#21 Dia Sudah Bertunangan

1950 Words
Entah bagaimana, perasaanku sangat hangat lagi ini. Badanku terasa segar dan pikiranku ringan. Semalam, setelah berbincang lama dengan ibu di meja makan, aku menuntaskan semua pekerjaan Hizi dan lembaga yang sempat tertunda karena sakit. Dan semua selesai. Pagi ini, aku bangun awal waktu, mandi dengan air hangat, memakai baju yang wangi dan siap menuju meja makan dengan riang. Di meja makan, semua sudah berkumpul termasuk Ala dan Kavya. Mereka juga sudah mandi. Dan ibu, selalu sudah cantik ketika di meja sarapan. "Hari ini, Ala yang memasak!" Seloroh ibu begitu aku duduk dan mengambil piring. "Ohya?" Jawabku terkejut. "Tidak! Aku hanya membantu ibu." Ala mengelak. Di meja makan sudah tersaji nasi goreng udang, jamur crispy, acar mentimun, telur mata sapi khas ibu, dan kerupuk. Eh tak lupa gelas-gelas yang berisi jus jambu warna pink. Nafsu makanku sudah seratus persen pulih, sehingga melihat nasi goreng mengepul, aku tidak sabar lagi segera melahapnya. "Kamu sudah benar-benar sehat, Biv?" Di sela-sela makan, Ala bertanya. Aku hanya mengangguk karena mulutku penuh makanan. "Ingat, jangan diforsir lagi tenaga nya dan jangan lupa minum multivitamin." Kali ini ibu yang berkata. Aku memberikan isyarat jempol tanpa menjawab apapun. *** Hari ini, aku akan ngantor di lembaga sampai pukul 12.00 sesudah makan siang, aku sudah berjanji dengan panitia kecil untuk meeting sebelum acara grand launching dilaksanakan dua hari lagi. Segala persiapan sebenarnya sudah terencana dan terlaksana, tapi Kaizan memintaku melakukan kordinasi ulang dengan tim dan beberapa pihak terkait. Beberapa hari ini bekerja sama dengan Kaizan membuatku tahu, dia orang yang perfectionist. Dia ingin aku memastikan, tidak ada human error, bahkan dia memintaku planning B, C dan D jika planning A kami menemui kendala atau gagal. Selama sakit kemarin, aku terus berkoordinasi dengan tim. Badanku memang istirahat, namun pikiranku tidak. Aku paham mengapa Hizi memberikan perhatian besar kepada sumber daya manusianya, ya karena dia juga menuntut SDM nya untuk memberi perhatian balik, yang lebih besar. Saat aku memarkir mobilku di depan kantor lembagaku, masih ada satu mobil yang sudah terparkir rapi di sana. Yaitu mobil Avanza hitam milik Pak Malik. Begitu aku keluar dari mobil, entah secara kebetulan atau disengaja, ia juga ikut keluar dari mobil. "Selamat pagi Bivi!" Pak Malik mengenakan kemeja pink dan celana maroon, style-nya dia ketika berpakaian memang begitu selalu padu padan nya. Mimik mukanya cengengesan, meskipun sudah cukup berumur, Pak Malik sering menjahili kami, terutama yang masih muda seperti aku dan Zahra. Sehingga kami pun kurang respek kepada beliau. "Selamat pagi Pak!" Aku memberikan senyuman terbaik dan mengangguk sopan. "Sudah sembuh betul? Kalau belum jangan dipaksa lho!" Pak Malik bicara sambil menyelidik, sejenak kemudian dia terkekeh. "Saya sudah sehat, Pak. InsyaAllah sudah sehat betul." Jawabku sambil mengangguk dan berjalan masuk. "Eh...eh… mungkin kamu kecapekan, apakah pekerjaan di Hizi sangat memberatkan?" Pak Malik mengejarku, mensejajarkan langkahnya hingga kamu berjalan beriringan. Mendengar perkataan nya, aku menoleh ya sebentar. Seperti nya kalimatnya itu tidak perlu kujawan. Nanti akan jadi semakin panjang. Toh, dia juga tidak perlu tahu tentang itu. "Heyy, Bivi! Ditanya kok diam saja!" Pak Malik berseloroh kesal, kucepatkan langkahku meninggalkan nya. Laila dari balik meja resepsionis menahan tawa. Karena tidak masuk dua hari, pekerjaanku menumpuk. Meja kerja ku penuh berka yang harus kuteliti. Ada beberapa ajuan konseling dari Laila yang sepertinya akan dilewati dulu karena sekarang jadwalku sedang penuh. Ada beberapa berkas psikotest dan beberapa surat undangan. Aku meneliti semua itu pelan-pelan, mengoreksi, menandatangani, melewatkan beberapa untuk kukoreksi nanti untuk data yang tidak mendesak, membuka dan menjawab email dan konseling online yang masuk. Aku memang banyak pekerjaan hari itu dan tidak sempat menemui Zahra. Saat aku sedang berjibaku dengan berkas-berkasku, Zahra yang datang menemuiku. "Biv!! Aku minta maaf belum menjengukku." Zahra langsung masuk dan memelukku dari belakang. Aku duduk di kursi dan tidak kaget atas ulahnya, dia selalu seperti itu. "Oke! Tidak masalah...padahal aku sudah mengharap-harapkan makan tekwan, tapi tidak masalah." Kataku pura-pura dingin. "Nanti aku traktir tekwan ya.." Zahra beralih ke sofa yang penuh dengan berkasku. Aku masih berkutat dengan psikotest yang sedang kubuatkan presentasi nya. "Yakin nih…nanti nggak jadi lagi!" Aku menggodanya. "Yakin, asal kamu nggak ngeloyor ke Hizi aja dulu." Aku dan Zahra tertawa bersama. Karena Zahra tahu, belakangan memang aku yang sibuk, setiap Zahra mengajakku makan diluar selalu kutolak, Zahra ingin ngadem ke mall aku janjiin lain waktu, Zahra ingin nongkrong di Cafe aku senyuman aja. Lama-lama Zahra bete dan berhenti mengajakku keluar. "Jadi mau ketemu Kaizan siang ini?" Zahra berceloteh sambil membantu merapikan berkasku. "Bukan ketemu Kaizan, ketemu tim." Sanggahku. "Ada Kaizan juga kan?" "Iya, tapi nggak cuman Kaizan aja." "Eh, emang kamu pangennya ketemu Kaizan aja?" Zahra mulai menggodaku, aku bersungut. Aku memang sudah menceritakan semua yang kualami dan kurasakan kepada Zahra. Termasuk segala petuah ibu, hanya aku belum bercerita tentang bingkisan saat aku sakit kemarin, itu memalukan sekaligus tidak penting. Ketika aku dan Zahra sedang asyik menata berkas, berdiskusi hasil psikotest dan model presentasi, handphone ku bergetar cukup keras di atas meja kerjaku. Ketika kutengok, Kaizan? "Halo Kaizan?" Suaraku agak ragu-ragu, dari awal bertemu dengan Kaizan sampai sekarang, aku belum bisa santai bercakap dengannya. "Bivi, nanti aku izin dulu ya, ada meeting penting di perusahaan. Aku yakin kamu bisa nghandle semuanya." "Oh, iya baik." Jawabku pelan. "Sipp, terimakasih." Aku menutup telepon, ada perasaan kurang yang tiba-tiba menyerang. Hari ini, aku sangat bersemangat karena jujur aku berharap bisa bertemu Kaizan saat meeting. Tapi ternyata Kaizan izin. Semangatku seperti langsung berkurang lima puluh persen. "Kenapa kecewa?" Zahra langsung menanyaiku begitu aku menutup telepon. "Kaizan nggak datang?" Lanjutnya kemudian. "Kok kamu tahu?" "Kelihatan kali neng, raut muka yang langsung kecewa. Ceilah." Aku tidak menggubris Zahra, kulanjutkan pekerjaan ku, mencoba menepis semua perasaan yang tidak menentu. Zahra juga tidak bertanya lagi, topik kami berganti. *** Aku sampai di restoran tempat meeting pukul 12.30. aku sudah pesan pada Rindani untuk membuka dulu meeting karena aku harus sholat dan makan. Begitu aku sampai, semua sudah susul di meja melingkari meja berbentuk oval, lengkap dengan gelas-gelas pesanan dan beberapa snack cemilan. Aku selalu takjub dengan disiplin yang diterapkan Hizi. Seperti sudah mendarah daging sekalipun dalam projek ini banyak orang baru. Aku duduk di dekat Rindani, kami paling dekat dengan LCD. Hari ini aku akan menjelaskan secara gamblang beberapa hal yang harus disiapkan, bagaimana acara grand launching berjalan, dan juga rencana lain jika rencana awal kami gagal. Ketika aku bicara, semua menyimak, ketika aku memberi kesempatan teamku untuk berbicara, mereka aktif menyuarakan pendapat. Diskusi yang benar-benar hidup. Pantas sih, karena orang-orang yang masuk Hizi adalah benar-benar pilihan. Kadang ketika memikirkan ini, aku sangat bersyukur karena aku masuk ke tim ini tanpa proses penyaringan, aku ditawari pimpinan Hizi untuk bergabung. Pukul 14.20, di sela rapat kami, Kaizan menelpon lagi. Dan, aku masih saja grogi mengangkat teleponnya. Ya Tuhan, bagaimana cara menghilangkan perasaan ini. "Halo Bivi, bagaimana apakah semua berjalan lancar?" Suara Kaizan sangat tegas dan tanpa basa-basi. "Iya, semua berjalan lancar. Aku sudah selesai presentasi dan kami sedang berdiskusi, ada yang ini kau sampaikan?" "Tidak, aku hanya memastikan semua berjalan baik, besok kita cek lokasi terakhir. Pastikan semua tim siap!" Entah kenapa, setiap mendengar kata yang keluar dari mulut Kaizan semua terdengar positif dan membuatku optimis. Apakah seperti itu energi seorang manajer HRD? Aku menutup telepon dari Kaizan, melanjutkan diskusi dengan tim hingga pukul empat sore. Ketika semua sudah selesai, dan semua anggota tim pulang, tersisa aku dan Rindani di ruang rapat itu. Aku masih menyimpan beberapa data di laptop dan Rindani masih beberes beberapa file. "Rindani pulang sama siapa?" Aku sudah selesai duluan, tapi Rindani masih sibuk mencatat sesuatu. "Naik ojek online, Biv." Jawabnya tanpa menolehku sembara terus menulis. "Eh nggak usah, rumahku dekat kok. Jalan Mengkudu sini." "Iya makanya dekat aku antar, kalau jauh aku juga pikir-pikir mau antar." Selorohku, Rindani tertawa. Tidak sampai lima menit Rindani selesai, ia mengemasi semua berkasnya, memasukkan ke dalam map plastik besar yang seperti koper, lalu kami berjalan keluar beriringan. "Kamu selalu naik ojek?" Kataku membuka percakapan begitu kami sampai di dalam mobilku. "Iya, jangan tanya ya kerja di Hizi kok nggak beli kendaraan." Dia menjawab ringan sambil tertawa, padahal benar itu tadi yang bergumul di otakku. Lalu segera kubuang jauh pikiran itu setelah dia mengatakan demikian. "Emang ada anggapan seperti itu ya?" "Masak kamu nggak tahu, sudah menjadi rahasia umum kan kalau di Hizi gajinya gede." "Iya sih." "Tapi orang-orang tidak tahu kan, gaji besar tidak otomatis membuat kita mampu beli kendaraan. Contohnya aku." Aku jadi serba salah dan tidak enak dengan Rindani atas topik pembicaraan yang kuambil tadi. Tapi kami terlanjur membicarakan nya. "Aku menghidupi ibuku yang sudah dua tahun ini menderita gagal ginjal, ibu harus dua kali dalam satu pekan cuci darah. Dan, aku masih punya dua adik, kembar, usia SMA, aku menghidupi mereka, menyekolahkan mereka, membelikan mereka baju, uang saku, dan semua seperti orangtua kepada anaknya." Rindani melanjutkan ceritanya santai sekali seperti menceritakan kisah liburan, tidak ada sedih-sedihnya, meskipun kisahnya terdengar menyedihkan. "Jadi, mana bisa aku beli kendaraan. Tapi aku sangat bersyukur, dengan bekerja di Hizi, kami tak kekurangan apa-apa, semua tercukupi dan kami tidak punya hutang. Itu karunia banget sih." Rindani diam sebentar, aku menoleh nya, pandangan perempuan itu lurus ke depan, ke deretan mobil-mobil di depan kami yang mengular di perempatan lampu merah. "Kamu keren lho Biv, masih muda sudah bawa mobil. Padahal kamu baru masuk Hizi." Kini giliran aku yang tertawa. "Ini mobil warisan kok, Rin. Memang mobil baru tapi belinya pakai uang warisan. Sama seperti kamu, aku hanya tinggal berdua dengan ibu, dan salah caraku menjaga ibu adalah dengan mengantarnya kemana-mana naik mobil karena menurutku itu lebih aman." Rindani mangut-mangut mendengar penjelasanku. Sejenak kemudian, dia memintaku menemui di gang depan yang kurang dua ratus meter lagi. Dia meminta diturunkan di depan gang itu karena rumahnya masuk. "Makasih ya, Biv. Maaf merepotkan. Ohya, kemarin itu aku merasa wajar kok mengapa kamu menanyakan bingkisan itu." Rindani melepas sabuk pengaman. Aku menepikan mobil beberapa meter sebelum gang. "Ohya?" "Kamu beranggapan bahwa yang mengirim nya adalah Kaizan?" Karena yang bertanya adalah Rindani, aku mengangguk. Awalnya di sudah hendak membuka pintu, mau turun. Tapi tidak jadi, Rindani justru berbalik badan menghadap ku. "Perempuan-perempuan Hizi, terutama tim HRD pasti pernah merasakan ini. Merasa diperhatikan, merasa istimewa. Karena memang begitu Kaizan memperlakukan tim kami. Ini bukan karena dia tebar pesona atau cari perhatian. Tapi cara dia memberdayakan manusia. Dia sangat konsen masalah memanusiakan manusia, karena itulah sumber daya manusia di Hizi sangat berkembang, dan tidak aneh kan kalau dia kesayangan direktur. Jadi kamu jangan GR dan menganggapnya lebih." Entah kenapa, demi mendengar perkataan Rindani, hatiku merasa kecewa begitu saja. Dia menceritakan kenyataan tapi aku mendengarnya seperti dia menceritakan kecemburuannya padaku. "Aku sudah menduga sih, itulah kenapa aku mengirimi pesan kemarin." "Aku tidak menuduhmu naksir ya, aku mengatakan ini kepada mayorita perempuan di jajaran tim kami. Karena, Kaizan memang sosok yang mudah dicintai. Dia tampan, berwibawa, memiliki posisi bagus, good attitude, semuanya hampir lengkap. Tapi…" Rindani menggantung kalimatnya, dia diam sejenak. "Tapi apa?" Aku segera memburunya dengan pertanyaan karena penasaran. "Dia sudah punya tunangan." Slurrrrr….ada yang meluncur dan terjun bebas di hatiku, aku tidak tahu itu apa, rasanya seperti terjatuh dan melayang-layang dari ketinggian. Aku tidak mendengar kalimat lain yang diucapkan Rindani, pikiranku sudah sibuk sendiri. Bahkan aku tak mendengar Rindani pamit, dan berlalu keluar dari mobil. Aku masih terdiam di balik kemudi mobil. Satu yang aku rasakan. Ini pertama kalinya aku sangat menyukai orang dan ternyata cerita ini akan sangat singkat. Kaizan sudah memilki tunangan? Benarkah itu? Aku mengemudikan mobilku pelan-pelan, hampir seperti orang yang baru pertama menyetir mobil di jalan raya, beberapa kendaraan memberiku klakson memintaku minggir. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa, aku tahu aku tidak berhak patah hati, aku sudah mewanti-wanti diriku untuk tidak berharap, tapi nyatanya mendengar kenyataan bahwa Kaizan sudah milik orang lain membuat perasaanku tak karuan juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD