#37 Sabtu yang Gerimis

1192 Words
Hari ini Sabtu yang muram, sudah pukul delapanpagi namun matahari juga belum nampak. Gerimis di luar, dari semalam sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Pukul sembilan aku ada agenda di kantor Hizi, seperti biasa, sejak Hizi untuk Indonesia mempunyai sekertariat baru, aku mempunyai jam kerja di sana pada Sabtu dan Minggu. Jadi, aku tidak memiliki jadwal libur. Aku tidak enak dengan ibu karena tidak pernah ada waktu menemani beliau pergi-pergi kecuali malam hari. Tapi ibu malah mendukungku melakukan semua ini. Dan sekarang, Sabtuku terasa berat saat cuaca hari ini kurang bersahabat. Aku masih duduk melingkari meja makan, bercengkerama dengan ibu sambil menyantap pisang dan singkong goreng keju. "Dibawa ya pisang dan singkongnya." Kata ibu, sudah membawa kotak Tupperware untuk wadah. Sebenarnya pernyataan ibu bukan sebuah penawaran tapi instruksi. Aku menurut saja, toh pisang dan singkong goreng ibu enak. Akhirnya, dengan perasaan sedikit terpaksa, aku menerobos hujan menuju kantor. Dan benar sesuai dugaanku, di kantor sudah lengkap tim kami. Jam kerja kami semua memang Sabtu dan Minggu karena selain pekerja tetap Hizi, diantara kami ada yang bekerja di tempat lain seperti aku, pekerja paruh waktu, dan ada juga yang masih mahasiswa. Ada dua belas orang hari ini berkumpul, kalau dihitung, pisang dan singkong ibu jika dibagi rata maka perorang mendapat satu singkong dan satu pisang goreng. Aku segera membukanya begitu masuk dan kutaruh di atas meja dalam keadaan terbuka. Bau sedap menguat, teman-temanku langsung menyerbu. "Enak nih, hangat-hangat." Kata Siska menyomot sepotong singkong goreng dan langsung melahapnya. Jadilah kami semua berhenti bekerja dan berkumpul untuk menikmati cemilan dari ibu. Sampai siang, hari belum juga cerah. Tapi karena di ruangan kami padat orang, rasanya cukup hangat. Aku masih berkutat memeriksa beberapa list keperluan keberangkatan kami pekan depan bersama Kaizan dan tim kecil. Saat itulah kemudian handphone ku bergetar. Panggilan dari Ghulam. "Hallo, Biv." Sapa Ghulam begitu panggilannya tersambung. "Iya, Ghulam." Waktu itu aku sudah menyediakan telingaku untuk mendengar kabar baik, namun ternyata. "Aku gagal, Biv." "Gagal?" Tanyaku heran. "Mertuaku murka karena tahu kondisi yang sebenarnya." "Maksudnya?" Aku minta izin pada tim untuk keluar menghindari keramaian. Pembicaraan dengan Ghulam kali ini membutuhkan keheningan untuk mencernanya. "Aku sampai sana pagi-pagi sekali. Saat hari masih gelap, matahari belum terbit. Alana dan Kavya sepertinya belum bangun. Ibu mertua menyambutku dengan ramah, membuatkan aku teh panas dan menawariku beristirahat di kamar. Tapi aku menolak, aku memilih duduk di kursi di teras. Ibu juga mengatakan akan membangunkan Ala, tapi kularang. Baru sekitar pukul lima pagi, bapak mertua pulang dari masjid. Beliau kaget melihatku sudah di rumah nya. Beliau menanyakan, kenapa baru datang sekarang? Dari ekspresinya sudah kulihat kalau beliau marah. Ala itu harga diri kamu, kalau harga diri kamu tidak kamu jaga, tidak pastas lagi kamu mendapat penghormatan orang lain. Ketika itu, hatiku sudah carut marut, Biv. Terutama aku merasa, aku memang salah dan tak pantas dimaafkan. Aku hanya menunduk di hadapan bapak mertua, tidak berani menjawab apa-apa. Apa yang kamu lakukan terhadap anakku? Dengan tajam bapak mertua bertanya. Aku berlutut di hadapannya mohon maaf. Aku mengaku kekhilafan ku. Aku menangis mengaku pernah menyakitinya, memukul Alana, aku tahu tidak seharusnya aku mengatakan itu. Tapi aku sudah bingung harus berkata apa. Melihatku berlutut di hadapan nya, tanpa mempedulikanku, bapak mertuaku berdiri lalu pergi masuk ke dalam rumah. Ibu mertua mengamati dari jauh segera mendekatiku. Kamu membesarkan putri kami dengan hati-hati, begitu katanya. Tapi mengapa saat dia sudah dewasa kau sakiti ulloleh ibu mertua, tapi sangat menusuk. Aku menyesal, Bu. Tolong maafkan aku, kataku memohon. Di sana, harga diriku seperti sudah tidak ada lagi, Biv. Selepas mengatakan itu, ibu mertuaku lantas ikut masuk juga, dan pintu rumah mereka ditutup. Aku sendirian di teras dengan perasaan penuh penghinaan." Ghulam terdiam, mungkin dia mengatur nafas, berat sekali suaranya seperti menahan emosi. "Sekarang kamu dimana?" Tanyaku kemudian, saat Ghulam masih terdiam. "Di warung makan dekat rumah mertua, aku lapar, Biv. Sejak semalam aku belum makan." "Apakah Ala sudah tahu kamu akan menjemputnya?" "Belum." "Mengapa tidak kasih tahu Ala dulu?" "Aku tidak tahu, Biv. Aku bingung, aku hilang arah. Sekarang pun aku bingung harus bagaimana." "Beri tahu Ala apa yang terjadi, dia pasti mendukungmu." Jawabku. "Kamu yakin, Biv?" "Ya." Jawabku mantap. "Telepon dia, minta dia mendatangimu di warung itu, jelaskan apa yang kamu alami tadi. Bilang dia jangan kasih tahu ibu bapak ketika hendak menemuimu karena pasti di larang." Ini bukan kalimat konseling, kalimat konseling tidak ada instruksi seperti ini. Tapi aku juga tidak ada jalan lain. Ghulam pun mengiyakan, dia bilang akan menelpon lagi nanti. Dan menutup teleponnya. Saat kembali ke ruang kerja, aku berpikir, satu lagi tambahan masalah untuk kasus Ala dan Ghulam, orangtua mereka. "Penting banget, Biv?" Tanya Rindani saat kemudian aku duduk kembali di sampingnya, di sofa ruang kerja. Aku mengangguk, "klien" jawabku. "Aku kagum sama konselor keluarga yang masih single sepertimu, Biv." Kata Raka, aku tersenyum. "Ada beberapa orang yang kagum, ada beberapa yang meremehkan." Jawabku. Kami terus bekerja hingga pukul, lalu menutup jam kerja hari itu dengan makan-makan. Kaizan meminta Rindani memesan makanan ringan yang banyak sekali. Ada bakso, seblak, sosis bakar, tahu bakso, donat kentang. Karena kami siangnya sudah makan nasi kotak. *** Malam hari, pukul tujuh setelah makan malam dengan ibu, di luar masih gerimis. Malam Minggu, aku sedang tidak ingin mengerjakan apapun. Aku mengutak-atik laptop mencari koleksi film yang bisa kutonton, tapi tetap tak menemukan yang cocok. Akhirnya aku ingat sesuatu, Ghulam. Bagaimana kabar Ghulam tadi siang? Bagaimana lanjutan kisah mereka? Akhirnya aku mengirim pesan pada Ghulam. "Hallo Ghulam, bagaimana rencana tadi?" Tidak lama setelah pesanku tercentang dua warna biru alias terbaca, Ghulam langsung menelpon. "Hallo, Biv." "Iya, bagaimana?" Tanyaku to the point. "Tadi siang Ala menemuiku di warung, persis seperti yang aku rencanakan denganmu. Aku ceritakan jujur apa yang kualami di rumah bapak ibunya. Apa adanya tidak lebih tidak kurang. Dia hanya terdiam ketika aku bercerita begitu. Lalu aku juga minta maaf padanya, dia bilang sudah memaafkanku. Aku bertanya tentang Kavya, dia malah menangis. Aku minta maaf lagi ketika dia menangis. Kata dia, dia menangis melihat penampilanku carut marut. Karena memang, Biv. Aku terlanjur tidak bisa mandiri tanpa Alana. Tapi, ketika kuajak dia pulang, dia bilang masih takut dengan kemarahanku yang mungkin akan datang lagi. Aku bingung harus menjanjikan apa karena aku tidak tahu apakah kedepan aku akan seperti ini atau tidak. Tapi meskipun ragu, aku tetap berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Dia mengangguk mengiyakan ketika aku berjanji, tapi dia bilang aku harus menjemputnya baik-baik di rumah bapak ibunya. Bagaimana, Biv? Itulah yang belum bisa kujanjikan. Bagaiman kalau aku ditolak lagi dan dihinakan di sana?" Ghulam berhenti bicara, dia diam, aku juga diam, mencerna kisah yang ia tuturkan. "Ala ada benarnya, Lam." Tidak mungkin dia pergi dari sana tanpa pamit baik-baik, apalagi tidak kamu jemput. "Aku sudah mencoba tadi pagi, Biv." "Maaf, Ghulam, aku tidak memiliki saran lain selain mencoba itu sekali lagi. Tadi tidak ada Alana, maksudku Alana tidak tahu kamu datang, coba datangnya ketika semua berkumpul. Datangnya menjemput Kavya. Dia pasti sangat menantimu." Ghulam diam, mungkin berpikir. Sejenak kemudian, dia bicara. "Baiklah Biv, akan kucoba. Tadi, aku hampir saja menyerah dan kembali pulang. Untung kamu mengirimiku pesan." Ghulam menutup teleponnya. Sebelumnya, dia meminta doa lagi, kudoakan macam-macam lumayan panjang, dia mengaminkan dengan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD