"Parah, sih. Nggak tahu diri banget mereka." Zahra geram setelah mendengar ceritaku tentang sikap Alana padaku kemarin. "Jadi gimana, masih mau perjuangin mereka? Persetan urusan proyek kredibilitas, Biv. Kalau kayak gitu klien udah nggak ada hormat-hormatnya sama konselornya. Kalau Pak Ruslam tahu tentang hal ini, beliau pasti dah coret itu orang jadi daftar klien, blacklist kalau perlu." Lanjut Zahra dengan menggebu-gebu, dia saja kesal, apalagi aku. "Aku sih oke, Ra, buat ngelepas mereka. Aku hanya kasihan sama orangtua mereka. Pasti mereka merasa bersalah banget sekarang." Kataku. Dari kemarin memang, yang paling kupikirkan adalah Pak Sadetil. Orang tua itu baru saja merasakan bahagianya rukun dengan anak cucu. Kasihan sekali jika harus selesai di sini. "Mereka bukan siapa-siapa kamu

