#22 Orang Seperti Dia

2020 Words
"Assalamualaikum." Aku masuk rumah dengan langkah gontai, berusaha kusantai-santaikan hatiku nyatanya informasi dari Rindani perihal status Kaizan tadi tidak bisa kubawa santai. Ibu, Ala dan Kavya berkumpul di ruang tengah, mereka asyik melihat album foto. Di meja, tampak terhidang pisang goreng dengan toping coklat dan keju. Kavya sedang memunguti keju-keju yang tercecer di piring. "Waalaikumsalam." Mereka kompak menjawab. "Biv, sini! Kamu lucu banget waktu bayi, ini gemes banget." Ala memintaku mendekat agar melihat foto di album, tapi aku tidak tertarik. Selain karena foto itu sudah kulihat ratusan kali, hatiku sedang tidak bisa diajak santai. "Sorry Al, aku capek banget, aku masuk ya." Tanpa menunggu jawaban Ala dan ibu, aku berlalu menuju kamar. Ibu sempat menawariku untuk membuatkan teh atau s**u panas tetapi kutolak. Sampai di kamar, kulemparkan tasku setelah itu kulempar badanku ke atas kasur. Kepalaku terasa pening, Ya Tuhan, jangan sampai aku sakit lagi, apalagi hanya karena mendengar kabar ini. "Badan kamu kerasa nggak enak lagi, Sayang?" Ibu masuk kamar dan melihatku terkapar di atas kasur langsung mendekat. Mungkin ini suatu pemandangan yang aneh, karena aku masih berpakaian lengkap juga dengan kaos kaki yang belum kulepas. "Enggak, Bu. Aku baik-baik saja." "Kamu udah makan?" "Udah, tadi udah makan siang bekal dari ibu." "Capek banget ya hari ini?" "Enggak juga sih biasa aja." "Terus kamu kenapa?" "Kenapa apanya ibu?" "Tadi berangkat penuh semangat, sekarang pulangnya kok kayak handphone kehabisan baterai?" Mendengar perkataan ibu, aku seketika duduk dan mencoba tersenyum. Kalau dipikir-pikir memang ini kontras sekali, dan mencurigakan tentunya. "Mungkin aku lelah aja kok Bu.. wajar kan, barusan dua hari libur." Jawabku akhirnya, ibu tersenyum. "Yaudah, kamu ganti baju lalu mandi, ibu bikinkan yang anget-anget habis gini." Aku memberi isyarat hormat sebelum ibu berlalu meninggalkan kamar. Seperginya ibu, handphone di tasku bergetar. Segera kuambil dan betapa terkejutnya aku ketika nama Kaizan sedang berkedip-kedip melakukan panggilan. Hatiku seketika berdetak-detak tidak jelas, aku bingung antara mengangkat atau membiarkan saja, akhirnya kubiarkan saja, aku belum siap bicara dengan Kaizan. Aku tahu dia telepon untuk urusan pekerjaan, tapi masalahnya aku menerimanya untuk urusan hati. Semenit kemudian, panggilan itu datang lagi. Ya Tuhan…bagaimana ini. Akhirnya kuangkat. "Hallo Kaizan, maaf aku baru sampai di rumah. Ada apa?" "Oh iya, Biv. Tolong kamu carikan alternatif keynote speaker ya untuk pembukaan, karena ini pejabat setempat tiba-tiba menghubungi ku dia berhalangan. Dan ini mendadak sekali." "Oh.." Aku diam dan mencoba berpikir, keynote speaker? Alternatif? Pejabat? Siapa kira-kira? "Biv, apakah kamu mendengarku?" "Eh iya iya. Aku sedang berpikir." "Baik, nanti kalau sudah ketemu tolong kamu hubungi aku ya, atau kamu sendiri yang menghubunginya, tolong koordinasi dengan sekertarisnya untuk membuatkan surat permohonan." Kaizan menutup teleponnya, kuperhatikan jam dinding menunjukkan pukul lima sore lebih lima menit. Jika ini di lembaga, aku jarang sekali masih memikirkan pekerjaan di jam-jam sekian. Akhirnya aku tidak jadi pergi mandi, melainkan menyalakan laptop untuk mencari data. Belum sampai sepuluh menit aku mencari data di laptop dan belum ketemu data yang kucari. Kaizan menelpon lagi. Astaga! Mengapa dia sebentar-sebentar menelpon, aku belum menemukan apapun. "Halo Biv. Aku sudah menemukannya. Aku sudah menemukan orang yang tepat sebagai keynote speaker pengganti. Aku kirim datanya via w******p tolong kamu teruskan sampai tuntas ya." Aku hanya mengiyakan. Ternyata kerja Kaizan cepat sekali. Sepertinya, tanpa menyuruhnya sebenarnya dia bisa melakukannya. Tapi aku wakilnya, jadi dia melibatkan ku. Aku masih berkutat di atas kasur di depan laptop hingga pukul delapan malam. Ibu beberapa kali menengokku ke kamar dan menasehati ku agar makan dulu, mandi, dulu, ganti baju dulu, dan lain-lain. Tapi hanya kuiyakan saja. Ternyata pekerjaan datang bertubi-tubi dan tak kunjung selesai. Baru pukul sembilan malam, aku merebahkan diri. Laptop kututup lalu menghembuskan nafas panjang dengan lega. Aku segera mandi, berganti pakaian santai, dan menuju meja makan. Rupanya ibu dan Ala sudah makan, ruang tengah sudah lenggang hanya suara sayup-sayup televisi, ibu yang berbaring di sofa ruang tengah menonton televisi dan segera terbangun melihatku ke meja makan. Di meja makan, masih ada soto ayam dan masih hangat, sepertinya baru di keluarkan dari microwave. Mungkin ibu siap-siap jika aku makan. Ibu mendekat, ibu selalu menemaniku makan. "Makan yang banyak nak, ibu bikinkan teh hangat ya." "Nggak usah Bu, air putih saja." Aku melahap soto ayam bikinan ibu dengan lahap karena perutku benar-benar kosong. Ibu duduk di depanku tenang, tanpa tanya-tanya atau menyelaku makan. "Semua berjalan baik hari ini?" Tanya ibu begitu aku menyelesaikan suapan terakhir. Aku diam saja, bingung mau menjawab apa. Akhirnya aku mengangkat bahu. Aku tidak bisa berbohong kepada ibu, semua tugasku memang beres, sepanjang hari kulalui baik, tapi penutup di sorenya sangat menghancurkan perasaan ku. Aku menimbang-nimbang sebentar, apakah aku akan bercerita pada ibu tentang status Kaizan, atau tidak. "Apa ada masalah yang menganggumu?" Tanya ibu kemudian, aku sudah menduga, ibu pasti menangkap gerak gerik tidak biasa pada tingkah lakuku. "Semua berjalan baik, tapi ada satu kenyataan yang akhirnya aku tahu." "Apa itu?" Aku masih ragu untuk bercerita pada ibu. "Apa itu tentang Kaizan?" Tanya ibu lagi karena aku hanya diam. Aku mengangguk. "Kaizan sudah memiliki tunangan Bu, dia sudah bertunangan." Aku menjawab begitu dengan tanpa energi, seperti orang yang lemas karena belum makan, padahal aku baru saja menghabiskan semangkuk soto ayam. Ibu tersenyum, ibu beralih tempat duduk, sekarang beliau duduk tepat di sebelahku. Ibu meraih dan mengelus punggung tanganku. "Kamu harus bersyukur tahu hal itu sekarang. Semakin lama kamu tahu, semakin menumpuk perasaanmu dan semakin sesak dadamu jika mengetahuinya kemudian hari. Bagaimana kamu bisa tahu tentang itu, Nak?" "Rindani yang memberi tahu, dia khawatir aku menyukai Kaizan. Karena selama ini, beberapa anggota tim yang perempuan memang sering merasa disukai Kaizan." Ibu tersenyum mendengar jawabanku, senyum yang sangat menenangkan, senyum yang seolah mengatakan kamu baik-baik saja atau ini tidak apa-apa. Aku diam saja. "Kamu sedih, Biv?" Ibu bertanya lagi. Aku mengangkat bahu, tepatnya memang aku sendiri tidak paham apa yang aku rasakan. "Aku tidak tahu, Bu. Aku tidak sedih, buktinya aku masih bisa makan dengan lahap. Tapi ada perasaan tidak enak di hatiku." Jawabku kemudian. "Tidak apa-apa, itu wajar. Kamu mungkin tidak terlampau sedih, tapi kamu merasa kehilangan." Ya, mungkin ibu benar, aku memang merasa kehilangan. Perasaan kehilangan yang sulit didefinisikan karena aku merasa kehilangan sesuatu yang sebenarnya juga bukan punyaku. Mungkin seperti orang yang hendak membeli baju di toko, ia sudah mengincar baju tertentu dari kaca etalase luas toko, tapi sesampainya di toko harus merasa kecewa karena baju itu sudah dibeli orang. Yang menyebalkan lagi, Kaizan adalah partner kerja yang setiap hari (untuk beberapa hari kedepan) akan sering kutemui, sering mengajakku bicara, dan sialnya dia sangat pintar memperlakukan orang dan membuat orang menyukainya. Mungkin sehabis ini, aku akan berpikir untuk melanjutkan proyek dengan Hizi atau tidak. Ibu izin masuk kamar terlebih dulu karena sudah mengantuk. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sepuluh lebih seperempat. Suara Ala dan Kavya tak terdengar lagi. Suara kendaraan yang lewat jalan depan rumah juga semakin jarang. Aku kembali ke kamar setelah sebelumnya mencuci mangkok, sendok dan peralatan makanku. Begitu masuk kamar, kudapati layar handphone ku menyala. Ada dua panggilan tidak terjawab. Astaga, apa lagi ini? Batinku. Kaizan mengirim voice note. "Ada berita penting. Cassandra, tim yang kita tunjuk menjadi MC sore tadi kecelakaan, carikan ganti dia secepat-cepatnya." Kulemparkan handphone ku ke atas bantal lalu mendengus kesal, bukan karena berita Cassandra. Tapi karena mengapa tak habis-habis urusanku dengan Kaizan. Setelah mengambil nafas panjang, kuputuskan untuk membalas pesan Kaizan dengan mengatakan oke. Dalam pikiranku, sepertinya Rindani yang cocok mengganti Cassandra. "Siapa?" "Rindani." "Kalau bisa selain Rindani karena dia tim murni Hizi, suatu saat dia akan benar-benar kembali ke Hizi dan tidaknikut campur urusan panitia kecil." Astaga, bukan kah ini hanya mengganti sementara, dan hanya sebagai pembawa acara. Akhirnya aku kesal dan kumatikan handphone ku. Terserah. *** Hari ini adalah Sabtu pagi. Biasanya aku menemani ibu berkebun mengurus tanaman hidroponik atau membantu ibu membersihkan blender, oven, microwave atau hal lain sesuai perintah ibu. Tapi hari ini, pagi pukul enam, aku sudah siap, sudah mandi, rapi dan wangi. Ketika aku keluar kamar, ibu masih sibuk di dapur. "Kamu berangkat sepagi ini, Sayang?" Tanya ibu masih sambil menggoreng sesuatu. "Iya Bu, kami briefing terakhir, check lokasi dan memastikan semua baik-baik saja." "Tapi ibu belum siap makanannya, Sayang?" Ibu terlihat merasa bersalah. "Tidak apa ibu, aku makan roti tawar dan s**u saja." Aku menjawab sambil mengunyah roti tawar suapan kedua. Di dekat tanganku sudah tersedia sekotak s**u UHT dua ratus mili. "Kamu tunggu lima menit ya, ibu bungkukan bekal." Aku mengangguk, selanjutnya, ibu terlihat sigap menyiapkan ini itu. Ini yang sangat kukagumi dari ibu, ibu selalu menyiapkan yang terbaik untukku, memastikan ku tak kekurangan apapun meskipun usiaku sudah seperempat abad lebih. Aku selalu menurut saja ketika ibu memintaku membawa bekal sekalipun itu aku pergi jalan-jalan, karena aku tidak ingin membuat ibu kecewa. Tiga menit, ibu siap degan sekotak bekal. Kubuka bekal itu sebelum kumasukkan ke dalam tas. Kentang goreng lengkap dengan sambal sachet, dua potong paha ayam goreng dan dan irisan buah pir secara terpisah. Tak lupa ibu membawakanmu sebotol air mineral. Ibu juara, batinku lagi. Kucium pipi ibu, mengucap kan i love you dan terimakasih, lalu berlarian menuju mobil. Siang ini sangat sibuk, kami mengecek terop atau tenda yang kami sewa telah terpasang dengan baik, panggung berdiri dengan baik, tempat kebersihan dan segala sesuatunya terkontrol dengan baik karena kami mengadakan acara di perkampungan. Banyak orang yang bekerja, termasuk relawan yang terdiri dari warga kampung. Aku melihat pemuda-pemuda giat menata dan mengatur ini itu, ibu-ibu datang membawa teko-teko besar berisi es sirup dan piring-piring berisi semangka yang sudah terpotong dan terkupas. Aku melihat semangat dan energi yang besar dari setiap orang di sana. Terutama Kaizan. Kaizan mengomando ini itu, dia memintaku duduk di tenda dan mengecek segala list keperluan sudah tersiapkan dengan baik. Aku tidak perlu turun ke lapangan seperti dia. Dia meminta tim yang perempuan dan dibantu ibu-ibu menyiapkan makanan. Tugas kami yang perempuan hanya itu. Dan yang laki-laki benar-benar bekerja keras menyiapkan suatu acara, ikut membantu tukang memasang panggung, lampu, karpet, dan lainnya. Mereka semua berbaur dan seperti tidak ada bedanya. Dan Kaizan yang mencontohkan itu semua. Melihat semua itu, perasaanku semakin tidak jelas. Antara khawatir aku terus mengaguminya dan memang merasa kagum kepada Kaizan. Entah kenapa jadi terlintas di kepalaku. Siapa tunangan Kaizan? Siapa perempuan beruntung itu? Apakah Rindani tahu? Dalam hati aku berencana diam-diam menyelidikinya dengan mencari tahu di media sosial Kaizan. "Apakah ada yang kurang?" Kaizan mendekati kami, dan bertanya kepadaku. Aku mengecek list yang sudah kucatat lalu menyerahkan padanya. "Ada beberapa hal yang kurang, yang belum aku beri ceklis." Jawabku sambil menyerahkan kertas ceklis. Kaizan membaca tulisan di kertas itu dengan serius, aku tidak sadar memperhatikannya. Memperhatikan peluh yang menetes di dahinya, mimik muka yang serius dan gayanya berpikir. Saat kemudia sadar, aku merutuki diriku sendiri karena melakukan itu. Kaizan pergi membawa kertas ceklis, seperginya Kaizan, ibu-ibu di dekatku berbisik kepada temannya yang lain tapi cukup keras untuk terdengar kami semua. "Itu Pak manajernya, ganteng ya." Kami semua tertawa. Jujur kali kau buk. Hingga sore, kami di tempat itu. Semua yang diperlukan untuk acara besok, Hizi untuk Indonesia, sudah sembilan puluh persen siap. Kaizan mengumpulkan semua anggota tim untuk duduk melingkar, mengucap kan terimakasih atas kerja keras kami, padahal aku pikir dia yang bekerja paling keras. Dan menyemangati untuk acara besok dan membubarkan kami setelah berdoa terlebih dulu. "Rindani pulang dengan siapa?" Tanya Kaizan pada Rindani, aku duduk di sebelah Rindani ikut memperhatikan. "Belum tahu, tadi aku berangkat kesini diantar adikku dengan motornya. Mungkin aku akan menghubungi nya untuk menjemput." "Tidak usah, Rindani bisa pulang bersamaku." Aku menyahut karena memang aku duduk diantara mereka. Tempat acara ini terletak di tengah perkampungan dan tidak ada ojek online, Rindani terbiasa pulang pergi dengan ojek online. "Oke sip!" Kaizan mengacungkan jempolnya padaku lalu pergi setelah itu. Aku dan Rindani saling menatap. Sepertinya Rindani ingin mengatakan, begitulah Kaizan, seperti yang kami ceritakan kemarin, jadi tidak perlu merasa GR. Lalu Rindani tersenyum padaku dan mengatakan, "Aku meropotkanmu lagi." "Jangan khawatir, aku tidak merasa direpotkan." "Kau melihat sendiri kan bagaimana Kaizan memperhatikan kami." "Aku cukup heran bagaimana bisa ada orang seperti dia. Yang sempurna sekali." Kataku, lalu kami tertawa dan beriringan berjalan menuju mobil. Dalam hati aku membatin, sudah berapa perempuan yang pernah berharap karena karakter Kaizan yang seperti itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD