Beberapa hari sejak aku berpamit kepadamu, hari-hari berjalan baik. Kami, seperti keluarga bahagia lainnya. Menonton tivi, makan bersama, sesekali keluar ke mall hanya untuk jalan-jalan dan membeli cemilan, atau jogging mengelilingi komplek. Hampir seminggu semua berjalan baik, hingga suatu hari masalah datang lagi.
Aku lupa belum cerita sebelumnya padamu, dua bulan lalu, konveksiku mengirimkan proposal untuk mengikuti kompetisi UMKM kreatif yang diselenggarakan oleh salah satu kementrian, jika menang, kami mendapat penghargaan dan uang pembinaan sebesar 200 juta. Pengumuman itu tepat ketika kami baru saja pulang liburan kemarin, usahaku lolos, Biv! Aku senang sekali, waktu itu Ghulam terlihat juga ikut bahagia.
Hingga tiga hari lalu, kami mulai persiapan pengerjaan projek sesuai proposal yang kami ajukan. Aku mulai sibuk lagi, aku berangkat pagi sekali untuk meeting, bertemu beberapa kolega, mengontrol bagian produksi, memantau foto produk, dan lain-lain yang membuatku pulang malam.
Sehari dua hari, Ghulam masih belum komplain. Dia masih oke. Dua hari lalu, dia mulai tidak sabar. Nadanya ketika berbicara padaku mulai meninggi, dia mulai banyak mencela pekerjaanku lagi, dia terus menyalahkan banya hal.
Dan puncaknya adalah kemarin, kemarin setelah beberapa saat sering di rumah, Ghulam keluar kota untuk projek baru. Aku berangkat pagi ke butik, dia lebih pagi lagi, kami belum sempat sarapan. Hari kemarin, aku benar-benar sedang tidak beruntung. Pekerjaanku kacau, supprier menipuku, bahan baku tidak datang, aku harus segera mencari supplier lain karena waktu kami tidak banyak untuk produksi produk spesial expo di kementrian ini. Aku stess sekali, aku menangis sepanjang jalan pulang.
Dan sampai rumah, aku menemukan rumahku gelap, tidak ada orang sama sekali. Aku telfon Ghulam, tidak diangkat, Mak Semi, Hpnya tidak aktif, aku kalut sekali mereka kemana. Aku menangis sendirian di teras. Baru pukul 21.00 Mak Semi menelfonku, mengabarkan kalau mereka di rumahsakit. Kavya jatuh dari tangga, kepalanya terpentur hingga ada luka jahitan.
Aku segera berlarian ke mobil dan mengebut ke rumah sakit. Aku tidak peduli klakson-klakson kendaraan lain meneriakiku, aku sangat mengebut Biv, aku menerobos lampu lalu lintas, aku membalap truk-truk besar, aku kalut sekali, aku merasa bersalah.
Sesampainya di rumah sakit. Aku menuju resepsionis, tapi mereka bilang jam besuk sudah berakhir. Aku bilang aku ibu dari anak yang dirawat di sini, tapi mereka bilang, silakan menghubungi keluarga di dalam untuk bergantian masuk ke kamar pasien karena tidak boleh ada lebih dari satu penunggu pasien.
Aku menelfon Ghulam, masih tidak diangkat. Sudah pasti dia murka. Aku telfon Mak Semi, dia bilang sedang di ojek dalam perjalanan pulang. Aku bingung, aku meminta tolong seorang perawat memanggilkan Ghulam.
Aku duduk di bangku rumah sakit tengah malam itu. Aku menangis tergugu. Aku memang lalai, aku memang sibuk, tapi apakah aku pantas dihukum seperti itu. Aku tidak diizinkan bertemu anakku, anakku sedang sakit, kepalanya dijahit, aku ingin memeluknya. Dia pasti juga merindukanku.
Diantara rasa putus asa dan lemas karena belum makan sejak pagi, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di bangku sebelahku. "Kemarin aku masih sabar, ketika anakku sudah terluka, aku tidak sabar lagi. Kamu pilih pekerjaan atau keluargamu?"
Aku segera menoleh, Ghulam duduk di sana, menatapku dengan tajam. Wajahku basah penuh airmata dan keringat. Aku tidak peduli lagi make up ku sudah seperti apa. Aku berjongkok di depannya, tanganku diletakkan di lututnya dan menunduk memohon maaf.
"Maafkan aku, tolong aku ingin melihat Kavya!" Aku memohon-mohon seperti pengemis, Ghulam tak mau melihatku. "Apakah aku pantas dihukum seperti ini?" Aku masih terus menangis. Ghulam kemudian menunduk. "Tunggu besok di jam besuk." Ghulam berdiri hendak pergi.
"Ghulam!!!" Aku mencegat tangannya, "Aku memang salah, tapi aku ibunya Kavya! Aku berhak melihat anakku yang sedang sakit. Dia membutuhkanku." Aku sudah di luar kendali, aku berkata begitu dengan berteriak, beberapa petugas jaga sampai menoleh dan memberi kode kami untuk tenang.
"Kamu memang ibunya, tapi kenapa kamu tidak tahu saat dia membutuhkanmu, dia menangis berjam-jam mencarimu, aku menelfomu dan tidak kamu angkat karena pekerjaanmu sangat penting!" Ghulam berkata dengan nada penuh emosi yang ditekan dan dipelan-pelankan. Air mataku kembali menghujan membayangkan tangis Kavya kesakitan tadi.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa, aku hanya terus tergugu dan membiarkan Ghulam berjalan pergi. Aku menatap Ghulam dengan penuh amarah dan sakit hati. Kenapa dia begitu tega menghukumku. Aku akhirnya kembali ke mobil dan tidur di sana.
Jam analog di handphone menunjukkan pukul 08.00. Aku mengerjapkan mata pedih sekali, punggungku pegap karena tidur dalam posisi duduk. Kuambil sebotol air mineral dan menghabiskannya sekali minum, tenggorokanku kering sekali. Aku mematut wajahku di kaca spion depan, wajahku kusam sekali, rambutku awut-awutan, aku butuh ke toilet.
Aku merapikan bajuku dan mencuci muka. Baru terasa badanku lemas sekali karena hampir seharian penuh tidak makan apapun. Mataku menyapu tukang bubur ayam mangkal di sebrang jalan depan rumah sakit. Aku segera kesana. Memesan satu untuk diriku sendiri dan makan di sana, dan dua untuk Ghulam dan Kavya. Aku ingat Ghulam, dan hatiku kembali perih, terngiang kembali perkataannya tadi malam, menyakitkan sekali.
Selesai makan kulihat pukul 09.05 artinya jam besuk sudah mulai. Aku berlarian ke dalam, mengingat-ingat nomor kamar yang diberikan respsionis. Sampai lantai tiga, lantai tempat ruang kamar Kavya di rawat, langkah kupelankan. Aku ingat sesuatu, apa yang akan kukatakan pada Kavya, mengapa mama baru datang? Apa mungkin aku mengatakan jika papanya tak mengizinkan?
Sampai juga aku di depan ruang kamar Kavya. Ruang Avicenna No. 17. Kubuka pelan pintunya, kosong! Mereka kemana? Detak jantungku tidak karuan. Kemudian seorang cleaning service mendatangiku, apakah aku hendak mencari pasien kamar ini, kubilang iya, dan ia mengatakan jika ayah gadis itu membawanya keluar menggunakan kursi roda. Mungkin mereka di taman.
Aku pun berlarian turun menuju taman masih dengan membawa buntalan bubur ayam. Aku pada beberapa petugas rumah sakit dimana letak taman. Aku akhirnya menemukannya. Aku melihat dari jauh, tampak di sana Kavya sedang melihat ikan koi. Ia duduk di kursi roda, wajahny ceria berseri seperti biasa, terlihat sesekali ia tertawa. Ghulam berjongkok di depannya menyuapinya sesuatu dari cup.
"Kavya!" Aku mendekat dan memanggil Kavya. Dia menoleh dan matanya membulat lucu, ia sangat bersemangat ketika melihatku. "Ma… ma… maa" dia hampir berdiri saking bahagianya. Aku berlari ke arahnya lalu kupeluknya erat-erat.
Aku berjongkok di depan kursi rodanya, aku sudah tidak bisa menahan air mata, semuanya tumpah. Kavya mendorong tubuhku dan melepas pelukanku, dia menghapus air mata di pipiku dan mencium pipiku. Air mataku masih terus mengalir. Kavya menunjukkan luka di kepalanya yang di perban, ia melapor padaku peristiwa jatuhnya kemarin dengan bahasanya sendiri. Aku sangat paham apa yang ia bicarakan
"Maafkan Mama ya Sayang." Aku meraih pundak Kavya hendak kupeluk lagi, dia menggeleng. Lalu mengacungkan jempol tanda semuanya oke.
"Di luar sudah mulai panas, kita masuk ya Sayang!" Ghulam menyela percakapan antara aku dan Kavya, tatapannya masih tidak suka melihatku.
"Kita masuk ya, Sayang." Kataku menyetujui Ghulam. Dia membuang muka ketika aku menatapnya. Kenapa Ghulam seperti benci sekali padaku.
Kami bertiga berjalan masuk ke ruang kamar, Ghulam mendorong kursi roda Kavya, aku membuntuti dari belakang. Saat itu, aku merasa menjadi orang lain diantara mereka. Sepanjang koridor yang kami lalui, Ghulam mengajak bicara Kavya, mereka tertawa dan bercanda tanpa melibatkanku.
Sesampainya di kamar, aku menawari mereka bubur ayam yang tadi kubeli, mereka berdua kompak menolak. Kavya memang sudah makan tadi, Ghulam menyuapinya. Tapi Ghulam belum. Akhirnya kutaruh meja bubur itu sampai mendingin tanpa tersentuh.
Aku bermain bersama Kavya, menceritakan hari berat yang kulalui kemarin. Ghulam ada di sana, tapi entah mendengar atau tidak, dia tidak peduli. Dia sibuk dengan handphonenya. Menjelang siang aku memandikan Kavya. Kami tertawa-tawa di kamar mandi. Sesudahnya Kavya tertidur, pulas sekali.
"Apa aku sesalah itu?" Kataku memulai percakapan. Ghulam masih sibuk dengan handphonenya.
"Jadi kamu pikir, kamu tidak salah?" Jawabnya datar. Masih tidak menolehnya.
"Aku salah, aku minta maaf, tapi apakah itu belum cukup? Apakah aku harus terus dihukum. Apa yang kamu lakukan tadi malam, sangat menyakitkan." Suaraku mulai serak, mataku panas, sepertinya airmataku hendak tumpah.
"Apa yang kamu lakukan kemarin. Juga sangat menyakiti aku dan Kavya. Kamu egois, mementingkan pekerjaan. Kamu tidak peduli anakmu jatub terluka parah sampai dijahit dahinya."
"Aku peduli!!" Aku menahan teriakanku, aku tidak terima atas tuduhannya.
Handphoneku berbunyi. Panggilan dari anak butik. Aku lupa memikirkan mereka hari ini. Padahal aku meninggalkan masalah tadi malam tanpa penyelesaian. Aku hanya menatapi layar ponselku. Bingung.
"Angkat saja, nanti kamu kehilangan proyek besar kalau melewatkan panggilan itu." Ghulam berkata sarkas, lalu berdiri dan pergi keluar kamar.
Aku mematikan panggilan itu, tapi sesaat kemudian, mereka mengirimi pesan memintaku segera datang ke butik.
"Yas, tolong handle semuanya dulu ya, aku sedang dapat musibah." Akhirnya kuputuskan telepon Yasinta, asistenku untuk urusan butik. Meskipun aku tahu, Yasinta sendiri juga bingung apa yang harus ia lakukan. "Kavya jatuh dari tangga, dahinya dijahit, sekarang masih rawat inap." Akhirnya Yasinta mengiyakan.
Kulihati Kavya tertidur tenang, wajahnya damai sekali. Tidak ada kebencian disana. Tapi kenapa Ghulam benci sekali padaku.
Ghulam masuk ke kamar rawat inap Kavya ketika hari sudah sore. Tadi, dia tidak izin padaku hendak kemana. Aku juga tidak bertanya. Sesaat kemudian, Mak Semi datang. Membawakan kami makanan dari rumah. Kavya senang sekali menyambutnya.
"Bu...Bu Ala tadi malam menginap dimana?" Wajah Mak Semi berubah menjadi khawatir ketika menatapku.
"Di mobil, Mak." Jawabku lalu tersenyum.
"Ya Allah Bu...maafkan saya, seharusnya ibu pulang saja."
"Mana bisa saya pulang Mak, saya belum ketemu Kavya."
"Ibu baru ketemu Neng Kavya pagi ini?" Mak Semi terkejut mendengar jawabanku. Ghulam berdehem, dia terlihat tidak suka dengan percakapan kami.
"Ya semoga saja kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi tadi malam!" Suara Ghulam sinis sekali, dadaku sesak mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyesal, jangankan minta maaf, dia justru terus memojokkanku.
"Dasar tidak punya hati!" Dengusku menekan kesan di d**a, hanya lirih, tapi sepertinya Ghulam mendengar.
"Jadi cuma kamu yang punya hati?" Ghulam menyahut perkataanku.
"Aku tidak bilang begitu, aku salah, tapi aku tidak pernah menyudutkan hingga menghukum oranglain karena merasa suci!" Suaraku parau, wajahku panas, mataku berair, dadaku sesak karena emosi. Mak Semi merapat mendekati Kavya. Demi menghindari pertengkaran semakin sengit, aku berlari keluar.
"Ma….." Aku mendengar suara Kavya memanggilku namun tak kuhiraukan. Aku sudah kepalang pergi.
Aku putuskan untuk mencarimu, tapi kamu tidak ada di kantor. Aku menunggumu hingga siang, tapi kamu tak kunjung datang juga Biv! Aku memaksa Mbak Laila memberitahu alamatmu, tapi dia bilang tidak berani. Aku pun menemui Pak Ruslam dan memohon mohon agar diberi alamatmu. Mungkin tidak tega melihatku menangis, beliau mengiyakan. Jadilah sekarang aku di sini, Biv.
***
Ala menyudahi ceritanya, dia meraih cangkir teh yang sisa separuh. Kulihat raut mukanya lebih tenang.
"Kavya masih di rumah sakit. Aku tidak tahu harus kemana setelah ini, mana mungkin aku bisa tenang pulang ke rumah?" Kalimatnya pasrah, wajah Ala tanpa ekspresi mengatakannya. Tapi sejenak kemudian dia berdiri.
"Tapi aku tidak mungkin berlama-lama di sini."
"Kamu boleh lebih lama di sini jika kamu ingin." Ala menggeleng mendengar perkataanku. Dia lalu berpamit dan menembus gerimis menuju mobil.