#20 Kabur

2003 Words
"Aku membanting pintu kamar sekeras-kerasnya, yang belakangan kusesali karena membuat Kavya sangat ketakutan. Tapi aku ingin memperlihatkan pada Ghulam, bahwa aku sangat marah atas apa yang ia lakukan. Setelah mendengar perkataan ku, aku tahu, Ghulam mencoba mengejarku. "Apa yang kamu maksud?" Katanya sambil mengetuk-ketuk pintu kamarku dengan keras, dia masih mencoba membela diri. Aku tak menggubris. Kavya memelukku erat ketakutan. Aku balas memeluknya dan kami menangis bersama. Kavya mungkin tidak tahu perselingkuhan yang dilakukan ayahnya. Tapi dia lihat betapa ibunya sangat dibuat marah dan sedih oleh ayahnya. Ghulam terus menggedor pintu, aku tidak peduli lagi. Dia mengatakan akan mencoba menjelaskan, apa yang perlu dijelaskan? Keinginannya untuk menjelaskan justru memperjelas kenyataan bahwa dia memang melakukannya. Aku tidak tahu apa yang harus dan akan kulakukan, hatiku sangat hancur. Aku diam di atas kasur dalam keadaan masih berpelukan dengan Kavya. Tapi, ketika melihat koper di dekat lemari, yang belum sempat kurapikan setelah liburan dari Bali kemarin, entah aku pikir aku harus pergi dari rumah untuk membuat hatiku tenang. Dengan cepat, aku masukkan beberapa bajuku dan punya Kavya ke dalam koper. Aku tidak pilih-pilih baju mana yang kumasukkan, hanya mengambil apa yang dekat dengan tanganku. Aku masih terus sambil menangis melakukannya. Ghulam sudah tidak menggedor pintu lagi, mungkin dia capek. Tapi beberapa saat kudengar dia bercakap dengan Mak Semi. Setelah mencuci muka, berganti baju dan mengganti baju Kavya, aku menuntun Kavya keluar kamar, Ghulam dan Mak Semi ternganga melihatku menarik koper, "Bu...Ibu mau kemana?" Mak Semi lebih dahulu berlarian mendekatiku. "Kamu mau kemana?" Ghulam terlihat sangat kaget melihat kami. Awalnya aku diam saja, karena aku juga bingung harus menjawab apa, Mak Semi terus bertanya sambil menangis. Ghulam mencengkeram lenganku, "Kamu tidak boleh kemana-mana!" "Kamu melarang ku untuk tidak pergi, tapi kamu pergi hingga menginap dengan perempuan?" Ghulam menarik lenganku dengan keras hingga terasa sangat sakit. Matanya melotot, dia seperti hendak memukulku, tapi tidak jadi. "Kenapa? Kenapa tidak jadi memukulku? Biar Kavya lihat, ayahnya menyakiti ibunya." Aku berteriak di depan mukanya. Saat itu, aku merasakan antara kemarahan dan sakit hati sedang berada pada puncaknya. Aku tidak terkendali, air mataku terus mengalir seperti lupa caranya berhenti. Ghulam tidak menjawab, pelan-pelan dimelepaskan cengkeraman tangannya di lenganku. Dia diam tak berkutik ketika aku menarik koper dan menuntun Kavya menjauh, terdengar suara tangisan Mak Semi yang cukup keras. Baru pertama kali itu kudengar Mak Semi nangis dengan keras. Beliau terus mengejarku dan menarik-narik ujung sweater yang kupakai, "Bu, ibu mau kemana? Emak ikut ya.." Mak Semi menahanku dan merengek seperti anak kecil. Aku menggeleng. Aku terus berjalan maju. Keluar dari pintu rumah, aku memasukkan koper di bagasi belakang mobil, menaikkan Kavya, memakaikannya sabuk keselamatan, dan beralih ke kursi pengemudi. Namun ketika aku baru memegang gagang pintu mobil, tangan Ghulam meraih tanganku. "Kumohon Ala, jangan pergi! Aku minta maaf jika membuatmu tersakiti." Mata Ghulam berkaca-kaca mengatakan itu, ada raut ketakutan di wajahnya. Tapi tekatku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit yang teramat. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi sekarang kecuali ingin segera pergi dari rumah. Aku bahkan muak melihat wajah Ghulam. Segera kutepis tangannya yang mencoba menghalangiku. "Kamu mau pergi kemana, aku antar! Ala! Ala!" Itu kalimat terakhir yang kudengar sebelum akhirnya aku menutup pintu mobil dengan cukup keras dan melajukan mobil tanpa melihat lagi ke belakang. Aku sempat berhenti di tengah jangan, Kavya tertidur di kursi penumpang, aku lupa tidak memakaikannya jaket, sepertinya dia kedinginan. Pada saat itu, aku belum terpikir mau pergi kerumahmu, Biv. Ketika pergi dari rumah, aku tidak tahu harus kemana. Sempat ingin keluar kota, tapi tidak jadi karena memikirkan resikonya. Apalagi kalau pulang ke rumah ibukku, pasti masalah akan lebih besar lagi. Entah kenapa aku tiba-tiba ingat kami, Biv. Dan aku merasa rumahmu lah yang paling aman untuk aku dan Kavya menenangkan diri. Aku sengaja tidak memilih hotel karena pasti Ghulam akan menemukanku. Aku sedang tidak mau berdebat lagi dengannya." Ala menutup ceritanya, wajahnya ia dongakkan ke atas seperti hendak memasukkan kembali air matanya ke dalam kelopak matanya. Aku diam saja, bingung mau menanggapi karena sebelumnya aku pernah mengira, Ghulam ada sesuatu dengan sekertarisnya. "Kisah ini ternyata menjadi runcing dan lebih rumit, Biv. Kita jauh dari kata selesai. Masih pantas kah pernikahan ini aku perjuangkan?" Kuelus pundak Ala memberi kekuatan. Dia tersenyum ke arahku. Kami berpelukan. Kavya melihat kami keheranan, tapi sejenak kemudian, dia datang dan kami bertiga berpelukan bersama. "Masalah apakah perjuangan ini akan lanjut atau harus berhenti, kita bicarakan nanti, kalau hatimu sudah tenang." Ala mengangguk mendengar perkataanku. "Apakah kau kenal perempuan itu?" "Aku tahu, tapi aku tidak kenal baik. Beberapa kali kami pernah bertemu saat Ghulam mengajak kami ke acara kantor. Tapi aku tidak mengingat dengan baik bagaimana orangnya. Dan sampai sekarang pun, aku tidak peduli siapa perempuan itu, itu bukan urusanku." Ala berkata dengan lebih tenang, gaya bicaranya pun sudah terlihat tegar, aku terus menyimaknya dengan baik. "Maaf Ala, aku pernah stalking media sosial kalian, kamu dan Ghulam. Dan aku menemukan kejanggalan ketika perempuan itu aktif berbalas komentar dengan Ghulam dengan bahasa yang sangat akrab. Namun aku tidak mengatakan ini padamu karena itu hanya kecurigaan ku, aku tidak punya bukti apapun. Selain berbalas komentar yang intens, aku pernah lihat yang perempuan itu memposting foto mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ghulam. Apakah kau tidak tahu?" Mendengar ucapanku, Ala terhenyak kaget, dia menoleh ke arahku secara tajam dan menggeleng. "Apakah itu sudah sejak lama?" Ala memotong ucapanku, nafasnya memburu. Aku menggeleng. "Aku tidak tahu, hanya mereka yang tahu. Aku tidak mengatakan padamu karena bagi sebagian orang, apa yang mereka lakukan itu biasa." "Biasa?" "Iya, buktinya, rekan-rekan Ghulam tidak ada yang berkomentar aneh tentang mereka." "Jadi?" Ala menolehku. "Kita perlu selidiki lebih dalam, apa yang dilakukan Ghulam memang salah, memang kelewatan, memang menyakitimu. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan dia selingkuh dan seratus persen salah. Kita dalami dulu ya kasus ini, kamu yang tenang, insyaAllah akan ada jalan keluar yang terbaik." Kugenggam tangan Ala ketika berbicara demikian, dia balas menggenggam tanganku. Ala mengangguk-angguk begitu aku selesai bicara, dia menghela nafas panjang. "Terimakasih, Biv. Aku sedikit lega, aku akan bisa tidur malam ini." Kemudian giliran aku yang mengangguk. "Sembari kamu di sini menenangkan diri, boleh kah aku membuat janji dengan Ghulam?" Tanyaku kemudian. "Ya, jika itu demi kebaikan." Jawab Ala. Aku tersenyum lalu berdiri. Melihatku berdiri, Kavya berdiri lalu mendatangiku, dia menggenggam tanganku. "Nii...nii…." Aku menoleh Ala. "Dia ingin kamu tetap di sini, Biv." Ala menjelaskan. Kupandangi wajah bulat Kavya, mimik mukanya memohon, matanya yang kecil dan sipit mengedip-kedip ke arahku membuatku gemas. Aku berjongkok di hadapannya dan kusentuh pipinya dengan kedua tapak tangan. "Maaf ya Kavya, kita main lagi besok. Tante masih harus kerja sekarang. Tante janji, kalau sudah selesai kerja akan main kesini lagi, oke!" Aku mengacungkan jari kelingkingku mengajaknya membuat kesepakatan, dia malu-malu ikut menautkan jari kelingkingnya dengan punyaku. Ala tersenyum melihat kami, lalu aku keluar dengan perasaan sedikit lega. *** Ibu menyambutku di dapur begitu aku keluar dari kamar Ala, beliau tersenyum, mungkin sebagai tanda, aku telah melakukan hal baik. Dari aku kecil, ibu memang selalu seperti itu, aku balas tersenyum. Ibu tidak menanyakan apapun dan aku tidak bercerita apapun. "Tuh, ada kiriman lagi!" Ibu menunjuk sebuah bungkusan di atas meja makan. "Hah, apa itu Bu?" "Sepertinya dari Kaizan, eh maksud Ibu, dari Hizi, mereka mengirim lagi." Aku terlonjak kaget dan buru-buru memeriksa bungkusan itu. Bungkusan itu berupa tas dari kertas karton besar, berisi dua buah kotak makan dua buah jus dan sekotak donat. Di dalamnya ada ucapan semoga lekas pulih dan tertanda pengirim panitia kecil. Aku melihat ke arah ibu begitu selesai mengecek. Ibu mengangkat bahu. "Ibu mengapa mereka mengirim setiap hari?" "Ibu tidak tahu." Aku masuk ke kamar untuk mengambil handphone, aku berniat menelpon Kaizan, mengapa mereka repot-repot terus terus-terusan mengirim bingkisan. Tapi begitu handphone di tangan, aku jadi berpikir panjang. Apa perlu aku tanya kan itu? Nanti aku kelihatan keGe-eran? Apa kutanyakan nanti saja ketika aku sudah masuk? Apa aku cuek saja. Argghhh tapi perasaanku tidak bisa cuek. Aku terus kepikiran bingkisan dan kalimat di kertas ucapan itu. Pikiranku membayangkan jika Kaizan yang mengantar bingkisan itu dan dia yang mengucapkan kalimat ucapan semoga lekas pulih. Sungguh, sistem kerja macam apa ini membuat perasaan orang menjadi tidak karuan, aku menggerutu sendiri dalam hati. Aku kembali ke dapur menemui ibu yang merapikan barang-barang. Ketika tidak ada aktivitas, ibu suka sekali di dapur, mengelap, menggeser barang-barang, menata ini itu, atau apapun asalkan di dapur. Dapur adalah surga ibu. "Sudah, dimakan saja tidak usah dipikirkan." Begitu melihatku datang dengan bersungut, ibu berkata demikian. "Kenapa Kaizan selalu membuatku GR Bu?' Ibu tertawa, ditaruhnya lap di tempatnya lalu berjalan ke arahku, ibu duduk di sampingku dan merangkul pundak ku. "Maaf untuk kata-kata ibu yang kemarin, yang mungkin membuatmu jadi ekstra waspada karena berhati-hati." "Ibu kenapa minta maaf?" Aku segera memotong. "Kerana membuatmu jadi tidak santai dan mengalir saja." "Aku tahu ibu bermaksud baik. Aku saja yang terlalu kaku." Jawabku seketika. "Perasaan memang tidak datang untuk dilarang, Nak. Kalimat ibu kemarin bukan berarti meminta mu mengekang perasaan. Biarlah mengalir tapi jangan terhanyut. Nikmati saja. Anggap ini fase yang sedang berbunga. Tapi, juga bersiaplah untuk segala kemungkinan." Aku mengangguk. "Jadi aku harus bagaimana, Bu?" Ibu tertawa demi mendengar nadaku yang seperti merengek manja. Jujur, selama usiaku hingga dua puluh enam tahun ini, ini kali pertama aku dan ibu membicarakan perasaan dengan lawan jenis. Ya, aku belum pernah berpacaran. Kalau jatuh cinta, tentu pernah. Tapi tidak kuceritakan pada ibu karena tidak begitu menggangguku, dan mungkin jatuh cinta yang hanya perasaan sesaat. Aku tidak tahu bagaimana perasaan untuk Kaizan ini, tapi aku mantap bercerita kepada ibu. "Kamu ingin minta kejelasan?" Tanya ibu setelah berhenti tertawa. "Jangan tanyakan Kaizan, karena itu akan memalukan. Kamu bisa tanya temanmu yang sudah bekerja lama di Hizi. Benar kah sistem Hizi seperti itu dalam servis kepada karyawan nya." Ibu benar sekali. Aku merasa tercerahkan oleh kalimat ibu. Aku segera meraih handphone dan mengirim pesan kepada Rindani. "Rindani, aku berterimakasih atas hadiah yang dikirimkan kalian untukku. Aku merasa ini suatu perhatian yang berlebihan. Apakah memang sudah menjadi tradisi Hizi seperti ini?" Setelah mengetik pesan, kutunjukkan dulu pada ibu sebelum akhirnya mengirimkan nya. Ibu mengangguk. Kami menyantap isi bingkisan itu sembari menunggu balasan pesan dari Rindani. Semua isi bingkisan itu enak dan kualitas premium. Bahkan semua merek makanan itu jauh di atas yang biasa aku dan ibu beli. Kami makan dengan lahap karena memang lezat sekali. "Kalau begini, jadi pengen sakit terus deh Bu? Hahaha." "Husss." Belum sampai makanan kami habis, Rindani sudah membalas pesanku. "Sama-sama, Bivi! Kami sangat senang memberikannya untuk mu dan berharap kamu juga senang sehingga membuat mu segera pulih dan kembali bekerja. Iya, itu adalah tradisi Hizi, kami sudah biasa saling mengirim bingkisan untuk peristiwa spesial. Ini tidak berlebihan, ini bentuk kasih sayang." Antara lega dan kecewa, aku membaca pesan Rindani. Setelah selesai k****a, kutunjukkan pada ibu. Ibu tersenyum. "Kamu kecewa?" Ibu menggodaku. Aku menggeleng keras. "Kamu tidak kecewa bahwa ternyata bingkisan itu bukan dari Kaizan?" "Ibuuu…." Tawa ibu meledak demi menggodaku. Jujur, sebenarnya aku kecewa karena berharap segala perhatian itu datang dari Kaizan. Tapi di sisi lain, aku juga lega karena tidak lagi melayang-layang oleh harapan. Dan perasaanku tidak digantung oleh ketidakpastian. Karena kalau tidak mendapat kejelasan seperti ini, perasaanku pasti dengan bodoh mengkhayal bahwa Kaizan telah jatuh cinta dan mengirim perhatian padaku. Padahal sekelas Kaizan pun, kalau dipikir dengan logika, mana mungkin melakukan semua itu. Tapi jika hanya memikirkannya dengan perasaan, pasti tetap membenarkan semua khayalan. Ahh aku sangat beruntung memiliki ibu yang bijak. Andai saja aku bercerita dengan orang yang salah yang justru membumbui perasaanku agar semakin berbunga, aku pasti jatuh ke dalam lubang ketidakpastian harapan. Kami terus melanjutkan makan sambil membahas betapa hebat sistem kerja Hizi, sangat profesional tapi sangat memanusiakan orang yang bekerja di dalamnya. Pantas saja Hizi berkembang sangat pesat menjadi raksasa. Selama ini, selama aku sakit, jangankan dikirim hadiah, malah sering dicurigai apakah aku pura-pura sakit, dan tentu saja yang datang menjengukku hanya Zahra. Ahh kenapa aku jadi membandingkan. "Eh jangan lupa pesan Rindani dibalas, ucapkan terimakasih. Jangan mentang-mentang kecewa terus tidak dibalas." Aku dan ibu tertawa kompak, aku memang lupa belum membalas pesan Rindani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD