#12 Kedatangan Kaizan

1056 Words
Kedatangan Ala di rumah kemarin sore menutup pekan-pekan kosong hari kerjaku. Hari ini, aku mulai sibuk kembali. Beberapa kontrak psikotes mulai berjajar dan ada satu klien lagi dari perjanjian pekan kemarin. Hari ini pun, Ala meminta bertemu. Jadi hari ini, ada dua sesi konseling. Selesai bertemu klien pertama, waktu menunjuk pukul 11.00. Aku ada janji dengan Ala selepas makan siang, jadi aku masih memiliki sedikit waktu senggang. Aku hendak meminta kopi di dapur kantor tapi tiba-tiba Laila datang melongokkan kepalanya di pintu. "Mbak Biv, apakah ada janji dengan Pak Kaizan?" Deg, jantungku berdetak cepat tiba-tiba dan tidak teratur, ada sedikit ngilu-ngilu di hati mendengar nama yang disebut Laila. "Ka...Kaizan siapa?" "Ada laki-laki di depan, katanya ada janji." "Belum kayaknya." "Yaudah, gimana nih?" "Suruh masuk saja." Aku berpikir keras, Kaizan siapa ini? Apakah Kaizan si manajer HRD kemarin? Kalau iya, mau apa dia? "Selamat pagi, permisi!" Splashhh!!! benar! Kaizan yang dimaksud Laila adalah Kaizan sang manajer HRD. Aku tertegun menatapnya berdiri di depan pintu ruang kerjaku. Dia tampak kasual sekali, tidak seperti kapan hari kami bertemu. Ia memakai kaos berkerah warna putih, celana jeans hitam dan sepatu kets. "Permisi!" Katanya sekali lagi, aku mengangguk mempersilakan masuk. "Ibu Bivi, apakah masih ingat dengan saya?" Kaizan menyodorkan tangannya. "Manajer HRD Hizi Corp.?" Aku menjawab mantap menerima uluran tangannya. Wajahnya terheran mendengar kalimatku. "Anda tahu?" Oh ya ampun, aku menyesali jawabanku yang terlalu jujur, aku baru ingat, aku tahu kenyataan jika Kaizan seorang manajer HRD dari bertanya diam-diam kepada staffnya waktu itu. Aduh, bikin malu sekali keceplosanku. "Oh...iya, saya tahu dari Rindani." Jawabku jujur dan polos. Kaizan mengangguk-angguk tidak yakin. Aku berharap dia tidak bertanya lebih lanjut karena itu memalukan. "Jadi, apa yang membawa anda kesini?" Tanyaku memulai obrolan begitu melihat Kaizan duduk di depan mejaku. "Hmmm….Pak direktur yang meminta." "Ohya? Bagaimana bisa?" "Kami baru saja memutuskan memulai projek besar dan kami kehilangan salah satu psikolog dalam team kami. Dia meninggal secara mendadak beberapa hari lalu. Dan Pak Wayan merekomendasikan anda mengisi kekosongan team kami." Aku diam mencerna kalimat itu. Setelah melihatku tak merespon, Kaizan melanjutkan kalimatnya, "Tenang, bukan maksud kami meminta anda meninggalkan pekerjaan Ibu di sini. Kami hanya menawarkan proyek-proyek yang membutuhkan tambahan team, dan menurut Pak Wayan, Ibu adalah orang yang tepat untuk posisi itu." Aku mengangguk-angguk. "Akan kupertimbangkan." Kataku kemudian. Kaizan lalu berdiri dan berpamit, "Baiklah, semoga kita bisa menjalin kerjasama ke depannya." "Kita?" Tanyaku yang kemudian kusesali. "Iya, ibu dan Hizi." Jawab Kaizan yang membuatku merasa konyol. Kaizan lalu berbalik badan, dan entah atas alasan apa aku menahannya. "Tunggu!" "Iya." Kaizan berbalik menghadapku. "Tidak perlu memanggilku ibu, panggil saja aku Bivi." Kaizan tersenyum lalu menjawab. "Baik Bivi." Dia lalu benar-benar menghilang dari balik pintu. Meninggalkan aku dengan perasaan carut marut. Aku jadi tak selera makan. Kepalaku dipenuhi spekulasi-spekulasi. "Ada rencana apa dibalik semua ini ya Tuhaan." Aku mendesis sambil merapikan mejaku lalu menarik kotak bekal dari ibu. Mencoba melupakan peristiwa barusan. Kotak bekal ibu ada dua susun. Kotak pertama ada dua potong roti tawar isi telur selada air dan saus tomat. Di kotak kedua, ada kentang goreng yang tentunya sudah tidak crunchy dan dua potong nugget tempe buatan ibu sendiri. Ah ibu, dia masih saja membawakanku bekal seperti seolah aku anak sekolahan. Tapi aku selalu suka, kecuali hari ini. Aku tidak tertarik makan. Aku malas melakukan apapun, aku hanya ingin duduk membayang-bayangkan. Hishh rasanya malu dengan diri sendiri. Tok..tok… "Mbak Biv, Bu Ala sudah di depan." Laila berbicara dari balik pintu. "Suruh masuk, aku sudah free." Sesaat kemudian, Ala masuk ke ruanganku. Wajahnya tenang sekali, tidak kusut seperti kemarin. "Hai Biv, maaf aku datang lebih awal, aku ingin menunggu di depan tapi Laila bilang kau menyuruhku masuk." Ia berkata-kata dengan gaya seperti biasanya lancar dan luwes seperti bicara dengan karibnya, sambil menarik kursi lalu duduk di hadapanku. "Laki-laki tadi klienmu?" "Ha?" "Yang keluar dari ruanganmu sebelum aku masuk kesini." "Kau sudah datang sejak itu?" "Iya, kenapa?" "Oh nggak, dia bukan klien. Dia partner kerja." "Partner kerja?" Ala penasaran karena kata-kata yang kupilih. "Oh..hmm kenapa kita harus membahas itu?" "Jadi kau tidak mau kita membahas itu?" Aku dan Ala tertawa kompak. "Apa kabar hari ini?" Tanyaku setelah tawa kami mereda. "Kavya akan pulang dari rumah sakit hari ini, jahitan di dahi sudah mulai mengering, perban di kepala di lepas. Dia sudah bebas berjalan kemana pun meskipun harus sangat hati-hati. Aku menginap di rumah sakit tadi malam. Kau tahu, tentu setelah Kavya menangis terus memanggil-manggil aku. Ghulam tidak melakukan itu dengan suka rela. Dia masih marah. Entah untuk alasan apalagi." Ala mendengus. "Dimana dia selama kamu di rumah Losakit?" Aku bertanya menanggapi. "Iya di rumah, dia pasti tidur lega di kasur kami yang luas. Ohya! Aku membawakanmu es kopi, aku mampir caffee sebelum kesini." Ala mengeluarkan dua cup es kopi merk terkenal. Aku tidak pernah jajan kopi itu sekalipun sedang punya banyak uang, sayang kalau uang banyak hanya untuk membeli kopi. Ala meminum kopi itu dengan beberapa kali teguk saja, dia seperti sangat kehausan. Setelah habis segelas dia tampak ngos-ngosan. "Kamu haus?" Aku bertanya begitu dia menaruh gelas itu. "Aku kelelahan, Biv. Bukan fisikku, tapi batinku. Aku memutus kontrak dengan kolega, membatalkan kerjasama dengan supplier, aku kehilangan hampir 200 juta bulan ini. Demi Ghulam, demi menjawab tuduhan Ghulam bahwa aku mengabaikan Yookeluargaku. Tapi hal itu tidak merubahnya." Ala diam terpaku menutup kalimatnya, dalam tatapannya yang kosong pun dia masih terlihat sangat cantik di mataku yang seorang perempuan. "Apa yang harus aku lakukan, Biv?" "Menurutmu apakah Ghulam masih marah?" Ala mengangguk menanggapi pertanyaanku. "Ia jelas masih marah. Entah untuk perkara apa." "Maka tugas kita menghadapi orang marah adalah menunggunya selesai dengan kemarahannya. Semua yang kamu lakukan akan salah di matanya yang sedang dikuasai amarah." Aku berkata sambil menatap Ala. Dia mengangguk lagi menyetujui kalimatku. "Aku harus sabar, Biv? Harus aku yang sabar?" Aku mengangguk menanggapi pertanyaan retorika Ala. Dia hanya ingin menegaskan bahwa dialah yang berjuang selama ini. "Kecuali kamu ingin menyerah?" Jawabku kemudian, Ala menggeleng. "Kamu yang sabar, kamu yang akan menang. Semua keputusanmu, ingin menang atau berhenti." Aku hendak melanjutkan kalimatku ketika kemudian handphone Ala bergetar. "Iya Mak...ini aku mau pulang kok habis ini. Mak tenangin dulu ya..bilang kalau mama sebentar lagi datang." Ala diam sejenak menyimak perkataan orang di seberang telepon. "Oh..yaudah biar ditenangin sama papanya." Ala tersenyum getir, ia beralih menghadapku, "peperangan belum berakhir Biv, kelihatannya lebih lama lagi akan mereda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD