ditarikan simpul dan rok selutut berwarna nude. Ia membuka acara dengan sangat apik seperti sudah terbiasa, memaparkan sebentar agenda hari ini dan memperkenalkan Kaizan kepada kami semua. "Baik, jadi di samping saya ini adalah Manajer HRD Hizi Corp. sekaligus master project kita kali ini yaitu Mas Kaizan Ahkam Kamil. Teman-teman bisa memanggilnya Mas Kaizan. Hari ini beliau lah yang akan meminpin rapat pertama kita pada hari ini. Kepada Mas Kaizan saya persilakan untuk membuka dan langsung memimpin rapat." Kaizan Ahkam Kamil. Aku mengeja berulang-ulang nama itu. Nama yang sangat cocok dengan sosok pemiliknya. Selanjutnya, Kaizan membuka rapat dan menjelaskan project kami. "Jadi, project ini bernama Menumbuhkan Cinta untuk Hizi. Dan kita, team ini, bertugas menanam benih cinta Hizi ke penjuru Indonesia agar tersemai. Baiklah, karena ada beberapa anggota team yang merupakan orang baru di Hizi, izinkan saya memaparkan tentang Hizi sebentar." Selanjutnya, Kaizan memaparkan banyak tentang Hizi, yang sebagian besar sudah ku ketahui, karena memang sebenarnya, perusahaan ini sudah seterkenal itu. Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut adalah ketika mendengar Kaizan mengatakan, "Lima puluh persen keuntungan bersih Hizi perbulan disalurkan untuk yayasan amal. Jadi, kita mempunyai alasan besar, mengapa masyarakat Indonesia khususnya kota ini harus mencintai Hizi. Dan itulah salah satu tujuan besar gerakan yang akan kita masive kan ini." Kaizan menyudahi pemaparannya tentang Hizi dan mempresentasikan susunan dan job description team. Dan betapa terkejutnya aku melihat susunan panitia project, namaku ada tepat di bawah, mataku sampai terbelalak melihatnya, kukucek mataku menggunakan tangan memastikan pandanganku tidak kabur. Ternyata benar. "Ya, saya sebagai master project dan co-master nya adalah Bivi. Ini Bivi, yang duduk di sebelah kanan saya. Jadi mungkin Bivi yang akan lebih banyak membantu, menemani, dan memberi arahan kepada teman-teman karena saya akan lebih banyak urusan kantor." Pada saat itulah Kaizan akhirnya menolehku, menatapku penuh penghormatan dan beberapa kali mengangguk. Dan disitulah aku seperti mayat hidup yang kaku, dingin, dan sekaligus mati gaya. Aku tahu pada saat itu jelas-jelas Kaizan menatapku dengan penuh penghormatan sebagai partner kerja, tapi entah mengapa aku menangkapnya seperti dia sedang terpesona padaku. Kurututi pikiranku yang tak bisa diatur, kubalas tatapan Kaizan dengan senyum yang menangguk. Begitu pertemuan pagi itu ditutup, setelah pembacaan doa dan deklarasi semangat atau yel-yel, waiters mengeluarkan hidangan dan menyulap meja di depan kami menjadi hidangan. Aku tidak bergeming di posisiku dengan perasaan yang masih berantakan. Kaizan berbicara sebentar dengan Rindani lalu beralih padaku. "Aku minta maaf sekali, Biv! Bukan aku yang menunjukmu, tapi Pak Wayan. Dan itu beliau instruksikan tadi malam. Dan bisa kupahami, mungkin beliau khawatir aku melalaikan tugas utama kantor demi project ini. Tapi aku setuju, kamu orang yang tepat!" Kaizan berbicara sambil menyeruput jus berwarna oranye, mungkin jus wortel. Pembawaan nya lebih santai, pun cara bicaranya, tapi aku belum bisa santai menghadapinya. "Bagaimana kalian bisa seyakin itu?" Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku, aku hendak mengambil gelas minuman di hadapanku namun tanganku kelu. "Feeling." Jawabnya singkat, dan aku hanya melongo. "Kalau begitu aku khawatir feeling kalian salah." "Bagaimana kalau benar?...." Belum sampai selesai bicara, handphone Kaizan berdering. "Sebentar ya.." Ia lalu berdiri mendekat ke jendela kaca lalu berbicara dengan orang di seberang telepon dengan mimik serius. "Mbak Biv, good luck!" Rindani menyapaku mengacungkan jempol, lalu ia beralih ke kursi Kaizan, mendekatiku. "Semua ini benar-benar mengagetkan, Rindani. Bagaimana bisa mereka menunjuk seorang konselor menjadi co-master project sebesar ini, mereka memutuskan tanpa menanyai ketersediaanku." Rindani tertawa. "Pak Wayan dan Kaizan, dua orang dalam satu pemikiran pragmatis. Mereka selalu terencana, penuh pertimbangan dan perfect. Di kantor, tidak ada yang bisa menolak mereka." "Ohya?" Rindani mengangguk, ia mengaduk aduk lemon tea tanpa meminumnya. "Aku hanya khawatir satu hal untukmu." "Apa?" "Klien-klienmu akan banyak kehilangan waktu bersamamu." "Aku juga khawatir itu. Aku khawatir aku mengecewakan Hizi." "Kamu pasti bisa, Biv! Aku yakin itu." Kaizan datang lagi dan Rindani kembali ke kursi sambil mengedipkan mata. Kami lalu makan bersama, hidangan di depan kami sudah lengkap, ayam lengkuas, oseng cumi asem, gurame atau nila bakar, cah kangkung serta sesambelan. Tema makanan kali ini adalah menu lesehan tradisional sekalipun kami duduk melingkari meja makan yang formal. Semua terlihat makan dengan lahap, kecuali aku. Di pikiranku berkecamuk macam-macam, tentang project besar ini, yang aku adalah salah satu pimpinannya. Tentang kontrak-kotrak di lembagaku, terutama tentang kasus Ala yang belum menemui titik temu. Bagaimana kalau nanti aku gagal? Bagaimana kalau aku mengecewakan Pak Wayan dan Kaizan? Hahh… "Hai..kamu nggak ingin makan?" Kaizan di sebelahku mengagetkan, mungkin daritadi dia hanya melihatku diam terpaku. "Kamu masih shock?" Tanyanya kemudian, aku mengangguk tapi kemudian meraih piringku dan segera melahap. Pukul 12.30 Kaizan mempersilakan semua peserta rapat untuk meninggalkan tempat, tapi menahanku dan beberapa orang lain agar tetap tinggal. Kami membahas langkah selanjutnya, membagi beberapa pekerjaan dan menyusun jadwal rapat kecil dan besar mendatang. Hampir dua jam aku terjebak dalam situasi serius dan memang sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan ku. Project ini bukan agenda remeh. Ini agenda perusahaan dalam promosi sekaligus misi kemanusiaan. Kaizan membagi job description sangat jelas dan terperinci, aku sedikit lebih lega karena ini membuatku bisa mengira-ngira apa yang akan kulakukan. Dia memandu rapat kecil ini dengan semangat berapi-api dan aura paling positif yang pernah kulihat. Dua jam aku bergabung dalam rapat kecil itu, selama itu pula aku tidak berhenti terpesona. Lebih-lebih ketika dia meminta kami sholat Dzuhur dulu sebelum memulai rapat. Lalu dia menanyakan perasaan kami tentang rapat kecil mendadak ini, apakah kami keberatan, atau kami ada agenda lain yang tidak bisa ditinggal. Benar kata Rindani tadi, Kaizan mampu membuat orang lain tidak menolaknya. Bukan dengan memaksa, tapi menggunakan bahasa retorika yang mempengaruhi. Semakin mendengarnya banyak bicara, aku semakin dibikin tidak mengerti, orang semacam apa sih dia, bagaimana bisa sesempurna ini. Tepat pukul 14.30 kami semua keluar dari rumah makan, bersama, dan bercanda menuju tempat parkir. Kaizan mengantarkan ku ke mobil dan berkata, "Aku sangat berterimakasih kamu mau bergabung dengan project ini. Aku yakin, kita akan mencapai goals." "Terimakasih sudah mempercayaiku, bismillah aku akan berusaha." Aku menjawab kalimatnya dengan perasaan paling santai seharian ini, mungkin efek rapat kecil yang memberikan banyak pencerahan. Atau mungkin juga sesi keakraban yang hanya beberapa menit yang dibangun tadi. "Oke, hati-hati di jalan." Dia tersenyum lalu berbalik berjalan meninggalkanku. Aku masuk mobil dan terduduk lama di balik kemudi. Di pojok seberang, tempat mobil Kaizan berada, tak kunjung bergerak. Aku menunggunya pergi dulu, tapi dia tak pergi-pergi. Apa mungkin dia juga menunggu ku? Ish ish aku tidak boleh GR.. Beberapa saat kemudia mobil Nissan Juke putih itu pun berlalu dan tak lupa memberiku sebuah sapaan klakson. Aku lega. Kusandarkan punggungku di kuris kemudi dan menghembus nafas paling lega seharian ini. Ya Tuhaaan, berwarna sekali hari ini. Beberapa peristiwa sepagi tadi membuatku tersenyum sendiri. Oh ya, aku lupa menanyakan mengapa aku sendiri yang tidak memakai dress, atau mungkin memang lebih baik aku tidak menanyakan karena akan kelihatan aku tidak mengikuti pesan-pesan di grup w******p dengan baik. Aku tersenyum lagi mengingat kekonyolan ku. Baru saja mesin mobil ku-nyalakan, handphoneku bergetar, panggilan dari Ala. "Iya, Ala?" "Biv, bisakah kita bertemu malam ini, terserah dimana atau di rumah mu?" "Oke, di rumahku saja ya.." Ada apa lagi Ala...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD