#38 Makan Malam

1837 Words
Malam ini, aku dan ibu mendapat undangan untuk makan malam ke rumah Alana. Tadi pagi Ala menelpon ku, memberi tahu tentang ini. Rencana awal, aku dan ibu hendak menghabiskan malam Minggu ini dengan menonton bioskop, kami sudah lama sekali tidak menonton dan kebetulan ada film keluarga yang sedang tayang, jadi ini kesempatan kami untuk kembali menjejak di kursi bioskop. Tapi tidak apa-apa, itu bisa lain waktu. "Apa kita perlu membawa oleh-oleh?" Kata Ibu, datang ke kamar saat aku masih berdandan. Ibu sudah siap, sudah rapi berpakaian lengkap. "Kayaknya lebih baik begitu, Bu." Jawabku tanpa menoleh dan tetap menghadap cermin riasku. Aku termasuk orang yang hampir tidak pernah makeup, aku hanya memakai sunscreen jika siang, lalu bedak tipis dan lipstik jika siang. Jika malam, sunscreen kuganti pelembab, gitu saja. "Baik, nanti kita mampir toko kue langganan ibu." Kuisyaratkan jempol tanda setuju lalu ibu segera kembali ke kamarnya. Kami berangkat selepas magrib, lebih awal dari undangan karena buat berjaga-jaga kami akan menghabiskan banyak waktu di toko kue. Dan benar, aku dan ibu selalu antusias di depan makanan yang jumlahnya banyak dan beragam. Toko kue langganan ibu ini memang sudah legendaris tapi tetap mengikuti tren perkembangan zaman. Sehingga dari menu klasik hingga up to date, ada. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada brownies talas dan pie s**u keju ukuran jumbo. Kavya pasti suka, batinku. Pukul tujuh lebih sepempat, mobilku sudah terparkir rapi di halaman rumah Ala. Ini kali pertama kami kesini. Alhamdulillah tidak kesasar karena letak rumah adalah di alamat yang jarang kudatangi. "Kita turun, Bu." Kataku begitu sampai "Unik ya Biv rumahnya." Kata ibu sambil mengahap depan mengamati rumah Alana. Rumah Alana memang unik, sepertinya temanya adalah American klasik namun lebih ke yang cinta alam. Halamannya cukup luas dan tamannya sangat terawat terawat, di taman pojok kirim terdapat air mancur, seperti nya juga merupakan kolam ikan koi. Sebelah kiri halaman, juga ada taman, tapi dominan mainan anak-anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit dan bangku-bangku di bawah kanopi terbuat dari semen. Rumah Ala bercat putih bersih, atap terasnya terbuat dari genteng kaca. Teras itu dipenuhi tanaman dalam pot menggantung, di sisi dekat tembok rumah, banyak sekali macam-macam jenis bunga semacam anggrek atau apa aku tidak kenal. Belum sampai kami memencet bel, Mak Semi sudah menyambut kami membukakan pintu, meminta kami masuk lalu mempersilahkan kami duduk di ruang tamu yang mungil. Kuakui, selera Ala tentang estetika patut diacungi jempol. Ruang tamunya mungil, kira-kira berukuran tiga kali empat meter, namun sangat tertata. Terdapat sofa memanjang yang terlihat klasik berwarna abu tua dan meja kaca berbentuk oval. Di sanalah kami duduk. Dari ruang tamu, kami bisa sekilas melihat ruang tengah yang cukup luas yang tidak terisi apapun, eh hanya terisi karebet beludru halus. Lantainya seperti terbuat dari kayu, selebihnya aku tidak melihat apapun lagi. Mak Semi menawari kami minuman tapi kamu menolak. "Tunggu sebentar njih, Bu. Bu Ala masih siap-siap." Lalu beliau masuk ke dalam. Begitu Mak Semi masuk, Kavya berlarian dari dalam. Gadis cilik itu memakai setelah khas China berwarna yang tampak lucu sekali. Rambutnya yang tipis terkuncir dua, bergerak-gerak ketika ia berjalan. "Haaa." Dia langsung memelukku tanpa permisi, aroma minyak telon bayi menguat begitu ia memelukku. Kucium pipi gadis kecil itu dan ia tersenyum manis. Lalu kemudian beralih pada ibu untuk salim. Tidak lama kemudian, Ala bergabung di ruang tamu. Ala seperti biasa, selalu tampil cantik. Kali ini ia memakai tunik berbahan crepe yang jatuh sepanjang bawah lutut berwarna sage green yang dipadukan dengan legging warna gelap. "Maaf membuka kalian menunggu." Dia langsung menyalami ibu, bercipika-cipiki dengan ibu, lalu melakukan hal yang sama denganku. "Tidak apa-apa, Ala. Kamu baru datang juga." Jawab ibu. "Kamu suka tanaman, tanaman kamu bagus dan terawat." Tambah ibu. "Aku suka tanaman, Bu. Tapi aku tak punya waktu merawatnya, itu semua Mak Semi yang merawat. Kalau aku, mungkin tidak sebagus itu." Jawab Ala sambil tertawa kecil. "Monggo Bu Ala, Ibu-ibu semua, silakan ke meja makan, semua sudah siap." Mak Semi mempersilakan kami ke meja makan dengan sangat sopan, terlihat bahwa Mak Semi ini adalah orang yang memegang erat tata krama perbahasaan dengan baik. Kami semua beralih ke meja makan. Kami sampai di meja makan setelah berjalan melalui ruang tengah. Meja makan itu terletak di depan dapur yang kinclong terawat, dari Meja mekan kami bisa melihat pemandan dapur dan ruang tengah. Ruang tengah Ala ternyata banyak sekali pemandangan foto dalam pigora-pigora yang tertempel di dinding. Dari foto itu kulihat bagaimana kebahagiaan, kehangatan keluarga mereka. Meja makan Ala terdiri dari delapan kursi yang mengelilingi meja berbentuk persegi empat. Warna meja dan kursi secorak sepertinya memang dibeli satu set. Di meja makan sudah terhidang, beberapa piring besar yang sudah terisi nasi biryani, ayam panggang, sambal dan acar mentimun. Tersedia juga wadah berisi penuh ayam panggang, dan ikan bakar di tengah, dan juga kerupuk udang dalam sebuah toples kaca. Jujur, aku sudah sangat tergiur untuk segera makan. Selain karena aku suka nasi biryani, aku memang sedang dalam keadaan lapar. Tapi aku merasa aneh, aku tidak melihat Ghulam. Apa mungkin dia masih di kamar, atau kemana. Apakah harus kutanyakan pada Ala? "Mana Nak Ghulam?" Tanya ibu, aku lega ibu peka untuk menanyakan itu. "Oh, dia masih di kamar, sebentar ya." Ala berkata lalu berdiri dan pergi ke lantai dua. Sejenak kemudian Ala kembali bersama Ghulam. Ghulam entah bagaimana, dia seperti kurang siap menyambut kami, apakah dia tidak tahu kami akan datang? "Apa kabar Nak Ghulam?" Tanya ibu, begitu Ghulam duduk di kursi, bergabung bersama kami. "Saya sehat, Bu. Terimakasih sudah mampir datang kesini." Mampir? Bukankah kami diundang datang ke sini? Aku dan ibu saling menoleh bingung. Ala yang melihat kondisi tidak kondusif ini segera mengalihkan pembicaraan. "Mari kita mulai makan, aku sudah lapar." Ala langsung mulai makan duluan. Di mataku, terlihat sekali dia mengalihkan pembicaraan, apa yang terjadi? Kami semua makan sambil diam, cukup kaku dan tidak hangat seperti biasa. Kavya yang biasanya ceria hanya diam saja, dia tidak makan nasi, gadis kecil itu hanya asyik cemilin kue oleh-oleh kami. "Ini enak sekali, bikin sendiri?" Tanya Ibu memecah kesunyian kami. "Iya, Bu. Saya suka sekali nasi biryani, kalau beli lumayan mahal, jadi bikin sendiri saja." "Ibu belum pernah bikin, nanti ibu akan bikin, bagi resepnya ya." Kata ibu sambil tertawa kecil, Ala juga. Jujur, aku bingung mau bicara apa karena jika membahas masalah kemarin di rumah orang tua Ala, aku takut justru memperkeruh suana. Setelah makan, pembicaraan banyak didominasi oleh ibu dan Ala, dan hal itu kurasa membuat Ghulam kurang nyaman sehingga dia permisi untuk kembali ke kamar. Setelah selesai makan, ibu mengobrol dengan Mak Semi, di ruang tamu. Kavya menganggu mereka dengan terus merengek mengajak mereka bermain boneka. Aku sengaja mengajak Ala bicara berdua di halaman. Kami duduk di bangku-bangku semen di taman rumah Ala. "Sepertinya yang kulihat, kamu dan Ghulam seperti belum menghangat, apakah diantara kalian masih canggung setelah peristiwa kemarin?" Tanyaku, aku membawa teh hangat dari dalam rumah, lalu kuletakkan di meja bulat yang terbuat juga dari semen. "Kamu benar, Biv. Bukan hanya canggung, kami terjebak dalam kebekuan. Dia dingin dan aku tak kuasa menghangatkannya. Aku tidak tahu, Biv. Kami hanya bicara untuk hal yang memang sangat mendesak. Seperti tadi, saat aku harus memanggilnya untuk keluar menemui kalian. Jujur, dia tidak tahu kalau aku yang mengundang kalian." Kata Bivi, setelah itu dia menyeruput teh hangat yang masih terus dia pegang di tangannya. "Apa yang terjadi di rumah orangtuamu kemarin?" "Apakah Ghulam bercerita kepadamu?" "Dia hanya meminta pendapatku tentang apakah dia harus kembali ke rumah orangtuamu untuk menjemput kalian. Karena sebenarnya, baginya, itu adalah hal yang berat. Dia khawatir penolakan, dia seorang laki-laki yang memiliki harga diri tinggi." "Ya, Biv. Dia melakukannya. Dia menjemput kami. Aku sedih karena bapakku sudah terlanjur marah padanya. Bapakku tidak mau menemui Ghulam. Tapi ibuku masih mau. Aku tahu, itu adalah hal yang berat bagi dia. Dia sudah mengalahkan egonya. Tapi ketika kami hendak pulang, ibuku memegang tangan Ghulam dan memintanya berjanji tidak akan menyia-nyiakan aku lagi. Ghulam hanya mengangguk. Dia sepertinya tidak yakin akan menyakiti aku lagi atau tidak. Sejak itu, sepanjang perjalanan di mobil hingga saat ini, dia masih terus saja diam. Dia mungkin marah, aku juga bingung. Aku tahu, beberapa kali Kavya dan Mak Semi mencoba mencairkan suasana, namun kami tetap saja beku.Apa yang harus aku lakukan, Biv." "Aku tidak bisa memberi kalian saran, kecuali kalian membuka pintu komunikasi. Kalian harus bicara. Kita tidak tahu apa yang di hati kalian masing-masing." "Aku yang harus memulai, Biv?" "Harus salah satu diantara kalian." "Mengapa harus selalu aku, Biv." "Jika Ghulam kemarin sudah berjuang mengalahkan egonya menjemput kalian di rumah orangtuamu. Maka kini kamu harus berjuang memulai pembicaraan dulu diantara kalain. Yang memulai meminta maaf duluan bukan berarti yang salah, Ala." Ala diam, dia menerawang menghadap ke langit yang saat itu cerah sekali bintang-bintang tanpa tertutup awan sedikit pun. "Apakah hubungan kami bisa kembali hangat, Biv?" Tanya Ala kemudian setelah lama terdiam. "Pasti, jika kalian berjuang, kalian akan mendapatkan hasilnya yang manis. Percayalah." Sejenak kemudian, kami mendengar Kavya berteriak-teriak dari teras rumah memanggil mamanya. Kavya tidak bisa banyak bicara, tapi dia sangat fasih memanggil mama dan papanya. Kami segera kembali masuk rumah dan menemukan ibuku dan Mak Semi sedang ikut Kavya bermain. "Dia mengerjai ku." Ibu tertawa begitu melihat aku dan Ala datang. "Kavya, nenek akan capek ikut kamu main." Ala membantu mereka merapikan mainan. Kavya sedikit merajuk karena masih ingin bermain, Mak Semi menenangkannya membawa masuk ke dalam. Kami bercengkerama sebentar di ruang tamu, lalu tidak lama kemudian, kami berpamit karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Di dalam mobil, ibu berbicara banyak tentang hal yang beliau lihat dari rumah Ala. Mulai dari mereka sejatinya adalah pasangan muda yang berprestasi. Mereka beruntung memiliki kehidupan yang mapan di usia muda. Mereka sudah memiliki Kavya yang berhati lembut. "Apakah mereka masih bersitegang?" Tanya ibu kemudian. "Menurut ibu bagaimana?" Aku balas bertanya. "Kelihatannya sih masih kaku, mereka seperti tidak banyak bicara sebelumnya. Apakah benar?" "Iya, Bu. Sejak masalah di rumah orangtua Ala, Ghulam mendiamkan Alana." "Dan Ala ikut mendiamkan?" Tanya ibu lagi, aku mengangguk. "Itu masalahnya." Tambah ibu. "Salah satu penyebab masalah tak kunjung temu solusi adalah mendiamkannya. Mungkin dengan diam, memang menghindari pertengkaran, tapi tidak bertengkar bukan berarti masalah selesai. Justru bisa saja mengundang masalah-masalah lainnya. Ibu berkata begini juga bukan berarti menurut ibu bertengkar itu baik." "Iya, Bu. Tadi Bivi juga sudah bilang, mereka harus bicara. Aku tahu, Ala enggan melakukannya karena mereka berdua sedang dikuasai emosi, mereka belum berdamai dengan hati mereka. Mereka saling iri tentang siapa yang harus mulai duluan. Itu masalah terbesarnya menurut Bivi." "Ibu setuju, Biv. Sangat disayangkan jika mereka harus berakhir dengan berpisah." Aku dan ibu terus membicarakan masalah Bivi hingga kami sampai rumah. Kami terlanjur terlibat masalah ini, terlepas dari apakah ini memang pekerjaanku, aku dan ibu bertekat membantu mereka untuk bersatu kembali. "Paling tidak, jika bukan demi kebaikan Ala dan Ghulam. Kita lakukan ini untuk masa depan Kavya. Dia butuh keluarga yang utuh." Kata ibu sebelum turun mobil, aku mengangguk setuju. Ibuku selalu begitu. Jiwa sosialnya bergelora ketika dihadapkan masalah yang sudah menyentuh hatinya. Semoga ya, Bu. Semoga kita bisa membantu mereka. Meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD