Sampai sore Ala tetap tidak keluar kamar. Dia bahkan menolak permintaan ibu untuk makan siang bersama di meja makan. Hanya Kavya yang bolak-balik menemuiku, memamerkan apapun yang dia punya. Boneka, buku gambar lengkap dengan gambaran nya dia, kue-kue, permen, dan apapun yang ia miliki.
Ketika kutanya mana mama, mama sedang apa, dia hanya mengangkat bahu. Dia mungkin tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya.
"Kamu perlu minta maaf, Biv. Dia mungkin tidak tersinggung dengan kata-kata kamu, tapi dia sakit hati. Sakit hati yang bertambah-tambah.
Ibu duduk di sebelahku, aku sedang serius mengecek beberapa urusan pekerjaan dengan team Hizi. Aku menoleh, ibu menatapku dengan dalam, pandangannya sangat teduh. Aku menatap ibu lekat dan lama, ibu mengangguk.
"Kamu tidak salah menyempatkan apa yang kamu rasa, itu hakmu. Tapi Ala juga berhak menanggung perasaannya, dan kewajiban kita mengurangi beban perasaannya. Bukan karena salah, tapi karena memang seharusnya." Lanjut ibu ketika melihatku hanya diam. Akhirnya aku mengangguk.
Aku berdiri menuju kamar Ala, kamar tamu yang terletak di paling ujung dan pojok rumah kami. Sebenarnya, ruang tamu idealnya di depan, tapi aku dan ibu tidak suka menempati ruang paling belakang itu untuk kamar kami, jadilah kami jadikan kamar tamu. Toh, selama ini jarang sekali ada tamu yang sampai menginap.
Meskipun begitu, kamar tamu kami tidak seperti kamar yang lama tidak dihuni. Ibu rutin membersihkannya setiap hari, Menganti pengharum ruangan, membuka jendela, mengganti sprei, membersihkan kasur, dan lain-lain. Ibukku memang andalan soal itu.
Aku mengetuk pintu kamar Ala. Langsung terbuka dan Kavya bersorak girang menyambutku. Gadis kecil itu Menarik ku masuk ke dalam kamar, rupanya dia sedang mewarna di buku mewarna. Tampak krayon bertebaran di lantai. Dia langsung menunjukkan hasil karyanya kepadaku, kuacungkan dua jempol dan dia tertawa melompat-lompat.
Ala duduk di kasur, bersandar pada dinding, dia berselimut hingga paha dan memangku bantal guling. Dia menata duduknya begitu aku menatapnya.
"Maaf Biv, aku sedang tidak ingin keluar tadi."
Wajah Ala sayu, sepertinya dia baru saja menangis dalam waktu yang lama. Ada rasa ibu menyelimuti hatiku. Aku konselornya, dan menbuat klienku semakin terpuruk.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat keadaanmu." Aku duduk di sebelah Ala, Ala bergeser memberiku tempat.
"Aku baik-baik saja. Hanya, ketika ingat Ghulam, aku sedih lagi."
"Kenapa kamu tidak mau bertemu Ghulam? Dia terlihat begitu mengkhawatirkan kalian."
"Dia hanya mengkhawatirkan anaknya, Biv. Bukan aku."
Aku menatap mata Ala yang sembab lagi, dia berusaha tersenyum namun yang nampak hanyalah senyum getir. Kuletakkan tanganku di pundaknya, memberi kekuatan. Ala mengusap airmatanya yang hendak jatuh, lalu memperbaiki posisi duduk.
"Kamu belum tahu masalah besar yang telah terjadi, Biv. Aku belum cerita." Nada bicara Ala menjadi lebih tenang, ia bergeser dan mengambil segelas air di meja dekat jendela. Aku hanya mengamatinya, memasang mimik muka siap mendengarkan ceritanya.
"Malam sebelum akhirnya aku memutuskan kabur kesini. Aku menemukan bukti perselingkuhan Ghulam." Aku dan Ala terdiam, Ala menahan tangis. Apakah benar apa yang menjadi dugaanku tentang apa yang kulihat di media sosial Ghulam.
"Malam itu aku dan Ghulam masih belum rukun, kami masih bersitegang sejak peristiwa anniversary di caffe yang kuceritakan waktu itu. Sejak itu memang kami sudah tidak begitu saling bertegur sapa, kami hanya berkomunikasi masalah tentang Kavya.
Ghulam tidak minta maaf dan aku tidak pernah mengungkit-ungkit lagi, tapi hatiku tetap menyimpan rasa sakit. Ghulam semakin sering menghabiskan waktu di luar, entah untuk urusan pekerjaan kantornya atau bukan aku tidak tahu. Terkadang malah dia tidak pulang, tanpa memberi kabar apapun padaku.
Terkadang, Mak Semi menelpon Ghulam jika Kavya menanyakan. Aku tidak mau menelpon kan. Dia tidak peduli, aku juga akan tidak peduli.
Hingga kemarin, Armela, salah satu teman dekatku menelpon. Dia melihat seseorang yang mirip Ghulam berduaan dengan perempuan di sebuah restorant mewah di salah satu mall besar di kota ini. Menurut cerita Mela, dilihat dari cara berpakai dan restorant tempat mereka maka, mereka berdua seperti sedang dinner formal.
Aku tidak percaya begitu saja dengan perkataan Mela karena aku masih percaya Ghulam tidak akan melakukan hal semacam itu. Tapi Mela tidak ada bukti lain, dia tidak berani mengambil foto karena dia sedang bersama keluarga besarnya. Dan aku maklum itu.
Meskipun begitu, hatiku tidak karuan setelah mendengar kabar dari Mela. Mela tidak mungkin salah lihat. Mela adalah sahabatku, dia kenal Ghulam sudah bertahun-tahun, kami sering bepergian bersama, Mela juga salah satu tamu pesta anniversary yang gagal kemarin. Dan satu lagi, Mela adalah temanku yang lurus-lurus saja, dia tidak pernah Ghibah dan tidak neko-neko. Jadi sepertinya tidak mungkin Mela mengarang cerita.
Malam itu, aku tidak tidur memikirkan hal itu. Aku mondar-mandir menghitung segala kemungkinan karena suamiku tidak pulang ke rumah malam itu. Malam itu, pertama kalinya aku merasakan sakit hati yang teramat sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada ketika aku tidak bisa bertemu anakku di rumah sakit malam-malam.
Hatiku sakit karena takut apa yang dikatakan Mela benar adanya, Ghulam berpaling dengan wanita lain. Bagaimana pun pertengkaran kami, aku tidak pernah memiliki perasaan menginginkan orang lain. Mengapa Ghulam tega melakukan itu. Dan malam ini, jika tidak pulang, kemana Ghulam bermalam, apakah di hotel bersama wanita itu. Siapa wanita itu?
Hatiku sakit sekali, Biv. Seperti pecah berkeping-keping yang tak ada lagi wujudnya. Tapi di sisi hatiku yang lain masih mempertahankan untuk membela Ghulam, bisa saja Mela salah lihat. Bisa saja sebenarnya Ghulam tidak pulang karena aa proyek besar atau meeting. Perasaanku terombang-ambing dalam ketidak jelasan.
Aku menangis di sofa semalaman, Mak Semi sangat khawatir, beliau menemaniku, membuatku s**u hangat, mengambilkan selimut. Tapi tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan padanya.
Hingga paginya, aku menemukan diriku terbangun di sofa ruang tengah rumahku, Kavya duduk di depanku, menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Begitu melihatku bangun, dia mendekat dan memelukku dengan erat, tanpa mengatakan apapun, sialnya aku menangis lagi.
Sekarang, aku tidak peduli lagi apakah Kavya melihatku menangis atau tidak. Aku tidak bisa lagi bersembunyi. Aku biarkan saja Kavya tahu semua.
Sampe sore, Ghulam juga tak kunjung datang. Ketika Mak Semi menelponya karena mengkhawatirkan aku, handphone Ghulam tidak aktif. Baru selepas magrib, kudengar suara mobilnya memasuki rumah kami.
Dia pulang dalan keadaan riang, membawa beberapa tas kresek yang sepertinya berisi oleh-oleh.
"Papa pulang!" Dia bersorai merentangkan tangan, mengundang Kavya untuk berlarian kearahnya lalu memeluknya. Kavya mendekatinya dengan berjalan pelan, dia berhenti tepat di depan ayahnya dan menatap ayahnya lekat-lekat, tanpa memberikan sebuah pelukan.
"Papa bawa oleh-oleh untuk Kavya!" Ghulam masih merentangkan tangan, Kavya hanya diam. "Mama.." hanya itu yang keluar dari bibir mungil anakku. Jika bisa, dia mungkin mau cerita, mengadu kepada ayahnya bahwa ibunya sedih seharian kemarin. Ghulam lansung menatapku begitu Kavya berkata demikian. Aku hanya diam saja.
"Maaf ya, aku nggak kasih kabar kalau aku harus keluar kota." Ghulam mendekatiku, tapi tidak terlalu dekat, dia berdiri kira-kira 1 meter di depanku. Aku mengangguk. "Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu." Dia melanjutkan, masih kutanggapi dengan anggukan saja.
Ghulam menoleh kepada Mak Semi yang waktu itu berdiri tidak jauh dari kami, Mak Semi juga diam saja, Mak Semi tidak tahu apa yang kurasakan dan kurisaukan sejak kemarin. Dia mungkin penasaran, tapi tidak berani.
Berangkali, setelah keterdiaman kami semua, Ghulam merasa bersalah. Atau entah ia merasa bersalah karena benar apa yang dikatakan Mela semalam. Aku masih risau, perasaanku campur aduk, antara marah dan sakit hati. Tapi bingung harus berbuat apa karena tidak berdaya.
Aku memang sudah memikirkan sebelumnya, apa yang harus kulakukan ketika Ghulam datang. Dan aku bersyukur, aku bisa menguasai diri. Aku wanti-wanti diriku sendiri agar jangan sampai bertindak bodoh dan memalukan.
Aku melalui malam hingga pagi dengan harapan agar hatiku mereda, hatiku tak kunjung mereda. Ghulam sudah melakukan aktivitas seperti biasa, dia makan, mandi, bersantai dan bermain-main bersama Kavya. Kavya juga sudah cair dan tidak lagi bersikap kaku kepada ayahnya.
Hingga besoknya, sore itu, saat Kavya dan Ghulam sedang asyik bermain air di dalam kolam renang karet di halaman samping rumah, aku melihat handphone milik Ghulam tergeletak di atas meja. Otak ku berpikir cepat mengambil keputusan, apakah aku harus melihat diam-diam isi handphone Ghulam untuk mencari barang bukti? Bagaiman nanti jika Ghulam murka?
Sepuluh detik aku menimbang-nimbang, kuputuskan mengambil handphone itu. Dan sial, sandinya sudah diganti, aku tidak tahu. Ini aneh sekali, Ghulam tidak pernah gonta-ganti sandi, dia tipe cuek dan malas mengutak-atik pengaturan, dan suatu kejarangan ini membuatku semakin membara.
Kucoba beberapa sandi yang sekiranya mungkin. Sampai tiga kali aku salah. Biasanya sandi yang dipakai Ghulam tidak pernah jauh dari tanggal lahir kami, karena dia mudah lupa. Tapi rupanya kali ini bukan.
Dengan deg-degan, kutaruh lagi handphone Ghulam, kuamati Ghulam dan Kavya masih asyik bermain, mereka tidak mempedulikanku sama sekali. Aku berpikir cepat, kira-kira apa sandi yang dipakai Ghulam. Apakah tanggal kemarin? Entah kenapa aku tiba-tiba berpikiran seperti itu. Kucoba cepat-cepat mengetikkan sandi yang berisi hari tanggal tahun kemarin.
Mataku membelalak karena sandi itu cocok. Handphone Ghulam terbuka. Detak jantungku memburu cepat dan berantakan, tanganku gemetaran. Kulihat lagi keluar ke arah Ghulam dan Kavya. Mereka masih asyik.
Aku segera berlari ke kamar, masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Dadaku terus berdetak-detak hebat, bahkan rasanya hingga ngilu.
Jari cepat-cepat mencari sesuatu, aku membuka folder foto, tidak ada yang mencurigakan di sana. Semua berisi teman-teman kantornya dalam suatu acara yang entah kapan.
Kubuka pesan, ketika membaca pesan masuk yang teratas, hatiku mencelos seperti jatuh dari ketinggian. Pesan masuk pertama dari Farisha, tanganku gemetar membuka pesan itu.
"Selamat bertemu lagi pak bos, terimakasih untuk semuanya. Salam untuk Kavya."
Apa maksud dari pesan itu? Pesan ini terlihat seperti bukan pesan biasa antara rekan kerja. Apalagi bawahan dengan bosnya. "Terimakasih untuk semuanya?" Semua apa yang dimaksud perempuan itu? Apakah perempuan ini yang dilihat Mela waktu itu.
Di sana, Ghulam hanya membalas dengan emot wajah tersenyum dan memberi jempol. Tapi wajahku tetap saja panas, mataku berair, dan jantungku masih berdetak kencang. Kukuatkan diri membaca pesan selanjutnya yang rupanya adalah voice note.
"Makasih ya mas untuk hadiah ulangtahun dan makan malamnya malam ini."
Air mataku tumpah sejadinya, dadaku berguncang, aku tidak perlu bukti lebih dalam yang mungkin lebih menyakitkan. Mengetahui suamiku memberi hadiah ulangtahun secara spesial kepada rekan perempuannya dan pergi makan berdua sudah cukup dan sangat menyakitkan.
Kutaruh handphone Ghulam di dalam laci tempat handuk bersih yang terletak di dalam kamar mandi lalu berlarian keluar. Kukunci pintu kamar, dan kurebahkan diri di atas kasur dan kubenamkan wajahku di dalam bantal.
Aku menangis sejadinya. Aku belum pernah diperlakukan seburuk ini, aku belum pernah dikhianati oleh yang paling dekat dan sangat kucintai, aku belum pernah secemburu ini. Aku menangis tergugu cukup kencang, tapi teredam oleh bantal di bawah mukaku.
Di luar kudengar Kavya berteriak-teriak girang bermain bersama ayahnya. Dia terdengar sangat riang. Waktu untuknya yang berkurang dengan ayahnya akhir-akhir ini mungkin terbayar. Tapi tidak untukku. Semua tidak akan pernah terbayar.
Sampai hampir magrib aku masih tengkurap terbenam di antara bantal. Mak Semi benerapa kali memanggilku untuk menanyakan sesuatu tapi tidak kujawan, telepon dari anak-anak butik juga tidak kuangkat. Kavya mengetuk-ketuk kamar dan memanggilku yang sebenarnya membuatku sedikit luluh, tapi aku masih malas bangkit.
Habis magrib, Mak Semi mengetuk pintu kamarku lagi. Beliau memintaku keluar untuk makan malam, Mak memberi iming-iming sambal cumi pete yang dimasaknya untuk makan malam. Ya, itu memang makanan favoritku. Sedang sakit pun aku biasanya langsung semangat makan itu, tapi sekarang yang sakit bukan fisikku, tapi hatiku. Aku sama sekali tidak berselera makan apapun.
"Maa...maa…" Kavya memanggil-manggil sambil mengetuk pintu kamar pelan-pelan. Aku duduk lalu menghapus air mataku. Ku bukakan pintu untuk Kavya. Begitu aku keluar, dia berhamburan ke pelukanku.
Kupeluk erat anakku semata wayang itu, kugendong dia dan kubawa masuk kamar. Sebelum masuk kamar, sempat kulihat Ghulam mengacak acak barang-barang di ruang tengah. Mungkin dia mencari handphone nya. Aku tidak peduli. Kavya kubawa masuk, dan kukunci pintu kamar lagi.
"Mamam...mamam.." Kavya menanyaiku, apakah aku tidak lapar. Aku menggeleng. Dia memberi isyarat agar aku makan saja nanti perut sakit. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Halus sekali hatimu nak, kau begitu khawatir dengan ibumu. Dan sisi lain, ayahmu sama sekali tidak peduli kepada ibumu.
Beberapa saat kemudian, Ghulam mengetuk-ketuk pintu kamarku.
"Ala, apa kau lihat handphone ku?" Dia bertanya dengan suar yang cukup keras. Dia sepertinya yakin aku yang membawa handphone nya. Aku tidak menjawab. Kavya memberiku tatapan bertanya. Aku menggeleng.
"Sekali lagi aku tanya, dimana kau sembunyikan handphone ku. Banyak urusan penting di sana!" Kalimat Ghulam berubah, nadanya juga semakin meninggi. Aku masih belum merespon.
Dok..Dok ..dokk.. dia mengetuk pintu kamarku dengan keras sekali, bahkan hingga Kavya memelukku ketakutan.
"Kembalikan handphone ku!"
Dia menggedor lagi, Kavya mencengkeram bajuku sangat takut. Kududukkan Kavya di atas kasur dan masuk ke kamar mandi dan mengambil handphone Ghulam di sana.
Kubuka pintu kamar. Ghulam masih berdiri di sana, wajahnya bersungut-sungut kesal. Kulemparkan handphone itu ke mukanya. Tapi belum sampai mengenai muka, dia sudah menangkapnya.
"Ini, selesaikan urusan penting dengan selingkuhanmu!" Aku berteriak tepat di depan muka Ghulam.